Puzzle

Puzzle
Episode 9


__ADS_3

“Setiap hari lo begini? Nggak ada orang.”


Maurin bersandar pada kursi bantal merah milik Sunny sambil


membuka-buka buku novel bukan untuk dibaca, tetapi hanya untuk dilihat.


“Nggak juga, beberapa hari ini Bang Regan dirumah,” ujar


Sunny sambil mencomot toples cemilan dan melanjutkan kembali acara menonton


film di layar laptop miliknya.


“Kembaran lo udah balik?” tanya Keyra yang sedang diam-diam


menstalker ig most wanted sekolah


siapa lagi kalau bukan Eryshthon menoleh cepat.


“Udah lama,” sambil merebahkan tubuhnya Sunny meneraawang


langit-langit kamarnya yang berwarna biru khas astronot.


“Jadi?” Keyra meringsek pada Sunny sambil memainkan


rambutnya.


“Gue bodoh ya,” monolog Sunny sambil tertawa kecil.


Keyra yang tengah memainkan rambut Sunny spontan berhenti,


sedangkan Ayrin dan Maurin seperti biasa mereka akan mengintrogasi mangsanya.


Kerap kali diantara mereka bertiga, Sunny memang yang paling bisa mengungkapkan


kesedihan dengan kata yang diakhiri kekehan. Sangat khas Sunny sekali.


“Lo percaya bunga cosmos?” Sunny memperhatikan ke tiga


sahabatnya. “Apa filosofi bunga cosmos menurut kalian?” lanjutnya sambil mentap


ke tiga temannya lekat-lekat.


“Kecil dan harus gue jaga dengan baik, sama seperti


kebahagiaan,” Keyra berujar sambil menghadap Sunny penuh, ia tahu Sunny butuh


tempat curahan.


“Kalau gue nggak pernah ngerasain bahagia, gimana?” sambil


menyandarkan tubuhnya, Sunny mengambil bantal kecil dan memangku ke dua


tangannya diatas.


“Kebahagiaan itu terkadang sangat membodohi kita, Sun.


Bagaimana tidak, banyak manusia merasakan bahagia, tetapi tak sedikit pula yang


kurang mensyukurinya,” Ayrin menepuk bahu mungil Sunny. “Terkadang takdir


semempermainkan itu. Apa yang kita anggep kecil akan besar bagi orang lain,”


lanjutnya sambil tersenyum kecil.


“Dan lo kurang bersyukur dengan kebahagiaan kecil itu sampai


lo ngerasa menjadi manusia yang paling menderita. Lo inget nggak sewaktu dulu


gue berantem sama Bang Maron?” Maurin menjeda dalam kalimatnya, “Disitu lo bilang jangan hanya mengharapkan dari apa yang

__ADS_1


diharapkan, tetapi cobalah untuk belajar dari apa yang diharapkan.”


“Bukannya lo pernah ngajarin ke kita bahwa tak semua orang


itu menderita, sekalipun ia merasa sengsara. Buka mata lo lebar-lebar, di luar


sana bahkan tak sedikit anak kecil yang kurang kasih sayang, Sun. Harusnya lo


bahagia, meskipun lo ngerasa menderita,” Keyra menepuk pelan pundak Sunny.


“Lo udah gede bisa bedain mana yang benar. Gue harap lo bisa


pikirin ini baik-baik,” Ayrin meraih tasnya dan melangkah ke arah pintu. “Gue


balik,” diakhiri menutupnya pintu kamar pribadi milik Sunny.


Sementara suasana berubah menjadi sunyi membuat Keyra dan


Maurin jengah. Namun, tak enak pula jika ikut menginggalkan Sunny dalam keadaan


seperti ini. Ayrin pergi bukan berarti ia ingin, sebab ia juga butuh uang untuk


biaya sekolah adik-adiknya. Alhasil dengan amat terpaksa Ayrin harus pergi agar


tak dipecat oleh bosnya.


Sunny menghembuskan napasnya pelan, “Kalian mau apa? Gue


pesen dulu.”


