
Lihat aku sayang
Yang sudah berjuang
Menunggumu
Datang
Dengung lagu yang begitu memekakkan telinga. Akibatnya kamar Daffa menjadi sangat pengap.
Bahkan Alva pun sampai membuka jendela panjang yang berjejer rapih di samping
kasur king size. Ac yang biasanya
dingin pun entah mengapa mendadak tak berfungsi.
Hal tersebut membuat Daffa sedikit kesal pada sahabatnya.
Apalagi ditambah lagu yang Nathan putar sangat keras tak sinkron, sebab nadanya
yang galau. Laki-laki berwajah imut itu menjadi pendiam. Sejak kepulangannya
dari sekolah
Hito menyadari perubahan sikap Nathan pun menatap Michael
dengan isyarat bertanya, namun laki-laki dengan kulit putih lengkap dengan
kacamatanya itu mengendikkan bahunya tak tahu.
“Nath, lo lagi ada masalah cerita aja,” ujar Kenzo memecah
keheningan yang mendadak melanda.
Nathan tersenyum tipis menatap Kenzo, lalu menggeleng pelan.
“Lo kebiasaan banget kayak cewek. Ditanyain ada apa pasti
jawabnya nggak apa-apa,” sahut Daffa kesal.
“Apaan sih, kalian baper banget,” canda Nathan dengan
tersenyum paksa.
Michael merangkul bahu Nathan. “Lo nggak bisa bohongin kita.
Jujur ada apa, Nath?” tanya Michael membuat Nathan mengembuskan napasnya pelan.
“Gue galau.”
Dua kata dengan beribu makna itu mampu membuat lainnya
terdiam. Sebenarnya, perempuan yang selalu membuat Nathan galau itu siapa,
padahal jika dilihat kelakuannya di sekolah. Nathan tak pernah mendekati
perempuan, selain ada perlu atau memang hanya ingin sebagai guyonan.
Nathan mengetahui, pasti sahabatnya kini bertanya-tanya
bingung. Ia memang sedikit tertutup jika urusan asmara. Bukannya tak mau
cerita, hanya saja ia memang lebih suka privasi.
Lagipula ini urusannya, kalau pun sahabatnya tahu. Ia hanya ingin mendapat
dukungan saja.
“Perempuan lo kenapa lagi?” tanya Daffa santai.
Nathan terkekeh pelan, namun ada unsur paksaan. “Nggak tahu
__ADS_1
kenapa gue mulai ragu,” gumamnya sambil menunduk.
“Lo ragu sebelum deketin?” sahut Kenzo heran.
Nathan menganggukkan kepalanya beberapa kali, lalu menatap
Alva sendu.
“Lo deketin Maurin, Nath?” cetus Alva spontan.
“Kenapa lo selalu berpikiran begitu?” Nathan membalikkan
pertanyaan membuat suasanan mendadak panas.
Alva mengembuskan napasnya pelan. “Jujur, gue lagi deketin
Maurin, tapi kalau lo deketin juga. Nggak apa-apa gue mundur,” balas Alva
santai, namun tidak dengan jantungnya yang bergemuruh hebat.
Mendadak Nathan tertawa keras sekali, membuat yang lain
mengerutkan dahinya bingung. “Maurin itu mantan gue waktu SMP,” jelas Nathan
sesekali nyengir lucu.
Tatapan tak percaya kini bukan dari Alva, melainkan Kenzo.
Ia tak menyangka sahabatnya ini adalah mantan dari sepupu bringas seperti
Maurin.
“Lo serius pernah pacaran sama Maurin?” ujar Daffa terkejut
dan terheran-heran.
Nathan mengangguk sambil tersenyum puas melihat betapa piasnya
kehilangan kata-kata hanya untuk berujar tak percaya.
“Sumpah! Nathan yang begajulan aja bisa dapatin Maurin,
sedangkan lo Al. Kapan dapatinnya?” ejek Hito membuat Alva mendengus.
“Tapi, anjir gue nggak nyangka vangsad. Si Nathan bisa
menangin hati nenek lampir,” seru Kenzo histeris.
“Back to the topic!” tegas Daffa membuat semuanya terdiam.
“Sebenernya, gue lagi deketin Cendist. Cewek yang waktu itu
nggak sengaja ketemu gue di café,” gumam Nathan pelan.
Alva mulai mengerutkan dahinya saat mendengar nama Cendist.
“Cendist Amalia?”
Nathan menoleh pada Alva. “Lo kenal sama dia?”
“Bangsul!” umpat Alva keras. “Bukan kenal lagi, bahkan gue
sama dia adik kakak.”
“Tunggu, maksudnya apa?” seru Nathan tak sabaran.
Alva berdehem pelan. “Dia itu adik tiri gue.”
Spontan saja ungkapan dari Alva membuat semuanya terkejut.
Sudah dapat dipastikan rahang Nathan hampir jatuh jika ia tak cepat-cepat
__ADS_1
menutupnya.
“Kok lo nggak pernah cerita,” ujar Daffa menatap Alva
menyelidik.
Alva mengangkat bahunya acuh. “Kalian nggak pernah tanya dan
gue buat apa cerita.”
Hito menganggukkan kepalanya. “Bener juga kata lo, Al.”
Alva tersenyum bangga, lalu meraih ranselnya yang tergeletak
di bawah meja dan mengaitkannya sebelah. Ia pun pergi meninggalkan kamar Daffa.
“Mau ke mana lo, bahlul?” seru Micahel keras dan tepat di
depan telinga Nathan.
“Asyu, telinga gue menjerit.” Nathan menggosok-gosok
telinganya hingga memerah, membuat Daffa tertawa pelan melihat tingkah Michael
yang hanya tersenyum tanpa dosa.
Tak lama kemudian, makanan pun datang. Alhasil semuanya
terdiam, sebab mereka yang namanya jenis makanan tak pernah bisa dilewatkan.
Katakana saja mereka seperti kekurangan, namun inilah asli dari sifat mereka.
Kalau ada yang gratisan kenapa harus beli, betul tidak?
∞∞∞
“ToD.”
Sebuah botol berputar di tengan-tengah lingkaran menyisakan
rasa berdetak berkepanjangan. Sunny pun tak mau ketinggalan, ia bahkan sudah
berkomat-kamit merapalkan mantra agar tak mendapat sial. Namun, sayangnya
realita menampar dirinya hingga ke dasar jurang.
Tepat saat ujung botol berhenti di depan Sunny, lalu di
sebrangnya ada Maurin. Perempuan yang selalu Sunny hindari dengan berbagai
kekepoan dan kejahilannya.
“Trusth or Dare?”
ujar Maurin sambil tersenyum iblis.
Ini yang paling Maurin nantikan. Menjadi satu-satunya yang
memberi pertanyaan kepada lawan mainnya. Sungguh licik sekali, satu pertanyaan
membuka jawaban lainnya.
Sunny bersungut-sungut kesal, “Truth.”
Tatapan mengejek dari Maurin ia abaikan. Sebenarnya ia ingin
memilih dare, tapi maaf. Sunny masih
menyayangi harga dirinya sebagai perempuan terhormat bila Maurin memang
benar-benar sialan.
__ADS_1
“Lo berharap apa sama Daffa untuk ke depannya?”