
Setelah beberapa hari membolos, akhirnya Sunny menginjakkan
kembali kakinya di lantai marmer SMA Aryasatya. Dengan tas mungil yang
bertengger manis di sebelah kanannya, lalu tangan kanannya pun ikut serta merta
menyangga tas mungil tersebut.
Tatapan berbagai macam dari anak-anak ikut menemani pagi
Sunny yang sangat cerah, namun tak seperti langit yang menunjukkan tanda-tanda
akan turun hujan.
Menaiki anak tangga satu per satu membebaskan Sunny dari
segala macam tatapan yang terkadang membuatnya sedikit emosi. Sambutan tatapan
cerah dari Keyra membuat perempuan yang sedang memakan permen karet itu
tersenyum kecil.
“Tumben pagi, biasanya lo demen banget main kejar-kejaran
sama Bu Dayut,” canda Keyra terkekeh geli.
Maurin mengacungkan jari telunjuknya setuju. Sangat berbeda
dengan Ayrin, kini perempuan rapih itu terlihat mencoret-coret sesuatu di
bukunya, membuat Sunny melirik penasaran.
“Bikin apa, sih?” tanya Sunny sambil mendudukan diri di
samping Ayrin, lalu meletakkan tasnya di atas meja tanpa melepaskan pandangan
dari kertas HVS yang beralaskan buku besar.
“Bentar,” sanggah Ayrin tanpa mengalihkan pandangannya.
Sunny menganggukkan kepalanya cuek, lalu menatap Keyra yang
memamerkan film barunya pada sekumpulan siswi di kelas. Sementara Maurin sudah
bertengger manis di bangku Roni, sepertinya perempuan itu tengah menonton
anime. Kebiasaan Denta dan Roni ketika membawa laptop ke sekolah.
Semakin lama Sunny pun akhirnya merasa bosan, ia pun mulai
menumpukkan kepalanya di lipatan tangan menghadap tepat pada Glora. Teman
bangku seberang Sunny. Sepertinya siswi itu tengah berdandan, kebiasaannya saat
baru saja tiba di sekolah.
Bersekolah di sini membuat Sunny sedikit berpengalaman,
terutama masalah perempuan. Sangat berbeda di sekolah lamanya dahulu. Membawa make up pun sudah dihadang guru dan
berakhir dengan surat peringatan. Namun, nyatanya di sini berbeda. Ketahuan
membawa pun guru diam saja, aneh memang.
Tanpa sengaja Sunny teringat oleh seseorang yang telah
mengirimkan pesan padanya. Sudah beberapa hari ini tak lagi ada pesan untuknya.
Hal tersebut membuat perempuan yang gemar mencepol rambutnya itu sedikit lega.
“Dah, selesai!” seru Ayrin sambil menggebrak meja, membuat
Sunny mengelus dadanya pelan.
“Buat apaan sih! Ngagetin gue aja,” protes Sunny kesal.
Ayrin tersenyum lucu sambil berujar, “Lihat dulu dong!”
Terlihat sebuah sketsa abstrak dari pensil, Sunny
mengerutkan dahinya bingung. Apalagi ada sebuah gambar yang menurutnya sangat
gamblang.
“Ini ... maksudnya apa, Ay?” tanya Sunny sambil menunjuk
salah satu gambar yang ada di kertas HVS milik Ayrin.
__ADS_1
Ayrin mengerutkan dahinya dalam, seperti berpikir keras.
Lalu, ia pun menatap Sunny tersenyum kecil sambil menggeleng, dan memasukkan
gambarannya tersebut ke dalam tas.
Tak lama Bu Dayut pun datang, lengkap dengan keris kemonceng
andalannya yang bertengger manis di ketek basah milik guru bahasa inggris itu.
Murid-murid IPS 2 pun kalang kabut melihat guru yang tiba-tiba datang tanpa
permisi. Acara KBM berjalan seperti biasanya. Sepi dan sunyi, dua hal yang
sangat disukai Bu Dayut selaku guru bahasa inggris sekaligus walas dari kelas
11 IPS 2.
∞∞∞
“Daf, lo ngerasa aneh nggak sih sama cewek yang waktu itu
nolongin lo?” tanya Nathan tiba-tiba.
Daffa yang sejak tadi serius menatap monitor kini mengalihkan
pandangannya pada Nathan sekilas, lalu kembali melanjutkan pekerjaannya yang
sempat tertunda.
“Maksud lo Sunny?” tanya Daffa balik tanpa memperdulikan
tatapan Nathan yang bersemangat.
“Ya! Lo kenal, ‘kan?”
Daffa mengangguk sekilas.
“Kenal Keyra pasti,” ujar Nathan misterius.