“Kayaknya enggak deh, gue lagi diet. Kemarin timbangan naik


sekilo,” suara lirihan itu terdengar dari Maurin membuat Keyra jengah.


“Gue heran sama lo, setiap hari ngeluh timbangan naiklah,


mengejeknya membuat Maurin mengggerucutkan bibir kesal.


“Cewek wajar,” ujar Maurin bangga.


Keyra mengabaikan Maurin dan menoleh ke arah Sunny sambil


bertanya, “Sun, nanti malam lo mau ikut nggak?”


“Ke mana?” tanya Sunny sambil mengerutkan dahinya bingung.


“Sepupunya Maurin ultah.” Senyum setan terbit dibibir Keyra


membuat Maurin teringat.


“Ah, ya! Gue lupa ngasih tahu lo,” cetus Maurin menepuk


dahinya pelan.


“Tua sih. Lo harus ikut!” guncangan dari tangan Keyra


membuat Sunny mendelik protes.


“Santai, bro. Kapan?” tanya Sunny sambil menegakkan bahunya


yang terasa pegal.


“Nanti malam. Lo bareng  Maurin biar nggak bawa mobil sekalian jemput


Ayrin, katanya dia mau ikut,” usul Keyra membuat Sunny menganggukkan kepala.


Ada benarnya juga, lagipula untuk apa membawa mobil banyak


kalau mereka akan bersama. Letak mansion Maurin pun searah dengan mereka, jadi

__ADS_1


hitung-hitung sekalian angkut. Maurin ingin menginap pun tak masalah. Karena


memang sosok remaja cantik satu ini hidupnya bebas sekali, meskipun diawasi


abang galaknya.


∞∞∞


“Lo ultah, Ken? Tumben banget dirayain, ada apa?” Nathan


mengerutkan dahinya bingung saat tiba-tiba Kenzo membawa kabar yang


mengejutkan.


“Sekalian acara launching motor papah,”ujar Kenzo santai sambil mendudukan diri diatas meja belajar


Michael yang kebetulan hari ini mereka kompak ingin bertemu adiknya Michael


yang bernama Carissa.


“Pasti kita dateng, kapan lagi holang kaya ngadain pesta,” sela


Hito yang diangguki Reyvan.


“Jangan lupa bawa kresek, Nath. Kita rampok makanan dirumah


Kenzo,” ajak Reyvan bertos ria dengan Nathan yang memang tak ada malunya.


Sedangkan Daffa hanya memperhatikan tanpa berniat untuk


bergabung dengan kegilaan sahabatnya seperti orang kelaparan. Padahal rumah


mereka sama-sama mansion, berbeda dengan Alva yang indekos, tetapi bukan


berarti dia kekurangan. Hanya saja Alva memang sudah tidak mempunyai orang tua.


Alva dituntut oleh tantenya untuk menjalankan usaha


pelayaran yang dimiliki ayahnya, namun Alva tak mau. Sebab, ia sudah mempunyai


keinginan tersendiri dan ia ingin mewujudkannya dengan usaha sendiri tanpa


melibatkan nama ayahnya.


“Ken, lo sepupuan sama Maurin?” Kenzo menoleh pada Daffa


yang tiba-tiba menanyakan tentang keluarganya.


“Kenapa?” tanya Kenzo balik sambil menatap Daffa bingung.


“Teh Mira gagal kuis, gue denger abangnya dosen dikampus,”


ujar Daffa sambil mengalihkan pandangannya yang merasa risih ditatap aneh oleh


Kenzo.


“Bang Maron asdos bukan dosen, memangnya teteh lo gagal


kenapa?” tanya Kenzo bertubi-tubi, sebab ia penasaran ada apa dengan kakak


kesayangan sahabatnya itu hingga gagal kuis, padahal perempuan itu sangat bisa


dibilang unik. Walaupun tak paham dengan apa yang ia ikuti, tapi perempuan itu


mampu lulus, meskipun hanya mendapat nilai ‘B’.


“Jadi, mana nomernya?” pinta Daffa membuat Kenzo mendengus


kesal pertanyaannya diabaikan.

__ADS_1


__ADS_2