Puzzle

Puzzle
Episode 32


__ADS_3

Gitar di pangkuan Daffa mengalun indah. Membuat


beberapa pasang mata menatapnya kagum. Ditambah suara merdu milik Nathan. Satu-satunya


laki-laki yang mempunyai wajah seperti perempuan. Sementara Alva dan Reyvan


bertepuk tangan memeriahkan konser dadakan di sepanjang koridor kelas 11.


Teman seangkatannya pun berhenti sejenak untuk


mendengarkan suara Nathan yang sudah lama tidak mereka dengar. Terlebih sejak


perpindahan kelasnya yang berjarak amat jauh. Menjadikan satu-satunya senior yang berada di sana.


Kenzo pun terlihat asik dengan buku di pangkuannya. Sering


kali laki-laki berpenampilan rapih itu ikut bergabung, meskipun pegangannya


selalu buku. Padahal di kelas pun sudah belajar. Dan tidak mungkin meninggalkan


satu waktu belajar akan membuat Kenzo bodoh.


“Nyari sensasi lo masang konser nggak jelas gini,”


ejek Rafif tertawa pelan sambil memandangi satu per satu anggota Erysichthon.


Nathan nampak tidak suka melihat wajah Rafif. Bahkan


Reyvan sempat maju, namun segera ditahan oleh Hito. Laki-laki yang sedari tadi


hanya memandangi teman-temannya dalam diam.


“Bukan urusan lo,” tekan Daffa menatap Rafif datar.


Kenzo melirik hanya sebentar, lalu bangkit dari tempat


duduknya, dan diikuti oleh teman-temannya termasuk Daffa.


Melihat kepergian Daffa, Rafif hanya tersenyum sinis


sambil memandangi sekitar. Pandangan kagum pun tidak luput dari perhatiannya.


Namun, dirinya tidak merasa terganggu dan menikmati tatapan-tatapan itu dengan


tersenyum remeh. Perempuan yang hobinya mencari perhatian memang sangat

__ADS_1


menguntungkan bagi Rafif.


“Lo malu-maluin gue tahu nggak?!” seru Maurin tidak


terima.


“Ya salah lo sendiri,” sahut Sunny enteng dan tertawa


geli melihat wajah kesal Maurin.


Namun, pandangan Sunny terhenti kala di depannya ada


seorang laki-laki yang sempat ditemui waktu lalu. Dirinya sangat yakin jika itu


adalah laki-laki tersebut. Maurin pun semakin penasaran saat tawa Sunny mereda


kala menatap Rafif. Senior yang


selalu menggoda dirinya.


Bukan Sunny namanya jika melewati begitu saja.


Langkahnya pun terhenti tepat di hadapan Rafif. Menatap laki-laki itu dengan


dahi berkerut.


menatap Rafif dengan memajukan sedikit wajahnya.


Rafif memundurkan langkahnya ke belakang sambil


memasukkan ke dua tangan ke dalam saku. Menatap Sunny dengan pandangan yang


sulit diartikan. Namun, pandangannya terhenti tepat di depan name tag dan membacanya sekilas.


“Jadi, lo yang namanya Sunny,” gumam Rafif pada


dirinya sendiri sambil mengangguk-angguk pelan.


Alis kanan milik Sunny terangkat ke atas, dan


memandangi wajah Rafif bingung. “Kenapa sama nama gue?” tanyanya sambil


mengayunkan dagu ke atas.


“Biasa aja menurut gue,” ucap Rafif tanpa beban. “Udah

__ADS_1


ngasih apa lo sama Daffa?” sambungnya dengan tersenyum geli melihat wajah pias


milik Sunny.


Sementara Maurin hanya memandangi Sunny dari kejauhan.


Jujur saja, ia sangat takut ketika melihat wajah Rafif. Mengingatkan luka lama


yang sudah dirinya kubur rapat-rapat.


“Maksud lo apa, Kak?!” bentak Sunny garang.


“Wow, santai, Mbak!” cegah Rafif tertawa remeh.


Bukannya meredakan emosi, Sunny malah menatap Rafif


sangat tajam. Emosinya pun sudah berada di ubun-ubun, membuatnya sedikit lepas


kendali. Apalagi ia sangat mengetahui bahwa laki-laki di depannya adalah


makhluk yang tidak bermoral.


Seakan ada sinyal yang menghampirinya, Sunny pun


menoleh ke belakang. Di sana ada Daffa beserta teman-temannya dengan gagah


berani, bak panglima perang. Berbaris rapih membentuk formasi sayap elang.


Panjang, lebar, dan sangat mematikan.


Erysichthon maju dengan langkahnya yang panjang.


Tatapan mereka lurus, tidak memandang Sunny dan Rafif meski hanya sekilas.


“Jangan pernah ganggu orang-orang yang ada di sekitar


gue,” bisik Daffa pelan tepat di samping telinga Rafif.


Sementara Alva telah menghampiri Maurin yang terdiam


di sudut sambil sesekali mengusap air matanya. Maurin bukanlah perempuan


cengeng, tetapi ia sakit mengingat perlakuan Rafif sebelum dirinya kedatangan


Sunny.

__ADS_1


“Lo nggak apa-apa, Rin?” tanya Alva khawatir sambil memandangi


sekujur tubuh Maurin.


__ADS_2