
Daffa beserta anggota Erysichthon lainnya membela jalanan
ibukota. Gelap gulita sudah menjadi latar hidup mereka setiap hari. Siapa
sangka dibalik sikap konyol mereka tersimpan sejuta rahasia. Rahasia yang akan
mengubah segalanya.
Deru knalpot meraung-raung begitu memekakkan telinga. Bob
Marley. Motor dengan dua knalpot itu terhenti di depan sebuah pos satpam dengan
lampu temaram.
Daffa dengan kharismanya melangkah mendekati sebuah pos
satpam yang diikuti seluruh anggota Erysichthon. Layaknya Dewa Ares ia memimpin
di depan dengan Kenzo di sebelah kanan serta Alva di sebelah kirinya. Sementara
Nathan dan Reyvan mengekori di belakang Kenzo dan Alva membentuk formasi dengan
Hito di tengah-tengah.
“Permisi, Pak!” sapa Daffa sambil tersenyum tipis.
Satpam yang sejak tadi menyeruput kopinya langsung menoleh,
“Nak Daffa, ya?”
Daffa mengangguk sambil menyalimi satpam paruh baya itu
dengan sopan diikuti antek-anteknya. Meskipun Daffa terkenal dengan kenalannya,
ia tetap menjunjung tinggi kesopanan kepada yang lebih tua.
Ia tahu kapan waktu bergurau dan kapan waktu ia harus
menjaga kesopanan. Sebab, orang tua tetaplah orang tua biarkan beliau adalah
orang asing sekalipun.
Kenzo yang notabenenya cuek kini berubah menjadi lelaki yang
sangat ramai. Berbeda dengan Nathan yang tengah menyeduh kopi untuk sahabatnya.
Reyvan yang tengah memijat Bapak Joni, satpam yang selama ini dekat dengan
mereka.
“Nak Daffa tumben sekali ke sini, ada apa?” tanya Pak Joni
bingung, sebab sudah lama Daffa tak datang menemuinya membuat ia berpikir bahwa
Daffa baik-baik saja.
“Lagi sibuk aja, Pak. Lagipula Daffa suntuk di rumah jadi
sekalian mampir mau lihat pantai juga,” kekeh Daffa membuat Pak Joni
__ADS_1
menggelengkan kepalanya takjub.
Bos kecilnya ini memang sering kali mampir ke pantai, dan
itu pun setiap malam. Jarang sekali ia terlihat melihat pantai disiang hari
dengan alasan ia tak suka jika menjadi pusat perhatian dengan wajah sedikit
tampan miliknya.
Semilir angin malam menyapu wajah Daffa, menyisakan hawa
dingin di sekitar tubuhnya. Namun, tak membuat ia merasa kedinginan. Entah
sejak kapan ia menyukai angina malam seperti ini.
Sapuan ombak kecil membasahi sepatu bots Erysichthon. Mereka
terlihat sangat menikmati. Ditengah perdamaian mereka tiba-tiba ada sesuatu
yang mampu membuat sang titisan Dewa Ares itu mengepalkan tangannya erat.
“Itu ... Sunny?” celetuk Nathan tak tahu situasi membuat
Reyvan memutar bola mata malas.
“Iya dia Sunny. Cewek dengan seribu keberanian ngasih Daffa
minum minggu lalu,” jelas Kenzo santai.
Tiba-tiba Daffa menghampiri Sunny. Sontak saja yang lain
“Gak baik berbeda jenis kelamin berduaan di tempat gelap.
Takutnya ada setan yang lewat,” celetuk Daffa membuat ke dua sejoli itu menoleh
terkejut.
“Daffa?” beo Sunny yang diabaikan Daffa.
Tatapan Dewa Ares itu menurun pada Daffa. Ia menatap
laki-laki di depannya datar tanpa ekspresi, namun siapa sangka dibalik
ketenangan itu ada magma yang siap memuntahkan isinya.
“Lo ngapain di sini?” tanya Daffa tanpa mengalihkan
pandangannya.
Sunny mendengus, “ Apa-apaan, sih! Gue di sini dan yang lo
tatap itu Erfan sahabat gue. Astaga Daffa jangan karena lo marah sama gue jadi
gak bisa bedain gini.”
Ke empat sahabat Daffa terkejut mendengar celetukan dari
Sunny. Mereka tak menyangka Sunny mengenal lelaki brengsek dari brengseknya
__ADS_1
para lelaki. Apalagi Daffa, ia sangat amat dibuat tidak percaya. Membuat ia
berkeinginan untuk mendengarnya lagi.
Tanpa Sunny sadari ia telah membuat lubang kematian untuk
dirinya sendiri. Bukan. Sunny hanya tidak tahu kelakukan Erfan yang sebenarnya.
∞∞∞
“Gila nggak, sih? Tiba-tiba Daffa nyamperin gue di pantai.”
Dengusan keras-keras Sunny keluarkan demi emosinya tersurut. Sejak
kejadian semalam ia diculik oleh Daffa dengan alibi Erfan tidak baik untuknya.
Hell! Erfan itu sahabat Sunny, meskipun ia tak pernah bertemu lagi.
Tapi tetap saja ia merasa kesal dengan sikap Daffa yang
semena-mena terhadap dirinya. Ingin sekali ia membuang Daffa ke pluto, jika
diperbolehkan.
“Tunggu, maksud lo Kak Daffa tahu kalau lo lagi di pantai semalem
bareng Erfan?” tebak Maurin membuat Sunny mengangguk.
“Lo ngapain di pantai malem-malem, bhambank!” hardik Ayrin tegas plus tatapan menyelidik.
“Wajar bahlul! Lo berduaan di pantai. Aish greget gue vangsad,”
Maurin menggebrak mejanya hingga bersuara nyaring, namun tak mengusik penghuni
kelas yang sedang asik dengan dunianya masing-masing.
“Sini gue getok dulu biar bener otak lo,” Keyra menghampiri Sunny
sambil menjitaknya pelan.
“Anjir! Kenapa jadi gue,” ujar Sunny tak terima.
“Sadar, Nak!” keplakan maut dari Maurin mendarat mulus pada
lengan Sunny membuat perempuan berpakaian santai itu sedikit mendengus.
Ayrin menggeleng takjub sekaligus kesal. Bagaimana bisa
Sunny berduaan dengan seorang laki-laki di tempat sepi. Bukannya merasa sok
suci, tetapi mencegah lebih baik daripada mengobati.
Akhirnya Sunny pun mendapat wejengan ampuh dari Maurin.
Seorang pakar wejeng per wejengan. Sebab, entah kenapa perempuan satu ini mampu
membuat siapapun mendengarkannya, meskipun telinga sedikiit panas akibat tak
bersudah.
__ADS_1