
"Yang Mulia, tolong batalkan pernikahan saya dengan Yang Mulia Putri. Saya jatuh cinta dengan Lady Adriana Reese."
"Enam kali pertunangan, enam kali dibatalkan"
Tunangan Putri selalu berselingkuh dengan para pelayan.
"Aku tidak mau menikah dengan pangeran mahkota, aku ingin hidup dengan ayah selamanya"
"Dasar tidak berguna, Pergi saja"
Putri Apollonia yang dikenal lemah dan bodoh
Tetapi dia memiliki wajah lain yang tersembunyi.....
"Ini karena tahta kerajaan sangat sulit didapatkan. Ayahku juga mencoba 10 tahun untuk membunuh Ibuku, Sang Permaisuri"
Apollonia. Mata merahnya berkilat-kilat tegas. Perebutan kekuasaan tahta
bertujuan hanya satu. Ia tidak akan goyah
"Aku ingin hidup dengan ayah"
Lebih tepatnya Aku ingin duduk di tempat Ia duduk
Tunggu Aku Ayah. Anakmu sedang dalam perjalanan
Untuk mengambil kembali semua hal yang telah dicuri dariku.
__ADS_1
Ayah Apollonia, Gaius selalu membencinya. Meskipun Ia berusaha untuk tidak menunjukannya, dia sangat dingin terutama pada Apollonia. Atau mungkin sifat dingin itu muncul karena rasa jijik dan muaknya terhadap Apollonia.
Apollonia memahami rasa muak ayahnya kepada dirinya saat Ia berumur tiga tahun. Saat itu Ia terjatuh dan berusaha menggapai tangan ayahnya untuk meminta bantuan, tetapi bukannya meolong Apollonia Ia melihat ayahnya tersenyum menakutkan.
Tentu saja ingatan itu hanya samar-samar diingatnya.Namun seiring waktu berlalu Ia memahami perasaan itu.
Ayahnya senang saat Apollonia membuat kesalahan. Ia tidak peduli pada pencapaian Apollonia dan menolaknya. Ia berhasil menyembunyikannya dari orang lain tetapi dari tatapannya, sentuhannya, dan sikapnya Apollonia merasakan kebencian mendalam ayahnya terhadap dirinya.
Apollonia tidak mengerti mengapa ayahnya begitu tidak suka padanya. Apollonia dibesarkan dan dirawat oleh kakeknya, Pascal III dan Ibunya Putri Elenia. Ia pun hampir tidak pernah berpapasan dengan Ayahnya, Gaius atau Paris, Saudaranya.
Pernah sekali Ia menanyakan hal ini kepada Kakeknya sekaligus Sang Raja, Pascal III
” Apakah Ayah hanya sayang pada Paris?”
secara tak terduga kakeknya menjawab
“Lalu Aku bagaimana?”
“Kamu itu tidak sama dengan Paris, karena kamu adalah penerusku” Balas kakeknya dengan senyum pebuh kasih sayang.
Jika Gaiius hanya menyayangi Paris dan membenci Apollonia maka Sang raja sepertinya hanya sayang pada Apollonia dan tidak peduli terhadap Paris. Meski tidak banyak yang tahu namun, Apollonia memang dididik secara langsung oleh Raja untuk menjadi penerusnya.
Berdasarkan urutan tahta dan kedudukan tentu saja seharusnya Ibunya lah urutan pertama dalam tahta. Namun Putri Elenia sangat membenci dunia politik sehingga Ia menolak posisinya.
Tapi ada yang aneh dengan penjelasan kakeknya
“Kenapa bukan Paris yang menjadi penerusmu kek?”
__ADS_1
“Aku jelaskan nanti kalau Kamu sudah lebih dewasa”
Kakeknya membelai kepalanya lembut tanpa menjelaskan lebih lanjut.
Apollonia menenggelamkan dirinya dalam berbagai pelajaran termasuk tata kerajaannya. Dia dapat berbicara 4 bahasa dan menunjukkan pemahaman yang luar biasa terhadap politik,ekonomi,dan sejarah.
Tentu saja tahta seharusnya miliknya dan tak pernah Ia berpikir sebaliknya. Namun pemikiran itu tidak lama hingga ayahnya mengambil semua miliknya tepat di depan matanya.
Hari itu adalah hari pengujian
Pascal III mengetes Apollonia kapanpun Ia bisa.Kalau saja kakeknya hanya mengetes Apollonia dari sebuah buku sepperti layaknya ujian lainnya tentu akan mudah bagi Apollonia. Sayangnya ujian ini tidak semudah itu. Bagi Apollonia membaca satu rak buku menghafal seluruhnya dalam satu bulan dan diberikan pertanyaan-pertanyaan acak adalah latihan sehari-harinya. Kemudian selama setengah tahun Ia juga diajarkan dan diberi tugas untuk menulis Evaluasi Pencapaian Raja yang Sukses dengan bahasa benua lain yang tentu saja bukannlah ha kecil.
Bahkan kadang-kadang kakeknya mengujinya dengan sebuah labirin yang rumit dan Ia harus mencari jalan keluarnya sendiri. Beberapa hari setelahnya Ia baru dapat merangkak keluar dari labirin tesebut dengan wajah kelaparan. Namun, kakeknya tersenyum banggan melihatnya. Menurut kakeknya Ia perlu mengembangkan kemampuan beradaptasi untuk mempersiapkan dirinya mengahadapi krisis yang lebih besar.
kepalanya berdenyut seperti biasanya kala ujian hari itu
“Tuliskan analisis mendalam mengenai hubungan Pascal III dengan Leila Luperion yang hebat”
Terdengar seperti tugas yang mudah namun tentu saja yang kakeknya minta adalah lusinan halaman disertasi.
Untuk mempelajari sejarah 8 generasi dari kerajaan Ia bergegas pergi ke perpustakaan kerajaan. Disanalah Ia belajar kisah kakeknya dan reputasi kakeknya yang dikenal musuhnya sebagai prajurit terbaik di kerajaan. Ia memulai pelajarannya dengan sejarah istana kerajaan. Bahkan Ia pun tak sengaja menemukan buku langka tentang Putri Elenia
Pada saat itu Apollonia sama sekali tidak tahu akan kengerian yang akan terjadi.Tanpa sepegetahuannya Itu akan menjadi terakhir kalinya Ia melihat rupa Ibunya.
Prang! Prang!
Serpihan kaca cangkir teh jatuh dan menyebabkan kekacauan.Putri Elenia terjatuh ke lantai marmer dibawahnya sambil bernapas susah payah.Rambut pirang secerah matahari miliknya tergerai di lantai.Putri Ellenia tidak percaya hal yang Ia sedang rasakan baik mulutnya yang penuh darah maupun rasa sakit menusuk yang ia rasakan di hatinya.
__ADS_1