Putri Berwajah Dua

Putri Berwajah Dua
Chapter 20


__ADS_3

Tentu saja Apollonia dan Sid membenarkan rumor itu dan seketika berita bahwa putri hampir diserang menyebar di seluruh istana. Rumor itu mengatakan bahwa pria itu kabur sangat cepat sehingga para pengawal tidak sempat melihat wajahnya.


…………


Suasana di kediaman Liefer sedang tidak enak. Sang Duchess sedang kesal berat. Ia baru saja menerima laporan tadi pagi dan Ia menghabiskan berjam-jam melampiaskan kemarahannya pada para pelayan.


Cara Petra melampiaskan kemarahannya berbeda dari Yang Mulia Raja yang berdarah dingin atau Gareth, anaknya yang berteriak ketika marah. Alisnya berkerut namun tidak ada yang dapat mengetahui bahwa Ia sedang marah. Tetapi dibalik keaggunan dan senyumnya, Petra menyiksa para pelayannya dengan kejam. 


“Cuaca hari ini bagus ya?.”Suaranya dalam dan pelan. Petra duduk di meja mengambil cangkir teh dan meminumnya seteguk. Tangannya berguncang.


Prang! cangkir teh yang sedang diminumnya dilempar ke dahi pelayannya. Pelayan itu adalah seorang bangsawan dengan kasta paling rendah yang Petra pilih sendiri. 


Karena wajahnya yang cantik, Ia dipilih sebagai pelayan untuk melayani Duke muda, Gareth Liefer. Namun gadis itu terus menunjukkan rasa keberatannya pada Gareth sehingga Ia sering menjadi sasaran kemarahan Petra.


“Ahhhhhhhhh”Pelayan berambut cokelat muda itu berteriak lalu pingsan. Walaupun darah menets melalui wajah pucatnya, Petra tidak peduli.


Para pelayan lain tidak berani menunjukkan ekspresinya. Mereka tau kalau sedikit gangguan saja akan membuat Petra lebih marah. Pelayan tadi segera mengelap dahinya dan berdiri sambil gemetaran. 


“Kamu”


Petra menunjuk gadis itu.


“Kau yang akan menata rambutku hari ini”


“Apa…”Gadis itu bertanya kebingungan namun buru-buru menutup mulutnya. Saat itu gadis itu ingat pelayan yang dihajar habis-habisan oleh Petra hingga pincang karena tak menuruti perintahnya. Dengan hati-hati Ia mendekati Petra dan menyisir rambutnya pelan.

__ADS_1


“Ah”


Gadis itu sudah menyisir pelan-pelan, namun baru saja Ia menyentuh rambut Petra, Petra langsung bersuara.


Pak! kepala gadis itu terasa pusing. 


Petra terus menampar pelayannya berkali-kali tetapi, gadis itu menguatkan dirinya dan terus menyisir.


“Madam”


Tamparan Petra sudah berlangsung beberapa menit namun terganggu oleh panggilan itu. Gadis itu tahu siapa yang menyekanya. Di seluruh stana ini hanya Mrs.Cailin pelayan pribadi Petralah yang berani memasuki kamar Petra seenaknya.


“Yang Mulia Raja menyuruh Kamu datang secepatnya!”


Mulut gadis itu sudah penuh darah dan hatinnya sedikit lega saat mendengar Petra akan pergi. Tapi ternyata harapannya sia-sia.


“Kamu. Bersiaplah”


Tentu saja Duchess kejam ini tidak akan melepaskan mangsanya.


………


“Apa Kau sudah dengar beritanya?” suara Gaius terdengar lemah. Petra dan Gaius saat ini sedang berdua di ruang perpustakaan.


“Ya”

__ADS_1


“Seberapa cepat rumor menyebar bahwa putri hampir saja diserang?” Gaius meninju meja dengan kesal.


“Kita akan beruntung kalau esok rumornya belum sampai ke seluruh orang di istana”


Gaius mengeratakkan giginya kesal. Tidaka ada sedikitpun rasa khawatir pada putrinya. Gaius menatap Petra.


“Petra Aku tidak punya pilihan selain mencurigaimu”


“….”


Petra diam tidak mengiyakan atau mengelak tuduhan itu.


“Bahkan jika Kau berhasil tanpa meninggalkan jejak, Apa Kau pikir Aku tidak akan marah?”


“Yang Mulia, anak itu..”


“Apakah Kau tahu rumor bahwa dia hampir diserang sama saja dengan seakan dia telah diserang?Apakah tidak penting bagimu kalau Aku dipandang sebagai Ayah yang anak perempuannya telah diserang oleh pria tak dikenal?”


Keamanan putrinya tidak penting bagi Gaius. Namun masa depan Apollonia penting baginya. Petra tidak membalas namun mukanya semakin mengkerut.


“Jadi Apa yang Kau pikirkan sekarang? Kau masih berpikir bahwa anak bodoh yang tidak bsa membedakan pembunuh dan orang mesum dapat menjadi ancaman bagiku?”


Petra menyetujui perkataan Gaius. Apollonia tidak tertarik dalam politik dan tidak peduli akan garis keturunanya. Bagaimana bisa Apollonia tidak menyadari bahwa pria yang menyusup ke kamarnya adalah seorang pembunuh? pikir Petra.


“Tapi kemampuan cepat sembuhnya…”

__ADS_1


__ADS_2