Puzzle

Puzzle
Episode 1


__ADS_3

Langkah pelan Sunny memasuki area koridor kelas yang sudah dipenuhi anak-anak teladan, selalu berangkat tepat sebelum bel berbunyi. Sunny yang notabenenya anak baru merasa risih dilihat aneh dengan seragam berbeda dari yang lainnya. Akhirnya ia memutuskan untuk cepat-cepat pergi meninggalkan koridor tersebut.


Namun tak sampai lama Sunny menyipitkan matanya saat melihat sahabatnya yang kini berlari kecil ke arahnya sambil merentangkan tangan.


"Kangen," ujar mereka berbarengan


sambil memeluk satu sama lain.


"Kalian darimana? Gue udah lama banget nungguin," rajuk Sunny membuat para sahabatnya tersenyum geli.


"Salahkan saja pada Maurin yang menciptakan alis badainya satu jam," celetuk Keyra kesal membuat Maurin melotot tak terima.


"Kalian aja yang datangnya kecepatan," Maurin menatap sinis pada Keyra yang kini tengah manatapnya pula.


"Apa?! Jam 7 lo bilang kecepetan? Fiks, lo udah sarap." Keyra menggelengkan kepalanya pelan, "lo gak tau, Sun? Gimana reaksi gue ke rumah Maurin sama Ayrin,” tanya Keyra sambil menatap serius Sunny.


"Engga," Sunny menggelengkan kepalanya pelan.


"Jiwa psikopat gue terguncang kalau dekat-dekat Maurin. Ingin rasanya diri ini membunuhmu ...., " Keyra bersenandung pelan membuat Sunny menatapnya bingung.


"Udah, Key. Bukan salah dia juga kok, kita jemputnya aja nggak pakai bilang dulu. Wajar kalau kita ke sana Maurin belum siap," Ayrin menepuk pundak Keyra pelan.


"Tapi tetap aja gue masih sebal sama dia," putus Keyra seraya melenggang pergi meninggalkan sahabatnya.


“Udah, nanti juga Keyra baik sendiri. Lagipula kita tahu sendiri sifatnya Keyra gimana,” cegah Ayrin kala ia melihat Maurin hendak mengejar Keyra.


“Maafin gue,” sesal Maurin sambil memeluk sahabatnya.


“Dalam sahabat nggak ada kata minta maaf Queenzal,” canda Sunny membuat Ayrin menangguk dan mencolek hidung mungil milik Maurin.

__ADS_1


“Yuk masuk bentar lagi bel,” ajak Ayrin yang diangguki keduanya.


Mereka pun berjalan beriringan layaknya putri diatas catwalk, semua yang melihatnya pun terpana. Ayrin dengan senyum lembutnya, Sunny dengan tatapan tegas dan senyum lesung pipitnya, dan Maurin yang memang mempunyai wajah blasteran korea yang terlihat menggemaskan.


Krriiiiiiingg ... krriiiiingg ....


Bel masuk pun berbunyi banyak siswa/siswi yang berlarian kearah kelasnya, namun ada pula yang berjalan santai sambil menunggu guru datang termasuk Ayrin, Keyra, dan Maurin. Mereka dengan santainya berjalan melawan arah menuju ke arah kantin. Mengabaikan semua orang yang menatapnya aneh.


"Jadi, kamu anaknya Pak Erion?" tanya Pak Bara yang kebetulan memang sahabat ayahnya sewaktu SMA.


"Iya, Pak," Sunny tersenyum tipis.


"Mari saya antar kamu ke kelas, kebetulan saya juga ingin mengajar dikelas mu," ujar Pak Bara sambil membawa berkas yang lumayan banyak membuat sisi baik Sunny bergetar.


"Terima Kasih, Pak. Tapi sebelum itu bolehkah saya membantu Bapak membawa berkas itu?" pinta Sunny yang disambut gelengan pelan Pak Bara.


"Tidak perlu Sunny saya bisa membawanya sendiri," tukasnya halus.


Pak Bara yang melihat tingkah Sunny pun hanya tersenyum menggelengkan kepalanya dan segera berjalan menyusul Sunny yang sudah lumayan jauh.


