
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya Uriel merasa damai setelah Ia putuskan untuk membuang segalanya.
Makan tiga kali sehari. Kasur empuk berbulu angsa.Tempat disebelah kasurnya untuk mandi. Hal-hal ini adalah hal-hal yang tidak pernah Ia dapatkan sebelumnya.
Yang paling penting makanan disini lezat sekali. Menu makannya selalu seimbang seperti makanan lezat yang Ia makan kemarin. Daging kalkunnya terpanggang sempurna, Roti renyah yang masih hangat seakan baru saja dikeluarkan dari oven, dan buah-buahan yang segar serasa lumer di mulutnya.
Ia tidak pernah makan makanan seperti ini sebelumnya. Dan bukan hanya makanannya yang lezat luar biasa tetapi peralatan makannya pun tertata cantik. Bahkan jika makanan-makanan ini diracun Uriel tetap akan memakannya.
Karena tidak ada hal yang menyibukkan pikiran maupun badannya, Uriel merasa bosan sekali. Namun gadis itu tetap saja bercokol di pikirannya.
Suaranya yang tenang dan lembut. Wajah pucat tirusnya penuh ejekan namun tersirat sedikit kesedihan di rautnya. Alis yang sedikit terangkat menatapnya rendah. Mata yang tajam memancar seolah mengintip jiwanya.
Gadis yang menginterogasi layaknya orang dewasa ternyata lebih muda darinya. Gambaran gadis aneh itu semakin mendalam di pikirannya.
Di hari keenam, gadis ittu muncul..
kriett….
Pintu perlahan terbuka dan Apollonia melangkah masuk. Apollonia berhenti didepan pembatas yang menahan Uriel, mengambil kursi, dan duduk menghadap pembatas. Apollonia mengisyaratkan anak laki-laki yang sedang bersandar di dinding untuk duduk di hadapannya.
Ini pertama kalinya mereka berhadapan setelah malam itu.
Anak laki-laki dihdapannya lebih kurus dari yang Ia ingat. Tinggi badannya membuat Ia tampak lebih tua namun rautnya masih memancarkan perasaan lembut. Rautnya memperkuat ketampanan wajahnya.
__ADS_1
Setelah beberapa hari istirahat wajahnya terlihat lebih sehat dan luka di bahunya semakin membaik.
“Sepertinya Kau makan dengan baik”
Anak laki-laki itu duduk di kasurnya sambil menatap Apollonia. Uriel hanya diam. Apollonia menyadari pasti uslit bagi Uriel untuk menentukan cara bicaranya pada Apollonia.
“Siapa namamu?”
Anak laki-laki itu tetap diam. Uriel hanya memiringkan sedikit kepalanya dan tersenyum tipis.
“Tidak apa-apa jika Kau tidak mau menjawab tetapi Aku kesini untuk menyampaikan berita.” Apollonia menatap dalam mata biru Uriel. Berita yang akan Ia sampaikan cukup krusial namun Ia tidak dapat membaca reaksi lawannya.
“Safiro sudah meninggal.”
“….Apa Kau yakin?”
Apollonia membuka lembaran foto yang sedaritadi Ia bawa. Ketika Uriel melihat foto pria paruh baya itu matanya melebar.
“Safiro ahli dalam menyamar, hanya beberapa orang yang tau wajah aslinya. Aku bahkan tidak tau dimana Ia tinggal dan hanya tahu sedikit penampilannya.”
Apollonia melipat kembali fotonya dan mencondongkan badannya ke arah Uriel.
“Tetapi orang dalam foto ini meninggal kemarin. Aku yakin Kau mengenalinya sebagai Safiro” ucap Apollonia sebelum Uriel sempat menginterupsi.
__ADS_1
“Kau menghampiriku tepat setelah perjamuan berakhir. Berarti Kau dan gurumu sudah berada di ibukota menggunakan identitas palsu.”
“…”
“Jadi Aku mencari tahu kasus pembunuhan dalam tiga hari terakhir. Ada tiga pembunuhan dan salah satu pembunuhan tersebut pelakunya tidak ditangkap.”
Mata Uriel semakin melebar menunjukan kekagetannya.
“Tuanmu, bukan maksudku Gurumu … telah tiada.”
Apollonia menarik benda berkilau lainnya dari dadanya. Benda itu adalah taring binatang yang dijadikan kalung. Jika dilihat lebih dekat akan terlihat sedikit noda darah.
“Kuambil dari lokasi kejadian. Kau mengenalinya pasti. Aku yakin.”
Apollonia melempar kalung itu ke pangkuan Uriel. Dengan enggan Uriel memungutnya dan menelitinya.
“… Ah begitu.”
Apollonia kira Uriel akan terlihat emosional. Marah, sedih, atau kombinasi keduanya mungkin? Tetapi Ia hanya tertawa pahit dan membuang kalung itu keujung kasurnya.
“Begitu saja?”
“Untuk apa Aku mengharapkan kedamaian seorang brengsek yang hidup senang diatas penderitaan orang lain?”
__ADS_1