Puzzle

Puzzle
Episode 19


__ADS_3

Tribun lapangan indoor kali ini terlihat sepi, membuat ke empat perempuan yang kini tengah berdiri di


tengah-tengah lapangan menghembuskan napasnya pelan. Tak ada yang membuka


percakapan sejak keributan di kantin tadi.


Tatapan Sunny melunak, tapi tetap saja perempuan itu membisu


seakan tak ada suara yang mampu membuat dirinya berbicara.


Sebenarnya Keyra pun sudah sangat gatal untuk berbicara, namun


tatapan tajam dari Maurin membuat ia mengurungkan niatnya tersebut.


Serentak mereka mengekori kemana pun Sunny pergi, namun


pergerakannya terhenti tiba-tiba saat Sunny mendadak membalikkan tubuhnya.


Sontak saja ke tiga perempuan itu terjatuh mengenaskan akibat ulah Maurin yang


sangat ceroboh dalam hal pemberhentian.


“Anjir, kaki gue lo dudukin siyalan!” pekik Keyra kesal


sambil menarik-narik kakinya yang terjepit di sela-sela Maurin dan Ayrin.


Maurin menghembuskan napasnya pelan sambil berujar, “Ya,


maaf. Gue nggak tahu.”


“Heleh,” sahut Keyra memutar bola matanya malas.


“Kalian tadi dengar omongan Cyra, ‘kan?” tebak Sunny menatap


ke sembarang arah sambil mendudukan diri di tengah-tengah lapangan yang


kebetulan bersih, jadi mereka bisa leluasa untuk duduk atau pun sekedar


tidur-tiduran.


Keyra mengangguk ragu yang diselingi ucapan, “Tapi, gue


nggak terlalu percaya juga, Sun. berpikir positif aja, mungkin itu akal-akalan


Si Cyra aja.”


Maurin bersungut tak terima, “Nggak juga dong. Kalau menurut


gue mending lo selidikin dulu benar nggak, nanti baru kita bisa menemukan titik


terang di sini.”


Ayrin pun ikut menyahut, “Nah, sekarang kita juga mendapat


petunjuk. Sepupunya Kak Daffa yang bahkan gue sendiri nggak tahu wujudnya


seperti apa. Tapi, mustahil juga dong kalau anak-anak sini nggak tahu dia.”


“Gue satu pemikiran sama lo, Ay. Gimana kalau kita ngorek


informasi lewat Kak Alva. Kebetulan gue nanti balik bareng dia,” usul Maurin


yang disetujui oleh Ayrin.


“Okelah nggak masalah. Lo sendiri gimana, Key?” tanya Ayrin


tiba-tiba.


“Gue ... gue ikut aja,” ujar Keyra gugup.


Tatapan Maurin berubah menjadi intimidasi, membuat Keyra


sedikit gelagapan.


“Makasih, semuanya. Gue nggak tahu lagi kalau nggak ada


kalian,” tiba-tiba Sunny menyahut pelan yang diakhiri senyuman manisnya.


∞∞∞


“Gue ke Kak Alva dulu, ya. Kalian jangan lupa sama misinya!” seru


Maurin sambil melambaikan tangannya tinggi-tinggi dan segera berlari menyusul

__ADS_1


Alva.


Ayrin, Keyra dan Sunny hanya bisa memandanginya sambil menghela


napas pelan. Seungguhnya Maurin  tak


benar-benar mau mengikuti ajakan Alva, namun demi misinya berjalan dengan lancar,


ia rela membuang jauh-jauh gengsinya itu.


Sedangkan Keyra pulang dijemput oleh supirnya, sementara Ayrin


pulang dengan mengendarai motornya. Meninggalkan Sunny yang memang sengaja


menunggu kepulangan Daffa yang sepertinya berlatih basket dahulu.


Tak lama kemudian, sesosok Kenzo pun memimpin langkah. Namun, naasnya


batang hidung Daffa belum juga terlihat. Sunny yang notabenenya menunggu sejak


tadi pun mulai kesal. Melampiaskannya dengan menghentakkan kakinya di lantai


koridor.


“Kak Kenzo, lihat Kak Daffa?” kata Sunny tiba-tiba menghadang


segerombolan kawan-kawan Daffa dengan merentangkan tangan mungilnya lebar-lebar.


“Daffa lagi di ruang OSIS. Bentar lagi juga balik. Lo ada perlu


sama doi?” celetuk Reyvan membuat Kenzo mendengus, namun tak urung laki-laki itu


membiarkan Reyvan berkarya.


