Puzzle

Puzzle
Episode 26


__ADS_3

Seperti hari-hari sebelumnya, kini mansion sedikit


berpenghuni sejak kepulangan Regan. Bahkan laki-laki itu sudah resmi menjadi


pelajar di Indonesia sepenuhnya. Berita menggembirakan seperti itu sampai ke


telinga ayahnya. Dikabarkan siang ini Erion pulang, tentu saja hal tersebut


membuat Sunny ingin cepat-cepat pulang sekolah.


Padahal dirinya bahkan belum berangkat pagi ini. Sudah


memikirkan saja. Regan pun memakai baju SMA yang berbeda dengan Sunny. Karena


memang permintaan kembarannya itu sedikit aneh. Ia tak mau sekolah jika harus


bersama dengan Sunny. Jika dipikir toh Regan sama saja satu sekolah atau tidak.


Mereka kembar dan sudah dapat dipastikan lulus di hari yang sama.


“Bang, kenapa lo nggak satu sekolah aja sama gue. Jadi,


ribet gini kalau kita mau berangkat,” keluh Sunny yang tak habis-habisnya


merutuki keputusan Regan.


 


 


“Nggak seru dong kalau gue satu sekolah sama lo,” celetuk Regan sambil menyuapi


nasi goreng buatannya sendiri.


Sunny mendengus kesal. Lalu, menyuapi perlahan nasi goreng


yang baru saja tandas setengah piring. Rasanya lama sekali jika Sunny tak


menghabiskan sarapannya hingga Regan bangkit dan meraih kunci motornya.


“Rajin banget, Bang. Jam segini udah minggat,” cetus Sunny


tanpa beban.


Regan menatap adiknya itu dengan sinis. “Kalau gue nggak


berangkat sekarang juga nanti bisa-bisa telat. Dan sebagai murid teladan gue


anti sama yang namanya terlambat,” sahut Regan sambil menyisir rambut jambulnya


dengan jari-jari tangan.


Sunny mendecih sinis, lalu memakai sepatu pantofel yang biasa


ia gunakan. Berbeda dengan Regan yang lebih memakai sepatu sneakers hitam


putih, tampak terkesan simple dan elegan.


Ke dua saudara kembar itu kompak meninggalkan mansion dengan


kendaraannya masing-masing. Sunny dengan mini cooper kesayangannya dan Regan


dengan motor bmw kebanggaannya.


∞∞∞


“Sunny, gue dengar bokap lo mau kemari.”


Sunny yang baru saja meletakkan tas mungilnya pun


mengerutkan dahinya bingung mendengar penuturan Maurin.


“Mau ngapain?” tanya Sunny penasaran. Perasaan akhir-akhir


ini ia jarang berurusan dengan Bu Dayut.


Maurin mengendikkan bahunya tak tahu. “Gue juga dengar dari


Bu Saydah tadi waktu ngobrol sama Pak Yana,” ungkapnya sambil mendudukan diri


di samping bangku Sunny yang sebenarnya ditempati Glora, tetapi sepertinya


perempuan itu lagi-lagi terlambat.

__ADS_1


Sunny mengangguk pelan, lalu lebih memfokuskan diri dengan


kedatangan papahnya kemari.


∞∞∞


Mobil hitam mewah itu memasuki pekarangan SMA Aryasatya.


Dibentangkannya lebar-lebar pagar yang berdiri kokoh tepat di tepi jalan utama.


Membuat kesan pemandangan tersendiri kala melihatnya.


Seorang paruh baya dengan tubuh yang selalu terawat itu kini


melangkahkan kakinya menyusuri koridor demi koridor, mengabaikan tatapan para


siswi yang memandangnya kagum.


Lengan kemeja itu ia gulung hingga ke siku, menampilkan tato


naga yang terukir rapih di bawah lengan kirinya. Menandakan kepemilikan yang


sangat sakral.


Papan nama di depannya pun bertuliskan ‘Headmaster Room’ diputarnya handle pintu sambil mengetuk pintu tiga


kali.


Melihat kedatangan salah satu wali murid yang sangat dikenal


kenakalannya pun Bu Saydah mendadak ramah.


“Mari, Pak Erion! Silahkan duduk,” kata Bu Saydah


mempersilahkan paruh baya laki-laki di depannya sambil tersenyum ramah.


Anggukan sepintas dari Erion.


“Kalau boleh tahu ada keperluan apa Bapak datang kemari?”


tanya BU Saydah sambil meletakkan ke dua tangannya di atas meja.


