
"Maurin?"
Merasa namanya dipanggil Maurin pun menoleh dan menghentikan kegiatan memasang headset ditelinganya. Ia pun mengerutkan dahinya bingung melihat Alva tersenyum sendiri layaknya orang gila.
"Mau apa lo?" Maurin menatap Alva sengit sambil melipat tangannya didepan dada.
"Gue mau tes telinga lo aja masih berfungsi atau nggak," sahut Alva dengan watados membuat Maurin mendelik tak percaya.
"Dasar gabut! Kurang kerjaan banget sih gangguin gue terus, mending lo cari kerjaan yang lebih berfaedah dari pada bikin gue darah tinggi. Bisa mati muda gue kalau tiap hari ketemu lo“ omel Maurin sambil geregetan.
“Jangan ngomel mulu Queenzal, nanti cantiknya hilang lho. Terus ntar lo keriput jadi nenek-nenek deh,” Maurin
hanya bisa mendelik tak percaya mendengar celetukan Alva yang dia rasa kurang waras.
“Apaan sih! Nggak waras, Masnya? Sorry aja gombalan lo itu receh banget nggak bakalan mempan sama gue, dan apa? Gue keriput? Biarin aja yang penting gue nggak pernah minta uang sama lo,” Maurin mendongak kepalanya angkuh.
“Hahaha ... mungkin sekarang nggak, tapi nggak tahu kalau besok. Sampai ketemu dikantin Queenzal, “Alva melambai-lambai yang lantas dibalas acungan jari tengah dari Maurin.
Maurin yang melihat kepergian Alva hanya bisa mengelus dada menenangkan jiwa yang hampir keluar dari tubuhnya. Bisa gila Maurin setiap hari ketemu manusia modelan Alva.
Sementara diikantin, tepatnya di meja Sunny dan Ayrin yang tengah menikmati acara makan batagornya dengan nikmat. Jangan tanyakan dimana Keyra dan Maurin. Mereka saja tidak tahu rimbanya dan mungkin sebentar lagi juga muncul seperti jailangkung. Datang tak dijemput pulang tak dibalikin.
"Ayrin! Sunny!" Maurin berseru cukup keras sambil menggebrak meja.
Gebrakan meja tersebut membuat Sunny tersedak dan buru-buru Maurin memberikan minumnya yang langsung disambut cepat oleh Sunny.
"Lo datang main rusuh aja, ada apa sih?" Ayrin berseru kesal membuat Keyra menoleh kikuk.
"Kak Daffa lagi berantem dibelakang sekolah," pekik Keyra gemas.
Satu detik ....
Dua detik ....
Tig–
"Daffa siapa?" tanya Sunny yang memang belum mengetahui semuanya.
"Daffa itu ketos sekolah kita," ujar Keyra yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Sunny.
"Urusannya sama kita apa?" Ayrin menatap Keyra malas.
"Ini berita menggemparkan! Kalian nggak mau ikut?" Maurin menatap bingung melihat sahabatnya yang tengah melanjutkan acara makan batagor dengan tenang tanpa memperdulikannya.
__ADS_1
"Enggak" ujar Ayrin dan Sunny berbarengan.
"Beneran nggak mau tahu?" tanya Keyra sambil mencomot batagor milik Sunny.
“Beli sendiri, Key!” peringat Sunny yang memang tidak suka kalau ada yang mengambil makanan
kesukaanya termasuk batagor.
“Traktir ya,” pinta Keyra sambil mengeluarkan puppy eyes yang mau tak mau membuat Sunny menurutinya.
Maurin hanya bisa menghela napas dan segera menyusul Keyra yang hendak membeli batagor khas Bu Mila atau
biasa disebut Bumil, memang batagor miliknya selain enak bumbu kacangnya pun sangat gurih. Cocok untuk dijadikan makanan favorit anak SMA Aryasatya.
Melihat piring ketiga milik Keyra habis, Maurin menggelengkan kepalanya heran, “Lo laper apa doyan? Makan segitu banyak, tapi badan nggak tambah-tambah.”
“Eits! Patut disyukuri punya badan seperti gue. Jarang-jarang ada anak yang nggak pernah diet buat ngurusin badan. Memangnya lo! Setiap hari ngeluh berat badan naik,” ejek Keyra membuat Maurin kesal.
