Puzzle

Puzzle
Episode 10


__ADS_3

Malam ini terlihat begitu megah. Red karpet menjulurkan panjangnya hingga ke pintu utama. Terlihat


banyak sekali kolega bisnis yang saling memamerkan kesuksesan mereka. Sunny


yang melihatnya hanya mendengus dan mengalihkan perhatian pada mansion.


Remaja cantik itu berdecak kagum pada interior klasik untuk


ukuran seorang pembisnis. Hal tersebut tak luput dari perhatiannya akan wajah


dari masing-masing kolega yang menurutnya sangat tak asing. Namun, Sunny


terlalu mengamati keindahan interior mansion hingga tak menyadari bahwa kini


sahabatnya telah berlalu cukup jauh.


“Dasar holang kaya sukanya hura-hura,” Sunny bergumam pelan


sambil melangkah hati-hati, sebab high


hells yang ia kenakan adalah milik Maurin, bahkan tingginya saja mampu


membuat Sunny meringis sedih.


Memang sebelum berangkat mereka mendiskusikan semuanya


dikediaman Sunny, yang disambut malas oleh anak pemilik rumah tersebut. Bahkan


saking sibuknya mereka tak menyadari jarum jam terus berjalan hingga akhirnya


mereka memutuskan memakai apa saja. Namun, tidak dengan Sunny yang tetap harus


memakai apa yang Maurin mau.


Merasa gaunnya sedikit menyusahkan Sunny mengampitnya


sedikit membuat ia berjalan menunduk. Dan tanpa ia sadari di depannya ada


sebuah dada bidang yang mengarah tepat pada dirinya. Pemilik dada bidang


tersebut terus memperhatikan perempuan bergaun biru dongker yang terlihat


sangat manis.


Brugh ....


Sunny terkejut kepalanya membentur dada bidang milik


seseorang di depannya. Ia pun menatap ragu-ragu pada sepatu hitam mengkilap


yang mampu memantulkan lampu diatasnya. Dapat Sunny pastikan bahwa laki-laki di


depannya kini menatap aneh.


Jari-jemari tegas itu menuntut Sunny untuk menatapnya.


Kesunyian malam ini mampu menciptakan momen romatis yang selalu disukai para


remaja perempuan. Namun, tanpa ke dua sejoli itu sadari ada seseorang yang


tengah merencanakan sesuatu sambil tersenyum setan.


“Hohoho ... Babang Daffakuh udah gede, ya. Hai cewek!”


Nathan dengan partnernya Alva kini merusak momen romatis Daffa dengan Sunny.


Sunny yang sadar dari lamunannya kini tersenyum kikuk, “Hai


juga.”


“Babang kita gercep, ya?” Alva berceletuk yang diangguki


Nathan kuat-kuat.


Daffa berdehem pelan menstabilkan kegugupannya, sebab memang


sedari tadi ia tak sadar telah menyentuh wajah cantik perempuan yang kini sudah


memerah seperti kepiting rebus, “Yang lain mana?”


“Bocah lagi pada otw. Oh ya, jangan berduaan nanti yang ke

__ADS_1


tiganya setan. Kita ke dalam duluan babang, selamat bersenang-senang!” Alva


berseru cukup keras sambil menyeret paksa Nathan yang meronta-ronta tak terima.


“Jangan ditanggap serius. Sahabat gue emang rada gila


semua,” Daffa berujar sambil tertawa kecil.


Sunny menggelengkan kepalanya sambil tersenyum tipis, “Nggak


papa. Gue juga punya sahabat lebih sengklek dari pada lo.”


Disamping itu, Maurin tengah mencari Sunny dan para sahabatnya


yang hilang tanpa jejak. Hal inilah yang paling sering membuat Maurin kesal.


Pergi tak bilang datang pun tak sampai. Maurin tentu saja jengah dengan segala


sikap sahabatnya.


“Maurin?” panggil Alva yang tak sengaja menemukan Maurin


tepat di samping meja yang sudah disiapkan Kenzo. Sebab, meja yang khusus


sahabatnya selalu berbeda dari kebanyakan.


“Kak Alva, lihat Sunny?” tanya Maurin langsung pada inti,


sebab ia tak tenang jika sahabatnya berkeliaran tanpa dirinya.


“Dia di depan sama Babang Daffa,” ujar Alva sambil meraih salah


satu gelas fruity dan meminumnya sedikit.


“Ya ampun! Gue khawatirin dia disini malah berduaan sama si


ketos legend,” Maurin mengumpat tak


tahu aturan membuat Alva mengerutkan dahinya bingung.


