
Jangan terlalu lampau untuk bahagia, sebab masih ada
kesedihan yang akan menghampirimu. Namun, jangan pula kau terlalu bersedih
dalam keterpurukan, karena hanya akan membuatmu mati rasa dengan arti sebuah
kebahagiaan.
Semua manusia mempunyai roda kehidupan masing-masing sebelum
mereka dilahirkan. Sama dengan takdir. Kita tak tahu kapan dan di mana akan
menjalani kehidupan, tetapi ikutilah alur yang ada. Bahagia atau tidak itu
adalah takdir.
Takdir tak selalu bahagia dan tak selalu pula kesedihan. Kebahagiaan
mengajarkan kita untuk tidak terpuruk dalam kesedihan, sementara kesedihan pula
mengajarkan kita untuk menghargai kebahagiaan sekecil apapun.
Banyak manusia berlomba-lomba untuk kebahagiaan dunia hingga
mereka lupa bahwa kebahagiaan akhirat itu penting. Semua kembali pada pribadi
kita. Entah untuk menghargai atau dihargai, semua akan ada waktunya. Just wait for time.
Lamunan Daffa buyar melihat kakak kesayangannya pulang dengan
wajah lesu. Seperti biasa sebagai anak yang berbakti pada sang kakak ia selalu
menghampiri dan memeluknya tanda selamat datang. Miranda yang mengetahui Daffa
menghampirinya segera merentangkan tangan.
“Lesu banget, hari ini ada cerita apa?” Daffa melepaskan
pelukan seraya mengacak surai hitam milik kakaknya.
Miranda tersenyum tipis dan menduduki diri di sofa dan
diikuti Daffa dibelakangnya, “Hari ini kakak gagal kuis.”
Miranda Ayu
Sinta, kakak Daffa sang ketos legend yang paling cantik. Kuliah disemester 6 dengan prodi arsitektur. Kalau ditanya
apa dia jago gambar? Dengan capslok TIDAK SAMA SEKALI! Camkan oke? Kakaknya
Daffa ini merupakan salah satu mahasiswi yang salah masuk fakultas teman-teman!
Mari tertawakan bersama. Perempuan dengan sifat kalem serta penuh lemah lembut
kini bersandar pada bahu kokoh Daffa, adiknya.
“Kenapa? Bukannya semalam kakak udah belajar?” Daffa
terkejut sambil menatap penuh kakak kesayangannya yang terlihat ingin menangis.
“Gak tahu,” ujar Miranda sambil menumpukan kepalanya di bahu
kokoh adiknya Daffa.
Tangan kiri Daffa terangkat mengelus surai hitam milik
kakaknya, sementara tangan yang lainnya Daffa gunakan untuk memeluk tubuh
perempuan kuat yang terlihat rapuh, “Kuis susulan nggak ada?”
Miranda menggelengkan kepalanya pelan, “Asdos kakak minta
besok malam ke rumahnya, tapi kakak nggak mau. Bukannya kakak nggak peduli
nilai, Daf. Ini berat buat kakak. Apalagi semester akhir, kakak nggak mau kalau
sampai ngulang di semester berikutnya.”
“Asdos kakak minta ke rumahnya?” tanya Daffa yang dijawab anggukan
__ADS_1
kepala. “Bangsul! Asdos kakak
brengsek ternyata! Daffa minta kakak hati-hati sama asdos itu. Daffa nggak mau
kakak kenapa-napa.”
Miranda tersenyum tipis melihat adiknya sangat peduli,
“Kakak janji!”
“Masalah kuis gampang nanti Daffa usulin sama Maurin,
kebetulan kakaknya dosen.”
“Beneran, Daf?” mata Miranda kini berbinar ceria yang lantas
diangguki Daffa dan segera memeluknya erat.
“Udah sana tidur dulu. Daffa masih ada kerjaan,” Daffa
menyingkirkan kepala kakaknya dari pundak.
“Jangan begadang, ya! Awas sampai gue tahu lo begadang,”
Miranda dengan gaya ala-ala menggorok lehernya dengan tangan.
“Iya bawel,” ujar Daffa tertawa kecil.
Seperti biasa dijam seperti ini Daffa kembali berkutat
dengan berkas-berkas yang kadang membuat ia pening sendiri. Berjam-jam sudah
Daffa berkutat melupakan bahwa ia harus menghubungi Kenzo untuk meminta nomor
telepon Maurin.
