
“Tadi
gue lihat lo lagi bopong cewek. Siapa itu, Daf?” tanya Alva sembari menumpukkan
kepalanya di atas lipatan tangan.
Kenzo
menyimak dalam diam.
“Nggak
ada,” kata Daffa cuek.
Reyvan
mengerutkan dahinya bingung. “Bos, lo beneran lagi deket sama Sunny?”
“Nggak
ada yang deket. Kita cuma temen,” sahut Daffa acuh tak acuh.
Nathan
mengabaikan obrolan teman-temannya, ia dengan adem ayem menatap ponsel yang
tengah memperlihatkan sebuah akun sosial media milik Keyra. Nampaknya perempuan
itu jarang sekali memposting masalah pribadinya, bahkan postingan terakhirnya
adalah ketika ia tengah berada di tengah keramaian sebuah mall. Itu pun bersama
sahabatnya.
“Belum.
Masih otw proses,” celetuk Kenzo
datar.
“Buset! Sekalinya bersuara dalam juga
mas,” tutur Alva dengan wajah terkejut.
Nathan
menoyor dahi Alva pelan. “Jijik gue lihatnya,” sinisnya sambil menatap Alva
aneh.
“Nggak
masalah lo jijik, yang penting Maurin demen sama gue.” Alva menaik-naikkan
alisnya sambil tersenyum pongah.
“Lo
belum cerita tentang masalah lo waktu mukulin Alva, ‘kan? Bisa tolong
dijelaskan wahai saudara Nathaniel,” tutur Hito membuat tatapan penasaran kini
mengalihkannya pada laki-laki imut dengan muka yang ditekuk.
“Bukan
masalah panjang, sih. Intinya gue salah paham aja,” papar Nathan sambil
__ADS_1
tersenyum kecil.
“Tapi,
apa lo udah baikan sama Alva?” Daffa membuka suara, tepat ketika Nathan hendak
berlalu.
Namun,
bukannya menjawab. Nathan justru berlalu meninggalkan pertanyaan Daffa yang
mengambang di udara. Sedangkan Alva hanya menatap Daffa tanpa ekspresi. Ia tahu
laki-laki itu pasti butuh jawaban.
***
Ayrin
kira Sunny akan duduk bersamanya, namun perkiraannya melenceng jauh. Justru
perempuan manis itu lebih memilih duduk bersama Glora, yang notabenenya duduk
dengan Denta. Namun, Denta tidak mempermasalahkan itu. Ia pun segera bangkit
dan lebih memilih duduk dengan Jebros. Laki-laki yang sebenarnya bernama Aldi.
“Glo,
gue duduk sama lo ya,” pinta Sunny.
Glora
pun mengangguk, lalu mempersilahkan untuk Sunny mengisi bangku yang tadinya
dimiliki oleh Denta.
menoleh.
“Santuy,”
sahut Denta menatap Sunny tersenyum kecil.
Melihat
Sunny yang tiba-tiba berubah tempat duduk pun menimbulkan banyak pertanyaan di
benak Ayrin dan Keyra. Tentu saja Maurin perempuan tersantuy yang melihat
kepindahan bangku Sunny hari ini.
“Sun,
lo lagi ada masalah sama sahabat lo itu?” tanya Glora pelan. Siapa pun yang
berdampingan dengan perempuan itu pasti akan merasa segan. Entah apa yang ada
di dalam auranya. Padahal jika dilihat, Sunny adalah perempuan biasa yang
sangat ramai.
Sunny
menggeleng pelan. “Nggak kok, gue suntuk aja. Lagipula gue harus banyak-banyak
bersosialisasi dengan penghuni kelas, ‘kan?
__ADS_1
“Iya,
sih. Lo murid baru juga. Tapi, aneh aja rasanya,” sahut Glora sambil menggaruk
kepalanya yang tak gatal.
“Gue
cuma mendekatkan diri dengan kalian kok. Nggak ada hal lain,” ungkap Sunny yang
diakhiri senyuman lebarnya.
***
Sebuah
meja bundar tepat di tengah-tengah ruangan. Suasana gelap menyelimuti setiap
sudut yang hanya berisikan lampu templok. Sebenarnya, tepat di tengah ruangan
terdapat lampu bertingkat yang cukup besar, tapi entah kenapa ketua dari
kelompok yang kini menatap satu per satu anak buahnya sama sekali tak peduli.
Pakaina
hitam-hitam yang selalu lengkap dengan maskernya itu menempati tempat duduknya
masing-masing, menunggu instruksi dari sang ketua. Namun, keheningan tercipta.
“Jen,
bagaimana tugas lo?” tanya sang ketua dengan nada pelan, namun penuh
keseriusan.
Jenia
terlihat membuka-buka tumpukan kertas di depannya. Perempuan itu nampak seperti
kehilangan sesuatu.
“Apa
laporan itu hilang?” tanya Erion dengan penuh wibawa. Terlihat ketua dari
kelompok itu terlihat marah dengan apa yang dihasilkan oleh anak buahnya.
“Maaf, Sir. Sepertinya laporan itu ada yang
mengambilnya tanpa izin,” kata Jenia tegas.
Melihat
nada ketegasan yang keluar dari Jenia, Erion pun mengusap dagunya pelan. Lalu,
tatapannya beralih pada satu per satu anak buahnya yang terlihat menundukkan
kepala. Ciri khas saat ada rapat dadakan.
“Saya
mau salah satu dari kalian menceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada anak
saya, Sunny.” Erion menatap Jenia dengan siratan perintah, dan berlalu
meninggalkan ruangan gelap yang kini tengah menjadi ruangan eksekusi.
__ADS_1
Senyum
kecil dari bibir kecil Jenia pun terbit. Saatnya bersenang-senang.