Putri Berwajah Dua

Putri Berwajah Dua
Chapter 8


__ADS_3

Catherine mengucapkan selamat tinggal dengan canggung dan sengaja menginjak sedikit bagian gaun Apollonia. Catherine ingin melihat Apollonia kehilangan topeng sok menjijikannya dan jatuh sempoyongan. SEperti yang dia inginkan gaun Apollonia sobek sedikit di bagian bawahnya namun tanpa Ia sadari masalah yang lebih besar muncul.


Prang!Prang!


Catherine sangat ingin melakukan balas dendam kecilnya dan tanpa sengaja Ia menyenggol teko yang kemudian jatuh ke lantai. 


Teko itu pecah tepat dibawah tubuh Apollonia sehingga Apollonia terpeleset dan jatuh tepat diatas pecahan teko. 


“Ah..”


Namun Apollonia memilih untuk tidak berteriak terlalu keras.


“Ya ampunn Yang Mulia apakah Kamu baik-baik saja?”


“Biarkan Aku melihat lukamu Yang Mulia, Ya ampun Kamu berdarah!”


“Seseorang panggil dokter!”


Orang-orang berkerumun keheranan melihat keributan itu membuat Catherine semakin mundur kebingungan.Maya yang berada di sebelahnya dengan segera mengeluarkan sapu tangan dan menutupi luka robek akibat pecahan di lengan kiri Apollonia


“Tidak apa-apa Aku akan dirawat di kamarku. Semuanya tolong kembali ke perjamuan”. Nyatanya Apollonia merasa tidak baik-baik saja sama sekali. Malam itu adalah malam pertama wajahnya berubah pucat. Dia butuh waktu untuk melupakan kejadian Catherine dan tentu saja rasa sakit di tangganya.


Bagaimana Aku bisa menyembunyikan luka seperti ini?

__ADS_1


Apollonia buru-buru menggosokan air teh yang panas ke darahnya yang masih mengalir dengan tangan satunya sambil memerhatikan sekelilingnya. Dia belum melihatnya, Aku harus segera pergi dari sini pikir Apollonia.


Apollonia menarik tangan Maya dan buru-buru menuju pintu ruang perjamuan. Tapi Ia sudah terlambat. Sesaat sebelum Ia sampai di pintu ruang perjamuannya sebuah bayangan muncul dihadapannya.


“Ya ampun Yang Mulia tanganmu kenapa?”


Suara itu terdengar kaku dan tanpa emosi dibandingkan suara-suara bernada khawatir yang Ia dengar sedari tadi. Karena yang berdiri di hadapannya adalah penguasa sebenarnya di keluarga kerajaan.


“Bibi.. ”


Petra Liefer 


Dibalik rambut hitam yang terkucir sempurna alisnya terangkat dan sepasang mata emas Petra Liefer menatap Apollonia seolah sedang menatap mangsanya. Namun di raut wajahnya tidak tercermin sedikitpun kekhawatiran.


Apollonia mengigit bibirnya keras-keras.


Dari awal Apollonia memang tidak serius ingin membalas Catherine. Alasannya bukan karena Ia ingin memprioritaskan aturan istana kerajaan atau perselisihan tidak penting antar wanita.


Karena sedari awal pun Catherine Loenheim tidak akan bisa mengambil alih kuasa istana kerajaan. Namun yang tidak tahu akan hal ini hanyalah Catherine dan beberapa sekutunya yang baru-baru ini masuk ke istana.


“Aku dengar ada keributan, ternyata memang benar ”


‘Nyonya rumah'(penguasa) sebenarnya istana kerajaan adalah Petra Liefer yang dingin, adik perempuan dari Yang Mulia Raja dan seorang Duchess Liefer.

__ADS_1


Raja Gaius sangat mempercayai saudarinya, Petra. Petra adalah seorang yang berani dan pintar seperti Gaius namun lebih kejam dan teliti.


Dengan kemampuan bisnisnya yang bagus awalnya dia membuka toko kecil tempat ia membeli dan menjual sutra beserta perhiasan dari puluhan tahun lalu. Cuma butuh waktu kurang dari 5 tahhun sebelum tokonya ‘Rowan’ menjadi merek ternama kerajaan. 


Petra mengangkat nama keluarga Leifer yang awalnya hanya menjadi pemerintah provinsi dengan melakukan investasi boros dari duit bisnisnya sendiri. Ada juga yang mengatakan bahwa Petra lah yang pertama kali mempertemukan Gaius dan Ellenia. 


Dan sekarang Ia menjadi politikus yang berpengaruh dan orang ‘yang sesungguhnya’ mengatur keluarga kerajaan setelah kematian Ellenia.


“Apa ini karena para pelayan tidak melayanimu dengan benar di depan para tamu?”


Kata-katanya membuat para pelayan terdiam kaku, menunjukkan betapa berkuasanya Petra. Tanpa Apollonia sadari tubuhnya berkeringat walau hanya ditatap oleh Petra.


7 tahun lalu di pemakaman Putri Ellenia dan Raja Pascal III Petra berbisik di telinga Apollonia.


“Hiduplah layaknya Kau sudah mati. JIka kamu mau hidup maka jangan punya kekuatan”


Setelah berbisik seperti itu dengan raut penuh kasih Ia menjauhkan wajahnya dari tubuh Apollonia yang gemetaran.Sejak saat itu Apollonia mengikuti saran Petra dengan seluruh kemampuannya.


“Tunjukkan lenganmu”


“Ini tidak begitu sakit”


Apollonia menyembunyikan lengannya namun Petra mengambil pergelangan Apollonia.

__ADS_1


“Walaupun terus berdarah tetapi lukanya tidak dalam”


__ADS_2