Putri Berwajah Dua

Putri Berwajah Dua
Chapter 18


__ADS_3

Apollonia tetap memegang dagu Uriel selagi dia bicara. Mata gelap Uriel goyah seakan mengiyakan pertanyaan-pertanyaan Apollonia. 


“Karena itu Kau ragu….”Apollonia melepas dagunnya.


“Tetapi kenapa Kau tidak membunuhku ketika ada kesempan? seperti katamu hidupmu lebih penting dari hidupku.”


Dengan muka masam Apollonia menunggu jawaban Uriel. Tetapi Uriel tetap diam karena Iapun tidak tau mengapa Ia tidak membunuh Apollonia. Saat Uriel menghancurkan penahan Apollonia, pikirannya dipenuhi kemarahan untuk menghancurkan Apollonia. Rasanya dia ingin sekali lihat tatapan itu dipenuhi ketakutan. Uriel tidak mau membunuhnya begitu saja. Tetapi anehnya Uriel tidak menyesal tidak membunuhnya.


“Apapun alasannya Aku tidak menganggap Kau orang yang gampang menyerah”


Sepertinya Apollonia masih ingin bicara, namun ksatria paruh baya disebelahnya menyelanya.


“Yang Mulia, ini sudah menjelang fajar. Kamu harus memutuskanapa yang harus kita lakukan padanya”


“Hmm.. untuk saat ini kurung dia selama tiga hari. Jika pembunuh bayarannya tidak jelas hidup atau matinya, bibiku akan membunuh Safiro untuk menutupi jejaknya dalam rencana ini. Ada luka di bahunya untuk sementara berikan Dia obat.”


Ternyata Apollonia tahu lebih banyak dari dugaan Uriel.


“Dan setelah 3 hari bu-”


Suara Apollonia bergetar sembari Ia mengigit bibirnya. Matanya gentar sesaat.

__ADS_1


“Bunuh Aku.” Uriel menyelesaikan kalimat Apollonia. Apollonia memandangnya bingung.


“….Apa?”


“Sudah kubilang kalau Aku gagal dalam misiku Safiro akan membunuhku jadi sama saja Aku akan mati pada akhirnya”


Namun perkataan Uriel memang benar. Safiro telah banyak kehilangan anak buahnya, jika Uriel terus berhasil dalam misinya suatu saat nanti Ia akan diberikan misi yang lebih dari kemampuannya. Dan seperti ‘anak’ Safiro lainnya suatu hari Ia akan dibunuh oleh Safiro sendiri. 


Di kehidupan yang telah Safiro berikan padanya Ia hampir tidak menemukan sedikit pun kebahagiaan sehingga Ia tidak punya alasan untuk hidup. Sebenarnya Uriel juga tidak punya alasan untuk mati jadi yang dia lakukan hanyalah bertahan. Hidupnya selalu dipenuhi ketegangan dan Ia sangat bosan dengan semua hal ini. Walaupun Ia tidak berencana mati tetapi mungkin mati sedikit lebih baik dari kehidupan.


“Sepertinya Kau tidak punya rasa kasih pada tuanmu”


“Safiro ataupun Keluarga Liefer bukanlah tuanku”


“Aku hanya tidak beruntung memiliki kehidupan ini.” rasanya seikit puas untuk membalas Safiro sebelum Ia mati. 


Mata Apollonia melebar mendengar jawaban Uriel. Apollonia mendekat. Dengan kasar diariknya dagu Uriel mendekat.


“Safiro si pendosa… dasar pria jahat yang menculik anak-anak tidak bersalah, menyiksa mereka bahkan menjadikaannya pembunuh bayaran”Uriel mengunci tatapannya pada Apollonia selagi Ia berbicara.


“Yang Mulia….”

__ADS_1


Ksatria paruh baya itu kembali memanggil Apollonia namun, Apollonia tetap tidak mengalihkan pandangannya.


“Safiro melumpuhkan jiwa raga dan pandangan mereka untuk menghajar dan menundukkan mereka.”


“Aku sangat tahu akan hal ini” Uriel tersenyum dan menarik jubahnya turun. Ksatria dan Putri di hadapannya tersentak kaget. Puluhan luka brutal dan ganas terpampang di sebelah bahunya. Bahkan beberapa dari luka tersebut sudah menyatu dengan kulitnya.


“Tetapi terkadang…”


Uriel menggantungkan kalimatnya dan Apollonia menyelesaikan kalimatnya.


“Terkadang…. ada orang-orang yang memilih jalan yang salah”


“….”


“…Kau pasti sudah menahan terlalu banyak”


Apollonia menunujukkan raut penuh kasih. Luka di bahunya perlahan-lahan semakin sakit, Tetapi di luar sangkaannya ini tidak terlalu buruk. 


“Berapa usiamu?”


Uriel mendongak menatap gadis dihadapannya. Raut kasih yang tadi Apollonia sudah hilang dan tergantikan dengan tatapan lain.

__ADS_1


“Tujuh belas tahun”


Apollonia mengetatkan pegangannya pada dagu Uriel dan menariknya semakin dekat. Uriel bergetar saat sakit di bahunya menyebar ke seluruh tubuhnya. Sudut bibir Apollonia sedikit terangkat.


__ADS_2