Puzzle

Puzzle
Episode 7


__ADS_3

Jangan terlalu lampau untuk bahagia, sebab masih ada


kesedihan yang akan menghampirimu. Namun, jangan pula kau terlalu bersedih


dalam keterpurukan, karena hanya akan membuatmu mati rasa dengan arti sebuah


kebahagiaan.


Semua manusia mempunyai roda kehidupan masing-masing sebelum


mereka dilahirkan. Sama dengan takdir. Kita tak tahu kapan dan di mana akan


menjalani kehidupan, tetapi ikutilah alur yang ada. Bahagia atau tidak itu


adalah takdir.


Takdir tak selalu bahagia dan tak selalu pula kesedihan. Kebahagiaan


mengajarkan kita untuk tidak terpuruk dalam kesedihan, sementara kesedihan pula


mengajarkan kita untuk menghargai kebahagiaan sekecil apapun.


Banyak manusia berlomba-lomba untuk kebahagiaan dunia hingga


mereka lupa bahwa kebahagiaan akhirat itu penting. Semua kembali pada pribadi


kita. Entah untuk menghargai atau dihargai, semua akan ada waktunya. Just wait for time.


Lamunan Daffa buyar melihat kakak kesayangannya pulang dengan


wajah lesu. Seperti biasa sebagai anak yang berbakti pada sang kakak ia selalu


menghampiri dan memeluknya tanda selamat datang. Miranda yang mengetahui Daffa


menghampirinya segera merentangkan tangan.


“Lesu banget, hari ini ada cerita apa?” Daffa melepaskan


pelukan seraya mengacak surai hitam milik kakaknya.


Miranda tersenyum tipis dan menduduki diri di sofa dan


diikuti Daffa dibelakangnya, “Hari ini kakak gagal kuis.”


Miranda Ayu


Sinta, kakak Daffa sang ketos legend yang paling cantik. Kuliah disemester 6 dengan prodi arsitektur. Kalau ditanya


apa dia jago gambar? Dengan capslok TIDAK SAMA SEKALI! Camkan oke? Kakaknya


Daffa ini merupakan salah satu mahasiswi yang salah masuk fakultas teman-teman!


Mari tertawakan bersama. Perempuan dengan sifat kalem serta penuh lemah lembut


kini bersandar pada bahu kokoh Daffa, adiknya.


“Kenapa? Bukannya semalam kakak udah belajar?” Daffa


terkejut sambil menatap penuh kakak kesayangannya yang terlihat ingin menangis.


“Gak tahu,” ujar Miranda sambil menumpukan kepalanya di bahu


kokoh adiknya Daffa.


Tangan kiri Daffa terangkat mengelus surai hitam milik


kakaknya, sementara tangan yang lainnya Daffa gunakan untuk memeluk tubuh


perempuan kuat yang terlihat rapuh, “Kuis susulan nggak ada?”


Miranda menggelengkan kepalanya pelan, “Asdos kakak minta


besok malam ke rumahnya, tapi kakak nggak mau. Bukannya kakak nggak peduli


nilai, Daf. Ini berat buat kakak. Apalagi semester akhir, kakak nggak mau kalau


sampai ngulang di semester berikutnya.”


“Asdos kakak minta ke rumahnya?” tanya Daffa yang dijawab anggukan

__ADS_1


kepala. “Bangsul! Asdos kakak


brengsek ternyata! Daffa minta kakak hati-hati sama asdos itu. Daffa nggak mau


kakak kenapa-napa.”


Miranda tersenyum tipis melihat adiknya sangat peduli,


“Kakak janji!”


“Masalah kuis gampang nanti Daffa usulin sama Maurin,


kebetulan kakaknya dosen.”


“Beneran, Daf?” mata Miranda kini berbinar ceria yang lantas


diangguki Daffa dan segera memeluknya erat.


“Udah sana tidur dulu. Daffa masih ada kerjaan,” Daffa


menyingkirkan kepala kakaknya dari pundak.


“Jangan begadang, ya! Awas sampai gue tahu lo begadang,”


Miranda dengan gaya ala-ala menggorok lehernya dengan tangan.


“Iya bawel,” ujar Daffa tertawa kecil.


Seperti biasa dijam seperti ini Daffa kembali berkutat


dengan berkas-berkas yang kadang membuat ia pening sendiri. Berjam-jam sudah


Daffa berkutat melupakan bahwa ia harus menghubungi Kenzo untuk meminta nomor


telepon Maurin.


