
Cuaca sore ini terlihat mendung, membuat remaja cantik itu
sedikit bersyukur. Sebab, kali ini ia berniat untuk mengelili komplek dengan
sepeda milik saudara kembarnya, Regan.
Ngomong-ngomong soal Regan, beberapa hari ini memang tidak
kelihatan. Sepertinya ia tengah sibuk mempersiapkan kepindahannya ke Indonesia.
Terlihat dari beberapa berkas yang ia bawa sebelum pergi.
Semilir angin sore menerpa wajah manis Sunny. Tatapannya pun
terlihat riang, senyum di bibirnya pun kian melebar saat kornea matanya tanpa
sengaja menatap anak-anak kecil berlarian di taman.
“Sunny?” panggil Alva yang tanpa sengaja melihatnya di
parkiran sepeda.
Sunny mengerutkan dahi bingung saat kornea matanya menatap
laki-laki berkaos hitam lengkap dengan celana training serta earphone bertengger manis di telinganya.
“Gue Alva, sahabatnya Daffa,” jelas Alva sambil tersenyum
tipis.
“Hai, Alva! Lo di sini juga?” ujar Sunny tersenyum kikuk.
Alva mengangguk sepintas, lalu mengajak Sunny untuk duduk
bersama dirinya.
“Udah lama sahabatan sama Maurin?” tanya Alva membuka
percakapan.
“Lumayan,” jeda Sunny sambil menarik napas pelan. “Bye the way, lo lagi deket ya sama
Maurin?” tebaknya sambil memincingkan mata menatap Alva serius.
Mendapat tatapan menyelidik dari Sunny tak membuat Alva
takut, malah ia tertawa keras sekali hingga wajah sedikit memerah. Sunny yang
melihatnya pun kesal. Enak saja dia tertawa tanpa beban.
“Iya. Banyak yang tahu tentang gue sama Alva ya,
sampai-sampai lo tahu beritanya. Padahal lo aja baru sekolah tiga hari, tapi
berita mengalir cepat,” sahut Alva tak percaya.
Sunny melirik Alva sebal sambil bersungut, “Enak aja.
Sahabat gue kan udah lama di sini, wajar dong kalau tahu semuanya.”
“Jangan bilang Maurin tentang hari ini, ya. Gue harap lo
bisa jaga rahasia. Gue balik!” pamit Alva sambil meninggalkan Sunny di bangku
panjang taman.
∞∞∞
“Mapayang jalan
satapak.”
“Ngajujuk ka hiji
lembur.”
“Mawar bodas.”
“Rusuh lo sialan!” sengit Reyvan sambil menatap Nathan.
Padahal lirik lagu yang baru saja Reyvan nyanyikan itu lagu
kesukaannya Daffa, tapi dengan santainya Nathan memotong lirik tersebut tanpa
memperdulikan tatapan kesal dari Reyvan.
__ADS_1
Merasa di sindir Nathan pun tak mau ambil pusing, tanpa
beban Nathan melangkah menjauhi para sahabatnya. Tukang jajanan kali ini lebih
menggoda daripada biasanya. Hanya satu yang Nathan inginkan, arum manis. Tapi
makanan itu sepertinya telah habis dibabat oleh anak-anak kecil.
Dengan mendesah kecewa Nathan berbalik pada sahabatnya yang
kini cekikikan. Raut wajah bingung dan kekepoan pun membuat Nathan mendekati
mereka. Tanpa memperdulikan arum manis yang baru saja membuat dirinya galau,
lagi.
“Lihatin apaan dah?” tanya Nathan penasaran.
Michael menoleh menatap Nathan sambil tersenyum misterius.
“Itu ada Sunny di taman,” celetuk Kenzo tanpa minat.
Nathan mengetahui arti dibalik senyuman misterius Michael,
seakan ada sinyal yang menghubungi mereka berdua. Reyvan pun tak mau kalah,
dengan penasaran laki-laki berkaos biru langi itu berlari kecil ke arah Nathan
sambil membawakan arum manis yang sangat besar.
Tangan mungil Nathan terbuka lebar-lebar menyambut dedek
arumnya yang siap untuk ditimang. Namun, perkiraannya salah. Reyvan tidak
menyerahkannya, melainkan hanya memamerkan lalu pergi.
“Kalau nggak niat ngasih jangan memberi harapan. Lihat noh,
Si Nathan muka-muka frustasi. Nanti juga coret-coret tangan pakai silet,”
celetuk Daffa membuat Kenzo tersenyum kecil.
Reyvan menatap Nathan sambil mengejek, “Makanya antri. Hidup
di Indonesia doang, tapi nggak pernah mau ngantri.”
gue,” ujar Nathan bergidik ngeri mengingat kejadian waktu lalu. Saat ia tengah
mengantri sembako untuk bundanya.