Erion berdehem pelan. “Apa selama ini Sunny menyusahkan


Bu Saydah menggeleng keras. “Tidak, Pak. Sunny adalah siswi


yang baik, meski nakal dalam batas wajar saja. Kebetulan bulan besok dia mau


berpartisipasi mengikuti acara Bekasi Open,” tuturnya dengan tetap memasang wajah ramah.


“Dia ... karate lagi?” cetus Erion dengan tatapan tak ramah.


“Iya, Pak. Apa Sunny belum bilang masalah ini?” mendadak


kening BU Saydah mengerut bingung, melihat tatapan laki-laki paruh baya di


depannya yang terlihat emosi.


“Oh, ya. Maaf saya lupa, kalau begitu terima kasih atas


waktu yang telah Ibu luangkan. Sebelumnya saya minta maaf dan permisi!” pamit


erion sambil melenggang pergi.


Bu Saydah melihat gelagat aneh dari Erion hanya


menghembuskan napasnya pelan.


“Nggak anak, nggak bapak. Sama aja,” gumam Bu Saydah pelan.


Langkah kaki itu membawanya hingga tepat di depan kelas 11


IPS 2. Jika dilihat dari luar kelas itu sangat kondusif sekali, tetapi sangat


berbeda dengan suasana di dalam yang bak kapal pecah diterjang ombak. Sangat


porak poranda.


Dengan masih menenting jas hitamnya Erion mengetuk pintu


kayu itu pelan, hingga tak sampai lama keluarlah seorang siswa berseragam


lengkap yang menatap laki-laki itu bingung.

__ADS_1


“Bapak guru baru kami?” celetuk Roni tak percaya.


Mendadak Erion tak mengerti ucapan siswa di depannya. Dengan


tatapan datarnya Erion berbicara, “Panggilan Sunny.”


Mendengar nama Sunny yang disebut, Roni pun kembali masuk ke


dalam. Beberapa lama kemudia keluarlah Sunny dengan tampang acak-acakannya.


“Lho, Papah?!” pekik Sunny tak percaya.


Erion pun menggelengkan kepalanya pelan, menatap puteri


kesayangannya berpenampilan tak rapih seperti ini. Ia pun mengajak Sunny untuk


berpindah tempat. Sepertinya ia harus berbicara banyak hari ini.


Kini tibalah di atas rooftop sekolah. Baik Sunny dan Erion sama-sama tak ada yang membuka percakapan. Angin


sepoi-sepoi menyapu wajah manis Sunny.


“Bagaiman sekolahmu? Sudah lama Papah nggak pulang,” ujar


Erion memecahkan keheningan.


Sunny menoleh sepintas, lalu tersenyum tipis. “Sunny kira


Papah lupa kalau punya anak,” celetuknya tanpa beban, menahan desakan air mata


yang sudah sejak tadi ingin keluar.


“Ternyata kamu sudah besar, Riza. Papah rasa baru kemarin


kamu bisa jalan dan Papah belikan sepeda. Dan sekarang ... kamu bisa menjawab


pertanyaan Papah dengan sarkas. Nggak Papah sangka kamu sebesar ini,” papar


Erion sambil tertawa kecil.


Bukannya ikut tertawa Sunny malah terdiam, menahan emosi


yang sudah sejak tadi berteriak kesal padanya.


Melihat Sunny yang tak bereaksi apapun Erion menghela napas


pelan. Tangan kanannya terangkat menyentuh pundak mungil puteri kesayangannya


tersebut.


“Fahriza, sebenarnya Papah tahu. Papah salah selama ini


ninggalin kamu tanpa seorang pun yang berada di dekat kamu, tapi maksud Papah


baik. Papah cuma ....,” Erion menggantungkan kalimat terakhirnya.


Sunny terkekeh paksa mendengar penuturan Erion. “Papah cuma


mau Riza mandiri, ‘kan? Fine, Pah. Riza udah lakuin semuanya,” jeda Sunny


mengambil napas.


“Bahkan disaat anak-anak lain diambil rapot, Riza memilih


untuk diam di sudut ruangan menyaksikan bagaimana orangtua mereka membanggakan


anaknya sendiri di depan guru. Saat itu Riza masih SMP, Pah. Apa harus anak


sebelia itu dipaksa untuk mandiri?”


“Jujur, terkadang Riza mikir. Sebenarnya Riza masih punya


orangtua nggak, sih? Kenapa selalu Riza yang Papah sisihkan? Kenapa nggak Bang


Regan aja yang ngerasain begini. Apa karena Riza nakal, Pah? Jawab! Riza butuh


jawaban Papah!” desak Sunny membuat Erion sedikit tersentak mendengar penuturan


dari puteri kesayangannya.


“Karena kamu sama Regan beda,” jawab Erion membuat Sunny


mendadak terdiam.

__ADS_1


__ADS_2