
Pekan ini seharusnya Maurin mengantarkan Bang Maron ke
acara temannya. Namun, karena abangnya itu tiba-tiba ada keperluan di kampus.
Akhirnya, dengan terpaksa dibatalkan dengan Maurin yang lebih memilih untuk hangout untuk menghabiskan waktu.
Namun, mulut kecil itu terbuka dan menghela napas
pelan. Ia baru sadar jika hari ini pula Sunny mengantarkan Bang Regan untuk check up. Merana sekali akhir pekan ini
menurut Maurin.
Namun, wajah Keyra terpampang di layar ponsel Maurin.
Sebuah panggilan video kebiasaan Keyra yang tidak pernah hilang. Namun, kening
perempuan menggemaskan itu terlihat mengerut dalam dengan jari-jari lentiknya
bergeser di atas layar.
“Kenapa, Ra?” tanya Maurin tanpa basa-basi.
“Hari ini ada acara?” tanya Keyra saat menyadari bahwa
pakaian Maurin yang nampak berbeda, serta langit biru yang ia percaya bahwa
sahabatnya itu sedang ada di luar.
“Enggak jadi, tadinya gue mau pergi sama Bang Maron.
Emang kenapa, sih?” tanya Maurin sedikit penasaran.
Layar ponsel Maurin bergerak pelan, menandakan bahwa
Keyra membawa ponselnya berpindah tempat. Tepat sekali, kini terpampang di
hadapan Maurin adalah balkon kamar milik Keyra. Sepertinya perempuan mungil itu
hendak mengatakan sesuatu.
“Kita jalan kuy!” ajak Keyra bersemangat.
Maurin terlihat menimang ajakan Keyra, lalu mengangguk
pelan. Membuat layar ponselnya bergerak drtastis. Dan hampir saja terjatuh ke
lantai kalau tida cepat-cepat Keyra tangkap.
“Gue jalan ke rumah lo,” pungkas Maurin menutup
teleponnya.
***
__ADS_1
“Fif, lo yakin sama
rencana ini?” tanya Cyra meyakinkan laki-laki di hadapannya.
Rafif nampak tidak peduli
dengan pertanyaan Cyra. Bahkan ia tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Hanya
deruan napas yang terdengar dari mulutnya.
Lama kelamaan Cyra pun
gemas dengan tingkah sepupunya. “Lo bisa serius nggak, sih?” tanyanya gemas.
“Setiap kata-kata yang
keluar dari mulut selalu serius, Ra.” Rafif terlihat tidak suka dengan
pertanyaan Cyra yang menganggapnya dirinya hanya bermain-main saja.
Jika memang hanya bermain-main
untuk apa melangkah hingga sejauh ini. Bahkan dengan nekat, ia merencakan
tentang kecelakaan Regan hari lalu. Padahal selangkah lagi dirinya akan
melenyapkan Regan, namun kedatangan salah satu pengendara membuat Rafif
menghentikan rencananya saat itu juga.
“Gue percaya kok. Tapi lo
Rafif menaikkan alis kanannya bingung.
“Udah keluar dia. Dapat
info dari mana?” balas Rafif dengan wajah sedikit tidak peduli.
“Gue sempat lihat dia
waktu keluar dari rumah sakit. Kayaknya dia check
up,” ujar Cyra sambil mengaduk-aduk mlik
shake yang tinggal setengah gelas.
Pandangan mata Rafif
tanpa sengaja mengarah pada pintu masuk yang menampakkan dua orang perempuan
tidak asing menurut penglihatannya. Merasa aneh, Cyra pun memandangi mata
Rafif, lalu mengarah pada bangku yang berada di pojok. Itu adalah Maurin.
Namun, tidak lama
kemudian, Keyra datang dengan nampan yang berisikan beberapa makanan dan
minuman. Obrolan ringan serta tawa kecil itu mengganggu pendengaran Cyra.
Apalagi Maurin yang tanpa sengaja menatap ke arah mejanya.
__ADS_1
“Itu Cyra, ‘kan?” tanya
Maurin menunjuk salah satu bangku dengan dagunya.
Keyra mengerutkan dahinya
bingung. “Cyra yang suka gangguin lo bukan, sih?”
“Nama Cyra emang ada
berapa di dunia ini?” tanya Maurin balik.
“Mungkin nggak banyak,”
balas Keyra polos.
Sontak Maurin memutar
bola matanya malas, dan segera menandaskan makannya. Ia ingin cepat-cepat pergi
dari sana. Terlebih dirinya sempat menatap laki-laki yang dirasa tidak asing.
Namun, Maurin seketika lupa pernah bertemu dimana.
“Gue buang ini duluan. Lo
jangan lama-lama,” kata Maurin pada Keyra yang tengah asik dengan makanannya
sambil sesekali menatap layar ponsel yang menampilkan sebuah acara live di salah satu aplikasi pertemanan
seperti Instagram.
Kepergian Maurin yang
awalnya Keyra sangka akan sebentar ternyata lama. Terlihat ia sudah beberapa
menit menjalankan acara live di Instagram pribadinya. Namun, Maurin
tidak menampakkan batang hidungnya.
Di sisi lain, ketika
Maurin menuangkan beberapa kotak kosong di dalam keranjang, tiba-tiba ada
seseorang yang sengaja menabraknya hingga nampan tersebut jatuh sempurna ke
dalam tong sampah. Hal tersebut tentu saja membuat Maurin emosi seketika
memuncak.
Bukannya memungut
kembali, Maurin malah melenggang pergi membiarkan Cyra menatap tong sampah di
hadapannya dengan pandangan terkejut. Lalu, matanya mengarah pada sebuah kamera
pengintai yang menatap dirinya dengan sangat jelas.
__ADS_1
“Bangsat! Gue
bisa-bisanya dipermainkan sama Maurin,” umpat Cyra kesal.