
Kata
siapa rindu itu berat. Mungkin terlalu lebay jika diperbandingkan dengan rindu.
Nyatanya sebuah kerinduan kasih sayang dari orang tua justru lebih berat dari
pada kerinduan dalam lain.
Berteriak
kesal pada dunia pun percuma, karena hanya sebuah gema pada angin yang
membawanya pergi. Terkadang hidup selucu itu, kita harus berusaha keras untuk
mencapai semuanya.
“Bang,
Gue kangen sama Mamah.”
Regan
menatap Sunny sendu, sepertinya perempuan itu tengah mengingat semua kenangan
masa kecil yang sangat amat pahit untuk seorang anak kecil dengan umur yang
masih sangat dini.
“Kamu
udah siap untuk ketemu Mamah?” tanya Regan sambil mengelus surai cokelat milik
Sunny.
“Kemarin
Papah ke sekolah,” ungkap Sunny datar.
Regan
menatap Sunny terkejut. Ia pikir papahnya sama sekali tidak ingat jika masih
mempunyai Sunny.
“Terus
Papah bilang apa?” tanya Regan penasaran.
Sunny
__ADS_1
menggelengkan kepalanya pelan, lalu menatap Regan sendu. Sebenarnya ia senang
melihat papahnya masih peduli, tetapi ia tidak siap jika Regan mengetahui kisah
hidupnya yang selalu diasingkan.
“Gue
emang nggak tahu apa yang terjadi sama lo di masa lalu, karena emang gue
sendiri nggak ada di saat lo butuh. Sebagai saudara gue merasa nggak dianggap,
Sun. Untuk apa gue di sini kalau lo sendiri nggak bisa menganggap gue ada,” celoteh
Regan panjang lebar.
Terbesit
rasa sesal di hati Sunny, ia tidak sanggup jika mengetahui yang sebenarnya. Ia
takut jika Regan akan membenci mamahnya, karena bagaimanapun juga Regan adalah
anak kesayangan mamahnya, sedangkan Sunny adalah saudara yang sebenarnya tidak
diinginkan.
Sunny yang tidak kunjung menjawab, Regan pun memutuskan untuk ke kamarnya saja.
Sebab, esok ia harus datang lebih pagi, karena besok adalah jadwalnya ia masuk
kelas. Karena tadi ia hanya memberikan syarat-syarat pendaftaran dan belum bisa
untuk memasuki kelas.
“Gue
tidur duluan. Lo jangan begadang, soalnya gue besok harus berangkat pagi.
Selamat malam!” pamit Regan melenggang pergi, meninggalkan Sunny dengan
kekosongan yang selalu menemaninya.
Setetes
Kristal bening terjatuh membasahi pipi mulus Sunny. Ia tidak bersuara, mulutnya
bungkam. Tapi, tidak dengan hatinya yang menjerit tak terima.
***
__ADS_1
“Tumben
berangkat pagi, Sun.”
Pagi-pagi
ini Sunny sudah disodorkan dengan celetukan dari Glora yang notabenenya teman
sebangku. Sepertinya perempuan centil itu tengah berdandan seperti biasanya.
“Gue
berangkat pagi salah, siang pun salah. Lo ngajak gelud emang, ya,” sindir Sunny
dengan wajah bersungut kesal.
“Yeeeh,
bocah baperan.” Tangan kiri Glora menoyor pelan kepala Sunny. “Kan gue heran
aja sama murid baru yang kelihatan nakal tapi aslinya baik,” ejek Glora sambil
menyapu wajah Sunny dengan spons bedak tabur yang selalu bertengger di saku
bajunya.
“Anjir,
wajah gue ternodai. Jahat lo, Glo!” ketus Sunny sambil mengusap-usap wajahnya.
Bedak Glora sungguh membuat wajah Sunny menjadi tidak berbentuk.
“Lo
lucu *****! Mirip badut,” canda Glora dengan tertawa geli.
“Pala
lo gue slepat!” sela Sunny dengan memiting leher jenjeng Glora.
Keluhan
dari Glora pun tak membuat Sunny mengendurkan lengannya, malah ia menikmati
canda tawa ini. Sebenarnya asyik juga mempunyai teman baru, tapi tetap saja ia
tak bisa melupakan wajah kesal Maurin yang menatapnya datar. Bukan marah,
perempuan itu hanya memperingkatkan Sunny untuk tidak terlewat dari batas.
__ADS_1