Puzzle

Puzzle
Episode 25


__ADS_3

“Gue dengar katanya lo mau ikut Bekasi Open, Daf.”


Celetukan dari Alva itu mampu mengalihkan fokus dari Daffa


yang tengah menggerakkan jarinya di atas keyboard yang menunjukkan tanda-tanda


lelahnya.


“Iya,” sahut Daffa singkat.


“Katanya ada anak ceweknya juga, siapa dia?” tanya Reyvan


menatap Daffa penasaran.


“Udah, Van.” Tiba-tiba Elvita menyela pembicaraan mereka


tanpa beban. “Sia-sia lo nanya sama Daffa. Nih, lihat sendiri. Ada posternya,”


lanjutnya sambil memperlihatkan sebuah poster yang lumayan besar menampilkan


wajah datar Daffa, di sebelahnya pun tak kalah datar. Sunny.


“Lo dapat dari mana?” tanya Nathan heran.


“Nyabut di mading,” ungkap Elvita membuat Daffa menatapnya


datar.


“Santuy, Daf. Udah kayak kanibal aja lo nge-lihatin Elvita


sebegitunya,” kata Alva tanpa beban.


Ke empat laki-laki itu memang tengah berada di ruang OSIS.


Sebab, kali ini mereka tengah mempersiapkan segala macam mata lomba yang akan


segera diadakan, termasuk karate. Sebenarnya Daffa sudah mengetahui akan segala


bakat yang Sunny punya.


Padahal jika dilihat lebih jelas, sudah terpampang bahwa


perempuan itu multitalenta, namun sikap arogan dan kecuekannyalah yang membuat


diri itu sedikit tak bersinar.


“Gue baru tahu Sunny serba bisa,” ungkap Reyvan dengan


kagum.


“Gue juga, Van. Padahal kalau gue lihat Si Sunny nggak beda


jauh sama Cyra. Sama-sama galak,” kata Alva.


“Tapi, kalau gue lihat. Sunny termasuk cewek tulus tahu.


Nggak pernah gue sedetail ini merhatiin dia,” celetuk Elvita yang memindahkan


bangkunya menjadi tepat di hadapan Daffa.


“Setuju.” Nathan menjentikkan jarinya. “Gue pikir dia


tipe-tipe cewek badgirl, tapi


nyatanya dia easy going. Bahkan gue


candain juga dia nggak sok jual mahal atau agresif kayak cewek lain,” papar


Nathan menyuarakan isi hatinya.


“Bolehlah, Van. Sunny lo gebet,” goda Elvita sambil tertawa


kecil.


Reyvan menggeleng keras. “Jangan, Mbak. Bukannya gue


menolak. Siapa sih laki-laki yang bisa lepas dari pesona Sunny, tapi sebagai


laki-laki sejati gue nggak akan pernah ngerebut hak milik sahabat gue. Meskipun

__ADS_1


itu perempuan,” jelas Reyvan bijak.


“Ta, nggak selamanya lo hidup tentang cerita cinta. Jadi,


jangan apa-apa lo sangkut pautkan dengan cinta, karena tanpa lo sadari


kata-kata itu menyakiti hati orang lain.” Reyvan menepuk pundak Elvita dengan


kalimatnya yang memojokkan Daffa.


“Jangan gibah! Kalian gue ajak ke sini untuk kerja. Kalau


cuma mau gossip mending keluar aja,” ujar Daffa santai, namun tidak dengan


tatapannya yang mengarah pada layar monitor. Tajam.


Sontak saja, mereka yang mendapat teguran dari Daffa pun


buru-buru memisahkan diri. Melanjutkan pekerjaan mereka yang sempat tertunda.


 ∞∞∞


“Sun, nanti lo beneran ikut open?” tanya Maurin penasaran.


Sendok yang hampir saja mendarat mulus di mulut mungil Sunny


kni terhenti mendadak. Lalu, menatap Maurin malas.


“Kalau ngga beneran, gue nggak bakalan ada di mading, cinta!


Lagipula nggak selamanya kan gue berdiam diri. Keyra juga katanya nggak mau


ikut,” papar Sunny diakhiri dengan mengangkat bahunya acuh.


“Tapi, aneh. Biasanya Keyra yang paling semangat ikut


beginian. Mustahil dong tiba-tiba dia mutusin untuk ngga ikut,” sanggah Maurin.


“Udahlah, lagipula mau dia ikut atau nggak kan terserah.


Percuma kalau ikut hanya terpaksa,” kata Sunny bijak.


Akhirnya Maurin melanjutkan makan baksonya yang sempat


mengganggunya.


