Puzzle

Puzzle
Episode 17


__ADS_3

Berlarian di koridor rumah sakit adalah hal yang paling


tidak Sunny bayangkan. Beberapa kali ia mendengar seruan dari Maurin dan Keyra


yang berusaha mengejar dirinya. Tetapi, bukannya memperlambat Sunny malah


mempercepat langkahnya hingga tanpa sadar ada sebuah tiang besar berada tepat


di hadapannya.


Belum sampai ia terbentur tiba-tiba Keyra menarik dirinya


paksa, hingga hampir saja terjerembab ke bawah kalau tidak ditahan oleh Maurin.


“Lo kalau mau jenguk ya jenguk aja. Jangan mau ikutan masuk


rumah sakit segala,” sentak Keyra kesal.


Maurin menatap Sunny tanpa ekspresi, lalu menggeleng pelan


dan kembali melanjutkan langkahnya.


Sunny menyesal dalam hati. Ia tahu, ia sangat egois sekali.


Padahal jika dipikirkan tak ada gunanya juga jika ia berlarian seperti ini.


Bukannya menambah cepat justru ia malah memperburuk keadaan.


“Sorry, Key. Gue


salah,” sesal Sunny mencekal pergelangan tangan Keyra.


Maurin menepuk pundak Keyra pelan, ia tahu perempuan itu


hanya khawatir jika Sunny berlarian di koridor yang bahkan banyak pasien


berkeliling. Takut-takut menabrak pasien tersebut.


“Nggak apa-apa, Key. Bukan salah Sunny,” bujuk Maurin


membuat Keyra menghela napas pelan.


“Jangan diulangi,” sungut Keyra sebal.


Sunny mengangguk kuat-kuat sambil memeluk ke dua sahabatnya


erat-erat.


Akhirnya Sunny memutuskan untuk berjalan di belakang Maurin,


bagai dikomado perempuan yang sangat hobi memakai jaket itu menuruti perintah Ndoro Ageng, Maurin.


Setibanya di kamar Regan suasana sepi menyambut kehadiran


mereka. Hanya suara detak jantung pada mesin defibrillator yang menandakan


kehidupan di sana. Sementara tubuh Regan terbujur lemah di atas ranjang,


membuat Sunny terdiam kelu menahan rasa sakit saat melihat kembarannya tak


berdaya seperti ini.


Padahal baru saja kemarin ia berbaikan. Dunia memang


semempermainkan itu. Membolak-balikan kehidupan tanpa belas kasihan.


“Kata dokter, Bang Regan nunggu siuman aja. Mungkin sebentar


lagi,” ujar Sunny memecahkan keheningan.


Maurin mengangguk dan melangkah mendekati sofa sambil


menyandarkan tubuhnya yang terasa pegal akibat perjalanan yang memakan waktu


panjang. Sementara Keyra lebih memilih mencari makanan di luar, perempuan


mungil itu memang tahu caranya menyenangkan sahabat yang lelah.


Lalu, pandangan Maurin beralih pada Sunny. Terlihat


perempuan bar-bar itu hanya diam memperhatikan kembarannya yang terbujur lemah.


Air matanya pun ikut menemani keterdiamannya. Beberapa kali diusap, namun tetap

__ADS_1


saja membanjiri.


Menghela napas beberapa kali tak membuat rasa sesak di dada


Sunny hilang


“Gue butuh udara segar, Queen. Titip Bang Regan,” izin Sunny


sambil melangkah keluar.


Maurin pun hanya mengacungkan jempol pertanda setuju. Ia pun


sama sedihnya dengan Sunny. Namun, ia tak bisa berbuat banyak selain menunggu


sadarnya Bang Regan.


Tanpa sadar Regan pun membuka matanya perlahan. Menatap


sekeliling ruangan serba putih, lalu melirik tubuhnya yang terbaluti beberapa


kabel membuat dirinya sendiri mendadak ngeri.


“Anjir, ini gue kenapa? Ada yang bisa menjelaskan? Somebody? Help me please,” seru Regan


dramatis.


“Bang Regan, bisa nggak sih lo bangunnya disaat gue udah


kenyang tidur,” sungut Maurin kesal sambil bersandar pada sandaran sofa,


lengkap dengan matanya yang masih mengantuk.


Regan tersenyum lucu sambil menggaruk tekuknya yang tak gatal,


“Lagian gue tidur di pesawat kok tiba-tiba udah di sini aja.”