Ajaib sekali perempuan yang di depannya ini dengan rahang


yang sangat enteng mengumpati orang. Sungguh perempuan yang sangat langka mampu


sungut-sungut kesalnya.


“Nanti juga mereka ke sini. Lo duduk aja, lagipula kalau


hilang lo tinggal minta sama Kenzo buat nyari sahabat lo itu,” saran Alva yang


diangguki Maurin.


Perempuan dengan emosi diubun-ubun kini mendudukan diri


tepat di samping Alva yang tengah menikmati sajian yang berada di mejanya


sambil memperhatikan wajah imut nan galak milik Maurin.


“Sepupunya Kenzo?” Alva membuka pertanyaan membuat perempuan


galak di depannya menunjukkan wajah sumringah, sedikit melupakan masalah


sahabatnya.


“Iya. Emaknya Kenzo kakak beradik sama emak gue, sebenernya


Kenzo abang gue. Tapi berhubung gue sama Kenzo cuma beda setahun kita sepakat


panggil nama masing-masing,” jelas Maurin membuat Alva menganggukkan kepalanya


pelan sambil menyimak pembicaraan Maurin.


“Gue baru tahu lo sepupuan,” ungkap Alva menghadapkan dirinya


penuh pada Maurin yang tengah berceloteh layaknya anak kecil.


Saking asyiknya berbicara Alva dan Maurin sampai tak


menyadari bahwa Nathan kini menatapnya tajam.


“Oh jadi begini kelakuan lo di belakang gue, Al? Tega lo

__ADS_1


nikung sahabat sendiri,” Nathan berseru dengan sangat dramatis membuat Alva


memutar bola matanya jengah.


“Apa sih, Nath! Nggak jelas, deh. Mending lo duduk daripada


ngomong suka ngelantur gitu,” Maurin berujar sedikit gemas melihat tingkah


Nathan yang menurutnya sangat lebay.


“Nathan lagi gila ditinggal mantan balikan sama mantan,”


Alva berujar sedikit simpang siur membuat Maurin mengerutkan dahinya menatap


Alva yang sedikit aneh.


Tiba-tiba Ayrin datang yang disusul Keyra sambil membawa


kotak yang kemungkinan makanan hasil meminta pada Kenzo, sebab terlihat dari brand makanan tersebut yang berlogo


kepala harimau mengaum.


“Lo dari mana?”tanya Maurin sambil melirik kotak yang dibawa


Keyra dan memperhatikan Ayrin yang dengan santainya mengambil minuman tanpa


melirik Maurin sedikit pun.


“Ayrin ngerampok Bang Kenzo,” celetuk Keyra tiba-tiba.


Maurin memperhatikan mimik wajah milik Ayrin yang tak


terlihat apa-apa. Memang, sebenarnya sedikit susah untuk menebak apa yang


terjadi pada seoranng perempuan dengan sejuta kejadian misteriusnya. Namun,


itulah hal yang paling mencolok dari perempuan misterius yang disukai abang


sepupunya Maurin, yaitu Kenzo.


“Gue cuma mau itu terus dikasih sama dia, ya udah gue ambil


semuanya. Ada masalah?” Ayrin berbalik nanya pada Maurin yang ternganga heran.


Sejak kapan seorang Ayrin yang sangat anti dengan Kenzo kini


meminta makanan? Sepertinya Ayrin mulai membuka hati pada raja jalanan


tersebut.


“Kenzo dimana?” Alva tiba-tiba bertanya pada Keyra membuat


Maurin menatap wajah Alva sesaat.


“Tadi sehabis ngasih ini dia ke arah pintu utama,” Keyra


menjawab dengan susah payah, sebab kini mulutnya terpenuhi donat lumer milik


Ayrin.


Alva pergi tanpa berpamit membuat Maurin memperhatikan


punggung tegap itu yang perlahan menghilang dikerumunan orang. Ayrin yang


memang sejak tadi mengetahui tingkah Maurin hanya menggelengkan kepalanya


pelan.


“Lo lihat satu orang di depan belum tentu lo juga akan melihat


seribu orang di belakang yang berharap lo bisa membalikkan dan berlari ke arah


mereka. Ini bukan perihal cinta mencintai, tetapi saling berjuang dan


memperjuangi,” Ayrin bersabda sambil ikutan memakan donat dari kakak kelas yang


sudah lama ia hindari.


Maurin termenung mencerna kata-kata Ayrin yang seolah


menampar dirinya, “Apa gue terlalu berharap sama lo, Kak?” sambil bertanya pada

__ADS_1


dirinya sendiri.


__ADS_2