Puzzle

Puzzle
Episode 14


__ADS_3

Daffa beserta anggota Erysichthon lainnya membela jalanan


ibukota. Gelap gulita sudah menjadi latar hidup mereka setiap hari. Siapa


sangka dibalik sikap konyol mereka tersimpan sejuta rahasia. Rahasia yang akan


mengubah segalanya.


Deru knalpot meraung-raung begitu memekakkan telinga. Bob


Marley. Motor dengan dua knalpot itu terhenti di depan sebuah pos satpam dengan


lampu temaram.


Daffa dengan kharismanya melangkah mendekati sebuah pos


satpam yang diikuti seluruh anggota Erysichthon. Layaknya Dewa Ares ia memimpin


di depan dengan Kenzo di sebelah kanan serta Alva di sebelah kirinya. Sementara


Nathan dan Reyvan mengekori di belakang Kenzo dan Alva membentuk formasi dengan


Hito di tengah-tengah.


“Permisi, Pak!” sapa Daffa sambil tersenyum tipis.


Satpam yang sejak tadi menyeruput kopinya langsung menoleh,


“Nak Daffa, ya?”


Daffa mengangguk sambil menyalimi satpam paruh baya itu


dengan sopan diikuti antek-anteknya. Meskipun Daffa terkenal dengan kenalannya,


ia tetap menjunjung tinggi kesopanan kepada yang lebih tua.


Ia tahu kapan waktu bergurau dan kapan waktu ia harus


menjaga kesopanan. Sebab, orang tua tetaplah orang tua biarkan beliau adalah


orang asing sekalipun.


Kenzo yang notabenenya cuek kini berubah menjadi lelaki yang


sangat ramai. Berbeda dengan Nathan yang tengah menyeduh kopi untuk sahabatnya.


Reyvan yang tengah memijat Bapak Joni, satpam yang selama ini dekat dengan


mereka.


“Nak Daffa tumben sekali ke sini, ada apa?” tanya Pak Joni


bingung, sebab sudah lama Daffa tak datang menemuinya membuat ia berpikir bahwa


Daffa baik-baik saja.


“Lagi sibuk aja, Pak. Lagipula Daffa suntuk di rumah jadi


sekalian mampir mau lihat pantai juga,” kekeh Daffa membuat Pak Joni

__ADS_1


menggelengkan kepalanya takjub.


Bos kecilnya ini memang sering kali mampir ke pantai, dan


itu pun setiap malam. Jarang sekali ia terlihat melihat pantai disiang hari


dengan alasan ia tak suka jika menjadi pusat perhatian dengan wajah sedikit


tampan miliknya.


Semilir angin malam menyapu wajah Daffa, menyisakan hawa


dingin di sekitar tubuhnya. Namun, tak membuat ia merasa kedinginan. Entah


sejak kapan ia menyukai angina malam seperti ini.


Sapuan ombak kecil membasahi sepatu bots Erysichthon. Mereka


terlihat sangat menikmati. Ditengah perdamaian mereka tiba-tiba ada sesuatu


yang mampu membuat sang titisan Dewa Ares itu mengepalkan tangannya erat.


“Itu ... Sunny?” celetuk Nathan tak tahu situasi membuat


Reyvan memutar bola mata malas.


“Iya dia Sunny. Cewek dengan seribu keberanian ngasih Daffa


minum minggu lalu,” jelas Kenzo santai.


Tiba-tiba Daffa menghampiri Sunny. Sontak saja yang lain


“Gak baik berbeda jenis kelamin berduaan di tempat gelap.


Takutnya ada setan yang lewat,” celetuk Daffa membuat ke dua sejoli itu menoleh


terkejut.


“Daffa?” beo Sunny yang diabaikan Daffa.


Tatapan Dewa Ares itu menurun pada Daffa. Ia menatap


laki-laki di depannya datar tanpa ekspresi, namun siapa sangka dibalik


ketenangan itu ada magma yang siap memuntahkan isinya.


“Lo ngapain di sini?” tanya Daffa tanpa mengalihkan


pandangannya.


Sunny mendengus, “ Apa-apaan, sih! Gue di sini dan yang lo


tatap itu Erfan sahabat gue. Astaga Daffa jangan karena lo marah sama gue jadi


gak bisa bedain gini.”


Ke empat sahabat Daffa terkejut mendengar celetukan dari


Sunny. Mereka tak menyangka Sunny mengenal lelaki brengsek dari brengseknya

__ADS_1


para lelaki. Apalagi Daffa, ia sangat amat dibuat tidak percaya. Membuat ia


berkeinginan untuk mendengarnya lagi.


Tanpa Sunny sadari ia telah membuat lubang kematian untuk


dirinya sendiri. Bukan. Sunny hanya tidak tahu kelakukan Erfan yang sebenarnya.


∞∞∞


“Gila nggak, sih? Tiba-tiba Daffa nyamperin gue di pantai.”


Dengusan keras-keras Sunny keluarkan demi emosinya tersurut. Sejak


kejadian semalam ia diculik oleh Daffa dengan alibi Erfan tidak baik untuknya.


Hell! Erfan itu sahabat Sunny, meskipun ia tak pernah bertemu lagi.


Tapi tetap saja ia merasa kesal dengan sikap Daffa yang


semena-mena terhadap dirinya. Ingin sekali ia membuang Daffa ke pluto, jika


diperbolehkan.


“Tunggu, maksud lo Kak Daffa tahu kalau lo lagi di pantai semalem


bareng Erfan?” tebak Maurin membuat Sunny mengangguk.


“Lo ngapain di pantai malem-malem, bhambank!” hardik Ayrin tegas plus tatapan menyelidik.


“Wajar bahlul! Lo berduaan di pantai. Aish greget gue vangsad,”


Maurin menggebrak mejanya hingga bersuara nyaring, namun tak mengusik penghuni


kelas yang sedang asik dengan dunianya masing-masing.


“Sini gue getok dulu biar bener otak lo,” Keyra menghampiri Sunny


sambil menjitaknya pelan.


“Anjir! Kenapa jadi gue,” ujar Sunny tak terima.


“Sadar, Nak!” keplakan maut dari Maurin mendarat mulus pada


lengan Sunny membuat perempuan berpakaian santai itu sedikit mendengus.


Ayrin menggeleng takjub sekaligus kesal. Bagaimana bisa


Sunny berduaan dengan seorang laki-laki di tempat sepi. Bukannya merasa sok


suci, tetapi mencegah lebih baik daripada mengobati.


Akhirnya Sunny pun mendapat wejengan ampuh dari Maurin.


Seorang pakar wejeng per wejengan. Sebab, entah kenapa perempuan satu ini mampu


membuat siapapun mendengarkannya, meskipun telinga sedikiit panas akibat tak


bersudah.

__ADS_1


__ADS_2