Putri Berwajah Dua

Putri Berwajah Dua
Chapter 2


__ADS_3

Ini semua terasa tidak nyata bagi Ellenia apalagi melihat Pria yang duduk di sofa dengan santainya sedang tersenyum diatas penderitaannya. Pria itu bahkan tidak tampak terkejut melihat Ellenia tergeletak begitu meminum secangkir teh yang Ia berikan.  “Gaius… Kenapa..” “Ck…ck.. Ellenia malang” Pria itu berdiri dari tempat duduknya dan menghampiri istrinya. Langkahnya yang lambat dan tatapannya yang sombong menunjukan betapa tidak pentingnya Ellenia bagi dirinya.Ia bahkan tidak repot-repot menyembunyikan perasaan aslinya terhadap istrinya. Ia menimbang-nimbang seolah akan membuat keputusan besar, Pria itu mendesah, Ia berlutut kemudian mengangkat kepala Ellenia dengan kasar. Ellenia semakin merintih kesakitan. “Katamu Kau mencintaiku… Aku telah memberikanmu segalanya… Aku..bahkan membesarkan Paris selayaknya anakku sendiri dan menjadikannya pangeran…Kenapa.. Kenapa?” rintih Ellenia. “Ya kamu memang Ibu yang sangat baik. Kamu bahkan membesarkan Paris layaknya anakmu sendiri” Gaius menyeringai.  “Aku akan menjadi Raja bukan sekedar pangeran. Dan Paris ‘Anakku’. Anakku dan Satin” Sekujur Badan Ellenia membeku mendengar nama mantan suaminya yang selama lebih dari 10 tahun tidak pernah dibicarakan. “Satin Arietta…?” Tidak ada orang yang tahu bahwa Satin Arietta adalah Ibu kandung dari Paris. Gaius berbohong pada Ellenia soal Paris.Saat mereka bertemu Gaius bilang bahwa Paris adalah anak yang Ia rawat karena Ibunya meninggal dikarenakan suatu penyakit.Namun Ellenia menerima dan Ia pun sangat menyayangi Paris dan membesarkannya menjadi seorang pangeran. Ketika Gaius dan Ellenia mempunyai anak, Ellenia percaya bahwa Paris akan mendampingi saudarinya yang suatu hari nanti akan menjadi Permaisuri. “Aku percaya Kau mencintaiku…” “Cinta?” Tiba-tiba Gaius menyeringai. “Dasar bodoh. Kamu yang dengan bodohnya memlihku. Orang sepertiku yang tidak punya apa-apa selain wajah tampan dan seorang anak.” “Bagaiman bisa… bagaimana kamu bisa begini..?” ” Aku tidak percaya kamu sangat mabuk dalam cinta hanya karena sedikit kecocokan kita,,, Kamu sangat dibutakan sama cinta hingga kamu membawa masuk anak yang bukan darah dagingmu sendiri kedalam istana kerajaan” Ia mendorong istrinya yang sudah terjatuh. “Kalau kamu mau menyalahkan seseorang. Salahkan Ayahmu. Satin meninggal karena Sang Raja. Keluargaku hancur karena melakukan penghianatan.” Kata-Kata yang Ia ucapkan penuh kemarahan. Ia menatap Ellenia berapi-api. “Dan sekarang ayahmu ingin mengambil Kerajaan dari anakku.Bukannya menurutmu itu tidak adil?” Air mata menetes dari kelopak Ellenia. Dalam sekejap dunianya terbalik begitu saja “Ellenia” Tiba-tiba nada bicara Gaius melembut. Ia meraih pipi Ellenia dan membelainya lembut. Mata keemasan yang sedang menatapnya dan sentuhan itu memberikan Ellenia harapan kecil.  “Gaius Aku mohon.. bilang padaku ini semua kebohongan katakan padaku Kau tidak serius” Namun Gaius mendorong wajah Ellenia hinga jatuh kembali diatas lantai marmer yang dingin. Sementara darah terus mengucur dai mulutnya “Hahahhahahahahhahah!!.. Kau sangat bodoh Apa yang kau harapkan?..” Ia mengangkat dagu Ellenia meniringkan kepalanya lalu berbisik tepat di telinganya. “Aku Tidak Pernah Mencintaimu Sama Sekali” Ellenia yang semakin melemah mengerucutkan bibirnya. Seakan habis melakukan pekerjaan kotor, Gaius mengangkat bahunya, berdiri sambil menepuk-nepuk lututnya. “Aku sangat berterimakasih padamu yang telah membesarkan anakku layaknya anakmu. Anggap saja untuk menghapus ribuan dosa ayahmu. Yah tetap saja kematian Ayah dan anakmu tidak bisa dihindari. “Kamu… Ah…” “Apa?” “Anakku… Apollonia” Putri Elenia memanggil nama itu selagi pandangannya perlahan-lahan mulai samar. Gaius yang tidak mengerti apa yang Ellenia katakan tertawa keras. “Nia itu juga anakku. Akan kucoba untuk tidak membunuhnya sebisaku. Akan kubiarkan Ia tumbuh dan menjadi aset kuat dalam urusan politik. Tentu saja untukku,Paris, dan juga kerajaan. Sesaat setelah Ia berbicara, Badan Putri Ellenia mengejang sedikit demi sedikit. Tatapannya mengarah ke ujung ruangan. Mulutnya terus menggumam tidak jelas. Melihat Ellenia berusaha sekuat tenaga Gaius hanya mengerutkan aslinya dengan eskpresi bosan. Tak lama kemudian Ellenia menghembuskan nafas terakhirnya selagi badannya terbaring sempurna. “Akhirnya berakhir juga.”


__ADS_2