Sedangkan di mansion megah yang hanya berisikan dua anak
manusia yang kini tengah sibuk dengan aktivitasnya masing-masing membuat mereka
lupa keadaan sekitar.
yang asik dengan ponselnya. Mereka memang satu ruangan, tetapi tak ada
percakapan yang memulai.
Sunny pun akhirnya memutuskan untuk tidur saja. Regan yang
menyadari Sunny bangkit hanya memperhatikan sambil menghela napas pelan. Sampai
kapan mereka akan diam-diam seperti ini. Regan yang frustasi meraup wajahnya
pelan dan kembali fokus dengan ponselnya.
“Bang Regan kenapa sih? Harusnya kan gue yang marah kenapa
jadi dia. Dasar cowok nggak pernah peka,” gerutu Sunny sambil menaiki tangga
yang menimbulkan suara cukup keras akibat sandal swallow yang ia kenakan.
Ponselnya bergetar menandakan seseorang menghubunginya.
Sunny yang awalnya mengabaikan kini menjadi penasaran, sebab berkali-kali sudah
nomor yang sama menghubunginya.
Unknown
Are you miss me?
Deg
Spontan Sunny menegang melihat isi pesan yang sangat-sangat
ia tahu itu. Buru-buru Sunny mematikan ponselnya. Mimpi buruknya kini
menghantui kembali. Kapan ia akan tenang? Sebenarnya siapa yang berani
menerornya hingga kini. Itu semua tidak akan terjawab kalau dia belum
__ADS_1
menyelesaikannya.
Two years ago....
Disneyland, HongKong kini diramaikan pengunjung termasuk
Sunny dan para teman-temannya sepergaulannya. Dengan pakaian sedikit nyetrik
Sunny membelah pengunjung melupakan para teman-temannya yang sudah mengatur schedule hari ini.
Namun, tanpa sengaja ia menabrak bahu seseorang membuat
minumannya tumpah sedikit mengenai baju kesayangannya. Sunny yang geram pada
seseorang itu segera pergi sebelum ia memarahinya habis-habisan.
Tanpa disangka orang yang ditabrak Sunny segera menariknya
membuat sang empu mendelikan horror melihat seseorang dengan masker hitam. Dan
tanpa aba-aba pula Sunny didorong hingga jatuh membuat para pengunjung sedikit
terkejut.
“Ni zai gan ma? Wo wei
sale ni de yinliao er daoqian,” ujar Sunny seraya membersihkan rok
selututnya.
(Kamu apa-apaan sih? Saya minta maaf sudah menumpahkan
minumanmu).
“Baofu,” sahut
orang misterius itu sambil meninggalkan Sunny yang menatapnya tajam.
(Pembalasan).
Semenjak kejadian itulah Sunny sering mendapatkan pesan yang
isinya sama. Tetapi, yang membuat aneh kenapa orang ini selalu tahu nomor yang
Sunny pakai. Bahkan papahnya sendiri saja tidak tahu. Mustahil kalau dia acak
nomor. Ini pasti ada keterkaitannya dengan insiden di Hongkong waktu itu.
Kalau dipikir sepertinya ia tak asing dengan suara tersebut,
meskipun aksen terlihat sangat kental. Tetapi ia tetap menyadari bahwa orang
itu pasti ada di dekatnya. Bagimana tidak, hampir setiap hari ia dikirim pesan
singkat yang isinya tetap sama.
Ah sudahlah! Memikirkan seperti hanya akan membuat Sunny
merasa sangat pening. Lebih baik ia segera tidur, sebab ada hari esok yang akan
membuatnya melupakan masalah. Kalaupun orang tersebut berada di dekatnya ia
yakin kalau itu adalah laki-laki, dlihat dari paras serta suaranya yang sedikit
berbeda dari perempuan kebanyakan.
Akhirnya Sunny terlelap seraya memeluk boneka guling
pemberian abangnya sewaktu dia kecil dulu. Semilir angin malam di biarkan
menyeruak seisi kamar. Sunny memang lebih suka angin malam dari pada ac. Alasannya hanya karena ia harus
hemat listrik.
Lucu memang! Jika dipikir mansion semegah itu ada seseorang
yang sangat mementingkan penghematan. Bahkan kalaupun Sunny boros tidak akan
habis uang pemberian ayahnya. Kalau habis pasti akan dikirimkan lagi lebih
__ADS_1
banyak dari yang sebelumnya.