
“Lihat, Bang! Kemarin gue hampir dapat musang,” ujar
Reyvan bangkit dari tempat duduknya dan melangkah ke arah Regan dengan
menggenggam ponselnya di tangan kanan.
Regan menatap Reyvan tidak percaya. “Serius lo?!”
pekiknya tidak kalah antusias.
Reyvan tersenyum sambil menaikkan satu alisnya,
menatap Regan dengan bangga. Lalu, menyerahkan ponselnya pada Regan. Tentu saja
laki-laki dengan balutan pakaian rumah sakit itu menyambut dengan semangat,
namun dahinya mengerut.
“Mana musangnya?” tanya Regan bingung.
Nathan pun menghampiri Regan dan meraih ponsel Reyvan,
lalu melakukan hal yang sama. “Iya ***** mana musangnya?”
“Eh, ini putih-putih apaan *****,” sahut Alva
menampilkan sesosok putih tepat di sebelah tiang listri dekat dengan rumah
Reyvan.
Sontak enam pasang mata itu melihat ponsel Reyvan
dengan seksama, lalu wajah terkejut dari mereka nampak sangat jelas. Bahkan
Alva hampir saja berteriak histeris, tetapi Kenzo langsung membungkamnya dengan
pisang yang kebetulan terletak tepat di sampingnya berdiri.
“Nggak tahu,” kata Michael pelan.
“Tante kunti itu ******!” umpat Hito geram.
“Rumah gue woy!” balas Reyvan kesal.
“Kalau benaran, gue nggak bakalan ke rumah lo. Takut,
Rey. Nanti genit sama gue kan nggak lucu,” celetuk Nathan dengan wajah bergidik
ngeri.
Kenzo hanya menggelengkan kepalanya pelan. Sedangkan
__ADS_1
Daffa hanya tersenyum kecil sambil menoyor kepala Alva. Tentu sang empu
menatapnya kesal. Namun, segera dialihkan dengan Hito yang sejak tadi sudah
penasaran.
“Lo melihatnya kapan?” tanya Hito dengan wajah
penasaran.
“Waktu hujan deras. Gue kira apaan, ya. Soalnya dia
gerak-gerak gitu, tapi pas ada kilat gue baru lihat kalau itu musang,” papar
Reyvan dengan antusias.
“Terus lo tangkap? Kalau iya, gue yang bayarin dah,” sahut
Alva dengan menaik-turunkan alis kaannya.
“Sempat berhenti dulu di asbes kost sebelah. Gue mau
foto nggak kaget sama kilat gue,” celoteh Reyvan berbelit-belit.
Michael terlihat menggaruk kepalanya yang tidak gatal,
lalu menatap Daffa yang mengangkat bahunya tidak tahu. Laki-laki putih dengan
“Ngomong apa sih, Rey. ‘Mau gue foto nggak kaget sama
kilat gue’ itu maksudnya apaan?” tanya Michael menirukan ucapan Reyvan tadi.
“Goblok!” umpat Hito dengan tertawa geli.
Bagaimana bisa seisi di ruangan ini telah dibuat
bingung oleh ucapan Reyvan. Nathan yang
biasanya antusias, kini hanya menggaruk kepala yang tidak gatal sambil
memikirkan ucapan Reyvan. Sementara Alva memasang wajah bodohnya saat
menjelaskan dengan kata yang sulit dimengerti untuk manusia normal.
Bahkan Kenzo saja berpikir keras. Jadi, apa kabar
dengan nasih Alva yang hanya memilih otak setengah kilo. Tidak bisa berpikir di
luar dugaan seperti Hito. Sangat membingungkan memang,
“Itu musangnya sempat berhenti di atap kost sebelah.
__ADS_1
Mau gue foto, malah gue kaget sama kilat,” terang Reyvan dengan sepelan
mungkin.
Regan menganggukkan kepalanya beberapa kali. “Oke. Gue
ngerti sekarang.”
“Jadi, tadi mau gue foto, tapi gue sendiri kaget sama
kilat. Fotonya buram,” tekan Reyvan dengan menatap satu per satu wajah
teman-temannya yang terlihat bingung. “Kelihatannya asap rokok gue doang
jadinya,” sambung dengan wajah yang sedikit kesal.
“Tangkap tadi, Rey!” titah Michael dengan wajah
semangat.
“Dan yang kalian lihat itu bukan kuntilanak, tapi
temboknya kost sebelah gue,” jelas Reyvan menatap Alva sinis.
“Parah banget Si Alva. Tembok sebelah kost Reyvan
dibilang kunti,” celetuk Nathan dengan wajah mengejek.
“Tuyul ***** bukan kunti,” celetuk Regan ikut-ikutan.
Sontak Reyvan menatap wajah temannya dengan amat
sangat datar. Ingin sekali tangan kanannya menggoreskan sesuatu di leher dengan
jakun yang lumayan menonjol.
“Kuntilanak anak jam segitu kayaknya nganggur banget
dia,” sahut Reyvan kesal.
Lagi dan lagi Hito menghela napas pelan. “Lo ngomong
jangan kecepatan *****! Nggak ngerti gue dengarinnya masa kuntilanak pakai anak
lagi. Nggak jelas nih Reyvan,” selanya sambil menoyor kepala Reyvan gemas.
“Kuntilanak kan emang nganggur, bodoh!” kecam Michael
sengit.
“Kenapa jadi ngeributin kuntilanak, sih!” protes Regan
__ADS_1
dengan memutar bola matanya malas.