Puzzle

Puzzle
Episode 22


__ADS_3

Hari senin adalah hari dimana semua murid SMA Arsyasatya


melakukan kegiatan upacara bendera. Termasuk Daffa, sang ketua OSIS yang kini


tengah sibuk mengorganisir para petugas agar melakukan segala persiapannya


dengan cekatan.


Raut wajah datar Kenzo pun ikut menghiasi lapangan. Dengan


gerakan tangan mengibas, ia mengatur para pasukan pembawa bendera. Mempunyai


kelebihan dari paskibra membuat laki-laki itu sedikit meluangkan suaranya untuk


berbicara.


“Tadi udah diajarin,” kata Kenzo saat ada salah satu murid


yang bertanya pada dirinya.


Memang, hal yang membosankan adalah mengulang apa yang sudah


dijelaskan. Padahal jika diperhatikan dengan cermat tak mungkin bisa lupa,


kecuali memang ada tambahan mendadak. Namun, tetap saja Kenzo sangat membenci


pengulangan apa yang diajarkan.


“Ayo-ayo udah masuk jam 7!” seru Daffa dengan lantang sambil


menepuk-nepuk tangannya pertanda latihan selesai.


Seruan kekecewaan terdengar dari arah pembaris. Membuat


laki-laki itu segera menghampiri dengan langkah tegas.


“Ada trouble?”


tanya Daffa menatap komandan pembaris itu dengan wajah datar.


Sang komandan mengangguk sekilas. “Kayaknya kita kurang


personil. Elvita kebetulan lagi nggak bisa ikut,” kata komandan tersebut sambil


membenarkan letak topinya.


“5 menit, gue cari pengganti Elvita. Lo tunggu,” tandas


Daffa sambil meninggalkan pasukan pembaris.


Langkahnya kini terdengar tegas, pikirannya pun melayang.


Mencari-cari murid yang cocok untuk menggantikan Elvita. Lalu, tatapannya


terarah pada Sunny. Perempuan yang terlihat sibuk memakai dasi itu sepertinya


cocok untuk menggantikan Elvita.


“Sunny!” panggil Daffa sambil berlari menyusul.


Merasa dipanggil Sunny pun membalikkan tubuhnya, dan menatap


Daffa dengan alis kanan yang terangkat, pertanda bertanya.


“Lo bisa jadi paskib? Tolong pembaris lagi kekurangan


orang,” pinta Daffa menatap Sunny memohon.


Sunny mengerutkan dahinya dalam. “Kok gue?” tanyanya sambil


menunjuk dasi yang tidak terpasang rapih.


Daffa mengangguk kuat. “Ayo! Lo pasti bisa,” ajak Daffa yang


tanpa aba-aba menarik Sunny menuju ruang ganti para pembaris.


Ruangan itu mendadak senyap melihat kehadiran Sunny,


termasuk Cyra. Tatapan malas Sunny layangkan pada Daffa yang tengah menggenggam


pergelangan tangan kanannya.


“Virda, gue udah dapat pengganti Elvita. Namanya Sunny,”


ujar Daffa sambil mendorong pelan punggung mungil Sunny.


“Apaan sih, Daf!” protes Sunny kesal.


Daffa memegang ke dua pundak Sunny lembut. “Pembaris


kekurangan orang. Jadi, gue minta tolong sama lo untuk ikut berpartisipasi.

__ADS_1


Oke, gue tahu lo dulu ikut paskibraka. Jangan mengelak lagi!” Daffa


mengatakannya dengan penuh penekanan.


Sunny mendecih sinis sambil meraih baju yang akan ia


kenakan.


Melihat Sunny yang menggantikan Elvita, Cyra pun tak tinggal


diam. “Nggak bisa gitu dong, Daf. Kita kan nggak tahu dia pembaris tahun kapan.


Apa lo berani jamin tanpa latihan dia bisa menyesuaikan sama kita?” serunya


sambil memandangi Sunny dari atas hingga ke bawah.


“Gue jamin Sunny mampu!” tegas Daffa sambil menatap Sunny


lembut.


∞∞∞


Di bawah dinginnya lantai Sunny, Ayrin, Keyra, dan Maurin


terduduk melingkar. Ponsel yang biasanya terpegang kini menganggur sia-sia.


Sampah berserakan membuat pojokan kelas sedikit kotor.


“Gimana ceritanya tadi lo bisa ngajak Cyra gelud?” pinta


Maurin penasaran.


Keyra pun menganggukkan kepalanya pelan.


“Biasalah nenek lampir yang nggak ada bosan-bosannya


gangguin gue,” sahut Sunny tanpa beban.


“Heran deh. Si Cyra kenapa benci banget sama lo, Queen?”


tanya Keyra penasaran.


