
Mereka terus bertatapan penuh selidik. Waktu terus berlalu tetapi baik Uriel atau Apollonia tidak mengalihkan pandangannya.
“Aku berubah pikiran Sid”ucap Apollonia memecah keheningan. “Kita harus membesarkan bayi singa yang bibiku buang.”
………..
Uriel Biche dikurung di kamar kecil di Star Palace, pikirannya dipenuhi benyak hal. Dari awal dia sudah curiga dengan misi ini. Ternyata misinya untuk membunuh keponakan perempuan Petra Liefer, Sang Tuan Putri.
Uriel memejamkan matanya dan mengingat-ngingat percakapannya dengan Apollonia.
“Apa Kau disini untuk membunuhku?”
Uriel tidak mengerti bagaimana bisa Apollonia menanyakan pertanyaan seperti itu dengan tenang. Gadis yang sangat aneh. Gadis berpembawaan ratu yang menatapnya tajam dan seolah dapat mengetahui kelemahan terbesarnya. Gadis yang dapat menilai seseorang dengan cepat dan tepat.
Namun Uriel bisa melihat gadis pemberani itu sedikit terguncang dalam tatapan mereka.
“Berapa usiamu?”
Uriel ingat betul ekspresi gadis itu. Wajahnya pucat bersinar sombong layaknya seorang penguasa. Matanya sewarna dengan bara api namun tatapannya sedingin es. Namun ada sirat kasih sayang di mata itu. Lalu juga senyumnya.
Uriel tau maksud dari ekspresinya tetapi Ia ragu dengan penglihatannya.
__ADS_1
Sejak dilahirkan di kota kumuh hingga menjadi salah satu ‘singa’ Safiro banyak orang yang tertarik padanya. Namun Uriel taidak ingat siapa mereka.Namun dari semuanya ada beberapa orang yang Ia ingat. Orang-orang itu menunjukkan betul rasa bencinya pada dirinya.
“Pergi sana dasar binatang!”
Rasa jijik.
“Ini wilayah Kami, Kau tidak boleh mengemis disini, pergi sana”
Rasa serakah.
“Dasar pencuri roti, Brengsek Kau!”
Rasa marah.
“Aku, Safiro Tuanmu. Aku telah melakukan banyak hal untukmu. Untuk membayar hutang budimu Kau harus hidup bagai anjing.”
Safiro orang yang menculik dan mencuci pikiran Uriel yang masih berumur 11 tahun sering mengatakan itu. Setiap kali Safiro berkata seperti itu Uriel bisa melihat ada sirat kepuasan di matanya.
Tetapi senyum gadis yang Ia temui hari ini berbeda dari siapapun yang pernah Ia temui.
“Kita harus membesarkan bayi Singa yang bibiku buang”
__ADS_1
Dan saat itu untuk pertama kalinya dalam hidup Ia punya secuil harapan.
………..
Sebelum menjelang fajar, Sid dan Apollonia sedang mengerjakan tahap pertama rencana mereka.
Pembunuh bayaran Petra telah gagal dalam misinya dan hilang tanpa jejak. Mengetahui sifat Petra, Petra pasti mencurigai Apollonia. Apollonia tidak ingin penahan spirit stone miliknya ataupun rencana bahwa Ia telah bersiap untuk perang ketahuan oleh Petra.
Rencana mereka untuk bergerak dengan cara paling terbuka tanpa ketahuan sama sekali.
“Ahhhhhhhhhhhhhhhhh” beberapa saat lewat tengah malam jeritan Apollonia memenuhi istana.
“Me-mesumm” tidak lama setelahnya orang-orang bergegas ke kamar Apollonia. Yang pertama datang tentu saja Sid Baian dan Maya pelayan pribadinya. Tak lama setelahnya beberapa pelayan lainnya datang.
“Ada apa Yang Mulia?”
Apollonia menjelaskan pada Sid sambil terisak-isak.
Apollonia terbangun tengah malam untuk mengambil air minum, ketika didengarnya derikan jendela. Ketika Dia menoleh dilihatnya seorang pria berjubah mencoba membuka jendela. Pria itu mendorong jendela dan masuk dan mencoba membekap Apolonia. Tapi Pria itu telat karena Apollonia sudah berteriak sekencang-kencangnya.
“Untung saja Aku belum tertidur. Orang gila pasti jatuh cinta pada Kamu saat melihat Kamu di perjamuan.”Sis menepuk-nepuk kepala Apollonia yang masih gemetar. Sid menggeratakkan giginya. Pelayan-pelayan lain di belakang berteriak marah dan memberitahu pengawal.
__ADS_1
Hanaya Apollonia, Sid, dan Maya yang tau identitas asli pria tersebut adalah seorang pembunuh bayaran. Sejak Yang Mulia Raja mengumumkan bahwa Pangeran Mahkota Paris adalah penerusnya, tidak ada yang berpikir bahwa akan ada percobaan pembunuhan terhadap Apollonia.