Putri Berwajah Dua

Putri Berwajah Dua
Chapter 21


__ADS_3

“Apa Kau sangat khawatir akan hal itu? Kau pikir dia dapat menjadi ancaman atas kekuasaanku? Anak sialan itu bahkan tidak pernah berperang sungguhan. Sedaangkan Aku sudah memenangkan lusinan perang dalam hidupku.” Kesal Gaius sambil meninju meja.


Petra berusaha meyakinkan Gaius sekali lagi.”Tapi manusia itu sederhana dan bodoh. Mereka lebih ingin percaya pada keajaiban daripada kenyataan. Mereka mengira kebetulan-kebetulan aneh sebagai keajaiban tanpa mengecek kebenarnanya.”


Raja semakin mengkerutkan alisnya. 


“Aku tidak meragukan penglihatanmu, Petra”


Tetapi Gaius adalh orang yang dapat membedakan emosi semata dan alasan. Ia menyadari argumen dan pendapat Petra memang rasional.


“Bahkan jika luka yang seharusnya sembuh selama seminggu sembuh dalam waktu 3 hari, Siapa yang akan menyadari kalau dia punya kemampuan penyembuhan?”


“Walau hanya sesaat, Aku bisa melihat luka itu bahkan hilang kurang dari tiga hari. Di mata orang lain tentu saja itu dianggap sebagai sebuah kejaiban.”


Gaius menatap wanita dingin di hadapannya dan menangkat alisnya.Petra adalah wanita yang tangguh. Gaius tau Petra tidak akan menyerah. Namun bagaimanapun sudah berapa kali kekeras kepalaan dan pendapat Petra menyelamatkannya?Sudah berapa kali Petra membuatnya terpandang dan kaya raya?Sudah berapa kali Petra memutarbalikkan takdirnya?


Gaius tahu bahwa Petra seharusnya diyakinkan bukan dihukum. Gaius mendesah.


“Baik, mari Kita lihat apa benar Apollonia akan menjadi ancaman besar”


Petra mengangkat kepalanya. Gaius pura-pura tak melihat dan menekan bel untuk memanggil pelayan.

__ADS_1


“Panggil Tuan Putri”


Setelah pelayan itu berbalik Gaius menatap Petra kesal.


“Ini kesempatan terakhirmu Petra. Kalau ternyata anak itu bukan ancaman maka Kau harus berhenti.Jika kau memutuskan untuk menghiraukanku Aku tidak akan melindungimu dari akibatnya.”


Mata emas milik keduanya bersinar. Petra mengganguk pelan.


“Kalau Kau memutuskan bahwa dia bukan ancama, Aku akan menuruti perintahmu.”


Pintu perpustakaan terbuka. Apollonia masuk dengan wajah pucat sambil menggelayut di lengan Sid.


Apollonia terlihat pucat dan gemetaran. Sepertinya Ia masih kaget atas kejadian kemarin.


“Kau terlihat pucat” Gaius menyapanya kembut. “Aku memanggilmu untuk memberitahu soal kejadian semalam. Apa Kau lihat wajahnya?”


Petra memajukan badannya untuk mendengar jawaban Apollonia.


“Itu..i-tuu”Apollonia tergagap-gagap lalu menangis tersedu-sedu.


“Aku tidak melihatnya. Aku tidak lihat apapun Ayah. Aku sangat takut….. Bagaimana jika Dia kembali? Kalau sesuatu terjadi padaku siapa yang akan menerimaku?”

__ADS_1


Mata Apollonia yang indah mirip sekali dengan kakeknya. Namun dibanding tatapan kakeknya yang tajam tatapan Apollonia terlihat penuh kesedihan dan ketakutan. Sebagai gadis cantik berusia 16 tahun pasti Apollonia memimpikan dirinya menikah dengan seorang pangeran dan hidup bahagia selama-lamanya. Apollonia pasti takut bahwa mimpinya akan hancur karena seorang pria menyusup ke kamarnya.


“Aku akan mengurusnya jadi Kau hanya perlu mengatur pelayan-pelayan di Star Palace.”


“Huaauuu…”


Gaius mengindahkan isakan Apollonia dan menatap Petra. Dilihatnya Petra sedang menatap dingin Apollonia. Namun Gaius tahu betul tatapan adiknya lebih dari sekadar tatapan. Gaius dapat melihat rasa ketidaknyamanan dan perasaan jijik Petra terhadap Apollonia.


Itu memang reaksi Petra bagi orang-orang yang dianggapnya bodoh dan canggung yang bahkan tidak bisa membaca situasi. Apalagi Petra terpaksa melihat adegan malang ini. 


“Bagaimana dengan luka di lenganmu?”


“Tanganku…. Lukanya tidak terlalu dalam, jadi Aku baik-baik saja. Ayah tidak perlu khawatir.” Suara Apollonia bergetar sambil menyembunyikan sebelah tangannya di belakang tubuhnya.


“Biar Aku lihat” Suara Gaius mungkin terdengar baik namun terdapat ketegasan dalam suaranya yang menandakan bahwa itu sebuah perintah.


“Tapi… lukanya sangat mengerikan, Ayah”


“Apa Kau tidak dengar perintah Yang Mulia?”Petra yang sudah muak akan situasi ini membentak Apollonia. Apollonia terpaksa menggulung lengan bajunya dan menunjukkan lukanya.


“Maaf, Aku tidak mau menunjukkannya agar Kau tidak khawatir Yang Mulia….” 

__ADS_1


__ADS_2