
Malam ini terlihat begitu megah. Red karpet menjulurkan panjangnya hingga ke pintu utama. Terlihat
banyak sekali kolega bisnis yang saling memamerkan kesuksesan mereka. Sunny
yang melihatnya hanya mendengus dan mengalihkan perhatian pada mansion.
Remaja cantik itu berdecak kagum pada interior klasik untuk
ukuran seorang pembisnis. Hal tersebut tak luput dari perhatiannya akan wajah
dari masing-masing kolega yang menurutnya sangat tak asing. Namun, Sunny
terlalu mengamati keindahan interior mansion hingga tak menyadari bahwa kini
sahabatnya telah berlalu cukup jauh.
“Dasar holang kaya sukanya hura-hura,” Sunny bergumam pelan
sambil melangkah hati-hati, sebab high
hells yang ia kenakan adalah milik Maurin, bahkan tingginya saja mampu
membuat Sunny meringis sedih.
Memang sebelum berangkat mereka mendiskusikan semuanya
dikediaman Sunny, yang disambut malas oleh anak pemilik rumah tersebut. Bahkan
saking sibuknya mereka tak menyadari jarum jam terus berjalan hingga akhirnya
mereka memutuskan memakai apa saja. Namun, tidak dengan Sunny yang tetap harus
memakai apa yang Maurin mau.
Merasa gaunnya sedikit menyusahkan Sunny mengampitnya
sedikit membuat ia berjalan menunduk. Dan tanpa ia sadari di depannya ada
sebuah dada bidang yang mengarah tepat pada dirinya. Pemilik dada bidang
tersebut terus memperhatikan perempuan bergaun biru dongker yang terlihat
sangat manis.
Brugh ....
Sunny terkejut kepalanya membentur dada bidang milik
seseorang di depannya. Ia pun menatap ragu-ragu pada sepatu hitam mengkilap
yang mampu memantulkan lampu diatasnya. Dapat Sunny pastikan bahwa laki-laki di
depannya kini menatap aneh.
Jari-jemari tegas itu menuntut Sunny untuk menatapnya.
Kesunyian malam ini mampu menciptakan momen romatis yang selalu disukai para
remaja perempuan. Namun, tanpa ke dua sejoli itu sadari ada seseorang yang
tengah merencanakan sesuatu sambil tersenyum setan.
“Hohoho ... Babang Daffakuh udah gede, ya. Hai cewek!”
Nathan dengan partnernya Alva kini merusak momen romatis Daffa dengan Sunny.
Sunny yang sadar dari lamunannya kini tersenyum kikuk, “Hai
juga.”
“Babang kita gercep, ya?” Alva berceletuk yang diangguki
Nathan kuat-kuat.
Daffa berdehem pelan menstabilkan kegugupannya, sebab memang
sedari tadi ia tak sadar telah menyentuh wajah cantik perempuan yang kini sudah
memerah seperti kepiting rebus, “Yang lain mana?”
“Bocah lagi pada otw. Oh ya, jangan berduaan nanti yang ke
__ADS_1
tiganya setan. Kita ke dalam duluan babang, selamat bersenang-senang!” Alva
berseru cukup keras sambil menyeret paksa Nathan yang meronta-ronta tak terima.
“Jangan ditanggap serius. Sahabat gue emang rada gila
semua,” Daffa berujar sambil tertawa kecil.
Sunny menggelengkan kepalanya sambil tersenyum tipis, “Nggak
papa. Gue juga punya sahabat lebih sengklek dari pada lo.”
Disamping itu, Maurin tengah mencari Sunny dan para sahabatnya
yang hilang tanpa jejak. Hal inilah yang paling sering membuat Maurin kesal.
Pergi tak bilang datang pun tak sampai. Maurin tentu saja jengah dengan segala
sikap sahabatnya.
“Maurin?” panggil Alva yang tak sengaja menemukan Maurin
tepat di samping meja yang sudah disiapkan Kenzo. Sebab, meja yang khusus
sahabatnya selalu berbeda dari kebanyakan.
“Kak Alva, lihat Sunny?” tanya Maurin langsung pada inti,
sebab ia tak tenang jika sahabatnya berkeliaran tanpa dirinya.
“Dia di depan sama Babang Daffa,” ujar Alva sambil meraih salah
satu gelas fruity dan meminumnya sedikit.
“Ya ampun! Gue khawatirin dia disini malah berduaan sama si
ketos legend,” Maurin mengumpat tak
tahu aturan membuat Alva mengerutkan dahinya bingung.
