Puzzle

Puzzle
Episode 15


__ADS_3

Lihat aku sayang


Yang sudah berjuang


Menunggumu


Datang


Dengung lagu yang  begitu memekakkan telinga. Akibatnya kamar Daffa menjadi sangat pengap.


Bahkan Alva pun sampai membuka jendela panjang yang berjejer rapih di samping


kasur king size. Ac yang biasanya


dingin pun entah mengapa mendadak tak berfungsi.


Hal tersebut membuat Daffa sedikit kesal pada sahabatnya.


Apalagi ditambah lagu yang Nathan putar sangat keras tak sinkron, sebab nadanya


yang galau. Laki-laki berwajah imut itu menjadi pendiam. Sejak kepulangannya


dari sekolah


Hito menyadari perubahan sikap Nathan pun menatap Michael


dengan isyarat bertanya, namun laki-laki dengan kulit putih lengkap dengan


kacamatanya itu mengendikkan bahunya tak tahu.


“Nath, lo lagi ada masalah cerita aja,” ujar Kenzo memecah


keheningan yang mendadak melanda.


Nathan tersenyum tipis menatap Kenzo, lalu menggeleng pelan.


“Lo kebiasaan banget kayak cewek. Ditanyain ada apa pasti


jawabnya nggak apa-apa,” sahut Daffa kesal.


“Apaan sih, kalian baper banget,” canda Nathan dengan


tersenyum paksa.


Michael merangkul bahu Nathan. “Lo nggak bisa bohongin kita.


Jujur ada apa, Nath?” tanya Michael membuat Nathan mengembuskan napasnya pelan.


“Gue galau.”


Dua kata dengan beribu makna itu mampu membuat lainnya


terdiam. Sebenarnya, perempuan yang selalu membuat Nathan galau itu siapa,


padahal jika dilihat kelakuannya di sekolah. Nathan tak pernah mendekati


perempuan, selain ada perlu atau memang hanya ingin sebagai guyonan.


Nathan mengetahui, pasti sahabatnya kini bertanya-tanya


bingung. Ia memang sedikit tertutup jika urusan asmara. Bukannya tak mau


cerita, hanya saja ia memang lebih suka privasi.


Lagipula ini urusannya, kalau pun sahabatnya tahu. Ia hanya ingin mendapat


dukungan saja.


“Perempuan lo kenapa lagi?” tanya Daffa santai.


Nathan terkekeh pelan, namun ada unsur paksaan. “Nggak tahu

__ADS_1


kenapa gue mulai ragu,” gumamnya sambil menunduk.


“Lo ragu sebelum deketin?” sahut Kenzo heran.


Nathan menganggukkan kepalanya beberapa kali, lalu menatap


Alva sendu.


“Lo deketin Maurin, Nath?” cetus Alva spontan.


“Kenapa lo selalu berpikiran begitu?” Nathan membalikkan


pertanyaan membuat suasanan mendadak panas.


Alva mengembuskan napasnya pelan. “Jujur, gue lagi deketin


Maurin, tapi kalau lo deketin juga. Nggak apa-apa gue mundur,” balas Alva


santai, namun tidak dengan jantungnya yang bergemuruh hebat.


Mendadak Nathan tertawa keras sekali, membuat yang lain


mengerutkan dahinya bingung. “Maurin itu mantan gue waktu SMP,” jelas Nathan


sesekali nyengir lucu.


Tatapan tak percaya kini bukan dari Alva, melainkan Kenzo.


Ia tak menyangka sahabatnya ini adalah mantan dari sepupu bringas seperti


Maurin.


“Lo serius pernah pacaran sama Maurin?” ujar Daffa terkejut


dan terheran-heran.


Nathan mengangguk sambil tersenyum puas melihat betapa piasnya


kehilangan kata-kata hanya untuk berujar tak percaya.


“Sumpah! Nathan yang begajulan aja bisa dapatin Maurin,


sedangkan lo Al. Kapan dapatinnya?” ejek Hito membuat Alva mendengus.


“Tapi, anjir gue nggak nyangka vangsad. Si Nathan bisa


menangin hati nenek lampir,” seru Kenzo histeris.


“Back to the topic!” tegas Daffa membuat semuanya terdiam.


“Sebenernya, gue lagi deketin Cendist. Cewek yang waktu itu


nggak sengaja ketemu gue di café,” gumam Nathan pelan.


Alva mulai mengerutkan dahinya saat mendengar nama Cendist.


“Cendist Amalia?”


Nathan menoleh pada Alva. “Lo kenal sama dia?”


“Bangsul!” umpat Alva keras. “Bukan kenal lagi, bahkan gue


sama dia adik kakak.”


“Tunggu, maksudnya apa?” seru Nathan tak sabaran.


Alva berdehem pelan. “Dia itu adik tiri gue.”


Spontan saja ungkapan dari Alva membuat semuanya terkejut.


Sudah dapat dipastikan rahang Nathan hampir jatuh jika ia tak cepat-cepat

__ADS_1


menutupnya.


“Kok lo nggak pernah cerita,” ujar Daffa menatap Alva


menyelidik.


Alva mengangkat bahunya acuh. “Kalian nggak pernah tanya dan


gue buat apa cerita.”


Hito menganggukkan kepalanya. “Bener juga kata lo, Al.”


Alva tersenyum bangga, lalu meraih ranselnya yang tergeletak


di bawah meja dan mengaitkannya sebelah. Ia pun pergi meninggalkan kamar Daffa.


“Mau ke mana lo, bahlul?” seru Micahel keras dan tepat di


depan telinga Nathan.


“Asyu, telinga gue menjerit.” Nathan menggosok-gosok


telinganya hingga memerah, membuat Daffa tertawa pelan melihat tingkah Michael


yang hanya tersenyum tanpa dosa.


Tak lama kemudian, makanan pun datang. Alhasil semuanya


terdiam, sebab mereka yang namanya jenis makanan tak pernah bisa dilewatkan.


Katakana saja mereka seperti kekurangan, namun inilah asli dari sifat mereka.


Kalau ada yang gratisan kenapa harus beli, betul tidak?


∞∞∞


“ToD.”


Sebuah botol berputar di tengan-tengah lingkaran menyisakan


rasa berdetak berkepanjangan. Sunny pun tak mau ketinggalan, ia bahkan sudah


berkomat-kamit merapalkan mantra agar tak mendapat sial. Namun, sayangnya


realita menampar dirinya hingga ke dasar jurang.


Tepat saat ujung botol berhenti di depan Sunny, lalu di


sebrangnya ada Maurin. Perempuan yang selalu Sunny hindari dengan berbagai


kekepoan dan kejahilannya.


“Trusth or Dare?”


ujar Maurin sambil tersenyum iblis.


Ini yang paling Maurin nantikan. Menjadi satu-satunya yang


memberi pertanyaan kepada lawan mainnya. Sungguh licik sekali, satu pertanyaan


membuka jawaban lainnya.


Sunny bersungut-sungut kesal, “Truth.”


Tatapan mengejek dari Maurin ia abaikan. Sebenarnya ia ingin


memilih dare, tapi maaf. Sunny masih


menyayangi harga dirinya sebagai perempuan terhormat bila Maurin memang


benar-benar sialan.

__ADS_1


“Lo berharap apa sama Daffa untuk ke depannya?”


__ADS_2