
Jam di HP-nya menunjukkan pukul empat pagi , tapi Sinta sudah terbangun. Ya seperti orang-orang pada umumnya tak akan melewatkan sedetik pun waktu disaat momen penting seperti ini.
Ia membuka sosial medianya sebelum mempersiapkan diri untuk shalat subuh . Kluntinggg...., Muncul notifikasi dari grup kelasnya dulu di layar ponselnya. Sekejap ia melirik siapa yang mengirim pesan sepagi itu dan sudah lama juga grup itu sepi .
Sayangnya , pesan itu langsung di balas oleh beberapa temannya , jadi ia tak bisa melihat siapa yang mengirim pesan itu dan pesan apa yang dikirimnya .
Allahu Akbar.., Allahu Akbar......,
Adzan subuh sudah berkumandang , membatalkan semua kegiatannya . "Nanti aja bacanya , shalat dulu ." Berjalan menuju kamar mandi yang hanya berjarak dua meter dari kasurnya. Maklum ini kan kost jadi semua serba sempit , bahkan masih beruntung mendapatkan kamar mandi dalam dengan harga terjangkau.
__ADS_1
"Enaknya cuma wudhu aja apa sekalian mandi ya ?" gumam Sinta setelah sampai di dalam . Meski di dalam kamar mandi ia masih mendengar denting notif yang terus bersahutan. "Apasih yang mereka bahas sampai rame gitu , biasanya aja kalo cuma ngajak main jarang yang respon kok ."
"Eh...aku ada berita baru nih , si anak tompelan yang katanya benci sama aku itu ternyata kerja di perusahaan ayah aku." Itu adalah pesan yang membuat grup kelasnya mendadak rame . Tak usah dibahas siapa yang mengirim ya , Sinta sudah langsung bisa menebak . Marah ? , Sudah pasti . Ketakutan yang sama kembali menyelimuti , dulu ada Anni yang mampu dan mau membela tapi dia tiada.
Teman-temannya yang dulu hanya acuh saat Sinta dibully kini terang-terangan ikut memojokan Sinta di grup kelas itu . Beruntungnya tak semua anggota grup tau siapa yang dimaksud jadi Sinta memilih tetap menjadi anggota grup.
Teror sindy tak berhenti di dunia fana itu saja , setelah turun dari taksinya , kedua sahabat karib yang selalu ia benci sejak SMA sudah disana . Tak mengucap satupun kata , Sinta hanya lewat saja di depan mereka . Mereka juga tak akan berani menjambaknya karena ini tempat umum dan juga perusahaan milik ayahnya .
"Begini nih kalo urusan lama di ungkit kembali , dasar gak tau diri ." Imbuh sindy dibawah vidio tersebut . "Emang gak tau terimakasih ! , Udah diberikan kerjaan malah kayak gitu ." Imbuh lainnya memojokan Sinta.
__ADS_1
"Baru tau berita sekecil itu aja heboh , bagaimana jika tau dalang kematian Anni dan Rita bisa pingsan mereka." Mungkin kalian bisa menebaknya siapa yang mengatakan ini , "sudahlah , mereka hanya pikirkan hidup manja jadi gak bisa diajak dewasa." Dara menyentil kedua sahabat itu .
***
Ponselnya berbunyi ,
Ringtonenya juga semakin keras tapi Devi tak jua mengangkatnya , "Dev handphone mu bunyi ." Teriak temannya tapi Devi sedang mengantarkan laundry-an . "Udah angkat aja , bilang handphone nya ketinggalan." Ujar lainnya.
"Hallo , kita nanti bisa ketemu jam satu siang nggak ?" jelas itu suara laki-laki , "cowok ! , Mungkin pacarnya kali ya ." Bisik dia pada teman disampingnya , "Langsung bilang orangnya gak ada aja , ntar kita disalahin."
__ADS_1
"Maaf mas , devinya sedang keluar ini saya temannya ." Tanpa mengatakan kata penutup telpon itu langsung dimatikan Hamdan , "wihhh , langsung dimatiin...,salting ." Bisiknya kembali sambil dibumbui tawa ringan.✓
hay guys , kalau udah baca jangan lupa kasih support author lewat like , komen , vote dan rate kalian . kalo perlu di favoritkan juga biar tau update terbaru, thx 😄