
Seperti hari-hari sebelumnya, kini mansion sedikit
berpenghuni sejak kepulangan Regan. Bahkan laki-laki itu sudah resmi menjadi
pelajar di Indonesia sepenuhnya. Berita menggembirakan seperti itu sampai ke
telinga ayahnya. Dikabarkan siang ini Erion pulang, tentu saja hal tersebut
membuat Sunny ingin cepat-cepat pulang sekolah.
Padahal dirinya bahkan belum berangkat pagi ini. Sudah
memikirkan saja. Regan pun memakai baju SMA yang berbeda dengan Sunny. Karena
memang permintaan kembarannya itu sedikit aneh. Ia tak mau sekolah jika harus
bersama dengan Sunny. Jika dipikir toh Regan sama saja satu sekolah atau tidak.
Mereka kembar dan sudah dapat dipastikan lulus di hari yang sama.
“Bang, kenapa lo nggak satu sekolah aja sama gue. Jadi,
ribet gini kalau kita mau berangkat,” keluh Sunny yang tak habis-habisnya
merutuki keputusan Regan.
“Nggak seru dong kalau gue satu sekolah sama lo,” celetuk Regan sambil menyuapi
nasi goreng buatannya sendiri.
Sunny mendengus kesal. Lalu, menyuapi perlahan nasi goreng
yang baru saja tandas setengah piring. Rasanya lama sekali jika Sunny tak
menghabiskan sarapannya hingga Regan bangkit dan meraih kunci motornya.
“Rajin banget, Bang. Jam segini udah minggat,” cetus Sunny
tanpa beban.
Regan menatap adiknya itu dengan sinis. “Kalau gue nggak
berangkat sekarang juga nanti bisa-bisa telat. Dan sebagai murid teladan gue
anti sama yang namanya terlambat,” sahut Regan sambil menyisir rambut jambulnya
dengan jari-jari tangan.
Sunny mendecih sinis, lalu memakai sepatu pantofel yang biasa
ia gunakan. Berbeda dengan Regan yang lebih memakai sepatu sneakers hitam
putih, tampak terkesan simple dan elegan.
Ke dua saudara kembar itu kompak meninggalkan mansion dengan
kendaraannya masing-masing. Sunny dengan mini cooper kesayangannya dan Regan
dengan motor bmw kebanggaannya.
∞∞∞
“Sunny, gue dengar bokap lo mau kemari.”
Sunny yang baru saja meletakkan tas mungilnya pun
mengerutkan dahinya bingung mendengar penuturan Maurin.
“Mau ngapain?” tanya Sunny penasaran. Perasaan akhir-akhir
ini ia jarang berurusan dengan Bu Dayut.
Maurin mengendikkan bahunya tak tahu. “Gue juga dengar dari
Bu Saydah tadi waktu ngobrol sama Pak Yana,” ungkapnya sambil mendudukan diri
di samping bangku Sunny yang sebenarnya ditempati Glora, tetapi sepertinya
perempuan itu lagi-lagi terlambat.
__ADS_1
Sunny mengangguk pelan, lalu lebih memfokuskan diri dengan
kedatangan papahnya kemari.
∞∞∞
Mobil hitam mewah itu memasuki pekarangan SMA Aryasatya.
Dibentangkannya lebar-lebar pagar yang berdiri kokoh tepat di tepi jalan utama.
Membuat kesan pemandangan tersendiri kala melihatnya.
Seorang paruh baya dengan tubuh yang selalu terawat itu kini
melangkahkan kakinya menyusuri koridor demi koridor, mengabaikan tatapan para
siswi yang memandangnya kagum.
Lengan kemeja itu ia gulung hingga ke siku, menampilkan tato
naga yang terukir rapih di bawah lengan kirinya. Menandakan kepemilikan yang
sangat sakral.
Papan nama di depannya pun bertuliskan ‘Headmaster Room’ diputarnya handle pintu sambil mengetuk pintu tiga
kali.
Melihat kedatangan salah satu wali murid yang sangat dikenal
kenakalannya pun Bu Saydah mendadak ramah.
“Mari, Pak Erion! Silahkan duduk,” kata Bu Saydah
mempersilahkan paruh baya laki-laki di depannya sambil tersenyum ramah.
Anggukan sepintas dari Erion.
“Kalau boleh tahu ada keperluan apa Bapak datang kemari?”
tanya BU Saydah sambil meletakkan ke dua tangannya di atas meja.
Erion berdehem pelan. “Apa selama ini Sunny menyusahkan
Bu Saydah menggeleng keras. “Tidak, Pak. Sunny adalah siswi
yang baik, meski nakal dalam batas wajar saja. Kebetulan bulan besok dia mau
berpartisipasi mengikuti acara Bekasi Open,” tuturnya dengan tetap memasang wajah ramah.
