Puzzle

Puzzle
Episode 18


__ADS_3

Setelah beberapa hari membolos, akhirnya Sunny menginjakkan


kembali kakinya di lantai marmer SMA Aryasatya. Dengan tas mungil yang


bertengger manis di sebelah kanannya, lalu tangan kanannya pun ikut serta merta


menyangga tas mungil tersebut.


Tatapan berbagai macam dari anak-anak ikut menemani pagi


Sunny yang sangat cerah, namun tak seperti langit yang menunjukkan tanda-tanda


akan turun hujan.


Menaiki anak tangga satu per satu membebaskan Sunny dari


segala macam tatapan yang terkadang membuatnya sedikit emosi. Sambutan tatapan


cerah dari Keyra membuat perempuan yang sedang memakan permen karet itu


tersenyum kecil.


“Tumben pagi, biasanya lo demen banget main kejar-kejaran


sama Bu Dayut,” canda Keyra terkekeh geli.


Maurin mengacungkan jari telunjuknya setuju. Sangat berbeda


dengan Ayrin, kini perempuan rapih itu terlihat mencoret-coret sesuatu di


bukunya, membuat Sunny melirik penasaran.


“Bikin apa, sih?” tanya Sunny sambil mendudukan diri di


samping Ayrin, lalu meletakkan tasnya di atas meja tanpa melepaskan pandangan


dari kertas HVS yang beralaskan buku besar.


“Bentar,” sanggah Ayrin tanpa mengalihkan pandangannya.


Sunny menganggukkan kepalanya cuek, lalu menatap Keyra yang


memamerkan film barunya pada sekumpulan siswi di kelas. Sementara Maurin sudah


bertengger manis di bangku Roni, sepertinya perempuan itu tengah menonton


anime. Kebiasaan Denta dan Roni ketika membawa laptop ke sekolah.


Semakin lama Sunny pun akhirnya merasa bosan, ia pun mulai


menumpukkan kepalanya di lipatan tangan menghadap tepat pada Glora. Teman


bangku seberang Sunny. Sepertinya siswi itu tengah berdandan, kebiasaannya saat


baru saja tiba di sekolah.


Bersekolah di sini membuat Sunny sedikit berpengalaman,


terutama masalah perempuan. Sangat berbeda di sekolah lamanya dahulu. Membawa make up pun sudah dihadang guru dan


berakhir dengan surat peringatan. Namun, nyatanya di sini berbeda. Ketahuan


membawa pun guru diam saja, aneh memang.


Tanpa sengaja Sunny teringat oleh seseorang yang telah


mengirimkan pesan padanya. Sudah beberapa hari ini tak lagi ada pesan untuknya.


Hal tersebut membuat perempuan yang gemar mencepol rambutnya itu sedikit lega.


“Dah, selesai!” seru Ayrin sambil menggebrak meja, membuat


Sunny mengelus dadanya pelan.


“Buat apaan sih! Ngagetin gue aja,” protes Sunny kesal.


Ayrin tersenyum lucu sambil berujar, “Lihat dulu dong!”


Terlihat sebuah sketsa abstrak dari pensil, Sunny


mengerutkan dahinya bingung. Apalagi ada sebuah gambar yang menurutnya sangat


gamblang.


“Ini ... maksudnya apa, Ay?” tanya Sunny sambil menunjuk


salah satu gambar yang ada di kertas HVS milik Ayrin.

__ADS_1


Ayrin mengerutkan dahinya dalam, seperti berpikir keras.


Lalu, ia pun menatap Sunny tersenyum kecil sambil menggeleng, dan memasukkan


gambarannya tersebut ke dalam tas.


Tak lama Bu Dayut pun datang, lengkap dengan keris kemonceng


andalannya yang bertengger manis di ketek basah milik guru bahasa inggris itu.


Murid-murid IPS 2 pun kalang kabut melihat guru yang tiba-tiba datang tanpa


permisi. Acara KBM berjalan seperti biasanya. Sepi dan sunyi, dua hal yang


sangat disukai Bu Dayut selaku guru bahasa inggris sekaligus walas dari kelas


11 IPS 2.


∞∞∞


“Daf, lo ngerasa aneh nggak sih sama cewek yang waktu itu


nolongin lo?” tanya Nathan tiba-tiba.


Daffa yang sejak tadi serius menatap monitor kini mengalihkan


pandangannya pada Nathan sekilas, lalu kembali melanjutkan pekerjaannya yang


sempat tertunda.


“Maksud lo Sunny?” tanya Daffa balik tanpa memperdulikan


tatapan Nathan yang bersemangat.


“Ya! Lo kenal, ‘kan?”


Daffa mengangguk sekilas.


“Kenal Keyra pasti,” ujar Nathan misterius.


