
“Setiap hari lo begini? Nggak ada orang.”
Maurin bersandar pada kursi bantal merah milik Sunny sambil
membuka-buka buku novel bukan untuk dibaca, tetapi hanya untuk dilihat.
“Nggak juga, beberapa hari ini Bang Regan dirumah,” ujar
Sunny sambil mencomot toples cemilan dan melanjutkan kembali acara menonton
film di layar laptop miliknya.
“Kembaran lo udah balik?” tanya Keyra yang sedang diam-diam
menstalker ig most wanted sekolah
siapa lagi kalau bukan Eryshthon menoleh cepat.
“Udah lama,” sambil merebahkan tubuhnya Sunny meneraawang
langit-langit kamarnya yang berwarna biru khas astronot.
“Jadi?” Keyra meringsek pada Sunny sambil memainkan
rambutnya.
“Gue bodoh ya,” monolog Sunny sambil tertawa kecil.
Keyra yang tengah memainkan rambut Sunny spontan berhenti,
sedangkan Ayrin dan Maurin seperti biasa mereka akan mengintrogasi mangsanya.
Kerap kali diantara mereka bertiga, Sunny memang yang paling bisa mengungkapkan
kesedihan dengan kata yang diakhiri kekehan. Sangat khas Sunny sekali.
“Lo percaya bunga cosmos?” Sunny memperhatikan ke tiga
sahabatnya. “Apa filosofi bunga cosmos menurut kalian?” lanjutnya sambil mentap
ke tiga temannya lekat-lekat.
“Kecil dan harus gue jaga dengan baik, sama seperti
kebahagiaan,” Keyra berujar sambil menghadap Sunny penuh, ia tahu Sunny butuh
tempat curahan.
“Kalau gue nggak pernah ngerasain bahagia, gimana?” sambil
menyandarkan tubuhnya, Sunny mengambil bantal kecil dan memangku ke dua
tangannya diatas.
“Kebahagiaan itu terkadang sangat membodohi kita, Sun.
Bagaimana tidak, banyak manusia merasakan bahagia, tetapi tak sedikit pula yang
kurang mensyukurinya,” Ayrin menepuk bahu mungil Sunny. “Terkadang takdir
semempermainkan itu. Apa yang kita anggep kecil akan besar bagi orang lain,”
lanjutnya sambil tersenyum kecil.
“Dan lo kurang bersyukur dengan kebahagiaan kecil itu sampai
lo ngerasa menjadi manusia yang paling menderita. Lo inget nggak sewaktu dulu
gue berantem sama Bang Maron?” Maurin menjeda dalam kalimatnya, “Disitu lo bilang jangan hanya mengharapkan dari apa yang
__ADS_1
diharapkan, tetapi cobalah untuk belajar dari apa yang diharapkan.”
“Bukannya lo pernah ngajarin ke kita bahwa tak semua orang
itu menderita, sekalipun ia merasa sengsara. Buka mata lo lebar-lebar, di luar
sana bahkan tak sedikit anak kecil yang kurang kasih sayang, Sun. Harusnya lo
bahagia, meskipun lo ngerasa menderita,” Keyra menepuk pelan pundak Sunny.
“Lo udah gede bisa bedain mana yang benar. Gue harap lo bisa
pikirin ini baik-baik,” Ayrin meraih tasnya dan melangkah ke arah pintu. “Gue
balik,” diakhiri menutupnya pintu kamar pribadi milik Sunny.
Sementara suasana berubah menjadi sunyi membuat Keyra dan
Maurin jengah. Namun, tak enak pula jika ikut menginggalkan Sunny dalam keadaan
seperti ini. Ayrin pergi bukan berarti ia ingin, sebab ia juga butuh uang untuk
biaya sekolah adik-adiknya. Alhasil dengan amat terpaksa Ayrin harus pergi agar
tak dipecat oleh bosnya.
Sunny menghembuskan napasnya pelan, “Kalian mau apa? Gue
pesen dulu.”