“Sialun!” umpat Maurin seraya melemparkan sendok yang tepat mengenai dahi Keyra.
Tuk!
“Dih! Kasar banget lo, nanti nggak bisa baperin cowok lagi baru tahu rasa. Ups ... lo kan udah suka sama Alva,” ejek Keyra membuat wajah Maurin memerah menahan malu.
“Bangsul!”
“Keyra! Udah nanti Maurin malu,” ujar Ayrin menengahi.
“Maurin juga harusnya ngalah sama yang kecilan,” kata-kata dari Ayrin barusan membuat senyum Maurin lenyap seketika diganti dengan dengusan keras-keras yang tak ayal membuat ketiga sahabatnya itu tertawa geli.
"Ke kelas, kuy! Udah habis juga makanan gue,” ajak Sunny sambil bangkit dari tempat duduknya.
“Siap,” ujar mereka serempak.
Sunny yang melihat keanehan disekolah barunya itu hanya mengerutkan dahinya bingung. Maurin yang melihat Sunny mengerutkan dahinya pun bertanya, “Kenapa?”
“Ini beneran sekolah? Kok tumben sepi banget,” ujar Sunny yang langsung diangguki Keyra.
“Bener juga. Gue dari tadi mau bilang gitu,” celetuk Ayrin membuat semuanya bingung.
“Wait! Tadi lo bilang Daffa-Daffa itu berantemkan? Masa iya anak-anak pada nonton itu orang,” Sunny bergumam sedikit keras yang diangguki oleh Maurin.
“Nggak perlu heran. Lo pasti belum tahu gimana tenarnya Daffa disini, kan?” gelengan dari Sunny membuat Ayrin tersenyum maklum.
“Jangankan kenal, Ay. Mungkin ketemu aja dia belum,” Keyra tertawa kecil membuat Sunny mendengus.
“Sialan! Mana gue tahu! Bahkan gue masuk sekolah ini aja baru 3 jam yang lalu dan lo bilang nggak kenal. Pernah ngerasain dicium sepatu gue nggak?” ancam Sunny gemas membuat Ayrin terkekeh kecil.
__ADS_1
"Peace," Keyra mengeluarkan jari duanya tanda perdamaian.
"Hmmm ... ya udah kita ke kelas aja. Lagipula nggak penting banget ngurusin urusan orang lain,” sahut Ayrin cuek.
“Kalian duluan aja gue mau ke toilet dulu,” pamit Sunny.
Sepeninggalnya Ayrin, Keyra dan Maurin yang pergi menuju kearah kelasnya. Sunny pun segera berjalan mencari toilet perempuan, sedikit sulit menemukannya karena jarak toilet dengan koridor arah kantin lumayan jauh dan harus melewati beberapa kelas dan koridor menuju taman belakang.
“Ini toilet nggak ada yang lebih jauh lagi apa? Gila aja gue kalau kebelet bisa ngompol dijalan,” gerutu Sunny sambil berjalan, namun langkahnya terhenti mendengar suara seperti ... orang kesakitan.
Dengan langkah pelan Sunny menyusuri arah dari suara tersebut, tak henti-hentinya Sunny membaca doa kalau memang itu adalah hantu. Tapi, mana ada hantu dijam sekolah seperti ini. Atau dia arwah penasaran? Ah sialan! Film horror membuat Sunny berfikir yang tidak-tidak.
Semakin dekat dengan asal suara tersebut membuat semakin jelas pula suara orang merintih. Ya! Dibalik pohon? Hantukah dijam seperti ini. Awas saja kalau ada yang mengerjainya, tak segan Sunny memenggal kepalanya hidup-hidup. Sebut saja dia psikopat.
Degub jantungnya pun mulai menggila, membuat Sunny berkeringat dingin. Ingin lari namun dia penasaran. Dengan menarik nafasnya pelan Sunny pun memberanikan diri membuka matanya dan terkejut melihat ....
__ADS_1
Manusia?
Oh God! Lelucon macam apa ini? Untung saja jantungnya masih berfungsi dengan benar. Kalau tidak? Siapkan mentalmu anak muda, karena hantu tak seindah di film horror.