
“Gue dengar katanya lo mau ikut Bekasi Open, Daf.”
Celetukan dari Alva itu mampu mengalihkan fokus dari Daffa
yang tengah menggerakkan jarinya di atas keyboard yang menunjukkan tanda-tanda
lelahnya.
“Iya,” sahut Daffa singkat.
“Katanya ada anak ceweknya juga, siapa dia?” tanya Reyvan
menatap Daffa penasaran.
“Udah, Van.” Tiba-tiba Elvita menyela pembicaraan mereka
tanpa beban. “Sia-sia lo nanya sama Daffa. Nih, lihat sendiri. Ada posternya,”
lanjutnya sambil memperlihatkan sebuah poster yang lumayan besar menampilkan
wajah datar Daffa, di sebelahnya pun tak kalah datar. Sunny.
“Lo dapat dari mana?” tanya Nathan heran.
“Nyabut di mading,” ungkap Elvita membuat Daffa menatapnya
datar.
“Santuy, Daf. Udah kayak kanibal aja lo nge-lihatin Elvita
sebegitunya,” kata Alva tanpa beban.
Ke empat laki-laki itu memang tengah berada di ruang OSIS.
Sebab, kali ini mereka tengah mempersiapkan segala macam mata lomba yang akan
segera diadakan, termasuk karate. Sebenarnya Daffa sudah mengetahui akan segala
bakat yang Sunny punya.
Padahal jika dilihat lebih jelas, sudah terpampang bahwa
perempuan itu multitalenta, namun sikap arogan dan kecuekannyalah yang membuat
diri itu sedikit tak bersinar.
“Gue baru tahu Sunny serba bisa,” ungkap Reyvan dengan
kagum.
“Gue juga, Van. Padahal kalau gue lihat Si Sunny nggak beda
jauh sama Cyra. Sama-sama galak,” kata Alva.
“Tapi, kalau gue lihat. Sunny termasuk cewek tulus tahu.
Nggak pernah gue sedetail ini merhatiin dia,” celetuk Elvita yang memindahkan
bangkunya menjadi tepat di hadapan Daffa.
“Setuju.” Nathan menjentikkan jarinya. “Gue pikir dia
tipe-tipe cewek badgirl, tapi
nyatanya dia easy going. Bahkan gue
candain juga dia nggak sok jual mahal atau agresif kayak cewek lain,” papar
Nathan menyuarakan isi hatinya.
“Bolehlah, Van. Sunny lo gebet,” goda Elvita sambil tertawa
kecil.
Reyvan menggeleng keras. “Jangan, Mbak. Bukannya gue
menolak. Siapa sih laki-laki yang bisa lepas dari pesona Sunny, tapi sebagai
laki-laki sejati gue nggak akan pernah ngerebut hak milik sahabat gue. Meskipun
__ADS_1
itu perempuan,” jelas Reyvan bijak.
“Ta, nggak selamanya lo hidup tentang cerita cinta. Jadi,
jangan apa-apa lo sangkut pautkan dengan cinta, karena tanpa lo sadari
kata-kata itu menyakiti hati orang lain.” Reyvan menepuk pundak Elvita dengan
kalimatnya yang memojokkan Daffa.
“Jangan gibah! Kalian gue ajak ke sini untuk kerja. Kalau
cuma mau gossip mending keluar aja,” ujar Daffa santai, namun tidak dengan
tatapannya yang mengarah pada layar monitor. Tajam.
Sontak saja, mereka yang mendapat teguran dari Daffa pun
buru-buru memisahkan diri. Melanjutkan pekerjaan mereka yang sempat tertunda.
∞∞∞
“Sun, nanti lo beneran ikut open?” tanya Maurin penasaran.
Sendok yang hampir saja mendarat mulus di mulut mungil Sunny
kni terhenti mendadak. Lalu, menatap Maurin malas.
“Kalau ngga beneran, gue nggak bakalan ada di mading, cinta!
Lagipula nggak selamanya kan gue berdiam diri. Keyra juga katanya nggak mau
ikut,” papar Sunny diakhiri dengan mengangkat bahunya acuh.
“Tapi, aneh. Biasanya Keyra yang paling semangat ikut
beginian. Mustahil dong tiba-tiba dia mutusin untuk ngga ikut,” sanggah Maurin.
“Udahlah, lagipula mau dia ikut atau nggak kan terserah.
Percuma kalau ikut hanya terpaksa,” kata Sunny bijak.
Akhirnya Maurin melanjutkan makan baksonya yang sempat
mengganggunya.