Sontak gerakan Daffa mendadak terhenti, dan menatap Nathan


tajam. Ia tahu maksud dari perkataan laki-laki imut dengan jambul yang selalu


menghiasi rambut cepaknya.


sasaran.


Nathan tersenyum lucu sambil menggoda Daffa, “Ayolah, Daf.


Bantuin gue buat dapetin itu cewek. Cakep euy, aa nggak nahan.”


Daffa mendelik tak terima. “Jauh-jauh lo bangsad!” umpat


Daffa tajam.


“Janji ya deketin gue,” sahut Nathan sambil mengait paksa


jari kelingking miliknya dengan Daffa.


Hembusan napas pelan dari Daffa terdengar. Hidupnya kali ini


akan tak tenang dengan makhluk yang bernama Keyra. Anak dari IPS 2.


∞∞∞


“Baru juga bel, kantin udah ramai aja,” keluh Keyra kesal.


Padahal baru beberapa menit yang lalu bel istirahat


berbunyi, namun kantin sudah dipenuhi anak IPS. Kantin khusus seperjurusannya.


Tatapan mupeng dari para anak laki-laki pun membuat Keyra


sedikit jengah.


“Ini yang gue malesin kalau istirahat ramai begini. Selain


kantinnya sesak, kita bakal jadi santapan lapar para cowok-cowok sialan di


pojok sana,” seru Maurin kesal menatap segerombolan lelaki yang bersiap


menghadang dirinya.


Sunny menatap segerombolan itu bingung. Namun, pergerakannya


terhenti saat tak sengaja ia menatap mata salah satu dari laki-laki itu.

__ADS_1


Deg


Tatapan mata Sunny terhenti pada kornea mata hazel, indah.


Tetapi, sepertinya ia tak asing.


“Sun, lo diomongin anak kelas sebelah,” bisik Keyra membuat


Sunny tersadar.


Maurin yang tak tinggal diam pun segera mengampit Sunny dan


membawanya pergi, namun bukan Maurin namanya jika ia tak membuat masalah


terlebih dahulu. Dengan sengaja perempuan yang sering disapa Queen itu


menendang salah satu meja hingga hampir saja terjatuh.


Tiba-tiba salah satu murid disitu berteriak, “Sok jagoan


banget sih lo!”


Geram. Tentu saja. Memangnya ia manusia yang tidak


bertelinga hingga tak mendengar teriakan keras seperti itu. Dengan dada


bergemuruh kuat, Maurin melangkah pelan ke arah siswi yang berani-berani


mengatai dirinya jagoan.


Brak


Suara gebrakan meja membuat seisi kantin terdiam sunyi.


“Kalau gue jagoan kenapa?” ejek Maurin pongah.


“Lagipula, gue jagoan memang berprestasi, nggak seperti lo


yang bisanya nyusahin orang tua. Maaf-maaf aja orang tua gue mampu, Mbak!”


Geram dengan sifat Maurin, siswi itu berdiri tegak. Mengangkat


dagunya tinggi-tinggi.


“Jangan jadi sok. Lo cuma menang body aja bangga. Gue yakin pasti lo sering diraba-raba, ‘kan?” ejek


Cyra tanpa memperdulikan memerahnya wajah Maurin saat ini.


Tangan kanan Maurin pun terkepal kencang. Matanya pun ikut


berkaca-kaca mendengar penuturan Cyra yang telah merendahkan harga dirinya.


Sunny pun tak tinggal diam, dengan sengaja ia menarik Maurin


dan langsung melayangkan tamparan tepat pada pipi mulus Cyra. Suara nyaring


terdengar begitu keras, membuat beberapa siswi yang memperhatikannya meringis


ngilu. Tatapan bak elang menguasi Sunny. Kepribadian keras sudah membuat


dirinya lupa diri.


“Sekali lo ngerendahin sahabat gue. Jangan harap ada


matahari yang bakal nyambut lo ketika membuka mata,” ujar Sunny menekankan


kalimatnya sambil menatap Cyra dekat.


Mendadak nyali Cyra ciut melihat tatapan tajam Sunny.


Tangannya yang gemetar buru-buru ia netralkan.


Sunny tersenyum kecil sambil memungut tempat tissue yang


terjatuh ke lantai akibat ulahnya. Lalu, melangkah pergi tanpa mengucapkan


sepatah kata pun. Namun, satu yang membuatnya mendadak linglung.


“Selama ini yang nerror lo Hanifsah Adji Arsanata, kakak


sepupunya Daffa.”


Suara Cyra kecil, namun terdengar jelas di telinga Sunny.


Bahkan para sahabatnya pun menatap Sunny dengan tatapan tak terbaca, lalu


kembali melanjutkan langkahnya.

__ADS_1


__ADS_2