
Hari-hari telah berlalu.
Kesehatan Regan pun mulai membaik. Bahkan salah satu suster memberi tahunya
bahwa besok pun sudah diperbolehkan untuk pulang. Alhasil pagi ini ini Regan
bangun lebih awal dan berniat untuk jalan-jalan sebentar mengelilingi taman,
sebelum dirinya pulang.
Tanpa ditemani Sunny,
Regan mulai mendorong tiang infusnya. Menyusuri lorong-lorong kamar yang
terlihat sepi. Mungkin karena waktu belum belum menunjukkan jam-jam menjenguk
pasien. Jadi, hanya beberapa dokter hingga suster yang berlalu lalang dari kamar
ke kamar.
Regan memutuskan untuk
duduk di salah satu bangku panjang yang berwarna putih. Menatap beberapa anak
bayi serta lansia tengah berjemur. Tentu saja mereka ditemani kerabat maupun
suster. Melihatnya saja sudah membuat Regan iri.
“Gimana keadaaan lo?”
tanya seseorang yang tiba-tiba duduk di samping Regan.
Tatapan yang awalnya
memandangi sekeliling, kini menatap laki-laki di sampingnya dengan tatapan
datar. Sedikit tidak suka dengan kehadirannya.
“Tenang. Gue di sini
__ADS_1
hanya menjenguk lo bukan untuk hal lain,” terang laki-laki itu saat menyadari
hawa ketidaksukaan dari Regan.
“Jangan ganggu adik gue
lagi, Fan.” Wajah Regan terlihat marah. Giginya pun gemeletuk keras. Menahan
gejolak emosi di dadanya.
“It’s ok, Gan. Gue hanya menjenguk lo. Sama seperti yang gue bilang
barusan,” sahur Erfan menggelengkan kepalanya pelan.
“Lo nggak akan datang ke
sini tanpa maksud tertentu,” potong Regan cepat.
“Untuk sekarang belum
ada. Karena gue kasihan aja sama lo. Masa kita musuhan tapi nyari lawan yang
Tatapan regan sangat
tidak bersahabat. Akhirnya, ia memutuskan untuk cepat-cepat meninggalkan taman.
Sedangkan Erfa, hanya diam sambil tersenyum sinis. Menatap kemunafikkan Regan
yang selama ini telah membohongi Sunny.
***
“Nanti gue mau jenguk
Bang Regan, Daf. Udah lama banget kita nggak jenguk,” celetuk Alva pelan.
Seketika Kenzo
menyetujukan perkataan Alva dan menatap seisi kelas dengan pandangan yang sulit
__ADS_1
diartikan. Padahal sebelum masuk kelas, Daffa sempat beradu tatapan dengan
Rafif. Namun, terhenti melihat kedatangan Bu Dayut. Lengkap dengan keris
kemonceng andalannya.
“Setuju. Gue jadi nggak
sabar nunggu balik sekolah,” sahut Reyvan antusias.
Tanpa memperdulikan arah
pandangan Bu Dayut. Mereka pun betos ria sambil tertawa kecil. Menggambarkan
rasa senangnya hari itu.
Padahal Sunny saja tidak
mengetahui bahwa abangnya teman baik dari Daffa. Karena Regan pun tidak pernah
memberitahu. Hanya mengatakan ia mempunyai adik yang tidak jauh dengan umurnya.
Tepat sekali. Umur Sunny dengan Regan hanya selisih 5 tahun. Lumayan dekat
dengan umur Regan yang mulai menginjak angka 20 ke atas.
“Sisihkan uang kalian.
Gue mau beli sesuatu,” pungkas Daffa membuat Kenzo mengeluarkan lembaran
berwarna hijau. Lalu, disusul oleh Alva dan Hito yang kompak menyerahkan satu
lembar puluhan ribu.
Melihat betapa
perhatiannya mereka, Daffa hanya tersenyum sendu. Mensyukuri nikmat Tuhan yang telah memberikan
dirinya teman yang sangat baik.
__ADS_1