
Berlarian di koridor rumah sakit adalah hal yang paling
tidak Sunny bayangkan. Beberapa kali ia mendengar seruan dari Maurin dan Keyra
yang berusaha mengejar dirinya. Tetapi, bukannya memperlambat Sunny malah
mempercepat langkahnya hingga tanpa sadar ada sebuah tiang besar berada tepat
di hadapannya.
Belum sampai ia terbentur tiba-tiba Keyra menarik dirinya
paksa, hingga hampir saja terjerembab ke bawah kalau tidak ditahan oleh Maurin.
“Lo kalau mau jenguk ya jenguk aja. Jangan mau ikutan masuk
rumah sakit segala,” sentak Keyra kesal.
Maurin menatap Sunny tanpa ekspresi, lalu menggeleng pelan
dan kembali melanjutkan langkahnya.
Sunny menyesal dalam hati. Ia tahu, ia sangat egois sekali.
Padahal jika dipikirkan tak ada gunanya juga jika ia berlarian seperti ini.
Bukannya menambah cepat justru ia malah memperburuk keadaan.
“Sorry, Key. Gue
salah,” sesal Sunny mencekal pergelangan tangan Keyra.
Maurin menepuk pundak Keyra pelan, ia tahu perempuan itu
hanya khawatir jika Sunny berlarian di koridor yang bahkan banyak pasien
berkeliling. Takut-takut menabrak pasien tersebut.
“Nggak apa-apa, Key. Bukan salah Sunny,” bujuk Maurin
membuat Keyra menghela napas pelan.
“Jangan diulangi,” sungut Keyra sebal.
Sunny mengangguk kuat-kuat sambil memeluk ke dua sahabatnya
erat-erat.
Akhirnya Sunny memutuskan untuk berjalan di belakang Maurin,
bagai dikomado perempuan yang sangat hobi memakai jaket itu menuruti perintah Ndoro Ageng, Maurin.
Setibanya di kamar Regan suasana sepi menyambut kehadiran
mereka. Hanya suara detak jantung pada mesin defibrillator yang menandakan
kehidupan di sana. Sementara tubuh Regan terbujur lemah di atas ranjang,
membuat Sunny terdiam kelu menahan rasa sakit saat melihat kembarannya tak
berdaya seperti ini.
Padahal baru saja kemarin ia berbaikan. Dunia memang
semempermainkan itu. Membolak-balikan kehidupan tanpa belas kasihan.
“Kata dokter, Bang Regan nunggu siuman aja. Mungkin sebentar
lagi,” ujar Sunny memecahkan keheningan.
Maurin mengangguk dan melangkah mendekati sofa sambil
menyandarkan tubuhnya yang terasa pegal akibat perjalanan yang memakan waktu
panjang. Sementara Keyra lebih memilih mencari makanan di luar, perempuan
mungil itu memang tahu caranya menyenangkan sahabat yang lelah.
Lalu, pandangan Maurin beralih pada Sunny. Terlihat
perempuan bar-bar itu hanya diam memperhatikan kembarannya yang terbujur lemah.
Air matanya pun ikut menemani keterdiamannya. Beberapa kali diusap, namun tetap
__ADS_1
saja membanjiri.
Menghela napas beberapa kali tak membuat rasa sesak di dada
Sunny hilang
“Gue butuh udara segar, Queen. Titip Bang Regan,” izin Sunny
sambil melangkah keluar.
Maurin pun hanya mengacungkan jempol pertanda setuju. Ia pun
sama sedihnya dengan Sunny. Namun, ia tak bisa berbuat banyak selain menunggu
sadarnya Bang Regan.
Tanpa sadar Regan pun membuka matanya perlahan. Menatap
sekeliling ruangan serba putih, lalu melirik tubuhnya yang terbaluti beberapa
kabel membuat dirinya sendiri mendadak ngeri.
“Anjir, ini gue kenapa? Ada yang bisa menjelaskan? Somebody? Help me please,” seru Regan
dramatis.
“Bang Regan, bisa nggak sih lo bangunnya disaat gue udah
kenyang tidur,” sungut Maurin kesal sambil bersandar pada sandaran sofa,
lengkap dengan matanya yang masih mengantuk.
Regan tersenyum lucu sambil menggaruk tekuknya yang tak gatal,
“Lagian gue tidur di pesawat kok tiba-tiba udah di sini aja.”
