
Hari senin adalah hari dimana semua murid SMA Arsyasatya
melakukan kegiatan upacara bendera. Termasuk Daffa, sang ketua OSIS yang kini
tengah sibuk mengorganisir para petugas agar melakukan segala persiapannya
dengan cekatan.
Raut wajah datar Kenzo pun ikut menghiasi lapangan. Dengan
gerakan tangan mengibas, ia mengatur para pasukan pembawa bendera. Mempunyai
kelebihan dari paskibra membuat laki-laki itu sedikit meluangkan suaranya untuk
berbicara.
“Tadi udah diajarin,” kata Kenzo saat ada salah satu murid
yang bertanya pada dirinya.
Memang, hal yang membosankan adalah mengulang apa yang sudah
dijelaskan. Padahal jika diperhatikan dengan cermat tak mungkin bisa lupa,
kecuali memang ada tambahan mendadak. Namun, tetap saja Kenzo sangat membenci
pengulangan apa yang diajarkan.
“Ayo-ayo udah masuk jam 7!” seru Daffa dengan lantang sambil
menepuk-nepuk tangannya pertanda latihan selesai.
Seruan kekecewaan terdengar dari arah pembaris. Membuat
laki-laki itu segera menghampiri dengan langkah tegas.
“Ada trouble?”
tanya Daffa menatap komandan pembaris itu dengan wajah datar.
Sang komandan mengangguk sekilas. “Kayaknya kita kurang
personil. Elvita kebetulan lagi nggak bisa ikut,” kata komandan tersebut sambil
membenarkan letak topinya.
“5 menit, gue cari pengganti Elvita. Lo tunggu,” tandas
Daffa sambil meninggalkan pasukan pembaris.
Langkahnya kini terdengar tegas, pikirannya pun melayang.
Mencari-cari murid yang cocok untuk menggantikan Elvita. Lalu, tatapannya
terarah pada Sunny. Perempuan yang terlihat sibuk memakai dasi itu sepertinya
cocok untuk menggantikan Elvita.
“Sunny!” panggil Daffa sambil berlari menyusul.
Merasa dipanggil Sunny pun membalikkan tubuhnya, dan menatap
Daffa dengan alis kanan yang terangkat, pertanda bertanya.
“Lo bisa jadi paskib? Tolong pembaris lagi kekurangan
orang,” pinta Daffa menatap Sunny memohon.
Sunny mengerutkan dahinya dalam. “Kok gue?” tanyanya sambil
menunjuk dasi yang tidak terpasang rapih.
Daffa mengangguk kuat. “Ayo! Lo pasti bisa,” ajak Daffa yang
tanpa aba-aba menarik Sunny menuju ruang ganti para pembaris.
Ruangan itu mendadak senyap melihat kehadiran Sunny,
termasuk Cyra. Tatapan malas Sunny layangkan pada Daffa yang tengah menggenggam
pergelangan tangan kanannya.
“Virda, gue udah dapat pengganti Elvita. Namanya Sunny,”
ujar Daffa sambil mendorong pelan punggung mungil Sunny.
“Apaan sih, Daf!” protes Sunny kesal.
Daffa memegang ke dua pundak Sunny lembut. “Pembaris
kekurangan orang. Jadi, gue minta tolong sama lo untuk ikut berpartisipasi.
__ADS_1
Oke, gue tahu lo dulu ikut paskibraka. Jangan mengelak lagi!” Daffa
mengatakannya dengan penuh penekanan.
Sunny mendecih sinis sambil meraih baju yang akan ia
kenakan.
Melihat Sunny yang menggantikan Elvita, Cyra pun tak tinggal
diam. “Nggak bisa gitu dong, Daf. Kita kan nggak tahu dia pembaris tahun kapan.
Apa lo berani jamin tanpa latihan dia bisa menyesuaikan sama kita?” serunya
sambil memandangi Sunny dari atas hingga ke bawah.
“Gue jamin Sunny mampu!” tegas Daffa sambil menatap Sunny
lembut.
∞∞∞
Di bawah dinginnya lantai Sunny, Ayrin, Keyra, dan Maurin
terduduk melingkar. Ponsel yang biasanya terpegang kini menganggur sia-sia.
Sampah berserakan membuat pojokan kelas sedikit kotor.
“Gimana ceritanya tadi lo bisa ngajak Cyra gelud?” pinta
Maurin penasaran.
Keyra pun menganggukkan kepalanya pelan.
“Biasalah nenek lampir yang nggak ada bosan-bosannya
gangguin gue,” sahut Sunny tanpa beban.
“Heran deh. Si Cyra kenapa benci banget sama lo, Queen?”
tanya Keyra penasaran.
