
Tidak hanya rakyat banyak yang menentang perilakunya namun juga bawahan-bawahannya bahkan negara-negara tetangga yang berniat memulai perang dengan dalih perilakunya yang buruk. Bagimanapun caranya Gaius dapat menekan atau bahkan menyingkirkan mereka. Setelah itu dia mengisi posisi-posisi kosong di kerajaannya dengan kerabat-kerabatnya.
Sekarang tidak ada yang dapat menentang kata-katanya. Dan hari ini perjamuan diadakan untuk menyambut kelima selir.
“Selamatt kepada Yang Mulia!”
Para tamu yang hadir berteriak bersama. Kemudia mereka makan dan minum dambil berbincang keras-keras.
Apollonia hadir dengan gaun biru tua yang tidak mencolok. Seperti biasa Ia bersembunyi di balik pelayan di ujung ruang perjamuan. Sebenarnya Ia hanya berniat menampakkan muka lalu pergi secepatnya. Namun Ia tak sengaja menabrak salah seorang selir yang sedang membawa segelas wine.
“Aduh.. Hati- hati dong”
Catherine Loenheim menegur Apollonia dengan suara serak dan melengkingnya sembari mengibaskan rambut indah merah kecoklatannya.
“Aku hampir menumpahkan wine ini di gaunku.”
Sebagai bangsawan berkasta rendah dari distrik, Catherine merupakan wanita pertama yang mendapatkan lamaran dari Gaius. Saat kepercayaan Gaius melonjak tinggi Ia diam-diam menyamar dan menggunakan Catherine untuk mengamankan posisinya.
__ADS_1
“Bukannya selir tanpa seorang Ratu sama saja pemilik istana itu sendiri?”
10 hari setelah kedatangan para selir, selir-selir lain cepat tanggap dengan situasi dan membungkuk pada Catherine setiap mereka berpapasan. Namun Catherine Loenheim mulai mencari mangsa baru untuk menegaskan posisinya.
Catherine butuh seorang bangsawan berstatus tinggi untuk menguatkan posisinya. Tetapi juga orang yang bisa Ia suruh-suruh untuk memenuhi kebutuhannya. Simpelnya dia butuh wanita yang mudah ia pengaruhi.
Tepat seperti yang Catherine cari Apollonia tanpa sengaja muncul di hadapannya.
” Yang Mulia Putri Nia..”
Menurtunya Putri Apollonia adalah seorang gadis muda naiv yang tidak disukai oleh Sang Raja karena Raja lebih menyayangi kakanya Paris. Paras Putri yang sederhana yang akan tampak cantik jika saja Putri berdandan sedikit, dan karena posisinya yang ambigu mungkin kepribadiannya lemah dan rapuh.
“Senang bertemu denganmu Putri Nia”
Ia sengaja memanggil Apollonia dengan nama yang dulu Almarhum Raja dan Putri memanggilnya. Bagi Catherine semacam klaim halus atas kekuasaannya. Putri Apollonia yang lupa akan dunia yang begitu berubah bingung akan panggilan itu. Pertemuan ini disaksikan banyak orang yang penasaran apakah Catherine akan disebut Ratu oleh sang Putri sendiri?
“Aku menabrakmu.. Maafkan aku Nyonya”
__ADS_1
“Ah tidak apa-apa Aku akan berbaik hati.. Tunggu tadi kau bilang apa?”
Catherine yang tadinya mengganguk-ngangguk menerima permintaan maaf Apollonia langsung melotot. Wanita bodoh ini memanggil seorang Ratu ‘Nyonya’?. Sekarang Ia yakin Putri tidak mendapatkan pendidikan yang benar. Catherine awalnya hanya berniat mendisiplinkan Apollonia dengan halus namun baginya Putri adalah anak manja maka ia akan menegur secara kasar.
“Putri tolong jangan pergi dulu sebentar”
Catherine Loenheim berbalik lalu memanggil Apollonia sambil mengangkat sebelah bibirnya dengan nada yang sombong dan keras sebagai tanda Ia ingin semua orang mendengarkan. Beberapa Bangsawan mengerti dan mulai berkumpul satu demi satu.
hubungan yang akan terbentuk antara Keturunan Kerajaan dan wanita simpanan Raja tentu saja merupakan tontonan yang menarik.
“Sepertinya Kita belum saling berkenalan secara resmi sebelumnya….”
Walaupun Catherine berkata “saling” dia terang-terangan menyindir Apollonia yang tidak membungkuk padanya. Tentu saja Ia sengaja agar menimbulkan kritik terhadap Apollonia.
Catherine membungkukkan kaikinya berlebihan dan melihat tepat ke Apollonia. Seperti seorang Ibu yang mengajarkan anaknya tata krama.
“Nah sekarang coba kau lakukan juga”
__ADS_1
Wanita itu ingin menegaskan posisinya dengan mendapatkan bungkuk resmi dari Sang Putri. Tetapi Apollonia sekali lagi membalasnya degan salam informal sambil menatap Catherine.