“Kayaknya cowok itu ngelihatin kita mulu, deh. Gue kok


ngerasa aneh ya,” gumam Maurin pelan.


Sunny yang mendengar gumaman Maurin pun mengangkat kepalany


penasaran, dan tepat saat laki-laki itu menatap Sunny sekilas.


“Eh, itu cowok ngapain?” Sunny menunjuk dengan dahu


mungilnya.


Bahu Maurin terangkat tak tahu. “Gue juga ngerasa dia natap


kita. Tapi entahlah maksud terselubungnya apa.”


Sunny yang tak mau ambil pusing pun segera menandaskan


batagor Mang Uun dan cepat-cepat meminum jus alpukat yang dibelikan oleh


Maurin.


Perutnya pun berteriak kegirangan. Merasa sangat amat


kenyang, Sunny menepuk-nepuk layaknya ibu hamil yang tengah mengelus perut


buncitnya. Tatapan datar Maurin pun tak membuat Sunny menghentikan


aktivitasnya.


“Kayaknya kita sebentar lagi nggak bisa nongki bareng,”


celetuk Maurin miris.

__ADS_1


“Lho, kenapa?” ujar Sunny terkejut.


“Karena lo lomba dan gue juga lomba. Auto kita jarang ketemu,” sungut Maurin mengerucutkan bibirnya


kesal.


“Ya ilaaah gue kira apaan. Btw, gue latihan cuma sabtu sore


dan selebihnya tc malam. Nggak sibuk banget kok. Paling juga lo sendiri yang


bolak-balik keluar kelas,” sahut Sunny sebal


Sedikit infomasi, Tc itu teknik kumite. Jadi, dalam latihan


itu kita di haruskan untuk berlatihan fisik, selain untuk mata lomba. Dan dalam


ilmu bela diri karate, kumite adalah teknik penyerangan dan pertahanan. Sangat


berbeda dengan kata yang hanya memperagakan jurusnya saja.


“Kan ada lo nanti. Gue juga belajar coreography di mansion, bukan di ruang gym lagi. Bu Sayidah udah nggak ngizinin kita terlalu lama latihan


pas jam pelajaran. Katanya sih mengganggu jam belajar kita,” jelas Maurin.


“Bagus, deh. Jadi lo nggak harus capek-capek di sekolah


hanya untuk latihan,” sahut Sunny membuat Maurin tersenyum tulus.


“Terakhir kali ketika gue ngejar piala internasional.


Seminggu setelah lomba gue sakit, Sun. Dan sekarang gue nggak mau segiat itu,


nggak guna juga soalnya. Yang paling penting anggota dance gue nanti ada Cyra,” tutur Maurin sedikit kesal.


“Cyra ikutan?” beo Sunny.


“Hooh, anehnya malah dimasukin sama Bu Dayut. Padahal


aturannya anak pembaris nggak boleh ikutan ginian. Bisa keseleo mereka yang


biasanya jalan kaku kayak robot, sekarang melentur macam karet ban. Bisa nggak,


tuh?” terang Maurin dengan wajah yang sangat datar.


“Udahlah, Queen. Terserah dia mau apa. Kayaknya emang Cyra


benci banget sama lo, cuma gara-gara olimpiade hari itu,” balas Sunny dengan


tepukan pelan yang mendarat manis di bahu Maurin.


Tiba-tiba dari kejauhan terlihat Nathan yang memasuki


wilayah kantin dengan langkah lebar-lebar. Tatapannya berhenti kala ia


menemukan Sunny.


“Anjir, gue nyari lo kesana kemari ternyata di sini. Tahu


gitu gue langsung ngantin aja,” tandas Nathan sambil mengusap dahinya yang


sedikit berkeringat.


Alis Sunny menukik tak mengerti, sedangkan Maurin lebih


milih memperhatikan laki-laki imut di depannya yang hobi sekali mengoceh


seperti burung beo.


“Lo dicariin Babang Dapah, Sun. Sekarang!” tegas Nathan yang


didukung dengan tatapan seriusnya. Sepertinya hari ini laki-lakia sedikit hoki.


Sifat tegasnya bisa muncul hanya karena ia lelah.


Sunny menaikkan alis kanannya bingung. “Buat apa?”


“Lo mau dimacem-macemin,” celetuk Nathan asal.


“Heh! Congor lo minta gue giles ya?” sahut Maurin tajam.

__ADS_1


Nathan mendadak ngeri melihat perempuan imut dengan darah


korea yang mengalir kentak di dalamnya.


__ADS_2