Menjadi bintang
sekolah bukanlah hal yang Maurin sangka. Sebenarnya jika dilihat otaknya tidak
secerdas Albert Einstein dan tidak juga sebodoh manusia para generasi micin.
Tetapi, entah mendapat hoki dari mana Maurin bisa memenangkan olimpiade
Terlihat perempuan
berbandana pink itu berlari kecil menuju Maurin, sambil membawa banner kecil
untuk para pendukung sahabatnya.
“Sunny, gue senang
banget!” pekik Maurin sambil memeluk Sunny erat.
Remaja yang sejak tadi
sudah memperhatikan mereka pun tersenyum kecil dengan tatapan tajam bak burung
elang mengincar mangsanya.
“Besok-besok lo harus
lebih cepat lagi, Queen. Gue senang deh,” sahut Sunny yang tak kalah gembira
dengan Maurin.
Sejenak mereka
menghentikan tawanya kala melihat wajah perempuan yang terlihat basah oleh air
mata.
“Hei, lo kenapa?”
tanya Maurin lembut.
Perempuan itu pun
menepis tangan Maurin kuat-kuat sambil menatapnya tajam.
“Lo jahat! Lo curang!
Lo nggak pantes dapat juara! Gue benci sama lo!” bentak anak perempuan itu
sambil berlari meninggalkan Maurin dan Sunny yang terdiam, mencerna kata-kata
__ADS_1
yang baru saja mereka dengar.
Maurin menatap Sunny
sendu. “Gue curang ya, Sun?”
Sunny menggeleng keras
menyanggah semua pikiran negatif sahabatnya, “Nggak, lo hebat! Gue bangga
banget.”
“Kalau dia benci sama
gue gimana?” lirih Maurin pelan.
“Ya minta maaf. Gue
lihat kok name tag dia Cyra. Lo cari aja, barangkali kita bertemu lagi,” sahut
Sunny membuat Maurin mengangguk lemah.
Kenangan itu berputar kembali, bagai kaset rusak yang silih berganti.
Menampilkan bagaimana kacaunya wajah Cyra kala ia memenangkan perlombaan
tersebut. Jika waktu dapat diputar, ia tidak ingin mengikuti acara tersebut.
Lebih baik ia menjadi siswi nakal daripada harus mempunyai musuh seperti ini.
“Bukan salah lo juga, Queen. Lagipula namanya perlombaan
menang atau kalah itu udah biasa,” sanggah Ayrin cepat.
“Nah, itu dia Ay. Cyra nggak terima sama perjuangan dia
untuk mendapatkan gelar itu. Sebenarnya dia nggak kalah, cuma emang dasarnya
dia biasa menang kali ya. Jadi, kalau dibawah gitu dia nggak suka,” papar Sunny
sambil mencomot batagor di plastik miliknya.
Keyra manggut-manggut tak paham.
Tiba-tiba Cyra datang, seorang diri. Keyra yang tanpa
sengaja melihatnya pun hanya diam dan menyaksikan Roni, sang ketua kelas itu
tengah menanyai tamu. Lalu, tatapan Roni pun jatuh pada Keyra.
Sontak saja peremuan mungil itu cepat-cepat bangkit dari
tempat duduknya. Sunny yang melihatnya pun hanya menatap punggung mungil itu
dalam diam. Namun, alangkah terkejutnya tiba-tiba Keyra menampar pipi Cyra.
Kehebohan kelas pun terjadi. Apalagi kini kelasnya kebetulan
sekali kedatangan Guru Chen. Sontak saja keadaan mendadak sunyi.
Beragam pertanyaan melekat di kepala indah Sunny, namun tak
ada satu pun yang keluar dari mulut mungilnya.
“Keyra, kenapa tadi kamu tiba-tiba nampar Cyra?” tanya Guru
Chen pelan.
“Dia biadab, Guru. Orang biadab harus musnah dari bumi,”
ujar Keyra tajam.
Tepukan pelan dari Ayrin tak membuat Keyra meredam
amarahnya.
Glora pun berbisik pada Sunny, “Si Keyra tumben ngamuk.
Kalian bicarain Cyra apaan?”
Sunny mengendikkan bahunya acuh, lalu memandangi wajah Cyra
yang seperti orang menahan boker.
“Lo itu nggak tahu diuntung ya,” Cyra mendecih pelan.
Menatap Keyra dengan remeh.
“Harusnya lo beruntung, Ra. Karena keluarga gue mau nampung
lo, tapi nggak gini caranya lo nge-bales mereka. Sebagai keluarga, gue malu
__ADS_1
punya saudara seperti lo,” tandas Keyra yang diakhiri senyuman mirisnya, dan segera
melangkah keluar kelas.