Puzzle

Puzzle
Episode 34


__ADS_3

“Lihat, Bang! Kemarin gue hampir dapat musang,” ujar


Reyvan bangkit dari tempat duduknya dan melangkah ke arah Regan dengan


menggenggam ponselnya di tangan kanan.


Regan menatap Reyvan tidak percaya. “Serius lo?!”


pekiknya tidak kalah antusias.


Reyvan tersenyum sambil menaikkan satu alisnya,


menatap Regan dengan bangga. Lalu, menyerahkan ponselnya pada Regan. Tentu saja


laki-laki dengan balutan pakaian rumah sakit itu menyambut dengan semangat,


namun dahinya mengerut.


“Mana musangnya?” tanya Regan bingung.


Nathan pun menghampiri Regan dan meraih ponsel Reyvan,


lalu melakukan hal yang sama. “Iya ***** mana musangnya?”


“Eh, ini putih-putih apaan *****,” sahut Alva


menampilkan sesosok putih tepat di sebelah tiang listri dekat dengan rumah


Reyvan.


Sontak enam pasang mata itu melihat ponsel Reyvan


dengan seksama, lalu wajah terkejut dari mereka nampak sangat jelas. Bahkan


Alva hampir saja berteriak histeris, tetapi Kenzo langsung membungkamnya dengan


pisang yang kebetulan terletak tepat di sampingnya berdiri.


“Nggak tahu,” kata Michael pelan.


“Tante kunti itu ******!” umpat Hito geram.


“Rumah gue woy!” balas Reyvan kesal.


“Kalau benaran, gue nggak bakalan ke rumah lo. Takut,


Rey. Nanti genit sama gue kan nggak lucu,” celetuk Nathan dengan wajah bergidik


ngeri.


Kenzo hanya menggelengkan kepalanya pelan. Sedangkan

__ADS_1


Daffa hanya tersenyum kecil sambil menoyor kepala Alva. Tentu sang empu


menatapnya kesal. Namun, segera dialihkan dengan Hito yang sejak tadi sudah


penasaran.


“Lo melihatnya kapan?” tanya Hito dengan wajah


penasaran.


“Waktu hujan deras. Gue kira apaan, ya. Soalnya dia


gerak-gerak gitu, tapi pas ada kilat gue baru lihat kalau itu musang,” papar


Reyvan dengan antusias.


“Terus lo tangkap? Kalau iya, gue yang bayarin dah,” sahut


Alva dengan menaik-turunkan alis kaannya.


“Sempat berhenti dulu di asbes kost sebelah. Gue mau


foto nggak kaget sama kilat gue,” celoteh Reyvan berbelit-belit.


Michael terlihat menggaruk kepalanya yang tidak gatal,


lalu menatap Daffa yang mengangkat bahunya tidak tahu. Laki-laki putih dengan


“Ngomong apa sih, Rey. ‘Mau gue foto nggak kaget sama


kilat gue’ itu maksudnya apaan?” tanya Michael menirukan ucapan Reyvan tadi.


“Goblok!” umpat Hito dengan tertawa geli.


Bagaimana bisa seisi di ruangan ini telah dibuat


bingung oleh ucapan Reyvan.  Nathan yang


biasanya antusias, kini hanya menggaruk kepala yang tidak gatal sambil


memikirkan ucapan Reyvan. Sementara Alva memasang wajah bodohnya saat


menjelaskan dengan kata yang sulit dimengerti untuk manusia normal.


Bahkan Kenzo saja berpikir keras. Jadi, apa kabar


dengan nasih Alva yang hanya memilih otak setengah kilo. Tidak bisa berpikir di


luar dugaan seperti Hito. Sangat membingungkan memang,


“Itu musangnya sempat berhenti di atap kost sebelah.

__ADS_1


Mau gue foto, malah gue kaget sama kilat,” terang Reyvan dengan sepelan


mungkin.


Regan menganggukkan kepalanya beberapa kali. “Oke. Gue


ngerti sekarang.”


“Jadi, tadi mau gue foto, tapi gue sendiri kaget sama


kilat. Fotonya buram,” tekan Reyvan dengan menatap satu per satu wajah


teman-temannya yang terlihat bingung. “Kelihatannya asap rokok gue doang


jadinya,” sambung dengan wajah yang sedikit kesal.


“Tangkap tadi, Rey!” titah Michael dengan wajah


semangat.


“Dan yang kalian lihat itu bukan kuntilanak, tapi


temboknya kost sebelah gue,” jelas Reyvan menatap Alva sinis.


“Parah banget Si Alva. Tembok sebelah kost Reyvan


dibilang kunti,” celetuk Nathan dengan wajah mengejek.


“Tuyul ***** bukan kunti,” celetuk Regan ikut-ikutan.


Sontak Reyvan menatap wajah temannya dengan amat


sangat datar. Ingin sekali tangan kanannya menggoreskan sesuatu di leher dengan


jakun yang lumayan menonjol.


“Kuntilanak anak jam segitu kayaknya nganggur banget


dia,” sahut Reyvan kesal.


Lagi dan lagi Hito menghela napas pelan. “Lo ngomong


jangan kecepatan *****! Nggak ngerti gue dengarinnya masa kuntilanak pakai anak


lagi. Nggak jelas nih Reyvan,” selanya sambil menoyor kepala Reyvan gemas.


“Kuntilanak kan emang nganggur, bodoh!” kecam Michael


sengit.


“Kenapa jadi ngeributin kuntilanak, sih!” protes Regan

__ADS_1


dengan memutar bola matanya malas.


__ADS_2