
Tangan Apollonia dibalut perban. Namun perban itu dipenuhi darah yang merembes. Gaius memajukan badannya da buru-buru melepas perbannya. Apollonia berusaha menunjukkan rasa perih dan kesakitan.
Gaius, Sid, dan Petra menatap luru lengan Apollonia.
“Tidak…”
“Ah..” Ketika Apollonia berteriak tersirat rasa malu di wajah Petra dan Gaius.
Ada luka kasar di lengan Apollonia yang disebabkan benda tajam. Luka itu masih basah dan kotor seakan tidak terawat dengan baik. Bahkan melihat lukanya saja tersa pedih.
“Ughh.. sakit sekali Ayah.” darah kembali mengalir saat perbannya dibuka.
“Ini mengerikan”
Seolah tidak tahan lagi, Apollonia buru-buru menutupi lukanya lagi. Gaius mengendurkan genggamannya.
“Yang Mulia, Tuan Putri butuh istirahat.” Sid menyela dengan nada khawatir. Gaius melepaskan genggamannya.
“Bawa Tuan Putri kembali dan pastikan hal seperti ini tidak terjadi lagi.”
Setelah Apollonia dan Sid meninggalkan ruangan, Gaius menatap Petra sebal.
……..
__ADS_1
“Uh..” Apollonia mengerang kembali ketika mereka meninggalkan Istan Kerajaan.
“Sabar Yang Mulia Kamu akan merasa lebih baik setelah Kamu kembali dan mencuci luka Kamu.”
Apollonia mendesah dalam dan menekan pelan luka barunya.
Luka yang Ia dapatkan saat perjamuan sudah sembuh dalam waktu kurang dari sehari dan telah hilang sepenuhnya tanpa bekas. Apollonia pun terpaksa memecahkan vas bunga dan menusuk tangannya di tempat yang sama dengan luka lamanya.
Bahkan untuk berjaga-jaga kalausaja Raja memanggil dokter untuk memeriksa lukanya, Apollonia sudah mengoleskan racun alami agar tidak sembuh. Sebernanya luka barunya lumayan sakit tetapi dengan itu aktingnya berhasil dengan baik. Dan karena luka itu pun Apollonia dapat berakting lebih baik di depan Gaius dan Petra.
Sekarang untuk sementara waktu Apollonia dapat menghindari kecurigaan mereka. Bahkan karena aktingnya yang begitu meyakinkan fakta bahwa Ia punya pembunuh di tangannya dapat terjaga.
“Kamu kuat Yang Mulia ” Sid berbisik pelan ketika mereka melewati koridor istana kerjaaan. Sid masih bisa setuju ketika Apollonia melukai tangannya sendiri namun Sid tidak setuju dengan pengolesan racun itu khawatir terlalu menyakitkan untuk Apollonia.
“Tidak sama sekali. Aku bangga pada Kamu. Semakin lama Kamu semakin mirip dengan almarhumah Raja.”
Mendengar jawaban itu, Apollonia melupakan sakitnya dan tersenyum. Apollonia tidak peduli pada pendapat orang lain karena hanya pendapat SId lah yang penting baginya.
Mereka berdua meninggalkan istana dengan perasaan tenang dan berpapasan dengan seorang pelayan di gerbang. Pelayan itu adalah pelayan muda milik Petra yang pernah Ia lihat sebelumnya.
Biasanya, Apollonia tidak menghraukannya tetapi penampilan pelayan itu penuh kesendirian, kepalanya pun menunduk. Aneh sekali. Apollonia berhenti disebelahnya.
“Kau pelayan bibiku”
__ADS_1
“Y-Yang Mulia,.. Tuan Putri”
“Maukah Kau mengangkat wajahmu?”
Pelayan berambut terang itu tidak mengangkat wajahnya walaupun Apollonia sudah memintanya.
“Kau tidak dengar Tuan Putri ? angkat kepalamu”
Pelayan itu dengan enggan megangkat wajahnya saat Sid memberinya isyarat. Menurut Apollonia, sikap pelayan ini entah bagaimana sedikit mirip dengannya.
“Ini mengerikan”
Lebih tepatnya tingkah lakunya mirip dengan Apollonia.
Ketika Apollonia melihat wajah pelayan itu, Ia langsung memahami tingkahnya. Pelayan itu terlihat seumuran dengannya tetapi lebam memenuhi wajahnya dan ada darah menempel di sudut bibirnya.
Apollonia mengangkat alisnya. Ia pernah dengar rumor soal pelayan ini.
Gadis ini ditugaskan untuk melayani sepupunya, Gareth Liefer. Gadis ini diperintah Petra untuk ‘menerima’ Gareth namun Ia menolak. Sekarang gadis ini malah diperlakukan seperti babu.
“Mari kita lihat berapa lama Ia bisa menhannya” Bulan lalu, Gareth mengumpulkan para bangsawan muda dan menceritakan niatnya. Dan di perjamuan dua hari lalu Gareth bahkan mengatakan sesuatu yang lebih buruk.
“Apapun yang Ia lakukan Ia tidak bisa kabur. Dia tidak akan bertahan lama . Aku yakin Ia akan menyerah padaku secepatnya.”
__ADS_1