
Petra tidak akan lagi mencoba membunuhnya. Ketika Ia bertunangan dengan Pangera, keamanannya menjadi masalah penting diplomatik Kerajaan Bjorn. Apollonia menemukan perisai tak terduga.
Pernikahan putri kerajaan layaknya pertukaran. Karena pertunangan ini telah diputuskan begitu cepat, Raja Bjorn dan Gaius akan menegosiasikan banyak persoalan. Namun jika dua pihak yang terlibat tidak menyetujui syarat-syarat perdagangan, umum bagi kedua kerajaan untuk membatalkan pertunangan.
“Kamu harus bisa mengolah dan menyempurnakan kualitasmu sebagai penganti, dengan begitu Kau bisa membawa kejayaan untuk Kerajaan.” Gaius terlihat puas.
“Terima kasih atas perhatianmu, Ayah. Tetapi Aku punya permintaan.” Apollonia membungkuk anggun.
“Silahkan.”
“Aku ingin mengunjungi Provinsi Lishan yang ditinggalkan kakek. Setelah Aku menikah, Aku tidak diperbolehkan kesana lagi, jadi Aku ingin memenuhi tugasku sebagai pemilik wilayah setidaknya sekali.”
“Tetapi itu provinsi yang berbahaya.”
“Aku khawatir provinsi itu semakin kacau jika kutinggalkan lebih lama dan itu satu-satunya wilayah yang kakek berikan padaku yang masih kukuasai, Aku merasa terikat dengan provinsi itu. Kalau Ayah memberikanku izin, Aku berjanji akan kembali sebelum utusan dari Bjorn datang.”
Sang Raja menaikkan alisnya. Pascal III memang meninggalkan banyak wilayah kepada Apollonia selain Lishan, namun semua yang hadir hari itu tahu bahwa wilayah itu telah diambil oleh Raja sendiri.
Kalau Ia berusaha membatasi kekuasaan Apollonia terhadap Lishan di hadapan semua orang, maka Ia akan dicap sebagai Ayah yang pura-pura buta terhadap properti anaknya. Dan tentu saja itu bukan tuduhan palsu.
Gaius menatap putrinya dengan penuh kelembutan dan kasih sayang.
__ADS_1
“Sebagai Ayahmu, Aku merasa amat sedih Kau ingin pergi ke tempat yang berbahaya itu, namun Aku tidak dapat melarangmu. Jika Kau meminta pengawalan dari Ksatria Istana Aku akan mengizinkanmu.”
Tidak seperti Petra yang kaku dan membatsi dirinya, Akting Gaius semakin baik seiring berjalannya waktu. Apollonia membungkuk lagi dan menarik diri. Ia telah dapat apa yang Ia mau.
………..
Perjamuan hari itu berakhir tanpa hambatan.
Apollonia memasang tatapan lembutnya sembari berdansa dengan para bangsawan muda yang hadir , dan sebagai gantinya Ia mendapat banyak sapaan ramah dari semua orang yang ditemuinya.
“Selamat atas pertunanganmu Yang Mulia.”
SetiapApollonia mendengar kata-kata itu lagi tepatnya sebanyak tujuh puluh tiga kali Ia hanya tersenyum malu dan akhirnya Ia bisa keluar dari ruang perjamuan.
“Ah, maafkan ketidaksopananku, Yang Mulia.”
Itu sepupunya Gareth Liefer, yang menepuk pundaknya diluar pintu ruang perjamuan.
Gareth tidak penah memperlakukan Apollonia dengan tata krama sesuai statusnya, tidak sejak Gareth berusia 9 tahun. Gareth adalah sepupu dan sahabat satu-satunya Paris jadi dia agak bertingkah seperti Pangeran. Mata keemasannya agak kusam, persis seperti Ibunya. Gareth pasti minum banyak alkohol malam ini.
“Kau mau kemana, sepupu?”
__ADS_1
Aneh jika Gareth mau meninggalkan istana jika perjamuannya masih jauh dari kata berakhir. Keramaian masih memenuhi koridor tempat mereka berdiri.
“Aku ingin mencari udara segar. Kudengar pertunanganmu sudah diputuskan?”
Mata Gareth berkilau saat menatap Apollonia. Mereka telah saling mengenal sepanjang hidup mereka karena sejak kecil Gareth selalu mengunjungi istana, Namun tatapan Gareth meiliki makna yang berbeda dari tatapn Petra atau yang lainnya.
“Kamu menjadi sangat cantik, Kenapa mereka mengirimu pergi?”
Gareth menjulurkan tangannya untuk membelai wajah Apollonia selagi Ia berbicara. Gareth menatap Apollonia seakan Ia mangsanya. Tentu saja Gareth melakukan hal ini kepada semua wanita yang Ia temui, bukan hanya Apollonia.
“Pertunanganku dengan Bjorn bukan urusanmu. Kau hanya mabuk.”
Wajah Gareth berubah kusut saat Apollonia berbalik dan buru-buru meninggalkan istana. Apollonia berbalik untuk melihat Gareth yang sedang bersandar pada orang lain kemudia mereka berdua kembali masuk ke istana.
“Menjijikan…”
Apollonia mendesah dan menuju Star Palace untuk memenuhi janjinya dengan Sid.
Tunggu sebentar…
Apollonia belum pergi terlalu jauh ketika tiba-tiba Ia terpikir sesuatu. Orang yang menolong Gareth… Ia terlihat familiar.Rambut pucat dan senyumnya mengingatkannya pada pelayan yang dia temui di gerbang istana beberapa waktu lalu.
__ADS_1
Adrian Reese |