Sedangkan di mansion megah yang hanya berisikan dua anak


manusia yang kini tengah sibuk dengan aktivitasnya masing-masing membuat mereka


lupa keadaan sekitar.


yang asik dengan ponselnya. Mereka memang satu ruangan, tetapi tak ada


percakapan yang memulai.


Sunny pun akhirnya memutuskan untuk tidur saja. Regan yang


menyadari Sunny bangkit hanya memperhatikan sambil menghela napas pelan. Sampai


kapan mereka akan diam-diam seperti ini. Regan yang frustasi meraup wajahnya


pelan dan kembali fokus dengan ponselnya.


“Bang Regan kenapa sih? Harusnya kan gue yang marah kenapa


jadi dia. Dasar cowok nggak pernah peka,” gerutu Sunny sambil menaiki tangga


yang menimbulkan suara cukup keras akibat sandal swallow yang ia kenakan.


Ponselnya bergetar menandakan seseorang menghubunginya.


Sunny yang awalnya mengabaikan kini menjadi penasaran, sebab berkali-kali sudah


nomor yang sama menghubunginya.


Unknown


Are you miss me?


Deg


Spontan Sunny menegang melihat isi pesan yang sangat-sangat


ia tahu itu. Buru-buru Sunny mematikan ponselnya. Mimpi buruknya kini


menghantui kembali. Kapan ia akan tenang? Sebenarnya siapa yang berani


menerornya hingga kini. Itu semua tidak akan terjawab kalau dia belum

__ADS_1


menyelesaikannya.


Two years ago....


Disneyland, HongKong kini diramaikan pengunjung termasuk


Sunny dan para teman-temannya sepergaulannya. Dengan pakaian sedikit nyetrik


Sunny membelah pengunjung melupakan para teman-temannya yang sudah mengatur schedule hari ini.


Namun, tanpa sengaja ia menabrak bahu seseorang membuat


minumannya tumpah sedikit mengenai baju kesayangannya. Sunny yang geram pada


seseorang itu segera pergi sebelum ia memarahinya habis-habisan.


Tanpa disangka orang yang ditabrak Sunny segera menariknya


membuat sang empu mendelikan horror melihat seseorang dengan masker hitam. Dan


tanpa aba-aba pula Sunny didorong hingga jatuh membuat para pengunjung sedikit


terkejut.


“Ni zai gan ma? Wo wei


sale ni de yinliao er daoqian,” ujar Sunny seraya membersihkan rok


selututnya.


(Kamu apa-apaan sih? Saya minta maaf sudah menumpahkan


minumanmu).


“Baofu,” sahut


orang misterius itu sambil meninggalkan Sunny yang menatapnya tajam.


(Pembalasan).


Semenjak kejadian itulah Sunny sering mendapatkan pesan yang


isinya sama. Tetapi, yang membuat aneh kenapa orang ini selalu tahu nomor yang


Sunny pakai. Bahkan papahnya sendiri saja tidak tahu. Mustahil kalau dia acak


nomor. Ini pasti ada keterkaitannya dengan insiden di Hongkong waktu itu.


Kalau dipikir sepertinya ia tak asing dengan suara tersebut,


meskipun aksen terlihat sangat kental. Tetapi ia tetap menyadari bahwa orang


itu pasti ada di dekatnya. Bagimana tidak, hampir setiap hari ia dikirim pesan


singkat yang isinya tetap sama.


Ah sudahlah! Memikirkan seperti hanya akan membuat Sunny


merasa sangat pening. Lebih baik ia segera tidur, sebab ada hari esok yang akan


membuatnya melupakan masalah. Kalaupun orang tersebut berada di dekatnya ia


yakin kalau itu adalah laki-laki, dlihat dari paras serta suaranya yang sedikit


berbeda dari perempuan kebanyakan.


Akhirnya Sunny terlelap seraya memeluk boneka guling


pemberian abangnya sewaktu dia kecil dulu. Semilir angin malam di biarkan


menyeruak seisi kamar. Sunny memang lebih suka angin malam dari pada ac. Alasannya hanya karena ia harus


hemat listrik.


Lucu memang! Jika dipikir mansion semegah itu ada seseorang


yang sangat mementingkan penghematan. Bahkan kalaupun Sunny boros tidak akan


habis uang pemberian ayahnya. Kalau habis pasti akan dikirimkan lagi lebih

__ADS_1


banyak dari yang sebelumnya.


__ADS_2