
Catherine mengingat tatapan hangat yang Gaius berikan padanya sebelum perjamuan dimulai.
“Petra ada keributan apa ini?”
Sang Raja bahkan tidak mengindahkan jeritan Catherine dan langsung bertanya kepada Petra.
“Lady Loenheim melukai Yang Mulia Tuan Putri, Yang Mulia Raja. Alasannya karena Aku tidak memperlakukan dia seperti seorang permaisuri.”
Mendengar itu Raja menaikkan alisnya.
“Tidak Yang Mulia ini semua kesalahpahaman..”
“Merupakan sebuah kejahatan besar apabila melukai apalagi hingga berdarah seorang anggota keluarga kerajaan Yang Mulia. Bukan hanya Dia berani menyentuh Tuan Putri tapi juga seorang pelayan. Sudah jelas ini bukan sebuah kesalahpahaman.”
Harapan kecil Catherine bahwa Sang Raja akan memihaknya sirna saat dilihatnya Gaius mengganguk-ngganguk mendengar perkataan Petra.
“Benar itu memang sebuah kejahatan besar”
Kata-kata Raja menyetrum Catherine layaknya petir.
“Hukuman apa yang cocok ya?”
Tanya Raja dengan muka tanpa ekspresi pada Petra, sangat berbeda dari beberapa hari lalu saat Ia menyatakan cintanya kepada Catherine.
“Dia yang berani menantang keluarga kerajaan tidak punya tempat di kerajaan ini. Dengan sepantasnya Ia harus diusir oleh Yang Mulia Raja sendiri”
__ADS_1
“Tidak hukuman itu kurang tepat”
“Yang Mulia itu hukuman yang berlbihan”
Mendengar perkataan Raja Catherine menangis dan harapannya semakin menipis. NAmun perkataan selanjutnya membuat Ia putus asa.
“Menghina Tuan Putri dan mencoba ‘berdiri di atasnya’ sudah sebuah kejahatan besar. Tetapi kita tidak boleh membiarkan orang yang telah melukainya”
“Catherine Loenheim akan digulingkan. Dan setelah tiga hari…..”
Para ‘pembantu'(sekutu) Ratu meneguk ludahnya. Mereka sedang berpikir akan maju atau mundur saja.
“Penggal dia”
Keheningan menyelimuti seisi ruang perjamuan setelah mendengar kata-kata raja. Catherine kehilangan tenanganya dan perlahan-lahan pingsan. Para sekutunya saling bertatapan sebelum akhirnya mundur. Mereka langsung memutuskan untuk lenyap dari pandangan Sang Raja.
“Tolong nyalakan musiknya kembali”
Para Musisi sudah dibanjiri keringat namun mereka tetap mengikuti perintah Raja.
Musik ceria yang sedang bermain tidak dapat menutupi aura ketakutan para tamu. Para tamu menghabiskan sisa malam minum-minum untuk menyembunyikan rasa takut mereka.
Maka dengan itu pesta perjamuan pun selesai
………………
__ADS_1
Acara perjamuan hari itu meninggalkan kesan kuat bagi para tamu yang hadir.Semua orang yang hadir menyaksikan sendiri kemampuan dan kekuasaan Petra Liefer. Ketenangan dan keanggunannya sama sekali tidak berdampak pada kekejamannya.
Namun ada juga tamu yang tidak mengerti situasi hari itu dan berusaha menemui ratu ‘kelas rendah’ tersebut.
Tapi mereka langsung memahami situasi saat melihat Catherine diseret keluar.
Pesan dari Yang Mulia Raja sudah jelas. Mulai sekarang keluarga Liefer adalah satu-satunya yang berkuasa di keluarga kerajaan. Siapapun yang mencoba membantah tidak akan diampuni.
Malam berikutnya,Gaius duduk di ruang belajar menunggu seseorang datang. Bahkan di usianya yang sudah mencapai kepala empat Ia masih terlihat muda karena wajah tampannya yang tidak berkeriput.
Perawakannya yang tinggi, rambut hitam kelam, dan tentu saja mata keemasan Gaius menandakan dia keturunan asli keluarga Leifer. Dengan tampang seperti ini bagi beberapa orang mereka seperti serigala, namun tidak hanya Gaius menarik perhatian ratu-ratu muda tetapi juga para pelayan istana.
“Yang Mulia rupanya Kamu disini”
Sesua undangan Gaius Petra memasuki perpustakaan dengan sopan. Gaius mengisyaratkan pelayan untuk memberikan Petra kursi.
“Disini dingin, pakailah pakaian hangat”ucap Petra. Rambut hitam lurunya terikat ke belakang seperti biasanya. Mata keemasan persis seperti Gaius milik Petra bersinar terang.
“Aku baik-baik saja.Khawatirkan dirimu sendiri”
Petra mendesah lalu menuangkan secangkir teh untuk Gaius.
“Kalau begitu setidaknya makanlah makanan yang hangat”
Walaupun Petra dikenal kurang kasih sayang dan kebaikan, Namun dai bersikap lembut pada Gaius, satu-satunya saudaranya.
__ADS_1
“Apakah Kamu sudah dengar apa yang terjadi dengan Viscount Loenheim?”