Pletak
Maurin menjitak kepala Regan gemas
“Lo bodohnya emang nggak pernah hilang ya, Bang. Gemay deh
pengen nyubit ginjalnya,” sahut Maurin sambil menggigit bibir bagian dalamnya.
Mendengar keributan kecil dari dalam kamar Regan, membuat
Sunny buru-burumemutar knopnya. Alangkah terkejut dirinya dan hampir saja
menjatuh ke dua bola matanya melihat Regan yang bertingkah jauh dari kata orang
sakit.
“Bang Regan! Lo apa-apaan, sih?!” bentak Sunny galak, sambil
merebut paksa infus yang tengah Regan angkat tinggi-tinggi.
Senyum sinis terbit di wajah imut Maurin, sementara Keyra
memutar bola matanya malas saat melihat kegalakan Sunny yang memang sudah
mendarah daging.
“Sun, gue udah sembuh tahu,” keluh Regan menggerucutkan
bibirnya kesal.
Sunny mendelik horror, lalu menatap Maurin dan Keyra
bergantian.
“Mending lo diam-diam aja, Bang. Lebih baik dari pada lo
berkicau nggak bisa dijual mahal, seperti burung kakak tua misalnya.”
Regan makin memajukan bibirnya hingga jari jemari lentik
Maurin mencomotnya dan langsung ia ikat dengan karet yang biasa ia siapkan di
saku celananya.
“Mamam, lo! Bibirnya kepanjangan. Lumayan ikatan rambut gue nggak
sia-sia,” ujar Maurin menatap wajah kesal Regan geli.
__ADS_1
“Apa, lo lagi-lagi!” sentak Regan kesal.
Keyra menjulurkan lidahnya mengejek Regan yang seperti anak
kecil jika dimarahi oleh Sunny. Kelamahan terbesar Regan.
“Lo benaran sakit atau nggak, Bang?” celetuk Keyra polos.
Spontan gerakan memiting leher Maurin terhenti dan menatap
bingung pada Keyra yang menatapnya tanpa berkedip.
“Maksudnya?” tanya Regan dengan dahi berkerut dalam.
Maurin memutar bola matanya malas.
“Fiks, lo tadi kebentur apa Bang? Ogebnya bikin gue pengen
ngelempar lo dari sini,” gumam Maurin yang di dengar oleh Regan.
Regan mengerjapkan matanya lucu sambil berkata sesuatu,
“Jangan pikirin otak cantik gue. Karena yang lo pikirin masa depan kita.”
“Tayi,” Sunny menanggapi tak minat.
“Bulshit, Mbak. Lo
itu pinter banget gimbal dari dulu,” Keyra menaggapinya mendadak mual.
Tetapi, tidak dengan Maurin. Justru Maurin membuat suasan
sedikit mencair.
Lawakan-lawakan garing bersahutan, membuat Keyra yang
memiliki humor receh langsung beralih pada siaran televise berlatar belakang
hitam.
“Nanti dulu, Key. Lo ngerasa aneh gak?” tanya Maurin sambil
menatap ke arah Regan yang tengah menetralkan tawa gelinya.
“Apa sih?” sahut Sunny penasaran.
Keyra pun sama penasarannya dengan Sunny, ia pun menghampiri
Maurin sambil menatap perempuan imut itu penuh dan serius.
Mendapat banyak tatapan serius spontan ia pun tertawa keras
sekali.
“Lo pada ngapain dah? Gue cuma mau bilang kalau gue laper,”
sahut Maurin sambil mencebikkan bibirnya sebal.
Keyra menoyor kepala Maurin kesal, lalu kembali melanjutkan
acara menonton televisinya. Sementara Sunny memutar bola matanya malas dan
kembali menekuni bacaannya. Berbeda dengan Regan yang tengah bermain game online tanpa mengindahkan ujaran
Maurin tadi. Adem ayem aja sendiri.
“Gue laper woy!” protes Maurin tak terima.
“Bacyod!” seru mereka kompak.
“Dih, mainnya keroyokan,” ejek Maurin mendecih kesal.
“Dasar kang bacyod. Laper dikit ngeluh, pegal dikit molor.
Nggak ada tulang ya,” sahut Sunny menusuk.
“Anying mak jleb,” ujar Keyra dramatis.
Maurin menatap sekelilingnya kesal, lalu kembali melanjutkan
acaran tertidurnya di sofa panjang. Mengabaikan tatapan aneh dari para
sahabatnya.
__ADS_1