
Rasanya Apollonia pernah merasakan ini. Dari matanya Ia dapat melihat skenario wanita dihadapannya. Rasanya familiar karena selama 7 tahun terakhir berkali kali seseorang berusaha menjatuhkannya.
‘masa seseorang yang tidak bisa memahami situasi dan bahkan bukan tandinnganya minta dipanggil ratu?’
Apollonia mendecakkan lidahnya. Dari awal Apollonia sudah memberi tanda agar Catherine berhenti namun rupanya Ia tidak mengerti bahkan Maya sudah ikut campur secara sopan dan bijaksana untuk menghindari konfrontasi dari Apollonia dan Catherine.
Kalau saja Catherine cepat tanggap dan berpura-pura mengalah pada Maya setidaknya Ia dapat menyelamatkan harga dirinya. Namun dengan bodonhya Catherine malah menampar Maya yang lebih tua darinya yang semakin menarik banyak perhatian.
‘Dengan otak seperti itu apakah bisa wanita ini bertahan bahkan setengah tahun di istana?’
Apollonia tidak bisa membedakan amarahnya atau rasa kasihannya pada situasi ini.
“Mau ada permaisuri ada atau tidak saat ini Aku lah satu-satunya yang duduk di sebelah Yang Mulia Raja. Sebagai Ratu pertama kamu tidak boleh kasar padaku?”
Muka Catherine memerah sambil menangis. Walaupun argumen Catherine salah tetapi satu persatu bangsawan muda membantunya.
“Yang Mulia Tuan Putri, Yang Mulia Loenheim adalah wanita favorit Yang Mulia Raja.Tidak ada yang salah jika Ia mencoba menjadi seorang Ibu iyakan?”
“Iya benar. Kalau secara usiapun dia cocok menjadi panutan jadi tolong perlakukan dia secara adil. Bahkan jika Kamu tidak suka bahkan setelah Kamu menikah pun Dia tetap akan menjadi bagian keluarga kerajaan”
Tentu saja orang-orang ini adalah orang orang yang disuap untuk menjadi sekutu. Mereka tidak akan berani berucap seperti ini di depan Paris
“Kamu kan tidak tahu kapan Aku akan menjadi permaisuri jadi berilah contoh yang baik. Ya siapa tahu?”
__ADS_1
Merasa terdukung Catherine mengangkat kepalanya angkuh. Apollonia sekali lagi menyadari betapa bodohnya wanita ini.
Apollonia melirik Maya. Sebagian mata Maya sedikit bengkak karena tamparan itu. Seketika mata merah Apollonia menegas.
“Begitukah?”
Tatapan dingin itu hanya terjadi beberapa detik saja. Apollonia lalu berbicara dengan lembut dan senyum miring seolah Ia sudah menetapkan keputusannya.
“Maka hari ini adalah hari pertama aku bertemu Ibuku”
Apollonia melangkah lebih dekat ke arah Catherine lalu membungkuk dengan anggun.
Itu merupakan contoh yang sopan dan halus. Catherine melebarkan matanya lalu tersenyum puas.
“Cahaya bulan yang menyinari ladang matahari, Hujan yang menggemburkan tanah, dan peraknya bayangan cahaya”
Catherine menjulurkan tangannya berusaha terlihat ramah namun Apollonia kembali membuka mulutnya tanpa menghiraukan tangan Catherine.
“Keajaiban indah yang menangkup hati dewa dengan satu tatapan”
Catherine mulai memahami salam panjang itu.
“Putri Kau tidak harus menyapaku sepanjang itu”
__ADS_1
Cukup banyak yang menonton situasi itu. Namun Apollonia terus mengucapkannya terlepas situasi dan tempat mereka berada.
“Semoga kejayaanmu menjadi kejayaan kerajaan, dan kebijaksanaanmu menjadi pengantar Kerajaan..”
“Apa ini maksudnya”
Catherine yang kebingungan berbisik pada bangsawan di sebelahnya, Namun Ia menjawab dengan tatapan bingung.
“I-Ini adalah buku(semacam sumpah) Permaisuri”
“Apa-apaan itu?”
“itu semacam salam dari keluarga kerajaan kepada Permaisuri baru. Salam itu sangat panjang, tapi masalahnya…”
Bangsawan itu melirik ke Apollonia. Entah Apollonia sadar atau tidak Ia tampak sepertu sedang merapalkan sebuah mantra.
“Dia yang memakai mahkkota perak dan tersenyum di sisi matahari. mengamati kerajaan dengan kenaggunannya…”
Catherine yang tidak mengerti satu patah kata pun meratap kearah bangsawan.
“Apa apa masalahnya? Kapan salam ini selesai?”
“Ada bagian ditengahnya yang harus dijawab oleh sang permaisuri”
__ADS_1
Buku Permaisuri adalah bagian paling rumit dan membosankan dari penobatan seorang Permaisuri sesuai tradisi kerajaan.