
Apollonia mengutuk dirinya sendiri. Sebuah perjamuan diadakan sebagai perayaan upacara ulang tahun putri. Dengan kata lain, hari yang tepat untuk memancing seseorang tanpa ketahuan. Perhatian semua orang tertuju ke perjamuannya.
Ia terlihat mabuk dan tidak sadar sepenuhnya tetapi itu pasti bagian rencananya.Untuk memilih pelayan muda, membawanya ke perjamuan dengan alasan sebagai pengantarnya.Sudah jelas mereka akan kemana.
Ketika Apollonia mencapai Taman Serbia dia melihat dua bayangan di kegelapan. Bayangan yang lebih kecil berusaha menolak bayangan yang lebih besar namun tidak ada gunanya.
Apollonia berpikir untuk meneriaki mereka namun Ia mengubah pikirannya. Taman ini bahkan bukan miliknya. Apa gunanya melindunginya?
“Yang Mulia…..?”
Apollonia tersentak mendengar suara familiar di belakangnya. Apollonia berbalik dan mendapati Nisha, adik laki-laki Gareth.
“Kenapa Kamu berada di luar?” tanya Nisha penasaran. Nisha adalah anak yang benci keramaian dan keributan, Ia pasti keluar untuk menghirup udara segar.
Ketika Apollonia melihat wajahnya, sebuah ide terlintas di pikirannya.
“Aku mencari aksesoris rambutku. Sepertinya Aku tidak sengaja menjatuhkannya di Taman Serbia. Maukah Kamu membantuku?”
Apollonia menunjuk tempat dimana Gareth masih terlihat. Tidak seperti kakak dan ibunya, Nisha masih muda dan polos. Nisah mengganguk dan berlari ke arah yang ditunjuk Apollonia.
Beberapa saat kemuadia Nisha berlari keluar. Wajahnya tampak terkejut. “Yang Mulia! di-didalam ada orang…”
“Apa maksudmu hanya anggota keluarga kerajaan yang boleh memasuki taman ini.”
__ADS_1
“Aku mengatakan yang sejujurnya! Ada orang didalam! Bagaimana jka ada pencuri?”
Wajah polos Nisha bergetar sambil mencengkram tangan Apollonia. Apollonia menatap Nisha dan mencoba memasang wajah ketakutan.
“Kalau ada seseorang.. apakah ada yang membobol masuk ke Istana kerajaan?”
Mata Nisha melebar.
“Maka…. Aku harus memberitahu Pangeran Paris.”
Setelah Apollonia mengganguk padanya, Nisha berlalri ke ruang perjamuan lalu menarik-narik lengan Paris yang sedang mengobrol dengan beberapa orang.
“Yang Mulia.”
Paris Vianas Ferdian. Raja berikutnya.
Pria yang memiliki rambut pirang mirip Apollonia dikelilingi oleh Pria muda lain seumurannya. Paris dilahirkan dengan rambut coklat muda namun warnanya berubah sejak kematian ibunya. Raja mengatakan bahwa terlambatnya muncul tanda tanda seorang anggota kerajaan karena terlambatnya tumbuh kembangnya. Faktanya banyak orang yang karakteristiknya telat berkembang jadi semua orang memercayai kata-katanya.
“Ada apa Nisha?’
Paris dan para bangsawan memusatkan perhatian mereka kepada Nisha, seperti yang Apollonia rencanakan.
“Aku melihat ada orang di Taman Serbia!Pasti ada pencuri!.”
__ADS_1
“Tenang dan jelaskan. Apa hanya ada satu orang? seperti apa mereka?”
Apollonia mengelus kepala Nisha untuk menenangkannya.
“Mereka terlihat seperti wanita dan Pria, Yang Mulia.”
Wajah Paris berubah gelap. Dia sudah tahu bahwa penyusup itu adalah Gareth. Paris selalu mengabaikan kunjungan diam-diam Paris. Tapi karena Nisha menyebutkan bayangan wanita juga akan sulit untuk membela Gareth. Mengakui bahwa Ia membiarkan wanita memasuki taman kesayangan Putri Ellenia akan merusak reputasinya.
“Ayo panggil penjaga.”
Tanpa mengetahui pikiran Paris, bangsawan disekitarnya merasa marah.
“Pencuri di Taman Serbia?! Beraninya Mereka menyentuh milik Yang Mulia! Meraka pasti ingin mati!”
“Kalau memang pencuri, kenapa mereka pergi ke taman?Sepertinya salah satu tamu mabuk dan salah jalan.”
Paris berusaha menenangkan mereka, tetapi para tamu begitu kesal.
“Tetapi Yang Mulia, taman itu seperti labirin. Akan sulit bagi yang tidak tahu jalan menemukan pintu masuknya. Kalaupun bukan pencuri, pasti dilakukan oleh orang yang sudah merencanakan dengan niat jahat. Kita harus pastikan bahwa ini tidak akan terjadi lagi.”
Mereka terburu-buru ke Taman kerajaan, Paris Nisha dan Apollonia mengikuti dibelakang. Saat mereka mendekati pintu masuk taman mereka mendengar suara perempuan.
Namun teriakan yang terdengar begitu tercekik sehingga kata-katanya tidak jelas.
__ADS_1