PSIKOPAT CANTIK | Setan Kembar

PSIKOPAT CANTIK | Setan Kembar
DUEL GLADIATOR


__ADS_3

Tak hanya satu malam saja Sindy dan Ranty di teror .meski mereka telah berjanji untuk membantu membalaskan dendamnya , keduanya tetap kembali datang dengan mimpi yang sama. "Cepat !, cepat balaskan !" Bisik kedua arwah itu di saat memutar ulang mimpinya.


Sindy mencoba tetap bersikap biasa saat bertemu Ranty , seperti tak ada masalah yang harus mereka selesaikan segera. "Eh , nanti malam kita hunting foto yuk ." Ajak Ranty . "Boleh , aku udah lama gak hunting." Sindy menyetujuinya.


Ranty nampaknya lebih siap dengan mengajak Sindy berburu foto di tempat yang sepi . "Kita hunting di jalan Merak aja , aku kemarin main kesana cocok banget tempatnya." Tak mau kalah Sindy langsung menyetujuinya tetapi dengan strateginya sendiri.


"Oke , disana juga nggak banyak orang lewat jadi bisa bagus banger hasilnya." Imbuh Sindy . "Bentar yah , aku ada telpon." Ranty pergi mengangkat telpon .


Sambil menunggu dosen masuk Sindy membuka peralatan make up nya , ya cuma buat meriksa aja make up nya nggak rusak . Bayangan hitam langsung muncul dibelakangnya , semakin lama semakin mendekat dan menunjukkan bentuk aslinya.


"Anni...?" Ucap Sindy lirih saat bayangan itu semakin jelas. Perlahan bayangan itu masuk ke tubuh Sindy membuatnya seperti terkunci , setelah masuk dengan sempurna Sindy kembali seperti semula.


"Kamu ngapain Sin tiba-tiba kaku gitu ?" tanya seorang mahasiswi di dekatnya. "Nggak , cuma kayaknya bagus aja kalo lagi diem gitu." Sindy juga mengulang posenya agar tak terlihat aneh .


Tak hanya Sindy , Ranty yang tengah menerima panggilan juga dimasuki bayangan Rita . "Hallo , kenapa diem ? , Ran..., Ranty." ucap lawan teleponnya karena hanya diam tanpa respon. Setelah bayangan itu masuk sempurna barulah Ranty sadar .


"Iya , nggak ! , Nggak papa ." Balasnya seolah tak ada apa-apa . "Pasti kamu lagi ngelamun ya ?" goda teman bicaranya. "Iya , kamu tau aja aku ngelamun."

__ADS_1


Pukul 20.39


Keduanya sudah sampai di lokasi tempat mereka janjian. Bahkan sebelumnya mereka sempat makan malam di restoran ujung jalan Merak , bukan tanpa alasan tetapi agar lawannya tak merasa curiga .


Disana mereka langsung berburu foto dengan pose terbaik mereka , beberapa jepretan berhasil mengabadikan pose mereka . Bukan mengulur waktu tapi hanya untuk mengenal situasi dan memperkirakan waktu yang tepat untuk menghabisi lawan.


Sampai satu jepretan terakhir mereka nampak biasa , Sindy yang sedang memegang kamera mendekat pada Ranty untuk menujukan hasil jepretannya. Dari jarak sepuluh langkah itu tangan kirinya telah menggenggam pisau yang ia sembunyikan di balik bajunya.


Jarak mereka kini tak sampai satu langkah , dengan cepat pisau itu mengarah ke perut Ranty. Prangggg....,Ranty ternyata juga membawa pisau dan dalam waktu yang bersamaan hendak menyerang Sindy .


Entah karena bayangan dalam tubuh mereka atau apa gerakan mereka selalu sama , pisau Sindy berhasil menghujam ke tangan kiri Ranty yang refleks melindungi perutnya. Tetapi Ranty juga berhasil melukai lengan kiri Sindy .


Keduanya mundur beberapa langkah karena sama-sama terluka. Dalam waktu secepat itu Sindy melempar kamera di tangan kanannya dan mengambil posisi yang lebih baik.


Sebenarnya mereka tak menguasai beladiri apa pun , keduanya berangkat ke tempat ini hanya mengira akan mudah . Namun ternyata mereka sedang di adu domba oleh kedua bayangan di tubuh mereka.


Kini Ranty yang maju dan menyasar dada Sindy , tetapi serangan itu gagal Sindy berhasil menghindar dan berhasil melukai betisnya . Berganti Sindy yang sedang unggul menghujamkan pisaunya dengan kedua tangannya ke leher Ranty yang kini terjatuh.

__ADS_1


Dengan kesempatan yang minim Ranty bisa menggeser badannya sehingga pisau itu tertancap di celah paving yang berjarak lima senti dari lehernya . Tanpa menunggu serangan kedua Ranty menendang Sindy yang sedang menindihnya.


Posisi berbalik , Sindy tak memegang senjata sedangkan Ranty berhasil menguasai kedua pisau itu . Ranty dengan membabi buta menebaskan senjatanya , Sindy harus mengorbankan tangan kirinya untuk menahan serangan Ranty .


Sementara tangan kanannya berhasil mendapatkan pasir yang berserakan disekitarnya lalu melemparnya ke mata Ranty. Dengan cepat Sindy kembali merebut satu pisau yang dipegang Ranty.


Posisi kembali imbang , pertarungan berlanjut meski Ranty sekarang tak bisa melihat lawannya dengan jelas . Sindy menyasar perut Ranty dan serangan itu berhasil darah segar keluar dari perutnya.


Ranty jatuh tersungkur dihadapan Sindy, sekaan sudah menang ia berjongkok di depan Ranty untuk mengucapkan "Maaf Ranty , aku lakukan ini karena kamu yang membunuh Anni !, Aku..., Aku terpaksa melakukannya." Kalimatnya disusul air mata.


Tapi , dengan posisi Sindy yang tepat di depannya , Ranty dengan mudah melakukan serangan yang tak diduga oleh Sindy. Dengan sisa tenaga dan nyawanya ia berhasil menghujamkan pisau ditangannya tepat di leher Sindy. "Kaulah yang membunuh Anni dan Rita !!!"


Dengan pisau yang masih tertancap di lehernya Sindy jatuh menimpa tubuh Ranty . Tubuh keduanya kini sudah tak berdaya lagi , tinggal menunggu waktu saja untuk bertemu dengan maut .


Bayangan yang masuk dan mengendalikan tubuh mereka keluar , menyiratkan senyum dan tawa jahat . Lalu menghilang bersama sorot lampu mobil yang tengah melaju kencang.


note : nih guys , bagi pembaca setia pastinya tau kenapa mereka saling membunuh , author juga nggak pernah lupa untuk minta dukungan kalian lewat like , komen dan , vote

__ADS_1


__ADS_2