Puzzle

Puzzle
Episode 16


__ADS_3

Cuaca sore ini terlihat mendung, membuat remaja cantik itu


sedikit bersyukur. Sebab, kali ini ia berniat untuk mengelili komplek dengan


sepeda milik saudara kembarnya, Regan.


Ngomong-ngomong soal Regan, beberapa hari ini memang tidak


kelihatan. Sepertinya ia tengah sibuk mempersiapkan kepindahannya ke Indonesia.


Terlihat dari beberapa berkas yang ia bawa sebelum pergi.


Semilir angin sore menerpa wajah manis Sunny. Tatapannya pun


terlihat riang, senyum di bibirnya pun kian melebar saat kornea matanya tanpa


sengaja menatap anak-anak kecil berlarian di taman.


“Sunny?” panggil Alva yang tanpa sengaja melihatnya di


parkiran sepeda.


Sunny mengerutkan dahi bingung saat kornea matanya menatap


laki-laki berkaos hitam lengkap dengan celana training serta earphone bertengger manis di telinganya.


“Gue Alva, sahabatnya Daffa,” jelas Alva sambil tersenyum


tipis.


“Hai, Alva! Lo di sini juga?” ujar Sunny tersenyum kikuk.


Alva mengangguk sepintas, lalu mengajak Sunny untuk duduk


bersama dirinya.


“Udah lama sahabatan sama Maurin?” tanya Alva membuka


percakapan.


“Lumayan,” jeda Sunny sambil menarik napas pelan. “Bye the way, lo lagi deket ya sama


Maurin?” tebaknya sambil memincingkan mata menatap Alva serius.


Mendapat tatapan menyelidik dari Sunny tak membuat Alva


takut, malah ia tertawa keras sekali hingga wajah sedikit memerah. Sunny yang


melihatnya pun kesal. Enak saja dia tertawa tanpa beban.


“Iya. Banyak yang tahu tentang gue sama Alva ya,


sampai-sampai lo tahu beritanya. Padahal lo aja baru sekolah tiga hari, tapi


berita mengalir cepat,” sahut Alva tak percaya.


Sunny melirik Alva sebal sambil bersungut, “Enak aja.


Sahabat gue kan udah lama di sini, wajar dong kalau tahu semuanya.”


“Jangan bilang Maurin tentang hari ini, ya. Gue harap lo


bisa jaga rahasia. Gue balik!” pamit Alva sambil meninggalkan Sunny di bangku


panjang taman.


∞∞∞


“Mapayang jalan


satapak.”


“Ngajujuk ka hiji


lembur.”


“Mawar bodas.”


“Rusuh lo sialan!” sengit Reyvan sambil menatap Nathan.


Padahal lirik lagu yang baru saja Reyvan nyanyikan itu lagu


kesukaannya Daffa, tapi dengan santainya Nathan memotong lirik tersebut tanpa


memperdulikan tatapan kesal dari Reyvan.

__ADS_1


Merasa di sindir Nathan pun tak mau ambil pusing, tanpa


beban Nathan melangkah menjauhi para sahabatnya. Tukang jajanan kali ini lebih


menggoda daripada biasanya. Hanya satu yang Nathan inginkan, arum manis. Tapi


makanan itu sepertinya telah habis dibabat oleh anak-anak kecil.


Dengan mendesah kecewa Nathan berbalik pada sahabatnya yang


kini cekikikan. Raut wajah bingung dan kekepoan pun membuat Nathan mendekati


mereka. Tanpa memperdulikan arum manis yang baru saja membuat dirinya galau,


lagi.


“Lihatin apaan dah?” tanya Nathan penasaran.


Michael menoleh menatap Nathan sambil tersenyum misterius.


“Itu ada Sunny di taman,” celetuk Kenzo tanpa minat.


Nathan mengetahui arti dibalik senyuman misterius Michael,


seakan ada sinyal yang menghubungi mereka berdua. Reyvan pun tak mau kalah,


dengan penasaran laki-laki berkaos biru langi itu berlari kecil ke arah Nathan


sambil membawakan arum manis yang sangat besar.


Tangan mungil Nathan terbuka lebar-lebar menyambut dedek


arumnya yang siap untuk ditimang. Namun, perkiraannya salah. Reyvan tidak


menyerahkannya, melainkan hanya memamerkan lalu pergi.


“Kalau nggak niat ngasih jangan memberi harapan. Lihat noh,


Si Nathan muka-muka frustasi. Nanti juga coret-coret tangan pakai silet,”


celetuk Daffa membuat Kenzo tersenyum kecil.


Reyvan menatap Nathan sambil mengejek, “Makanya antri. Hidup


di Indonesia doang, tapi nggak pernah mau ngantri.”


gue,” ujar Nathan bergidik ngeri mengingat kejadian waktu lalu. Saat ia tengah


mengantri sembako untuk bundanya.