Nathan pun ikut tak mau kalah, laki-laki berwajah imut itu


menimbrung dalam obrolan Reyvan dengan Sunny, “Si Alva juga ntah kemana tuh


bocah. Gue ajakin latihan malah minggat.”


Sunny tertawa kecil. “Kak Alva udah balik sama Maurin.”


Daffa yang kebetulan baru saja tiba pun memekik tak terima, “Si


mengepalkan tangannya kesal.


“Benar tuh, Daf. Gue juga kesel sama dia.” Hito ikut-ikutan


mengompori Daffa.


“Nggak jelas lo berdua!” sahut Kenzo cuek.


“Oh ya, Sun. Ini Daffa, tadi lo nyariin dia, ‘kan?” Reyvan menatap


Sunny dengan menaikkan satu alisnya ke atas


Daffa mendengar dirinya yang dicari Sunny pun segera mengalihkan


pandangan.


“Lo ada waktu hari ini?” tanya Sunny basa-basi.


Daffa mengangguk sekilas.


“Bisa ngobrol bentar? Sekalian gue balik juga sih, nggak ada


jemputan.” Sunny mengakhirinya cengiran lucu.


“Ayo! Kebetulan hari ini gue ada perlu juga,” sahut Daffa


sedikit semangat.


Motor Daffa pun meraung pelan membelah jalanan ibukota yang


sangat padat. Lengan mungil itu melingkar indah pada tubuh kekar Daffa. Sungguh


perlakuan Sunny sangat tidak baik dengan jantungnya yang sudah meronta-ronta


sejak tadi.


Beberapa kali ia menghembuskan napasnya pelan, membuat Sunny


mengerutkan dahinya bingung.

__ADS_1


“Lo asma, Kak?” tanya Sunny polos lengkap dengan matanya


yang berkedip-kedip seperti boneka.


Daffa menggeleng pelan, dan menuntun Sunny untuk memasuki


toko khusus alat bela diri karate. Di sini lengkap dan berbagai jenisnya pun


ada, termasuk baju tegi yang tengah Daffa pilih. Remaja cantik itu hanya


mengekori Daffa dan pura-pura sok menilai, padahal sama sekali ia tak tahu itu


apa. Memang antara gengsi dan sok tahu itu beda tipis.


Setelah belanja beberapa keperluan Daffa, akhirnya Sunny


bisa bernapas lega sambil meluruskan kakinya yang sedikit mengerut akibat


terlalu banyak memutar-mutar seisi toko.


“Lo mau ngomong apa?” tanya Daffa sambil menyeruput kopi


yang baru saja ia pesan.


“Sebenarnya gue nggak bisa basa-basi, jadi langsung to the point aja,” kata Sunny membuat


Daffa memusatkan perhatiannya pada guratan keringat yang mengembun di dahi


mulusnya.


“Oke, silahkan.” Daffa menumpukan ke dua tangannya di tepian


meja.


“Hanifsah Adji Arsanata itu sepupu lo?” Sunny menembak tepat


sasaran.


Daffa terlihat bingung mendengar penuturan Sunny. “Iya, dia


sepupu gue. Kenapa ya?” tanya Daffa penasaran.


“Lo tahu dia selama ini nerror gue dengan pesan yang


aneh-aneh,” ujar Sunny sambil tersenyum miring.


Melihat perubahan dari raut wajah Sunny yang berubah, Daffa


pun mengerti. Sepertinya ini bukanlah hal-hal yang bisa dijadikan bahan


candaan.


“Maksudnya lo kok bisa kenal sama dia?” tanya Daffa tak


percaya.


“Gue tahu dari Cyra,” tandas Sunny sambil menyeruput kopinya


sedikit.


Daffa menggeleng tak percaya sambil berujar, “Nggak mungkin


Hanif bisa setega itu nerror cewek. Pasti lo salah orang.”


Sunny menyanggah, “Tapi, jelas-jelas Cyra bilang gitu ke


gue. Kenal atau nggak itu juga bukan urusan lo. Gue cuma meminta penjelasan aja,


beneran atau hanya tipu-tipu!”


“Iya, dia sepupu gue. Bahkan kita satu sekolah,” kata Daffa


berusaha untuk bersikap santuy.


Sunny menganggukan kepalanya sekilas, lalu melirik arlojinya


sambil meraih tas dan hendak berlalu meninggalkan Daffa. Namun, pergerakannya


terhenti saat Daffa mencekal pergelangan tangan mungil nan hangat itu.


“Gue yang bawa lo ke sini, dan gue juga harus balikin lo


dengan selamat. Tunggu gue bayar dulu,” pungkas Daffa tak terbantahkan.

__ADS_1


__ADS_2