Puzzle

Puzzle
Episode 29


__ADS_3

“Tadi


gue lihat lo lagi bopong cewek. Siapa itu, Daf?” tanya Alva sembari menumpukkan


kepalanya di atas lipatan tangan.


Kenzo


menyimak dalam diam.


“Nggak


ada,” kata Daffa cuek.


Reyvan


mengerutkan dahinya bingung. “Bos, lo beneran lagi deket sama Sunny?”


“Nggak


ada yang deket. Kita cuma temen,” sahut Daffa acuh tak acuh.


Nathan


mengabaikan obrolan teman-temannya, ia dengan adem ayem menatap ponsel yang


tengah memperlihatkan sebuah akun sosial media milik Keyra. Nampaknya perempuan


itu jarang sekali memposting masalah pribadinya, bahkan postingan terakhirnya


adalah ketika ia tengah berada di tengah keramaian sebuah mall. Itu pun bersama


sahabatnya.


“Belum.


Masih otw proses,” celetuk Kenzo


datar.


“Buset! Sekalinya bersuara dalam juga


mas,” tutur Alva dengan wajah terkejut.


Nathan


menoyor dahi Alva pelan. “Jijik gue lihatnya,” sinisnya sambil menatap Alva


aneh.


“Nggak


masalah lo jijik, yang penting Maurin demen sama gue.” Alva menaik-naikkan


alisnya sambil tersenyum pongah.


“Lo


belum cerita tentang masalah lo waktu mukulin Alva, ‘kan? Bisa tolong


dijelaskan wahai saudara Nathaniel,” tutur Hito membuat tatapan penasaran kini


mengalihkannya pada laki-laki imut dengan muka yang ditekuk.


“Bukan


masalah panjang, sih. Intinya gue salah paham aja,” papar Nathan sambil

__ADS_1


tersenyum kecil.


“Tapi,


apa lo udah baikan sama Alva?” Daffa membuka suara, tepat ketika Nathan hendak


berlalu.


Namun,


bukannya menjawab. Nathan justru berlalu meninggalkan pertanyaan Daffa yang


mengambang di udara. Sedangkan Alva hanya menatap Daffa tanpa ekspresi. Ia tahu


laki-laki itu pasti butuh jawaban.


***


Ayrin


kira Sunny akan duduk bersamanya, namun perkiraannya melenceng jauh. Justru


perempuan manis itu lebih memilih duduk bersama Glora, yang notabenenya duduk


dengan Denta. Namun, Denta tidak mempermasalahkan itu. Ia pun segera bangkit


dan lebih memilih duduk dengan Jebros. Laki-laki yang sebenarnya bernama Aldi.


“Glo,


gue duduk sama lo ya,” pinta Sunny.


Glora


pun mengangguk, lalu mempersilahkan untuk Sunny mengisi bangku yang tadinya


dimiliki oleh Denta.


menoleh.


“Santuy,”


sahut Denta menatap Sunny tersenyum kecil.


Melihat


Sunny yang tiba-tiba berubah tempat duduk pun menimbulkan banyak pertanyaan di


benak Ayrin dan Keyra. Tentu saja Maurin perempuan tersantuy yang melihat


kepindahan bangku Sunny hari ini.


“Sun,


lo lagi ada masalah sama sahabat lo itu?” tanya Glora pelan. Siapa pun yang


berdampingan dengan perempuan itu pasti akan merasa segan. Entah apa yang ada


di dalam auranya. Padahal jika dilihat, Sunny adalah perempuan biasa yang


sangat ramai.


Sunny


menggeleng pelan. “Nggak kok, gue suntuk aja. Lagipula gue harus banyak-banyak


bersosialisasi dengan penghuni kelas, ‘kan?

__ADS_1


“Iya,


sih. Lo murid baru juga. Tapi, aneh aja rasanya,” sahut Glora sambil menggaruk


kepalanya yang tak gatal.


“Gue


cuma mendekatkan diri dengan kalian kok. Nggak ada hal lain,” ungkap Sunny yang


diakhiri senyuman lebarnya.


***


Sebuah


meja bundar tepat di tengah-tengah ruangan. Suasana gelap menyelimuti setiap


sudut yang hanya berisikan lampu templok. Sebenarnya, tepat di tengah ruangan


terdapat lampu bertingkat yang cukup besar, tapi entah kenapa ketua dari


kelompok yang kini menatap satu per satu anak buahnya sama sekali tak peduli.


Pakaina


hitam-hitam yang selalu lengkap dengan maskernya itu menempati tempat duduknya


masing-masing, menunggu instruksi dari sang ketua. Namun, keheningan tercipta.


“Jen,


bagaimana tugas lo?” tanya sang ketua dengan nada pelan, namun penuh


keseriusan.


Jenia


terlihat membuka-buka tumpukan kertas di depannya. Perempuan itu nampak seperti


kehilangan sesuatu.


“Apa


laporan itu hilang?” tanya Erion dengan penuh wibawa. Terlihat ketua dari


kelompok itu terlihat marah dengan apa yang dihasilkan oleh anak buahnya.


“Maaf, Sir. Sepertinya laporan itu ada yang


mengambilnya tanpa izin,” kata Jenia tegas.


Melihat


nada ketegasan yang keluar dari Jenia, Erion pun mengusap dagunya pelan. Lalu,


tatapannya beralih pada satu per satu anak buahnya yang terlihat menundukkan


kepala. Ciri khas saat ada rapat dadakan.


“Saya


mau salah satu dari kalian menceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada anak


saya, Sunny.” Erion menatap Jenia dengan siratan perintah, dan berlalu


meninggalkan ruangan gelap yang kini tengah menjadi ruangan eksekusi.

__ADS_1


Senyum


kecil dari bibir kecil Jenia pun terbit. Saatnya bersenang-senang.


__ADS_2