Ajaib sekali perempuan yang di depannya ini dengan rahang
yang sangat enteng mengumpati orang. Sungguh perempuan yang sangat langka mampu
sungut-sungut kesalnya.
“Nanti juga mereka ke sini. Lo duduk aja, lagipula kalau
hilang lo tinggal minta sama Kenzo buat nyari sahabat lo itu,” saran Alva yang
diangguki Maurin.
Perempuan dengan emosi diubun-ubun kini mendudukan diri
tepat di samping Alva yang tengah menikmati sajian yang berada di mejanya
sambil memperhatikan wajah imut nan galak milik Maurin.
“Sepupunya Kenzo?” Alva membuka pertanyaan membuat perempuan
galak di depannya menunjukkan wajah sumringah, sedikit melupakan masalah
sahabatnya.
“Iya. Emaknya Kenzo kakak beradik sama emak gue, sebenernya
Kenzo abang gue. Tapi berhubung gue sama Kenzo cuma beda setahun kita sepakat
panggil nama masing-masing,” jelas Maurin membuat Alva menganggukkan kepalanya
pelan sambil menyimak pembicaraan Maurin.
“Gue baru tahu lo sepupuan,” ungkap Alva menghadapkan dirinya
penuh pada Maurin yang tengah berceloteh layaknya anak kecil.
Saking asyiknya berbicara Alva dan Maurin sampai tak
menyadari bahwa Nathan kini menatapnya tajam.
“Oh jadi begini kelakuan lo di belakang gue, Al? Tega lo
__ADS_1
nikung sahabat sendiri,” Nathan berseru dengan sangat dramatis membuat Alva
memutar bola matanya jengah.
“Apa sih, Nath! Nggak jelas, deh. Mending lo duduk daripada
ngomong suka ngelantur gitu,” Maurin berujar sedikit gemas melihat tingkah
Nathan yang menurutnya sangat lebay.
“Nathan lagi gila ditinggal mantan balikan sama mantan,”
Alva berujar sedikit simpang siur membuat Maurin mengerutkan dahinya menatap
Alva yang sedikit aneh.
Tiba-tiba Ayrin datang yang disusul Keyra sambil membawa
kotak yang kemungkinan makanan hasil meminta pada Kenzo, sebab terlihat dari brand makanan tersebut yang berlogo
kepala harimau mengaum.
“Lo dari mana?”tanya Maurin sambil melirik kotak yang dibawa
Keyra dan memperhatikan Ayrin yang dengan santainya mengambil minuman tanpa
melirik Maurin sedikit pun.
“Ayrin ngerampok Bang Kenzo,” celetuk Keyra tiba-tiba.
Maurin memperhatikan mimik wajah milik Ayrin yang tak
terlihat apa-apa. Memang, sebenarnya sedikit susah untuk menebak apa yang
terjadi pada seoranng perempuan dengan sejuta kejadian misteriusnya. Namun,
itulah hal yang paling mencolok dari perempuan misterius yang disukai abang
sepupunya Maurin, yaitu Kenzo.
“Gue cuma mau itu terus dikasih sama dia, ya udah gue ambil
semuanya. Ada masalah?” Ayrin berbalik nanya pada Maurin yang ternganga heran.
Sejak kapan seorang Ayrin yang sangat anti dengan Kenzo kini
meminta makanan? Sepertinya Ayrin mulai membuka hati pada raja jalanan
tersebut.
“Kenzo dimana?” Alva tiba-tiba bertanya pada Keyra membuat
Maurin menatap wajah Alva sesaat.
“Tadi sehabis ngasih ini dia ke arah pintu utama,” Keyra
menjawab dengan susah payah, sebab kini mulutnya terpenuhi donat lumer milik
Ayrin.
Alva pergi tanpa berpamit membuat Maurin memperhatikan
punggung tegap itu yang perlahan menghilang dikerumunan orang. Ayrin yang
memang sejak tadi mengetahui tingkah Maurin hanya menggelengkan kepalanya
pelan.
“Lo lihat satu orang di depan belum tentu lo juga akan melihat
seribu orang di belakang yang berharap lo bisa membalikkan dan berlari ke arah
mereka. Ini bukan perihal cinta mencintai, tetapi saling berjuang dan
memperjuangi,” Ayrin bersabda sambil ikutan memakan donat dari kakak kelas yang
sudah lama ia hindari.
Maurin termenung mencerna kata-kata Ayrin yang seolah
menampar dirinya, “Apa gue terlalu berharap sama lo, Kak?” sambil bertanya pada
__ADS_1
dirinya sendiri.