Menjadi bintang


sekolah bukanlah hal yang Maurin sangka. Sebenarnya jika dilihat otaknya tidak


secerdas Albert Einstein dan tidak juga sebodoh manusia para generasi micin.


Tetapi, entah mendapat hoki dari mana Maurin bisa memenangkan olimpiade


Terlihat perempuan


berbandana pink itu berlari kecil menuju Maurin, sambil membawa banner kecil


untuk para pendukung sahabatnya.


“Sunny, gue senang


banget!” pekik Maurin sambil memeluk Sunny erat.


Remaja yang sejak tadi


sudah memperhatikan mereka pun tersenyum kecil dengan tatapan tajam bak burung


elang mengincar mangsanya.


“Besok-besok lo harus


lebih cepat lagi, Queen. Gue senang deh,” sahut Sunny yang tak kalah gembira


dengan Maurin.


Sejenak mereka


menghentikan tawanya kala melihat wajah perempuan yang terlihat basah oleh air


mata.


“Hei, lo kenapa?”


tanya Maurin lembut.


Perempuan itu pun


menepis tangan Maurin kuat-kuat sambil menatapnya tajam.


“Lo jahat! Lo curang!


Lo nggak pantes dapat juara! Gue benci sama lo!” bentak anak perempuan itu


sambil berlari meninggalkan Maurin dan Sunny yang terdiam, mencerna kata-kata

__ADS_1


yang baru saja mereka dengar.


Maurin menatap Sunny


sendu. “Gue curang ya, Sun?”


Sunny menggeleng keras


menyanggah semua pikiran negatif sahabatnya, “Nggak, lo hebat! Gue bangga


banget.”


“Kalau dia benci sama


gue gimana?” lirih Maurin pelan.


“Ya minta maaf. Gue


lihat kok name tag dia Cyra. Lo cari aja, barangkali kita bertemu lagi,” sahut


Sunny membuat Maurin mengangguk lemah.


Kenangan itu berputar kembali, bagai kaset rusak yang silih berganti.


Menampilkan bagaimana kacaunya wajah Cyra kala ia memenangkan perlombaan


tersebut. Jika waktu dapat diputar, ia tidak ingin mengikuti acara tersebut.


Lebih baik ia menjadi siswi nakal daripada harus mempunyai musuh seperti ini.


“Bukan salah lo juga, Queen. Lagipula namanya perlombaan


menang atau kalah itu udah biasa,” sanggah Ayrin cepat.


“Nah, itu dia Ay. Cyra nggak terima sama perjuangan dia


untuk mendapatkan gelar itu. Sebenarnya dia nggak kalah, cuma emang dasarnya


dia biasa menang kali ya. Jadi, kalau dibawah gitu dia nggak suka,” papar Sunny


sambil mencomot batagor di plastik miliknya.


Keyra manggut-manggut tak paham.


Tiba-tiba Cyra datang, seorang diri. Keyra yang tanpa


sengaja melihatnya pun hanya diam dan menyaksikan Roni, sang ketua kelas itu


tengah menanyai tamu. Lalu, tatapan Roni pun jatuh pada Keyra.


Sontak saja peremuan mungil itu cepat-cepat bangkit dari


tempat duduknya. Sunny yang melihatnya pun hanya menatap punggung mungil itu


dalam diam. Namun, alangkah terkejutnya tiba-tiba Keyra menampar pipi Cyra.


Kehebohan kelas pun terjadi. Apalagi kini kelasnya kebetulan


sekali kedatangan Guru Chen. Sontak saja keadaan mendadak sunyi.


Beragam pertanyaan melekat di kepala indah Sunny, namun tak


ada satu pun yang keluar dari mulut mungilnya.


“Keyra, kenapa tadi kamu tiba-tiba nampar Cyra?” tanya Guru


Chen pelan.


“Dia biadab, Guru. Orang biadab harus musnah dari bumi,”


ujar Keyra tajam.


Tepukan pelan dari Ayrin tak membuat Keyra meredam


amarahnya.


Glora pun berbisik pada Sunny, “Si Keyra tumben ngamuk.


Kalian bicarain Cyra apaan?”


Sunny mengendikkan bahunya acuh, lalu memandangi wajah Cyra


yang seperti orang menahan boker.


“Lo itu nggak tahu diuntung ya,” Cyra mendecih pelan.


Menatap Keyra dengan remeh.


“Harusnya lo beruntung, Ra. Karena keluarga gue mau nampung


lo, tapi nggak gini caranya lo nge-bales mereka. Sebagai keluarga, gue malu

__ADS_1


punya saudara seperti lo,” tandas Keyra yang diakhiri senyuman mirisnya, dan segera


melangkah keluar kelas.


__ADS_2