
Shingg!
Suara pedang panjang dikeluarkan dari sarungnya. Pedang itu bersinar terkena pantulan cahaya bulan. Dengan pedang di tangan Uriel mendekati pinggiran ranjang untuk melihat targetnya.
“… gadis muda?”
Setelah melihat target pembunuhannya perutnya bergejolak.
Seorang gadis yang hanya berusia 16 tahun. Gadis itu sedang tertidur di ranjangnya yang besar. Rambutnya yang berkilau tersebar di bantal.
“Safiro anak sialan-“Uriel mengutuk Safiro. Seperti biasanya dia memang hanya diberitahu lokasi targetnya. Tapi ini lebih sekedar dari misi tak menyenangkan. Bagi Uriel membunuh adalah hal yang biasa. Uriel memang dibentuk menjadi pembunuh. Namun, Uriel yang telah banyak membunuh dan membantai musuh-musuhnya tidak pernah menganyunkan pedangnya kepada seorang gadis tak berdaya. Uriel menatap gadis itu dan mendesah.
“Aku tidak tahu apa yang telah Kau lakukan sehingga Petra Liefer sangat membencimu…”
Wajahnya dipenuhi rasa kasihan yang tak pernah Ia tunjukkan.
“Aku tidak bisa menolongmu, Kau hanya tidak beruntung.” Uriel mendesah sekali lagi dan Ia menetapkan keputusannya.
__ADS_1
“Jika Aku tidak membunuhmu maka Aku akan mati dengan derita yang bahkan tidak bisa kau bayangkan. Maafkan Aku tapi hidupku lebih penting dari hidupmu”. Matanya berkilau dingin. Rasa kasihan yang hanya muncul sesaat hilang seketika.
“Semoga Kau beristirahat dengan tenang”. Pedang ditangannya berkilau diterpa cahaya bulan. Pedang itu mengayun di udara dan mendarat tepat di leher gadis malang itu.
Shing-! Thud-! Tetapi tepat sebelum pedang itu menyentuh leher gadis itu pedang Uriel seakan menghantam sesuatu dan memantul.
“Apa…”Uriel mengerutkan keningnya. Aneh sekali pedang Uriel tidak bergerak sesuai keinginanya. Sekali lagi Uriel mengangkat pedangnya dan mengayunkannya tepat ke arah gadis itu.
Shingg-!Thudd-! pedang itu kembali memantul. Tidak lama Uriel menyadari bahwa sesuatu di misinya telah salah total.
“Tidak ada gunanya” Saat itu suara pelan memecah keheningan. Saat Uriel berbalik kearah suara mengira Ia salah dengar, Uriel menyadarinya. Gadis yang tadi sedang tertidur sekarang sudah terbangun dan tengah menatapnya.
“Kaulah yang butuh keberuntungan” mata gadis itu berkilau kejam di kegelapan.
Tubuh Uriel tersentak. Ia berusaha mundur kearah jendela tetapi tubuhnya seolah ditahan oleh dinding.
“Ada penahan. Aku tidak tau siapa Kau tapi pedangmu tidak bisa menembusnya”
__ADS_1
Gadis itu duduk. Uriel bisa melihat rambut keemasannya dan mata birunya. Namun saat Ia melihat lebih dekat matanya ternyata berwarna emas.
Apakah dia anggota keluarga kerajaan? tidak mungkin..
Gadis itu terus menatap Uriel seakan mengintip kedalam jiwa Uriel. Tatapan gadis itu membuatnya kewalahan. Namun tidak ada tampak penyesalan di wajah Uriel.
Alis gadis itu mengkerut khawatir, dan bibirnya yang naik sedikit tampak penuh kasih. Seperti tatapannya beberapa saat lalu.
Gadis itu menunggu Uriel menyerah.
Gadis itu bertingkah seakan memilki kendali atas Uriel. Biasanya Uriel tidak pernah kehilangan ketenangannya saat melaksanakan misi. Namun pikirannya saat ini dipenuhi kegusaran. Yang Uriel lihat hanya merah.
Uriel ingin menghancurkan kesombongan gadis itu. Uriel benci perasaan ini apalagi perasaan ini Ia dapatkan dari gadis kecil tanpa senjata. Uriel ingin menghapus raut simpati dari wajah gadis itu.
Pedang akan selalu mengikuti keinginan tuannya, apapun yang terjadi
Kata-kata Safiro, orang yang paling Ia benci tiba-tiba muncul di pikirannya. Kalau kata-kata itu benar maka, penahan apapun tidak akan menghalanginya. uriel tidak percaya kata-kata gadis itu bahwa penahan itu tidak bisa dihancurkan.
__ADS_1
Ia harus menyelesaikan ini.
Uriel mengetatkan pegangannya pada pedang peraknya. Tangannya telah siap. Ia mengangkat pedangnnya dan mengarahkannya ke gadis itu untuk ketiga kalinya.