Sontak gerakan Daffa mendadak terhenti, dan menatap Nathan
tajam. Ia tahu maksud dari perkataan laki-laki imut dengan jambul yang selalu
menghiasi rambut cepaknya.
sasaran.
Nathan tersenyum lucu sambil menggoda Daffa, “Ayolah, Daf.
Bantuin gue buat dapetin itu cewek. Cakep euy, aa nggak nahan.”
Daffa mendelik tak terima. “Jauh-jauh lo bangsad!” umpat
Daffa tajam.
“Janji ya deketin gue,” sahut Nathan sambil mengait paksa
jari kelingking miliknya dengan Daffa.
Hembusan napas pelan dari Daffa terdengar. Hidupnya kali ini
akan tak tenang dengan makhluk yang bernama Keyra. Anak dari IPS 2.
∞∞∞
“Baru juga bel, kantin udah ramai aja,” keluh Keyra kesal.
Padahal baru beberapa menit yang lalu bel istirahat
berbunyi, namun kantin sudah dipenuhi anak IPS. Kantin khusus seperjurusannya.
Tatapan mupeng dari para anak laki-laki pun membuat Keyra
sedikit jengah.
“Ini yang gue malesin kalau istirahat ramai begini. Selain
kantinnya sesak, kita bakal jadi santapan lapar para cowok-cowok sialan di
pojok sana,” seru Maurin kesal menatap segerombolan lelaki yang bersiap
menghadang dirinya.
Sunny menatap segerombolan itu bingung. Namun, pergerakannya
terhenti saat tak sengaja ia menatap mata salah satu dari laki-laki itu.
__ADS_1
Deg
Tatapan mata Sunny terhenti pada kornea mata hazel, indah.
Tetapi, sepertinya ia tak asing.
“Sun, lo diomongin anak kelas sebelah,” bisik Keyra membuat
Sunny tersadar.
Maurin yang tak tinggal diam pun segera mengampit Sunny dan
membawanya pergi, namun bukan Maurin namanya jika ia tak membuat masalah
terlebih dahulu. Dengan sengaja perempuan yang sering disapa Queen itu
menendang salah satu meja hingga hampir saja terjatuh.
Tiba-tiba salah satu murid disitu berteriak, “Sok jagoan
banget sih lo!”
Geram. Tentu saja. Memangnya ia manusia yang tidak
bertelinga hingga tak mendengar teriakan keras seperti itu. Dengan dada
bergemuruh kuat, Maurin melangkah pelan ke arah siswi yang berani-berani
mengatai dirinya jagoan.
Brak
Suara gebrakan meja membuat seisi kantin terdiam sunyi.
“Kalau gue jagoan kenapa?” ejek Maurin pongah.
“Lagipula, gue jagoan memang berprestasi, nggak seperti lo
yang bisanya nyusahin orang tua. Maaf-maaf aja orang tua gue mampu, Mbak!”
Geram dengan sifat Maurin, siswi itu berdiri tegak. Mengangkat
dagunya tinggi-tinggi.
“Jangan jadi sok. Lo cuma menang body aja bangga. Gue yakin pasti lo sering diraba-raba, ‘kan?” ejek
Cyra tanpa memperdulikan memerahnya wajah Maurin saat ini.
Tangan kanan Maurin pun terkepal kencang. Matanya pun ikut
berkaca-kaca mendengar penuturan Cyra yang telah merendahkan harga dirinya.
Sunny pun tak tinggal diam, dengan sengaja ia menarik Maurin
dan langsung melayangkan tamparan tepat pada pipi mulus Cyra. Suara nyaring
terdengar begitu keras, membuat beberapa siswi yang memperhatikannya meringis
ngilu. Tatapan bak elang menguasi Sunny. Kepribadian keras sudah membuat
dirinya lupa diri.
“Sekali lo ngerendahin sahabat gue. Jangan harap ada
matahari yang bakal nyambut lo ketika membuka mata,” ujar Sunny menekankan
kalimatnya sambil menatap Cyra dekat.
Mendadak nyali Cyra ciut melihat tatapan tajam Sunny.
Tangannya yang gemetar buru-buru ia netralkan.
Sunny tersenyum kecil sambil memungut tempat tissue yang
terjatuh ke lantai akibat ulahnya. Lalu, melangkah pergi tanpa mengucapkan
sepatah kata pun. Namun, satu yang membuatnya mendadak linglung.
“Selama ini yang nerror lo Hanifsah Adji Arsanata, kakak
sepupunya Daffa.”
Suara Cyra kecil, namun terdengar jelas di telinga Sunny.
Bahkan para sahabatnya pun menatap Sunny dengan tatapan tak terbaca, lalu
kembali melanjutkan langkahnya.
__ADS_1