
Gitar di pangkuan Daffa mengalun indah. Membuat
beberapa pasang mata menatapnya kagum. Ditambah suara merdu milik Nathan. Satu-satunya
laki-laki yang mempunyai wajah seperti perempuan. Sementara Alva dan Reyvan
bertepuk tangan memeriahkan konser dadakan di sepanjang koridor kelas 11.
Teman seangkatannya pun berhenti sejenak untuk
mendengarkan suara Nathan yang sudah lama tidak mereka dengar. Terlebih sejak
perpindahan kelasnya yang berjarak amat jauh. Menjadikan satu-satunya senior yang berada di sana.
Kenzo pun terlihat asik dengan buku di pangkuannya. Sering
kali laki-laki berpenampilan rapih itu ikut bergabung, meskipun pegangannya
selalu buku. Padahal di kelas pun sudah belajar. Dan tidak mungkin meninggalkan
satu waktu belajar akan membuat Kenzo bodoh.
“Nyari sensasi lo masang konser nggak jelas gini,”
ejek Rafif tertawa pelan sambil memandangi satu per satu anggota Erysichthon.
Nathan nampak tidak suka melihat wajah Rafif. Bahkan
Reyvan sempat maju, namun segera ditahan oleh Hito. Laki-laki yang sedari tadi
hanya memandangi teman-temannya dalam diam.
“Bukan urusan lo,” tekan Daffa menatap Rafif datar.
Kenzo melirik hanya sebentar, lalu bangkit dari tempat
duduknya, dan diikuti oleh teman-temannya termasuk Daffa.
Melihat kepergian Daffa, Rafif hanya tersenyum sinis
sambil memandangi sekitar. Pandangan kagum pun tidak luput dari perhatiannya.
Namun, dirinya tidak merasa terganggu dan menikmati tatapan-tatapan itu dengan
tersenyum remeh. Perempuan yang hobinya mencari perhatian memang sangat
__ADS_1
menguntungkan bagi Rafif.
“Lo malu-maluin gue tahu nggak?!” seru Maurin tidak
terima.
“Ya salah lo sendiri,” sahut Sunny enteng dan tertawa
geli melihat wajah kesal Maurin.
Namun, pandangan Sunny terhenti kala di depannya ada
seorang laki-laki yang sempat ditemui waktu lalu. Dirinya sangat yakin jika itu
adalah laki-laki tersebut. Maurin pun semakin penasaran saat tawa Sunny mereda
kala menatap Rafif. Senior yang
selalu menggoda dirinya.
Bukan Sunny namanya jika melewati begitu saja.
Langkahnya pun terhenti tepat di hadapan Rafif. Menatap laki-laki itu dengan
dahi berkerut.
menatap Rafif dengan memajukan sedikit wajahnya.
Rafif memundurkan langkahnya ke belakang sambil
memasukkan ke dua tangan ke dalam saku. Menatap Sunny dengan pandangan yang
sulit diartikan. Namun, pandangannya terhenti tepat di depan name tag dan membacanya sekilas.
“Jadi, lo yang namanya Sunny,” gumam Rafif pada
dirinya sendiri sambil mengangguk-angguk pelan.
Alis kanan milik Sunny terangkat ke atas, dan
memandangi wajah Rafif bingung. “Kenapa sama nama gue?” tanyanya sambil
mengayunkan dagu ke atas.
“Biasa aja menurut gue,” ucap Rafif tanpa beban. “Udah
__ADS_1
ngasih apa lo sama Daffa?” sambungnya dengan tersenyum geli melihat wajah pias
milik Sunny.
Sementara Maurin hanya memandangi Sunny dari kejauhan.
Jujur saja, ia sangat takut ketika melihat wajah Rafif. Mengingatkan luka lama
yang sudah dirinya kubur rapat-rapat.
“Maksud lo apa, Kak?!” bentak Sunny garang.
“Wow, santai, Mbak!” cegah Rafif tertawa remeh.
Bukannya meredakan emosi, Sunny malah menatap Rafif
sangat tajam. Emosinya pun sudah berada di ubun-ubun, membuatnya sedikit lepas
kendali. Apalagi ia sangat mengetahui bahwa laki-laki di depannya adalah
makhluk yang tidak bermoral.
Seakan ada sinyal yang menghampirinya, Sunny pun
menoleh ke belakang. Di sana ada Daffa beserta teman-temannya dengan gagah
berani, bak panglima perang. Berbaris rapih membentuk formasi sayap elang.
Panjang, lebar, dan sangat mematikan.
Erysichthon maju dengan langkahnya yang panjang.
Tatapan mereka lurus, tidak memandang Sunny dan Rafif meski hanya sekilas.
“Jangan pernah ganggu orang-orang yang ada di sekitar
gue,” bisik Daffa pelan tepat di samping telinga Rafif.
Sementara Alva telah menghampiri Maurin yang terdiam
di sudut sambil sesekali mengusap air matanya. Maurin bukanlah perempuan
cengeng, tetapi ia sakit mengingat perlakuan Rafif sebelum dirinya kedatangan
Sunny.
__ADS_1
“Lo nggak apa-apa, Rin?” tanya Alva khawatir sambil memandangi
sekujur tubuh Maurin.