
Ketika seseorang dari keluarga kerajaan mengucapkan salam panjang dan sia-sia ini, Si permaisuri harus memberikan jawaban yang pas ditengah-tengah salam tersebut. Salam ini adalah tes pertama seorang permaisuri dan setara dengan mengucapkan sumpah.
Biasanya wanita-wanita yang akan menjadi permaisuri menghabiskan waktu yang lama untuk menghafal buku itu karena jika jawabannya salah maka Ia tidak akan dianggap sebagai permaisuri.
“Jadi yang sedang dilakukan putri sekarang…..”
“Ya ini benar-benar salam formal dan wajib untuk menyapa seorang permaisuri”
Catherine menyentuh dahinya. Dasar manusia kaku Aku kan tidak memintamu mengadakan perayaan Kenapa tidak menyapa dengan normal saja sih! boro -boro menghafalnya Catherine bahkan tidak tau ada buku permaisuri. Tapi jika Ia tidak dapat menjawab sekarang dia akan kehilangan mukanya dihadapan yang lain.
“Bagian terbaik dari kebajikan itu..”
Setelah bergumam penuh etika untuk waktu yang lama Apollonia menatap Catherine sambil menggantungkan kalimatnya menandakan waktunya bagi Catherine untuk melanjutkan kalimatnya.
“Yang terbaik dari … Maksudku yang terbaik dari kebajikan ini adalah…”
Catherine tergagap sambil melihat ke sekelilingnya, namun para bangsawan tidak ada yang hafal salam panjang seperti itu. Sepertinya Catherine harus mengandalkan akalnya untuk menjawab pertanyaan itu.
“Uh… Kesopanan dan Keanggunan?”
Mendengar jawaban ragu-ragu Catherine, Apollonia kembali menunduk.
“Ketangguhan”
Wajah Catherine semakin mengkerut melihat Maya maju dan memberikan jawaban. Seakan tidak mendengar apa-apa Apollonia bergumam lagi.
__ADS_1
“Satu-satunya yang dapat menghadapi matahari, Mereka berdua bertatapan dan berikrar …”
Sekali lagi Apollonia mendongakkan kepalanya dan menatap Catherine.
“Mereka berdua ber-berikrar .. untuk saling mencintai?”
“Untuk menghargai satu sama lain”
Kali ini Maya menjawab lagi. Catherine dapat melihat beberapa orang menahan tawanya. Walaupun Catherine sangat marah hingga rasanya ingin meledak Apollonia tidak berhenti bicara.
Sampai kapan Kau akan mengicaukan buku sialan itu !
“Layaknya seorang pelayan yang melayani tuannya, Seorang anak yang melayani ayahnya…”
“Untuk melayani suamimu, iyakan?”
“Rupanya Kamu paham”
Apollonia membalas dengan tatapan kagum. Ia menegakkan badannya pertanda salamnya sudah selesai.
“Tentu saja Aku tau buku permaisuri Aku hanya sedikit kebingungan ditengah-tengah tadi.”
Kali ini Maya yang awalnya tegas berbicara tanpa menyembunyikan perasaanya. Walaupun Catherine menatapnya dengan tatapan seolah sedang menginjak kotoran Maya berbicara lagi.
“Buku permaisuri sudah selesai tadi ,yang barusan dikatakan oleh Yang Mulia Putri adalah ‘Pepatah dari Timur’ ”
__ADS_1
“Ap-Apaa..”Catherine berteriak malu.
“Ini merupakan sebuah kebiasaan untuk meletakkan kata-kata berkat diakhir salam resmi”
Gemuruh tawa terdengar di seluruh ruangan hingga wajah Catherine memerah.Namun diantara tawa itu Catherine dapat melihat jelas ekspresi Apollonia.
Namun hanya sekilas terlihat Apollonia menunjukan senyumnya. Seluruh tubuh Catherine gemetaran.
“Maya jangan bicara tidak sopan”
Yang paling mengesalkan karena hanya Apollonia lah yang tidak menenertawakannya terang-terangan. Jelas-jelas dia menggunakan pelayannya untuk mempermalukan Catherine sembari dia memasang wajah tenang. Tubuh Catherine kembali gemetar.
“Baiklah Aku lelah maka Aku akan pamit duluan”
Saat Apollonia berbalik dengan senyuman orang-orang mulai berbisik dan setiap kata menjatuhkan harga diri Catherine.
“Ya ampun pada akhirnya dia tetaplah kalah”
“Tuan Putri hanya melakukan yang harus Ia lakukan”
” Haa dia memang pantas mendapatkannya dia memang kasar dan berisik”
Catherine menggeratakkan giginya. Ia tidak percaya orang-orang mendengarkan anak menyebalkan ini. Catherine tidak ingin mengakhiri situasi seperti ini. Bagaimana cara membalas Apollonia mendominasi pikirannya.
Prang!!
__ADS_1
“Selamat tinggal Put-… Oh maafkan aku”