Tok ... tok ... tok....


"Assalamu'alaikum anak-anak" salam Pak Bara.


"Wa'alaikumusssalam wr wb" jawab anak-anak serentak.


"Ok. Hari ini Bu Dayu tidak hadir, beliau hanya memberi tugas dan masing masing sudah di-share kepada ketua kelompoknya. Dan ini Bapak bawa buku referensi untuk kalian baca, tapi sebelum pelajaran dimulai kita kedatangan murid baru. Silahkan masuk!" perintah Pak Bara.


"Hai semuanya! Nama saya Alfiatus Sunny Fariza dan orang-orang biasa memanggil saya Sunny. Murid pindahan dari Hongkong dan mohon bantuannya teman-teman," ujar Sunny yang diakhiri senyum tipis, tetapi mampu membuat kaum Adam bersorak kegirangan.

__ADS_1


"Sunny kamu bisa duduk di samping Maurin." perintah Pak Bara.


"Baik, pak!" pungkas Sunny seraya melangkah kearah bangku dipojok belakang yang sudah disambut senyuman lebar oleh kedua sahabatnya, kecuali Ayrin yang hanya tersenyum tipis.


Sesampainya dibangku pojok belakang Sunny sudah diserbu para playboy yang segera ditenangkan oleh Pak Bara. KBM pun dimulai tanpa ada yang berani bicara kecuali hanya untuk sekedar bertanya mengenai tugas kelompok yang harus dikumpulkan.


"Duh! Istirahatnya lama banget nggak tau gue udah keroncongan apa ya," racau Keyra sambil meletakkan kepalanya diatas kedua tangan sebagai bantalan.


"Sabar, Key. Mending lo beresin itu biar bel kita langsung ngantin," Maurin menunjuk buku-buku yang kini berserakan layaknya bazar murah.


Tak lama bel istirahat berbunyi dan sontak seluruh anak SMA Aryasatya menyerbu kantin. Termasuk Keyra yang sudah menunggu-nunggu waktu istirahat, dan ketika mendengar bel berbunyi ia pun segera berlari keluar kelas. Tanpa memperdulikan sahabatnya yang sama sekali belum beranjak dari bangkunya.


"Itu beneran Keyra yang tadi glesoran ‘kan?" tanya Maurin yang berpura-pura tak tahu.


"Nggak boleh gitu! Bilang aja lo iri, ‘kan?" ejek Sunny membuat Ayrin tersenyum geli sambil menggelengkan kepalanya pelan.


Bisik-bisik Maurin menoleh padabsekumpulan para siswi yang menatap dirinya tak biasa.


"Biasa aja ngeliatnya. Dan lo kalaubgak suka bilang! Jangan cuma bisa gibah sana-sini, pecundang lo!" Ayrin berujarnsangat pedas sambil menatap sinis.


"Udah, Ay. Diemin aja diemin, mendingan kita langsung cus. Didalam jiwa yang tenang terdapat jiwa yang santuy," canda Sunny sambil memeluk tangan kiri Ayrin dan pergi meninggalkan Maurin yang diam ternganga karena merasa diabaikan.


"Kalian jahat, ya! Tega ninggalin gue sendiri,” Maurin bersungut kesal sambil menghentakkan kakinya.


Disepanjang koridor banyak anak-anak yang menyapa Maurin, namun tak ayal pula ada banyak anak-anak yang tidak menyukainya. Hanya karena ia ketua eskul dance banyak yang melabeli dirinya murahan. Hello! Pikir aja sendiri dancer kalau pake rok semata kaki gimana mau geraknya.


Dikira mau pengajian pake baju yang panjang-panjang, lagipula dance itu tari modern untuk apa dinyinyirin kalau anak eskul seni tari aja mereka diemin. Emang dasarnya mereka aja yang sirik kali gak bisa nyaingin anggota dancer-nya.


"Dasar manusia rakyat +62 yang bisanya nyinyir tanpa mau tau kebenarannya seperti apa," katanya acuh tak

__ADS_1


acuh dan hendak memasang headset untuk mengalihkan omongan mereka dari pikirannya.


"Maurin?"


__ADS_2