
"Aku tau ini tak akan mudah untuk mu , tapi kamu harus menunjukkan perasaanmu pada dia !" Ujar Rara setelah Sinta pulang . Memang mereka tak ikut bertemu Hamdan dan mamanya , tapi mata dan telinga mereka tetaplah satu apapun yang mereka lihat dan dengar sama.
"Benar !, Yang penting kamu ungkapan urusan diterima nggaknya pikir belakangan." Dara ikut menimpali kembarannya , namun Sinta tak mau tau apapun yang mereka katakan . "Terserah kalian !, kali ini aku akan mengatasinya sendiri ."
Penolakan Sinta tak membuat mereka berhenti ngoceh , "Aku tau apa yang kamu pikirkan !, Ini tentang kakakmu kan ?" Dara langsung menyambar kalimat Rara , "Berat pilihannya !, mengorbankan perasaan demi kakak atau terus berjuang untuk diri sendiri."
"Jika kamu pilih mana ?" tanya Dara pada kembarannya sendiri . "Tentu aku akan mengalah , dia kenal kakak lebih dulu dan Sinta baru tadi siang ." Sinta hanya menonton mereka berdua.
"Kalo aku sih pliih perjuangin cinta !, perasaan tetaplah perasaan yang pasti akan menjadi duri jika disimpan," Dara melawan pilihan Rara . "Tapi perasaan itu tak akan kekal pasti akan pudar perlahan , sedangkan persaudaraan selamanya dari lahir sampai mati."
"Sampai kapan Sinta harus mengalah ?, sekaranglah saatnya dia memilih apa yang dia mau ." Usaha setan kembar itu tak mulus tapi juga tak gagal. Tak mungkin suara yang terus lewat di telinganya tak masuk dalam hatinya.
__ADS_1
Awalnya tak mau tau tapi nyatanya Sinta tetaplah mempertimbangkan ucapan si kembar , "Buat apa kalian terus ngoceh ?, Aku tak peduli ucapan kalian !" Ujar Sinta agar keduanya berhenti membuatnya bingung dan tertekan.
Tokkk...tokkk..
Suara pintu kamar yang diketuk oleh kakaknya ,
"Dek , udah tidur ya ?" dengan malas Sinta membukakan pintu untuk kakaknya , "Belum !, bentar aku bukain." Setelah pintu dibuka Devi langsung masuk dan duduk di kursi dekat ranjang Sinta .
"Kamu juga suka sama Hamdan ?, masalah akan semakin rumit !" Sinta tak bisa berbohong tentang perasaan itu , "Jujur aku suka dengan Hamdan lewat perannya sebagai penyiar radio dan baru tadi siang aku bertemunya di acara dia pensiun dari dunia siaran ."
Devi menemukan jawaban dari pertanyaan yang ia cari jawabnya akhir-akhir ini , "Tunggu !, jadi Hamdan penyiar radio ?" Sinta memberi jawaban lewat anggukannya . "Tapi aku akan mengalah !, dia sudah bersama kakak agak lama dan aku baru hari ini bertemunya !"
__ADS_1
"Iya kakak bisa terima alasan ini , tapi dialah yang membantumu saat kamu pingsan di pemakaman ibu ," Kini Sinta yang mendapatkan jawaban atas pertanyaan itu . "Satu pertanyaan dari kakak !, beneran kamu mau mengalah ?"
Dengan penuh keyakinan Sinta mengulang dan menegaskan ucapannya . "Jika aku terus maju maka aku harus membangun perasaan dari awal !, Dan jika aku yang mengalah jalan kakak tinggal satu langkah ." Devi memeluk adiknya untuk mengatakan terima kasih atas kebesaran hatinya.
"Jika kamu sudah menyetujui maka kakak tinggal meminta restu nenek , satu-satunya orang tua kita !" Devi merencanakan ke rumah neneknya saat acara tujuh hari ibunya nanti.
"Kamu harus perjuangin Sin !, jangan nyerah gitu aja ," Dara memulai perdebatan yang bagi Sinta sudah tak penting itu lagi . "Kalian mau perang disini pun aku nggak peduli !" tegas Sinta sambil menutup telinganya dengan bantal .
Malam itu Sinta tak pulang ke kostnya , dia tidur di kamar yang dulu ia tempati . Meskipun agak lama tak ia tempati namun Devi masih terus membersihkannya jadi tak ada debu sedikitpun . Devi yakin jika Sinta pasti kembali tidur disana meski hanya semalam.
note : author kasih tau jangan tertipu dengan Sinta , seorang psikopat mungkin saja memiliki dua kepribadian yang bertolak belakang . jadi author minta dukungan kalian lewat like, komen, vote , dan rate demi kemajuan cerita ini ,thx 😄
__ADS_1