PSIKOPAT CANTIK | Setan Kembar

PSIKOPAT CANTIK | Setan Kembar
TEMAN BARU


__ADS_3

Akhirnya siang itu neneknya menelepon , "halo nak , nenek udah di terminal kamu di sebelah mana ?"


"Iya nek bentar , aku kesana ." Balas Devi sembari memeriksa pesanan laundry . "Lho , kamu masih mau jalan ."


"Iya , tapi gak lama kok nek , sepuluh menit lagi nenek tunggu di halte depan terminal aja biar gampang carinya ."


"Ci , aku ambil laundryan Bu Tien kamu jaga sini , ok !!" Pamit Devi pada temannya Cici . "Iya sana , lagian siang gini panas males keluar ." Memang jarak dari tempat kerjanya tak jauh mungkin sepuluh menit , jadi Devi bisa sekalian ambil pesanan laundry .


Karena itu sudah jam satu lebih , ya halte itu tak banyak orang , Hanya segelintir saja yang mau panas-panasan disana . Dari jauh ia sudah melihat neneknya .


"Ayo nek , keburu panas macet juga ." Ajak Devi , "Ini motor kamu bisa bawa barang ini , kan ? , Ini taneman sendiri ." Ujar neneknya . "Kebiasaan , nenek pasti bawa sesuatu kan jadinya nenek sendiri kan yang ribet . " Keluh dia sambil menaikkan kardus dan setandan pisang .


"Kamu nggak kerja nak , kok masih bisa jemput ." Tanya neneknya sambil menempatkan tubuhnya dengan pas . "Kerja , tapi tempat kerjanya gak jauh dari terminal jadi bisa pulang sebentar ." Pungkas Devi .

__ADS_1


"Ibu mu sakit lagi kok nenek suruh kesini ?"


"Enggak , cuman mau nyariin temen buat ibu aja ,kan aku pulangnya sore kadang lebih ." Balasnya , " Terus adik kamu , Sinta kemana ?" Devi diam tak merespon "heh , ditanya malah diem . " Tegur neneknya .


"Enggak , adik lagi camping seminggu baru kemarin berangkatnya ." Bohong Devi , Devi sengaja mencarikan jalan pintas agar terhindar dari macet .


"Kamu nggak capek , dari tadi baca buku terus ." Tanya dara yang sudah bosan menunggui Sinta membaca buku pelajaran miliknya . "Kan bentar lagi ujian dan aku disini gak bisa ikut pelajaran ya gimana lagi kalo nggak belajar sendiri ."


"aEh , kok kalian nggak bisa tau apa yang aku pikirkan katanya kalian itu diri ku yang lain ." Sinta heran dengan kejadian ini , "kita nggak bisa baca semua pikiran kamu , tugas kita cuma bantu kamu ." Jelas Rara .


"Kami menemani mu sejak kamu terlahir , semua orang memiliki dirinya yang lain namun tak semuanya tahu itu ." Jawab Rara dan ganti kembarannya yang meneruskan


"Saat kamu lahir kita juga terlahir , dan semua yang ada di batin mu adalah bisikan kami karena tugas kami membantu kamu lewat suara hati ."

__ADS_1


"Tapi kenapa kalian tidak mirip seperti aku ? , Bukankah kalian kembaran ku ." Kembali tanya Sinta penuh penasaran , "kita juga nggak tau alasannya kenapa kita berbeda ." Papar keduanya .


"Nenek masuk duluan aja , Devi turunin bawaan nenek dulu ."


"Assalamualaikum , Rin ! , Ibu Dateng ."


"Masuk aja nek , ibu di kamar ." Ucap Devi yang sudah dibelakang neneknya sambil membawa kardus dan setandan pisang .


Langsung saja neneknya menemui ibu di kamar , "Nek , aku pamit kerja lagi ya...,aku titip ibu ya nek ." Ujarnya dari balik pintu . "Iya , sana nanti dimarahin bosmu ."


Tiba-tiba Sinta menanyakan tentang kematian ayahnya , "Berarti kalian tau mimpi ku beberapa hari ini dong ?" keduanya mengangguk "iya , mimpi kecelakaan itu kan ?"


"Kalian tau siapa anak kecil yang menyebrang jalan itu nggak ? , aku penasaran deh siapa anak itu ." Lanjut Sinta , "kita punya ingatan yang sama , dan di ingatan ku kamu pernah bertemu ." Jelas dara yang duduk di kursi pojok kamar itu .

__ADS_1


"Sekitar satu tahun setelah kejadian itu , kamu bertemu dia ." Sambung Rara yang mulai bisa mengingat wajah gadis itu hampir sama seperti yang menyebabkan kematian ayahnya . "Dimana ?, Kita ketemu dia dimana ." Cecar Sinta kepada keduanya .


"Kan kamu juga bisa bantu masa kita terus ." Balas Rara ketus , setelah beberapa saat mengingat Sinta mulai mengingat wajah anak kecil itu ," sepertinya aku pernah melihat foto anak itu dia sekolah deh ." ✓


__ADS_2