Putri Berwajah Dua

Putri Berwajah Dua
Chapter 29


__ADS_3

“Itu.. namaku.”(dengan formal).


Uriel terbata-bata menyelasaikan kalimatnya dan rautnya terlihat tidak puas. Namun di wajahnya tidak lagi tampak kemarahan, sinis, atau keraguan melainkan secercah harapan di mata indahnya.


“Uriel Biche”


Apollonia menyebut nama itu pelan.


“Namaku Apollonia Alistair Ferdian.” 


Seperti kali pertama mereka bertemu tatapan mereka kembali bertemu. Namun kali ini tatapan ini mengandung persahabatan didalamnya.


………


Setelah Apollonia meninggalkan ruangan, Uriel melempar dirinya kembali ke ranjang.


“Ha..”

__ADS_1


Ia mendesah dalam. Rasanya Ia hampir tidak percaya. Ia kira tak ada cara untuk menghapus tanda itu.


Ketika Ia menutup matanya, wajah Apollonia muncul di benaknya. Wajah Apollonia sudah beberapa hari ini memang bercokol di pikirannya namun melihatnya sekali lagi telah mengubah pesonanya.


Gadis itu baik tetapi dingin. Penuh perhitungan, namun di setiap tindakannya ada kebaikan hati yang Ia berikan. Ketika Apollonia memberitahunya tentang kematian Safiro, Ia kira Apollonia dingin dan tak berperasaan. Namun Ia menyadarinya sekarang bahwa Apollonia juga memandangnya penuh kasih.


Gadis itu dengan dingin mengancam akan membunuhnya apabila tidak mematuhinya, Tetapi di sisi lain ancaman itu adalah ancaman yang baik. ‘Kematian bersih’ itu mudah ; sangat berbeda dari Safiro, bajingan itu. Kalau Ia menganggap seseorang berguna maka Ia akan melakukan segala cara kejam untuk membuat mereka tetapp hidup. Ia menggunakan mereka hingga ketulang untuk kepentingannya sendiri.


Uriel mengangkat kedua tangganya dan dengan lembut menyatukan ujung-ujung jarinya. Uriel masih merasakan sensasi saat Ia menggengam lengan Apollonia. Ia mampu meretakkan pembatas itu namun ketika Ia melihat ekspresi tercengang Apollonia, Ia tidak dapat berbuat lebih jauh. 


Begitu Apollonia memerintahnya, Ia langsung mundur dan melepaskan tangannya. Orang yang melihatnya mungkin mengira bahwa Apollonia- lah yang memberikannya tanda itu.


Uriel tertawa pahit. Ia bahkan sudah mematuhi Apollonia sebelum Ia menyetujuinya.


‘Tuan’


Kata-kata menjijikan yang familiar.

__ADS_1


Kata-kata itu tumpang tindih berputar-putar dengan mata mempesona Apollonia di kepalanya. Mata itu yang menggambarkan dingin dan kehangantan hampir membuat kata-kata itu terdengar manis.


Uriel ingin melihat mata itu tersenyum. Kejadian hari ini rasanya sulit dipercaya


……….


Wanita-wanita Kerajaan Samara mengadakan upacara perayaan ulang tahun ketika mereka mencapai usia 17 tahun.


Upacara perayaan ulang tahun artinya mereka sudah cukup umur untuk menikah dan berinteraksi dengan orang diluar keluarga mereka. Di beberapa keadaan, terutama wanita-wanita bergelar dapat secara formal menggunakan otoritas mereka dan ‘kabur’ dari bayangan wali mereka. 


Seperti wanita lain Apollonia telah menunggu upacara perayaan ulang tahunnya. Tetapi bukan karena Ia memimpikan romansa bersama pangeran tampana atau dirayakan banyak tamu atau juga mengenakan gaun indah.


Di bagian selatan Kerajaan ada wilayah yang diwariskan padanya oleh kakeknya. Karena dia masih muda, kekuasaan wilayah tiu didelegasikan pada pemerintah lokal, Namun setelah upacara perayaannya Ia ingin mengunjunginya dan secara resmi menjadi pemiliknya.


Apollonia satu-satunya ahli waris dari kakeknya, Pascal III jadi Ia memliki banyak lahan yang diwariskan padanya sebelum kakenya meninggal. Bagian tanahnya yang sangat luas yang berada di kerajaan sebagian besar terletak di ibukota dan bagian timur yang subur. Namun setelah kematian Pascal III, Gaius mencuri sedikit demi sedikit lahan Apollonia dan memberikannya kepada pelayan-pelayannya yang paling Ia sukai.


Alasannya karena Apollonia masih terlalu muda, namun Ia juga memberikan beberapa lahannya kepada Paris yang berusia sedikit lebih tua diatasnya. Untuk menghindari pemeriksaan publik, Gaius menyisakannya Provinsi Lishan di selatan, yang merupakan provinsi terbesar di kerajaan. 

__ADS_1


__ADS_2