“Kayaknya enggak deh, gue lagi diet. Kemarin timbangan naik
sekilo,” suara lirihan itu terdengar dari Maurin membuat Keyra jengah.
“Gue heran sama lo, setiap hari ngeluh timbangan naiklah,
mengejeknya membuat Maurin mengggerucutkan bibir kesal.
“Cewek wajar,” ujar Maurin bangga.
Keyra mengabaikan Maurin dan menoleh ke arah Sunny sambil
bertanya, “Sun, nanti malam lo mau ikut nggak?”
“Ke mana?” tanya Sunny sambil mengerutkan dahinya bingung.
“Sepupunya Maurin ultah.” Senyum setan terbit dibibir Keyra
membuat Maurin teringat.
“Ah, ya! Gue lupa ngasih tahu lo,” cetus Maurin menepuk
dahinya pelan.
“Tua sih. Lo harus ikut!” guncangan dari tangan Keyra
membuat Sunny mendelik protes.
“Santai, bro. Kapan?” tanya Sunny sambil menegakkan bahunya
yang terasa pegal.
“Nanti malam. Lo bareng Maurin biar nggak bawa mobil sekalian jemput
Ayrin, katanya dia mau ikut,” usul Keyra membuat Sunny menganggukkan kepala.
Ada benarnya juga, lagipula untuk apa membawa mobil banyak
kalau mereka akan bersama. Letak mansion Maurin pun searah dengan mereka, jadi
__ADS_1
hitung-hitung sekalian angkut. Maurin ingin menginap pun tak masalah. Karena
memang sosok remaja cantik satu ini hidupnya bebas sekali, meskipun diawasi
abang galaknya.
∞∞∞
“Lo ultah, Ken? Tumben banget dirayain, ada apa?” Nathan
mengerutkan dahinya bingung saat tiba-tiba Kenzo membawa kabar yang
mengejutkan.
“Sekalian acara launching motor papah,”ujar Kenzo santai sambil mendudukan diri diatas meja belajar
Michael yang kebetulan hari ini mereka kompak ingin bertemu adiknya Michael
yang bernama Carissa.
“Pasti kita dateng, kapan lagi holang kaya ngadain pesta,” sela
Hito yang diangguki Reyvan.
“Jangan lupa bawa kresek, Nath. Kita rampok makanan dirumah
Kenzo,” ajak Reyvan bertos ria dengan Nathan yang memang tak ada malunya.
Sedangkan Daffa hanya memperhatikan tanpa berniat untuk
bergabung dengan kegilaan sahabatnya seperti orang kelaparan. Padahal rumah
mereka sama-sama mansion, berbeda dengan Alva yang indekos, tetapi bukan
berarti dia kekurangan. Hanya saja Alva memang sudah tidak mempunyai orang tua.
Alva dituntut oleh tantenya untuk menjalankan usaha
pelayaran yang dimiliki ayahnya, namun Alva tak mau. Sebab, ia sudah mempunyai
keinginan tersendiri dan ia ingin mewujudkannya dengan usaha sendiri tanpa
melibatkan nama ayahnya.
“Ken, lo sepupuan sama Maurin?” Kenzo menoleh pada Daffa
yang tiba-tiba menanyakan tentang keluarganya.
“Kenapa?” tanya Kenzo balik sambil menatap Daffa bingung.
“Teh Mira gagal kuis, gue denger abangnya dosen dikampus,”
ujar Daffa sambil mengalihkan pandangannya yang merasa risih ditatap aneh oleh
Kenzo.
“Bang Maron asdos bukan dosen, memangnya teteh lo gagal
kenapa?” tanya Kenzo bertubi-tubi, sebab ia penasaran ada apa dengan kakak
kesayangan sahabatnya itu hingga gagal kuis, padahal perempuan itu sangat bisa
dibilang unik. Walaupun tak paham dengan apa yang ia ikuti, tapi perempuan itu
mampu lulus, meskipun hanya mendapat nilai ‘B’.
“Jadi, mana nomernya?” pinta Daffa membuat Kenzo mendengus
kesal pertanyaannya diabaikan.
__ADS_1