Pletak


Maurin menjitak kepala Regan gemas


“Lo bodohnya emang nggak pernah hilang ya, Bang. Gemay deh


pengen nyubit ginjalnya,” sahut Maurin sambil menggigit bibir bagian dalamnya.


Mendengar keributan kecil dari dalam kamar Regan, membuat


Sunny buru-burumemutar knopnya. Alangkah terkejut dirinya dan hampir saja


menjatuh ke dua bola matanya melihat Regan yang bertingkah jauh dari kata orang


sakit.


“Bang Regan! Lo apa-apaan, sih?!” bentak Sunny galak, sambil


merebut paksa infus yang tengah Regan angkat tinggi-tinggi.


Senyum sinis terbit di wajah imut Maurin, sementara Keyra


memutar bola matanya malas saat melihat kegalakan Sunny yang memang sudah


mendarah daging.


“Sun, gue udah sembuh tahu,” keluh Regan menggerucutkan


bibirnya kesal.


Sunny mendelik horror, lalu menatap Maurin dan Keyra


bergantian.


“Mending lo diam-diam aja, Bang. Lebih baik dari pada lo


berkicau nggak bisa dijual mahal, seperti burung kakak tua misalnya.”


Regan makin memajukan bibirnya hingga jari jemari lentik


Maurin mencomotnya dan langsung ia ikat dengan karet yang biasa ia siapkan di


saku celananya.


“Mamam, lo! Bibirnya kepanjangan. Lumayan ikatan rambut gue nggak


sia-sia,” ujar Maurin menatap wajah kesal Regan geli.

__ADS_1


“Apa, lo lagi-lagi!” sentak Regan kesal.


Keyra menjulurkan lidahnya mengejek Regan yang seperti anak


kecil jika dimarahi oleh Sunny. Kelamahan terbesar Regan.


“Lo benaran sakit atau nggak, Bang?” celetuk Keyra polos.


Spontan gerakan memiting leher Maurin terhenti dan menatap


bingung pada Keyra yang menatapnya tanpa berkedip.


“Maksudnya?” tanya Regan dengan dahi berkerut dalam.


Maurin memutar bola matanya malas.


“Fiks, lo tadi kebentur apa Bang? Ogebnya bikin gue pengen


ngelempar lo dari sini,” gumam Maurin yang di dengar oleh Regan.


Regan mengerjapkan matanya lucu sambil berkata sesuatu,


“Jangan pikirin otak cantik gue. Karena yang lo pikirin masa depan kita.”


“Tayi,” Sunny menanggapi tak minat.


“Bulshit, Mbak. Lo


itu pinter banget gimbal dari dulu,” Keyra menaggapinya mendadak mual.


Tetapi, tidak dengan Maurin. Justru Maurin membuat suasan


sedikit mencair.


Lawakan-lawakan garing bersahutan, membuat Keyra yang


memiliki humor receh langsung beralih pada siaran televise berlatar belakang


hitam.


“Nanti dulu, Key. Lo ngerasa aneh gak?” tanya Maurin sambil


menatap ke arah Regan yang tengah menetralkan tawa gelinya.


“Apa sih?” sahut Sunny penasaran.


Keyra pun sama penasarannya dengan Sunny, ia pun menghampiri


Maurin sambil menatap perempuan imut itu penuh dan serius.


Mendapat banyak tatapan serius spontan ia pun tertawa keras


sekali.


“Lo pada ngapain dah? Gue cuma mau bilang kalau gue laper,”


sahut Maurin sambil mencebikkan bibirnya sebal.


Keyra menoyor kepala Maurin kesal, lalu kembali melanjutkan


acara menonton televisinya. Sementara Sunny memutar bola matanya malas dan


kembali menekuni bacaannya. Berbeda dengan Regan yang tengah bermain game online tanpa mengindahkan ujaran


Maurin tadi. Adem ayem aja sendiri.


“Gue laper woy!” protes Maurin tak terima.


“Bacyod!” seru mereka kompak.


“Dih, mainnya keroyokan,” ejek Maurin mendecih kesal.


“Dasar kang bacyod. Laper dikit ngeluh, pegal dikit molor.


Nggak ada tulang ya,” sahut Sunny menusuk.


“Anying mak jleb,” ujar Keyra dramatis.


Maurin menatap sekelilingnya kesal, lalu kembali melanjutkan


acaran tertidurnya di sofa panjang. Mengabaikan tatapan aneh dari para


sahabatnya.

__ADS_1


__ADS_2