
Setelah seminggu meminta saran dan mempertimbangkan lamaran Hamdan , kini waktu yang ditunggu itu tiba .
Malam ini Devi dan adiknya Sinta sudah datang lebih dulu di kafe itu , Sementara Hamdan dan mamanya datang setengah jam kemudian . Memang Devi sengaja mengajak adiknya datang lebih awal dari waktu yang sudah mereka tentukan.
Rupanya kafe itu sudah dipesan oleh Hamdan agar tak dibuka untuk orang lain malam itu . "Malam Tante !" seperti biasa Devi menyapa mama Hamdan lebih dulu .
"Bagaimana jawaban mu nak ?" Langsung mamanya merujuk ke inti pertemuan mereka . "Setelah saya pertimbangkan saya memutuskan untuk...," Seorang pelayan datang membawa nampan penuh makanan menyela kalimat Devi .
"Saya memutuskan untuk menerima lamaran Hamdan !" Senyum-senyum bahagia terpancar di wajah mereka bertiga . Sedangkan Sinta tetap memberikan respon bahagia meski tak senada dengan hatinya .
"Kalo gitu sekarang kamu jangan panggil Tante lagi !, panggil mama jadi nggak keliatan tua gitu ," dalam suasana sebahagia ini tak ada satupun orang lain yang berada di kafe itu. "Jadi kapan kalian bisa melangsungkan pernikahan ?" sepertinya mama Hamdan tak suka banyak basa-basi .
__ADS_1
"Untuk membahas tanggal baiknya kedua keluarga bertemu secara resmi !" Ucap Devi meski nampak berat dan sulit . "Iya mama bisa mengerti , tidak pantas membahas masalah ini ditempat umum ."
Hamdan yang sejak datang tak mengeluarkan kata-kata akhirnya bicara , "Baik !, Kalo gitu kapan keluarga kita bisa bertemu secara resmi ?" Devi sudah diberi pesan agar pertemuan dilakukan di rumah neneknya .
"Satu Minggu lagi !, Tapi karena satu-satunya orang tua dan keluarga yang kami miliki adalah nenek kami jadi saya minta pertemuan dilakukan di rumah nenek ." Hamdan dan mamanya langsung menyetujui permintaan Devi .
"Baiklah kami akan kesana untuk membahas tanggal pernikahan kita !, semoga kita adalah jodoh yang sempurna." Selain membahas kesanggupan Devi menjadi calon istri Hamdan , mama Hamdan juga mengatakan hal yang belum diketahui anak-anak muda itu.
"Aku akan menerimanya tapi beri Hamdan alasan , Mah !" Mamanya menceritakan jika dulu sebelum kejadian itu almarhum ayahnya punya seorang teman lama saat masih bekerja di suatu kota yang namanya tak ingat .
"Bahkan perusahaan yang dirintis ayahmu ini ada campur tangan orang itu , dia meminjamkan uang dan tempat untuk ayahmu menjual tiket pesawat dan kereta."
__ADS_1
Memang perusahaan rintisan almarhum ayahnya bergerak di bidang pariwisata dan properti ini diawali dengan jualan tiket serta mencarikan rumah murah .
"Setelah usaha itu berhasil temannya itu pindah dan tak ada kabar lagi , jadi ayahmu menganggap dia berinvestasi di perusahaan ini ." Setelah cerita yang agak panjang ini Hamdan menyela dengan pertanyaan , "Lalu hubungannya dengan warisan yang tak boleh digabungkan apa ?"
"Dengar dulu cerita mama agar kamu paham , Nak !" Hamdan menerimanya karena itu sudah kebiasaan mamanya untuk memberikan jawaban tersirat . "Lalu setelah bertahun-tahun tak bertemu ayahmu terlibat kecelakaan dengan pak Danuarta sekitar lima tahun lalu."
"Ayahmu berjanji akan membiayai sekolah anak-anak yang ditinggalkan , namun baru akhir-akhir ini sebelum ayah mu pergi dia mengatakan pada mama jika kamu harus cepat pulang." Dengan cerita mamanya yang terlalu panjang tiga orang didepannya mulai tak sabar .
"Saat itu ayahmu menulis beberapa surat untuk teman lamanya itu , serta warisan yang diberikan untuk kalian adalah hasil investasi almarhum ayah kalian puluan tahun lalu." Mama menunjukkan kalimat itu untuk Devi dan Sinta , "tapi kenapa ayah tak memberikan hasil investasi itu lima tahun lalu ?" tanya Hamdan .
"Waktu itu wajah pak Danuarta tak bisa dikenali dan yang bisa membuat ayahmu tau adalah nama anak-anaknya ," dengan penjelasan itu mereka bisa tau kenapa warisan ini tak boleh digabungkan .
__ADS_1
note : buat kalian yang setia sama karya ku tolong kasih like, komentar , vote dan rate yah... jangan lupa mampir ke cerpen aku yang judulnya "demi bersamanya" nanti aku feedback