“Kayaknya cowok itu ngelihatin kita mulu, deh. Gue kok
ngerasa aneh ya,” gumam Maurin pelan.
Sunny yang mendengar gumaman Maurin pun mengangkat kepalany
penasaran, dan tepat saat laki-laki itu menatap Sunny sekilas.
“Eh, itu cowok ngapain?” Sunny menunjuk dengan dahu
mungilnya.
Bahu Maurin terangkat tak tahu. “Gue juga ngerasa dia natap
kita. Tapi entahlah maksud terselubungnya apa.”
Sunny yang tak mau ambil pusing pun segera menandaskan
batagor Mang Uun dan cepat-cepat meminum jus alpukat yang dibelikan oleh
Maurin.
Perutnya pun berteriak kegirangan. Merasa sangat amat
kenyang, Sunny menepuk-nepuk layaknya ibu hamil yang tengah mengelus perut
buncitnya. Tatapan datar Maurin pun tak membuat Sunny menghentikan
aktivitasnya.
“Kayaknya kita sebentar lagi nggak bisa nongki bareng,”
celetuk Maurin miris.
__ADS_1
“Lho, kenapa?” ujar Sunny terkejut.
“Karena lo lomba dan gue juga lomba. Auto kita jarang ketemu,” sungut Maurin mengerucutkan bibirnya
kesal.
“Ya ilaaah gue kira apaan. Btw, gue latihan cuma sabtu sore
dan selebihnya tc malam. Nggak sibuk banget kok. Paling juga lo sendiri yang
bolak-balik keluar kelas,” sahut Sunny sebal
Sedikit infomasi, Tc itu teknik kumite. Jadi, dalam latihan
itu kita di haruskan untuk berlatihan fisik, selain untuk mata lomba. Dan dalam
ilmu bela diri karate, kumite adalah teknik penyerangan dan pertahanan. Sangat
berbeda dengan kata yang hanya memperagakan jurusnya saja.
“Kan ada lo nanti. Gue juga belajar coreography di mansion, bukan di ruang gym lagi. Bu Sayidah udah nggak ngizinin kita terlalu lama latihan
pas jam pelajaran. Katanya sih mengganggu jam belajar kita,” jelas Maurin.
“Bagus, deh. Jadi lo nggak harus capek-capek di sekolah
hanya untuk latihan,” sahut Sunny membuat Maurin tersenyum tulus.
“Terakhir kali ketika gue ngejar piala internasional.
Seminggu setelah lomba gue sakit, Sun. Dan sekarang gue nggak mau segiat itu,
nggak guna juga soalnya. Yang paling penting anggota dance gue nanti ada Cyra,” tutur Maurin sedikit kesal.
“Cyra ikutan?” beo Sunny.
“Hooh, anehnya malah dimasukin sama Bu Dayut. Padahal
aturannya anak pembaris nggak boleh ikutan ginian. Bisa keseleo mereka yang
biasanya jalan kaku kayak robot, sekarang melentur macam karet ban. Bisa nggak,
tuh?” terang Maurin dengan wajah yang sangat datar.
“Udahlah, Queen. Terserah dia mau apa. Kayaknya emang Cyra
benci banget sama lo, cuma gara-gara olimpiade hari itu,” balas Sunny dengan
tepukan pelan yang mendarat manis di bahu Maurin.
Tiba-tiba dari kejauhan terlihat Nathan yang memasuki
wilayah kantin dengan langkah lebar-lebar. Tatapannya berhenti kala ia
menemukan Sunny.
“Anjir, gue nyari lo kesana kemari ternyata di sini. Tahu
gitu gue langsung ngantin aja,” tandas Nathan sambil mengusap dahinya yang
sedikit berkeringat.
Alis Sunny menukik tak mengerti, sedangkan Maurin lebih
milih memperhatikan laki-laki imut di depannya yang hobi sekali mengoceh
seperti burung beo.
“Lo dicariin Babang Dapah, Sun. Sekarang!” tegas Nathan yang
didukung dengan tatapan seriusnya. Sepertinya hari ini laki-lakia sedikit hoki.
Sifat tegasnya bisa muncul hanya karena ia lelah.
Sunny menaikkan alis kanannya bingung. “Buat apa?”
“Lo mau dimacem-macemin,” celetuk Nathan asal.
“Heh! Congor lo minta gue giles ya?” sahut Maurin tajam.
__ADS_1
Nathan mendadak ngeri melihat perempuan imut dengan darah
korea yang mengalir kentak di dalamnya.