Putri Berwajah Dua

Putri Berwajah Dua
Chapter 11


__ADS_3

“Ya Aku sudah dengar. Dia ingin menukarkan seluruh kekayaanya untuk menebus nyawa putrinya”


“Seluruh kekayaan Viscount…. menurutku tidak ada salahnya kita mengetahui berapa nilainya”


“Bukan ide yang bagus menarik hukuman setelah kita sendiri yang memberikan hukuman itu” tegur Petra. Gaius memutar matanya.


“Jangan terlalu dingin….”


“Lihat siapa yang berbicara, Kau yang menyuruhku mengusir ratu secepat mungkin dihadapan banyak orang kalau bisa. Dan sekarang siapa yang menjatuhkannya hukuman mati”


Petra memang satu-satunya manusia yang bisa berbicara seperti itu di seluruh kerajaan kepada Gaius.


“Hahaha iya juga. Aku tidak menyangka saja mereka menetapkan dia sebagai ratu begitu cepat padahal baru 10 hari sejak dia masuk istana”


“Lagipula cara itu adalah cara paling tepat untuk mengungkapkan keserakahannya. Ternyata selir lain pun sama bodohnya karena terus mengikuti dia”


“Aku tidak mengerti kenapa Viscount rela menukarkan seluruh kekayaanya demi menyelamatkan putri bodohnya” Gaiius mendecakkan lidahnya. Tidak ada rasa kasihan sedikitpun diwajahnya.


Kejatuhan Catherine Loenheim adalah plot yang memang direncanakan raja. Dari awal Gaius sengaja memilih selir seorang bangsawan kasta rendah untuk menjadi ratu. Gaius menggunakan Catherine untuk memberi contoh.


‘Titah Raja dapat memutarbalikkan hidupmu dalam sekejap’.Itu adalah pesan yang ingin Gaius sampaikan. Dia juga mengokohkan kekuasaan keluarga Leifer dengan mempercayai adiknya untuk memperlakukan ratu sesuka hatinya.

__ADS_1


“Sepertinya Viscount salah satu orang yang sayang pada putrinya”Gaius tersenyum. Petra tau persis apa yang sedang dipikirkan oleh kakaknya.


“Apa yang akan kau lakukan pada tuan putri?”


“Sekarang Kita membicarakan dia nih ?”


“Walaupun darahnya banyak mengucur, Kulihat lukanya sudah cukup sembuh”


“Kekuatan penyembuhan, mungkin..”Gaius mengangkat sebelah alisnya kemudian Ia tertawa.


“Bukannya Aku tidak percaya dengan apa yang Kau lihat Tapi Kau kan hanya melihatnya sekilas”


“Memang terlihat seperti luka , tapi dia berusaha keras menyembunyikannya dariku”


“Jika kita biarkan dia hidup dia akan membahayakan kita . Kalau dia mewarisi tidak hanya penampilan seorang Leifer tetapi juga fisik kuat…”


“Katakanlah Kau benar” dengan nada lembut Gaius memotong ucapan saudarinya.”Tapi apanya yang berbahaya dari dia?Apa yang bisa dia lakukan dengan kepribadian lemah begitu walaupun dia bisa sembuh dengan cepat, tidak akan ada gunanya kan?”


“Dalam sejarah kerajaan ada beberapa permaisuri yang naik tahta(jadi Raja)”


Gaius mendengus namun Petra tidak mengindahkannya.

__ADS_1


“Banyak dari para permaisuri tersebut yang dikenal sebagai pemimpin yang penuh kebajikan dan kebaikan”


“Itu semua hanya kebetulan.Wanita tidak cocok memimpin. Bahkan wanita terkuat pun hanya berarti jika dia melayani laki-laki”


Petra mengerutkan wajahnya mendegar kata-kata Gaius, namun sebelum Gaius menyadarinya Ia kembali mengganti ekspresinya.


“Kau pun lebih berjaya ketika kau berada di sampingku.Karena hanya ini yang Kau pahami. Seperti semua wanita lainnya di Keluarga Leifer” ujar Gaius sambil bersandar santai di kursinya.


“Apollonia tidak jauh berbeda, dia jauh lebih lemah darimu dan dia tidak punya bakat dalam bidang politik persis seperti ibunya”


“Bagaimana jika dia menikahi pria kuat seperti ibunya dan sukses? Bahkan jika dia menutupi warna rambutnya,tapi dia tidak bisa menutupi warna matanya”


Bukan jenis kelamin Apollonia yang Petra khawatirkan.


“Bukan anak itu yang harus khawatirkan Yang Mulia. Masalahnya hanya siapa yang akan mendukungnya dilihat dari kararakternya”


Nyatanya Petra juga yakin akan kepribadian Apollonia yang lemah karena setiap melihatnya pun Apollonia selalu bersembunyi, Tetapi kewaspadaan Petra sedikit terusik melihat Apollonia.


“Pernikahannya mungkin akan menjadi bantuan besar jika kita bisa memanfaatkannya dengan baik. Keputusan pernikahannya akan menjadi tanggung-jawabku”


“….”

__ADS_1


“Paris juga tumbuh dengan sangat baik. Kita tidak butuh keturunan kerajaan”


Gaius tidak menyembunyikan rasa jijiknya ketika Ia menyebut ‘keturunan kerajaan’. Petra hanya mendesah berat.


__ADS_2