“Samperin Sunny gih, Daf. Gue lihat muka-muka ngenes lo dari


sini,” usul Hito mendorong pelan Daffa.


Melihat Daffa yang menuruti usulan Hito, sahabatnya pun


tersenyum sendu. Raja sekaligus ketos perjombloan mereka akhirnya


memperjuangkan perempuan, cantik pula.


Nathan menatap punggung Daffa sendu sambil bergumam, “Nggak


nyangka gue kalau Daffa udah besar.”


“Si gubluk!” umpat Reyvan menoyor pelan kepala Nathan.


∞∞∞


Sunny merasa bahwa ada seseorang yang menghampirinya pun


menoleh. Sedikit terkejut mendapati Daffa yang menatapnya sambil berdiri.


“Dilihatin doang nih? Nggak ada niatan nyuruh gue duduk


gituh,” ujar Daffa memancing obrolan dengan Sunny.


“Duduk tinggal duduk. Susah banget,” sahut Sunny cuek.


Melihat kecuekan Sunny, akhirnya Daffa memilih untuk diam


saja. Sepertinya remaja cantik ini sedang dalam mood yang tidak baik.


Di tengah keheningan yang melanda tiba-tiba sebuah notification menghidupkan ponsel Sunny


yang tergelak tak berdaya di pangkuan mungilnya.

__ADS_1


Melihat Sunny yang tak kunjung melepaskan pandangan, Daffa


pun penasaran dan mengintip sedikit pada ponsel remaja cantik itu. Tanpa


disangka-sangka remaja mungil itu memeluk erat Daffa. Sedikit terkejut, namun


tak urung ia membalas rengkuhannya dengan mengusap-usap punggung mungil itu.


“Lo kenapa, Sun?” tanya Daffa saat menyadari rengkuhannya


yang mengendur.


Sunny menggeleng pelan dan mengusap air matanya.


Karena terus penasaran dan tak kunjung mendapat jawaban,


dengan nekat Daffa merebut ponsel yang ada di genggaman Sunny.


“Daffa, balikin ponsel gue!” sentak Sunny tak terima.


Bukan Daffa namanya jika ia gentar, justru laki-laki


berjaket hitam itu kian menjadi.


Pergerakannya mendadak kaku saat melihat isi pesan itu, dan


menatap Sunny sendu. Gelengan pelan dari Sunny tak membuat Daffa tenang.


“Katakan ini nggak benar, Kak!” bentak Sunny dengan


berlinangan air mata.


Daffa memeluk Sunny erat, sungguh ia merasa kasihan pada


perempuan mungil yang pastinya sangat bersedih hati. Mengingat beberapa saat


yang lalu baru saja ia mendapatkan kabar bahwa kembarannya Sunny alias Regan


kecelakaan dalam perjalanan pulang ke Indonesia, lebih tempatnya kecelakaan


pesawat.


“Gue pikir kebahagiaan akan datang saat gue bertemu Bang


Regan, tapi perkiraan gue salah. Justru hadirnya Bang Regan menambah kesedihan


yang selama ini gue rasain. Apa gue nggak pantes bahagia?” lirih Sunny pelan


sambil meletakkan kepalanya di bahu Daffa.


Daffa menggeleng dan menatap Sunny prihatin, tetapi ia tak


bisa berbuat banyak selain ada untuk Sunny dan menguatkan dirinya untuk tidak


berlarut dalam keterpurukan.


Sunny merasa bahwa ia memang tak pantas hidup di dunia


dengan bahagia pun mulai berpikiran untuk mengakhiri hidup. Toh untuk apa dia


hidup hanya untuk menangis dan terus menangis. Ia ingin, sekali saja dalam


hidupnya bahwa ia yang akan ditangisi seseorang.


“Lo harus kuat, Sun. Ada sahabat lo, ada gue juga di sini.


Inget lo nggak pernah sendiri. Gue akan selalu ada kapan pun lo butuh,” ujar


Daffa meyakinkan.


Sunny tersenyum sinis menanggapi ucapan Daffa.


“Lo gampang Kak, bilang selalu ada. Tapi apa lo mikirin


perasaan gue saat kehilangan? Gue rasa lo bodoh untuk menyadari itu,” ejek


Sunny sambil tersenyum remeh.


Daffa menanggapi ucapan Sunny dengan tenang, “Kapan pun lo


butuh cari gue aja.”


Setelah mengatakan itu Daffa pun meninggalkan Sunny.


Meninggalkan Sunny seorang diri bukanlah hal yang paling bijak ia lakukan,

__ADS_1


justru ini adalah hal terbodoh yang Daffa lakukan.


__ADS_2