“Samperin Sunny gih, Daf. Gue lihat muka-muka ngenes lo dari
sini,” usul Hito mendorong pelan Daffa.
Melihat Daffa yang menuruti usulan Hito, sahabatnya pun
tersenyum sendu. Raja sekaligus ketos perjombloan mereka akhirnya
memperjuangkan perempuan, cantik pula.
Nathan menatap punggung Daffa sendu sambil bergumam, “Nggak
nyangka gue kalau Daffa udah besar.”
“Si gubluk!” umpat Reyvan menoyor pelan kepala Nathan.
∞∞∞
Sunny merasa bahwa ada seseorang yang menghampirinya pun
menoleh. Sedikit terkejut mendapati Daffa yang menatapnya sambil berdiri.
“Dilihatin doang nih? Nggak ada niatan nyuruh gue duduk
gituh,” ujar Daffa memancing obrolan dengan Sunny.
“Duduk tinggal duduk. Susah banget,” sahut Sunny cuek.
Melihat kecuekan Sunny, akhirnya Daffa memilih untuk diam
saja. Sepertinya remaja cantik ini sedang dalam mood yang tidak baik.
Di tengah keheningan yang melanda tiba-tiba sebuah notification menghidupkan ponsel Sunny
yang tergelak tak berdaya di pangkuan mungilnya.
__ADS_1
Melihat Sunny yang tak kunjung melepaskan pandangan, Daffa
pun penasaran dan mengintip sedikit pada ponsel remaja cantik itu. Tanpa
disangka-sangka remaja mungil itu memeluk erat Daffa. Sedikit terkejut, namun
tak urung ia membalas rengkuhannya dengan mengusap-usap punggung mungil itu.
“Lo kenapa, Sun?” tanya Daffa saat menyadari rengkuhannya
yang mengendur.
Sunny menggeleng pelan dan mengusap air matanya.
Karena terus penasaran dan tak kunjung mendapat jawaban,
dengan nekat Daffa merebut ponsel yang ada di genggaman Sunny.
“Daffa, balikin ponsel gue!” sentak Sunny tak terima.
Bukan Daffa namanya jika ia gentar, justru laki-laki
berjaket hitam itu kian menjadi.
Pergerakannya mendadak kaku saat melihat isi pesan itu, dan
menatap Sunny sendu. Gelengan pelan dari Sunny tak membuat Daffa tenang.
“Katakan ini nggak benar, Kak!” bentak Sunny dengan
berlinangan air mata.
Daffa memeluk Sunny erat, sungguh ia merasa kasihan pada
perempuan mungil yang pastinya sangat bersedih hati. Mengingat beberapa saat
yang lalu baru saja ia mendapatkan kabar bahwa kembarannya Sunny alias Regan
kecelakaan dalam perjalanan pulang ke Indonesia, lebih tempatnya kecelakaan
pesawat.
“Gue pikir kebahagiaan akan datang saat gue bertemu Bang
Regan, tapi perkiraan gue salah. Justru hadirnya Bang Regan menambah kesedihan
yang selama ini gue rasain. Apa gue nggak pantes bahagia?” lirih Sunny pelan
sambil meletakkan kepalanya di bahu Daffa.
Daffa menggeleng dan menatap Sunny prihatin, tetapi ia tak
bisa berbuat banyak selain ada untuk Sunny dan menguatkan dirinya untuk tidak
berlarut dalam keterpurukan.
Sunny merasa bahwa ia memang tak pantas hidup di dunia
dengan bahagia pun mulai berpikiran untuk mengakhiri hidup. Toh untuk apa dia
hidup hanya untuk menangis dan terus menangis. Ia ingin, sekali saja dalam
hidupnya bahwa ia yang akan ditangisi seseorang.
“Lo harus kuat, Sun. Ada sahabat lo, ada gue juga di sini.
Inget lo nggak pernah sendiri. Gue akan selalu ada kapan pun lo butuh,” ujar
Daffa meyakinkan.
Sunny tersenyum sinis menanggapi ucapan Daffa.
“Lo gampang Kak, bilang selalu ada. Tapi apa lo mikirin
perasaan gue saat kehilangan? Gue rasa lo bodoh untuk menyadari itu,” ejek
Sunny sambil tersenyum remeh.
Daffa menanggapi ucapan Sunny dengan tenang, “Kapan pun lo
butuh cari gue aja.”
Setelah mengatakan itu Daffa pun meninggalkan Sunny.
Meninggalkan Sunny seorang diri bukanlah hal yang paling bijak ia lakukan,
__ADS_1
justru ini adalah hal terbodoh yang Daffa lakukan.