
Udara di sekitar Uriel berhembus lebih kencang, namun kepercayaan Uriel terhadap pedangnya lebih kuat dari apapun. Uriel maju selangkah dan mengangkat pedangnya. Ia merasa lebih kuat daripada sebelumnya.
Shiing! Saat pedang itu menghantam penahan itu muncul sebuah retakan. Uriel mendorong pedangnya ke bagian yang retak. Rasa kaget menjalar di seluruh tubuhnya.
Clang!
Gadis itu pun sadar bahwa penahannya telah rusak. Uriel terlempar ke atas kasur dan pedangnya melayang. Ujung pedang itu jatuh tepat di depan dahi gadis itu.
Keheningan yang ada serasa mencekik. Tatapan mereka bertabrakan dengan sebuah pedang ditengah mereka. Pupil gadis itu membesar. Gadis itu terengah-engah.
“Kau..”
Suara gadis itu bergetar. Sudut bibir Uriel naik puas. Gadis itu gugup.
Jarak mereka begitu dekat, namun mereka hanya saling menatap. Keduanya tidak bergerak. Lalu-
Bang!
Pintu terhempas terbuka dan Pria paruh baya bergegas masuk.
Swish!Thud!
__ADS_1
Perhatian Uriel begitu terpusat pada gadis itu hingga Ia tak bisa bereaksi. Belati pria paruh baya yang baru masuk mengayun dan mendarat teapt di bahu kiri Uriel. Sid maju dan menindih pria berjubah itu ke lantai. Namun Uriel tidak mengelak sama sekali.
“Maaf Aku telat Yang Mulia. Tolong hukum Aku nanti”
Apollonia hanya diam.Pikiran Apollonia dipenuhi oleh apa yang baru saja terjadi. Baru saja… penahannya..
Apollonia masih berpikir bahwa ini tidak terjadi, namun Ia melihatnya denga mata kepalanya sendiri. Pria berjubah hitam itu pasti telah memutus penahannya. Tidak ada cara lain melihat pedangnya bisa mendekatinyaWalaupun hanya sebentar, saat mata mereka bertemu, Apollonia menyadari bahwa Pria ini bisa membunuhnya.
Walaupun begitu saat ini pria itu ditahan Sid dengan belati menancap di bahunya.
“Ambilkan Aku kursi. Aku akan menginterogasinya sendiri.”
Tanpa mengalihkan pandangannya, Apollonia melambai pada Sid. Sid mengambil kursi dan menempatkannya di depan Uriel yang sedang berlutut. Apollonia mendekati pria itu.
Sid menarik penutup kepala pria itu dengan ujung pedangnya. Cahaya bulan menerpa wajah pria itu. Mata Apollonia melebar. Sid terdesak kaget.
Yang sedang berlutut di depan Apollonia adalah anak laki-laki seusia Apollonia.
Wajahnya tampan sekali. Rambut peraknya berkliau indah seakan terbuat dari helaian cahaya bulan. Sepasang mata tajam dan rahang yang terpahat sempurna terukir di wajahnya. Alis matanya yang sedikit menurun terlihat seperti lukisan,. Bibirnya merona kemerahan dalam bentuk yang sempurna.
Lelaki ini seperti malaikat yang melambangkan seluruh keindahan dunia. Mata biru yang dipenuhi kelincahan layaknya lautan yang dalam. tatapan cerdik itu bukan diarahkan ke Apollonia atau Sid tetapi memang pembawaanya.
__ADS_1
“Aku tidak percaya.. anak kecil ini”kaget Sid.”Apa dia benar-benar salah satu Singa Safiro?”
“Aku yakin sekali. Safiro satu-satunya orang yang bisa mengirim pembunuh secepat ini ke Istana Kerajaan. Setahuku hanya beberapa ‘singa’ tersisa, Tetapi Aku tidak menyangka salah satunya begitu berbakat”
“….Singa Safiro.”
Suara pelan dan tenang bergema di kamar yang sunyi ini. Pemuda itu membuka matanya setelah Apollonia mengetahui identitasnya. Mata uriel hanya memandang kaki Apollonia tapi Ia tetap diam.
“Apa Kau disini untuk membunuhku?”
Uriel tetap diam. Apollonia menganggap itu sebagai konfirmasi. Apollonia pun tertawa pahit.
“Aku tahu bibiku tidak mau mengotori tangannya dengan darahku”
Mendengar itu dahi Uriel berkerut. Apollonia melihat itu lalu melanjutkan
“Apa Kau tahu Aku siapa?”
Ketika Uriel mengangguk, Apollonia mengisayaratkan Sid untuk memindahkan pedang di leher Uriel. Dengan lembut Apollonia mengangkat dagu Uriel.
“Lihat lebih dekat”
__ADS_1
Keduanya kembali bertatapan. Mata Uriel memancar lembut namun Ia tetap tak bersuara.
“Kau pasti kaget bahwa orang yang harus Kau bunuh adalah seorang gadis muda. Bukan hanya itu tetapi juga keponakan Petra Liefer dan anak perempuan Gaiius Liefer”