
Tribun lapangan indoor kali ini terlihat sepi, membuat ke empat perempuan yang kini tengah berdiri di
tengah-tengah lapangan menghembuskan napasnya pelan. Tak ada yang membuka
percakapan sejak keributan di kantin tadi.
Tatapan Sunny melunak, tapi tetap saja perempuan itu membisu
seakan tak ada suara yang mampu membuat dirinya berbicara.
Sebenarnya Keyra pun sudah sangat gatal untuk berbicara, namun
tatapan tajam dari Maurin membuat ia mengurungkan niatnya tersebut.
Serentak mereka mengekori kemana pun Sunny pergi, namun
pergerakannya terhenti tiba-tiba saat Sunny mendadak membalikkan tubuhnya.
Sontak saja ke tiga perempuan itu terjatuh mengenaskan akibat ulah Maurin yang
sangat ceroboh dalam hal pemberhentian.
“Anjir, kaki gue lo dudukin siyalan!” pekik Keyra kesal
sambil menarik-narik kakinya yang terjepit di sela-sela Maurin dan Ayrin.
Maurin menghembuskan napasnya pelan sambil berujar, “Ya,
maaf. Gue nggak tahu.”
“Heleh,” sahut Keyra memutar bola matanya malas.
“Kalian tadi dengar omongan Cyra, ‘kan?” tebak Sunny menatap
ke sembarang arah sambil mendudukan diri di tengah-tengah lapangan yang
kebetulan bersih, jadi mereka bisa leluasa untuk duduk atau pun sekedar
tidur-tiduran.
Keyra mengangguk ragu yang diselingi ucapan, “Tapi, gue
nggak terlalu percaya juga, Sun. berpikir positif aja, mungkin itu akal-akalan
Si Cyra aja.”
Maurin bersungut tak terima, “Nggak juga dong. Kalau menurut
gue mending lo selidikin dulu benar nggak, nanti baru kita bisa menemukan titik
terang di sini.”
Ayrin pun ikut menyahut, “Nah, sekarang kita juga mendapat
petunjuk. Sepupunya Kak Daffa yang bahkan gue sendiri nggak tahu wujudnya
seperti apa. Tapi, mustahil juga dong kalau anak-anak sini nggak tahu dia.”
“Gue satu pemikiran sama lo, Ay. Gimana kalau kita ngorek
informasi lewat Kak Alva. Kebetulan gue nanti balik bareng dia,” usul Maurin
yang disetujui oleh Ayrin.
“Okelah nggak masalah. Lo sendiri gimana, Key?” tanya Ayrin
tiba-tiba.
“Gue ... gue ikut aja,” ujar Keyra gugup.
Tatapan Maurin berubah menjadi intimidasi, membuat Keyra
sedikit gelagapan.
“Makasih, semuanya. Gue nggak tahu lagi kalau nggak ada
kalian,” tiba-tiba Sunny menyahut pelan yang diakhiri senyuman manisnya.
∞∞∞
“Gue ke Kak Alva dulu, ya. Kalian jangan lupa sama misinya!” seru
Maurin sambil melambaikan tangannya tinggi-tinggi dan segera berlari menyusul
__ADS_1
Alva.
Ayrin, Keyra dan Sunny hanya bisa memandanginya sambil menghela
napas pelan. Seungguhnya Maurin tak
benar-benar mau mengikuti ajakan Alva, namun demi misinya berjalan dengan lancar,
ia rela membuang jauh-jauh gengsinya itu.
Sedangkan Keyra pulang dijemput oleh supirnya, sementara Ayrin
pulang dengan mengendarai motornya. Meninggalkan Sunny yang memang sengaja
menunggu kepulangan Daffa yang sepertinya berlatih basket dahulu.
Tak lama kemudian, sesosok Kenzo pun memimpin langkah. Namun, naasnya
batang hidung Daffa belum juga terlihat. Sunny yang notabenenya menunggu sejak
tadi pun mulai kesal. Melampiaskannya dengan menghentakkan kakinya di lantai
koridor.
“Kak Kenzo, lihat Kak Daffa?” kata Sunny tiba-tiba menghadang
segerombolan kawan-kawan Daffa dengan merentangkan tangan mungilnya lebar-lebar.
“Daffa lagi di ruang OSIS. Bentar lagi juga balik. Lo ada perlu
sama doi?” celetuk Reyvan membuat Kenzo mendengus, namun tak urung laki-laki itu
membiarkan Reyvan berkarya.
