Putri Berwajah Dua

Putri Berwajah Dua
Chapter 26


__ADS_3

Apa informasi yang Ia terima salah?Apollonia kira bawahan Safiro yang telah dicuci otak akan sangat setia pada Safiro. Namun anak laki-laki dihadapannya jelas-jelas membencinya.


“Aku semacam produk gagal” Uriel menyadari kebingungan Apollonia lalu menjelaskan.


“Aku menahan siksaan Safiro dengan baik hingga Aku berada di ambang kematian. Aku dianggap tidak cocok untuk menjadi anjingnya.” suara Uriel terdengar tenang.


“Kemudian salah satu tangan kanannya mati.. dan tidak ada orang lain yang dapat menggantikan.”


Apollonia mengganguk pelan. Tentu saja penjelasan Uriel bukan keseluruhan cerita. Mungkin itulah alasan pengecualian Safiro membesarkannya layaknya anjing karena bakatnya yang luar biasa.


Orang yang dapat merusak pembatasnya hanya dengan dua kali percobaan.


Dirinya dan Sid tidak pernah melihat orang seperti ini. Almarhum Raja dan ayahnya mungkin lebih genius darinya namun ayahnya yang sebelumnya tidak punya lawan yang seimbang di seluruh kerajaan dalam bela diri mungkin sekarrang punya.


Karena Uriel menerima kabar kematian Tuannya dengan tenang, Apollonia beralih ke topik lain.


“Karena orang yang Kau layani sudah mati, kepada siapa Kau akan memberikan kesetiaanmu ?Leifer?” Apollonia bertanya terus terang. Mendengar pertanyaan itu Uriel menaikkan sedikit sudut bibirnya. Uriel berlagak seakan Apollonia baru saja menanyakan pertanyaan naif.


“Kau sendiri tau Kau akan mati jika kembali ke Leifer, dengan cara paling mengerikan yang bisa Kau bayangkan. Tetapi, Aku bisa menawarimu pilihan lain.”

__ADS_1


Sebelum Uriel sempat menjawab Apollonia melanjutkan ucapannya.


“Karena Safiro sudah mati, tidak ada orang yang dapat mengenalimu di kerajaan. Aku bisa memberimu identitas baru.”


Uriel mencibir.


“Nama dan masa lalumu tidak penting bagiku. Mulai sekarang hiduplah hanya untukku.”Terdengar seperti permintaan simpel, namun tidak ada cara lain. Tidak ada sirat kesetiaan diantara keduanya, dan Apollonia tidak cukup munafik mengancamn hidupnya untuk menerima permintaannya dengan kebebasan sebagai jaminan.


Apollonia membutuhkan anak ini. Namun jika Uriel menolak tawarannya Ia tidak akan segan-segan membunuhnya.


Uriel perlahan bangkit dari kasurnya dan melangkah menuju Apollonia.


“Si-”


“Apa yang Kau lakukan..”


Apollonia berusaha berbicara, tetapi Uriel hanya tersenyum mengejek sambil memiringkan kepalanya. Dengan pelan Uriel meregangkan tangan kananya lalu menyentuh pembatas transparan diantara mereka. Kalau saja tidak ada pembatas diantara mereka mungkin orang-orang akan salah paham dan mengira Uriel akan mencium Apollonia.


Jarak mereka terlalu dekat. Namun Apollonia tidak mundur. Ia tidak ingin menunjukan sedikitpun kelemahan. Ketika mereka semakin dekat hingga suara nafas satu sama lain Uriel membuka mulutnya.

__ADS_1


“Ternyata Aku bahkan terlihat tampan dimatamu.”


Apollonia tidak menyangka ucapan tenang Uriel. Ucapan itu tidak cocok dengan situasi ini sama sekali. Namun ketika mendegarnya Apollonia tidak ada pilihan lain selain menatap wajah sempurnanya.


DIa memang tampan. Senyum mengejek, bibir kemerahan, dan mata biru lautnya. Namun dari kilat penuh cemooh di matanya sudah jelas Uriel berusaha mempengaruhinya.


“Jangan kurangajar.”


“Kau memintaku menjadi lelakimu.”


“bukan seperti itu maksudku.”


Senyum penuh ejekan itu semakin melebar dan nafas hangatnya menerpa mata Apollonia.


“Aku tidak akan berbaik hati bagi siapapun yang tidak menganggapku serius.”Apollonia mendorong lebih dekat penghalang diantara mereka. Uriel tampak terkejut tidak mengira Apollonia akan melawannya.


“Kau memintaku untuk membunuhmu kan?Kalau itu yang Kau inginkan katakan padaku. Pada akhirnya Kau hanya punya dua pilihan. Kau bisa menerimaku sebagai Tuanmu dan terus hidup atau mati disini tanpa bisa melihat cahaya lagi. Tentu saja Aku tidak berharap Kau menjanjikan kesetianmu padaku seperti pada Safiro.”Suara Apollonia terdengar dingin. Senyum Uriel menghilang seakan Ia membenci kata Tuan.


“Kau salah dalam dua hal.” Uriel meludah diantara giginya yang terkatup rapat. Dengan pelan Ia menangkat tangan kirinya.

__ADS_1


“Pertama, khayalan bahwa Kau dapat membunuhku dengan mudah.”Ketika Uriel selesai berbicara tangannya mulai memancarkan sinar keperakan yang aneh. Ketika tangannya menyentuh pembatas yang membatasi mereka, pembatas itu mulai bergetar keras.Sebuah celah muncul di pembatas.


Kretak….


__ADS_2