“Dia ... karate lagi?” cetus Erion dengan tatapan tak ramah.
“Iya, Pak. Apa Sunny belum bilang masalah ini?” mendadak
kening BU Saydah mengerut bingung, melihat tatapan laki-laki paruh baya di
depannya yang terlihat emosi.
“Oh, ya. Maaf saya lupa, kalau begitu terima kasih atas
waktu yang telah Ibu luangkan. Sebelumnya saya minta maaf dan permisi!” pamit
erion sambil melenggang pergi.
Bu Saydah melihat gelagat aneh dari Erion hanya
menghembuskan napasnya pelan.
“Nggak anak, nggak bapak. Sama aja,” gumam Bu Saydah pelan.
Langkah kaki itu membawanya hingga tepat di depan kelas 11
IPS 2. Jika dilihat dari luar kelas itu sangat kondusif sekali, tetapi sangat
berbeda dengan suasana di dalam yang bak kapal pecah diterjang ombak. Sangat
porak poranda.
Dengan masih menenting jas hitamnya Erion mengetuk pintu
kayu itu pelan, hingga tak sampai lama keluarlah seorang siswa berseragam
lengkap yang menatap laki-laki itu bingung.
__ADS_1
“Bapak guru baru kami?” celetuk Roni tak percaya.
Mendadak Erion tak mengerti ucapan siswa di depannya. Dengan
tatapan datarnya Erion berbicara, “Panggilan Sunny.”
Mendengar nama Sunny yang disebut, Roni pun kembali masuk ke
dalam. Beberapa lama kemudia keluarlah Sunny dengan tampang acak-acakannya.
“Lho, Papah?!” pekik Sunny tak percaya.
Erion pun menggelengkan kepalanya pelan, menatap puteri
kesayangannya berpenampilan tak rapih seperti ini. Ia pun mengajak Sunny untuk
berpindah tempat. Sepertinya ia harus berbicara banyak hari ini.
Kini tibalah di atas rooftop sekolah. Baik Sunny dan Erion sama-sama tak ada yang membuka percakapan. Angin
sepoi-sepoi menyapu wajah manis Sunny.
“Bagaiman sekolahmu? Sudah lama Papah nggak pulang,” ujar
Erion memecahkan keheningan.
Sunny menoleh sepintas, lalu tersenyum tipis. “Sunny kira
Papah lupa kalau punya anak,” celetuknya tanpa beban, menahan desakan air mata
yang sudah sejak tadi ingin keluar.
“Ternyata kamu sudah besar, Riza. Papah rasa baru kemarin
kamu bisa jalan dan Papah belikan sepeda. Dan sekarang ... kamu bisa menjawab
pertanyaan Papah dengan sarkas. Nggak Papah sangka kamu sebesar ini,” papar
Erion sambil tertawa kecil.
Bukannya ikut tertawa Sunny malah terdiam, menahan emosi
yang sudah sejak tadi berteriak kesal padanya.
Melihat Sunny yang tak bereaksi apapun Erion menghela napas
pelan. Tangan kanannya terangkat menyentuh pundak mungil puteri kesayangannya
tersebut.
“Fahriza, sebenarnya Papah tahu. Papah salah selama ini
ninggalin kamu tanpa seorang pun yang berada di dekat kamu, tapi maksud Papah
baik. Papah cuma ....,” Erion menggantungkan kalimat terakhirnya.
Sunny terkekeh paksa mendengar penuturan Erion. “Papah cuma
mau Riza mandiri, ‘kan? Fine, Pah. Riza udah lakuin semuanya,” jeda Sunny
mengambil napas.
“Bahkan disaat anak-anak lain diambil rapot, Riza memilih
untuk diam di sudut ruangan menyaksikan bagaimana orangtua mereka membanggakan
anaknya sendiri di depan guru. Saat itu Riza masih SMP, Pah. Apa harus anak
sebelia itu dipaksa untuk mandiri?”
“Jujur, terkadang Riza mikir. Sebenarnya Riza masih punya
orangtua nggak, sih? Kenapa selalu Riza yang Papah sisihkan? Kenapa nggak Bang
Regan aja yang ngerasain begini. Apa karena Riza nakal, Pah? Jawab! Riza butuh
jawaban Papah!” desak Sunny membuat Erion sedikit tersentak mendengar penuturan
dari puteri kesayangannya.
“Karena kamu sama Regan beda,” jawab Erion membuat Sunny
mendadak terdiam.
__ADS_1