Nathan pun ikut tak mau kalah, laki-laki berwajah imut itu
menimbrung dalam obrolan Reyvan dengan Sunny, “Si Alva juga ntah kemana tuh
bocah. Gue ajakin latihan malah minggat.”
Sunny tertawa kecil. “Kak Alva udah balik sama Maurin.”
Daffa yang kebetulan baru saja tiba pun memekik tak terima, “Si
mengepalkan tangannya kesal.
“Benar tuh, Daf. Gue juga kesel sama dia.” Hito ikut-ikutan
mengompori Daffa.
“Nggak jelas lo berdua!” sahut Kenzo cuek.
“Oh ya, Sun. Ini Daffa, tadi lo nyariin dia, ‘kan?” Reyvan menatap
Sunny dengan menaikkan satu alisnya ke atas
Daffa mendengar dirinya yang dicari Sunny pun segera mengalihkan
pandangan.
“Lo ada waktu hari ini?” tanya Sunny basa-basi.
Daffa mengangguk sekilas.
“Bisa ngobrol bentar? Sekalian gue balik juga sih, nggak ada
jemputan.” Sunny mengakhirinya cengiran lucu.
“Ayo! Kebetulan hari ini gue ada perlu juga,” sahut Daffa
sedikit semangat.
Motor Daffa pun meraung pelan membelah jalanan ibukota yang
sangat padat. Lengan mungil itu melingkar indah pada tubuh kekar Daffa. Sungguh
perlakuan Sunny sangat tidak baik dengan jantungnya yang sudah meronta-ronta
sejak tadi.
Beberapa kali ia menghembuskan napasnya pelan, membuat Sunny
mengerutkan dahinya bingung.
__ADS_1
“Lo asma, Kak?” tanya Sunny polos lengkap dengan matanya
yang berkedip-kedip seperti boneka.
Daffa menggeleng pelan, dan menuntun Sunny untuk memasuki
toko khusus alat bela diri karate. Di sini lengkap dan berbagai jenisnya pun
ada, termasuk baju tegi yang tengah Daffa pilih. Remaja cantik itu hanya
mengekori Daffa dan pura-pura sok menilai, padahal sama sekali ia tak tahu itu
apa. Memang antara gengsi dan sok tahu itu beda tipis.
Setelah belanja beberapa keperluan Daffa, akhirnya Sunny
bisa bernapas lega sambil meluruskan kakinya yang sedikit mengerut akibat
terlalu banyak memutar-mutar seisi toko.
“Lo mau ngomong apa?” tanya Daffa sambil menyeruput kopi
yang baru saja ia pesan.
“Sebenarnya gue nggak bisa basa-basi, jadi langsung to the point aja,” kata Sunny membuat
Daffa memusatkan perhatiannya pada guratan keringat yang mengembun di dahi
mulusnya.
“Oke, silahkan.” Daffa menumpukan ke dua tangannya di tepian
meja.
“Hanifsah Adji Arsanata itu sepupu lo?” Sunny menembak tepat
sasaran.
Daffa terlihat bingung mendengar penuturan Sunny. “Iya, dia
sepupu gue. Kenapa ya?” tanya Daffa penasaran.
“Lo tahu dia selama ini nerror gue dengan pesan yang
aneh-aneh,” ujar Sunny sambil tersenyum miring.
Melihat perubahan dari raut wajah Sunny yang berubah, Daffa
pun mengerti. Sepertinya ini bukanlah hal-hal yang bisa dijadikan bahan
candaan.
“Maksudnya lo kok bisa kenal sama dia?” tanya Daffa tak
percaya.
“Gue tahu dari Cyra,” tandas Sunny sambil menyeruput kopinya
sedikit.
Daffa menggeleng tak percaya sambil berujar, “Nggak mungkin
Hanif bisa setega itu nerror cewek. Pasti lo salah orang.”
Sunny menyanggah, “Tapi, jelas-jelas Cyra bilang gitu ke
gue. Kenal atau nggak itu juga bukan urusan lo. Gue cuma meminta penjelasan aja,
beneran atau hanya tipu-tipu!”
“Iya, dia sepupu gue. Bahkan kita satu sekolah,” kata Daffa
berusaha untuk bersikap santuy.
Sunny menganggukan kepalanya sekilas, lalu melirik arlojinya
sambil meraih tas dan hendak berlalu meninggalkan Daffa. Namun, pergerakannya
terhenti saat Daffa mencekal pergelangan tangan mungil nan hangat itu.
“Gue yang bawa lo ke sini, dan gue juga harus balikin lo
dengan selamat. Tunggu gue bayar dulu,” pungkas Daffa tak terbantahkan.
__ADS_1