Puzzle

Puzzle
Episode 30


__ADS_3

Kata


siapa rindu itu berat. Mungkin terlalu lebay jika diperbandingkan dengan rindu.


Nyatanya sebuah kerinduan kasih sayang dari orang tua justru lebih berat dari


pada kerinduan dalam lain.


Berteriak


kesal pada dunia pun percuma, karena hanya sebuah gema pada angin yang


membawanya pergi. Terkadang hidup selucu itu, kita harus berusaha keras untuk


mencapai semuanya.


“Bang,


Gue kangen sama Mamah.”


Regan


menatap Sunny sendu, sepertinya perempuan itu tengah mengingat semua kenangan


masa kecil yang sangat amat pahit untuk seorang anak kecil dengan umur yang


masih sangat dini.


“Kamu


udah siap untuk ketemu Mamah?” tanya Regan sambil mengelus surai cokelat milik


Sunny.


“Kemarin


Papah ke sekolah,” ungkap Sunny datar.


Regan


menatap Sunny terkejut. Ia pikir papahnya sama sekali tidak ingat jika masih


mempunyai Sunny.


“Terus


Papah bilang apa?” tanya Regan penasaran.


Sunny

__ADS_1


menggelengkan kepalanya pelan, lalu menatap Regan sendu. Sebenarnya ia senang


melihat papahnya masih peduli, tetapi ia tidak siap jika Regan mengetahui kisah


hidupnya yang selalu diasingkan.


“Gue


emang nggak tahu apa yang terjadi sama lo di masa lalu, karena emang gue


sendiri nggak ada di saat lo butuh. Sebagai saudara gue merasa nggak dianggap,


Sun. Untuk apa gue di sini kalau lo sendiri nggak bisa menganggap gue ada,” celoteh


Regan panjang lebar.


Terbesit


rasa sesal di hati Sunny, ia tidak sanggup jika mengetahui yang sebenarnya. Ia


takut jika Regan akan membenci mamahnya, karena bagaimanapun juga Regan adalah


anak kesayangan mamahnya, sedangkan Sunny adalah saudara yang sebenarnya tidak


diinginkan.


Sunny yang tidak kunjung menjawab, Regan pun memutuskan untuk ke kamarnya saja.


Sebab, esok ia harus datang lebih pagi, karena besok adalah jadwalnya ia masuk


kelas. Karena tadi ia hanya memberikan syarat-syarat pendaftaran dan belum bisa


untuk memasuki kelas.


“Gue


tidur duluan. Lo jangan begadang, soalnya gue besok harus berangkat pagi.


Selamat malam!” pamit Regan melenggang pergi, meninggalkan Sunny dengan


kekosongan yang selalu menemaninya.


Setetes


Kristal bening terjatuh membasahi pipi mulus Sunny. Ia tidak bersuara, mulutnya


bungkam. Tapi, tidak dengan hatinya yang menjerit tak terima.


***

__ADS_1


“Tumben


berangkat pagi, Sun.”


Pagi-pagi


ini Sunny sudah disodorkan dengan celetukan dari Glora yang notabenenya teman


sebangku. Sepertinya perempuan centil itu tengah berdandan seperti biasanya.


“Gue


berangkat pagi salah, siang pun salah. Lo ngajak gelud emang, ya,” sindir Sunny


dengan wajah bersungut kesal.


“Yeeeh,


bocah baperan.” Tangan kiri Glora menoyor pelan kepala Sunny. “Kan gue heran


aja sama murid baru yang kelihatan nakal tapi aslinya baik,” ejek Glora sambil


menyapu wajah Sunny dengan spons bedak tabur yang selalu bertengger di saku


bajunya.


“Anjir,


wajah gue ternodai. Jahat lo, Glo!” ketus Sunny sambil mengusap-usap wajahnya.


Bedak Glora sungguh membuat wajah Sunny menjadi tidak berbentuk.


“Lo


lucu *****! Mirip badut,” canda Glora dengan tertawa geli.


“Pala


lo gue slepat!” sela Sunny dengan memiting leher jenjeng Glora.


Keluhan


dari Glora pun tak membuat Sunny mengendurkan lengannya, malah ia menikmati


canda tawa ini. Sebenarnya asyik juga mempunyai teman baru, tapi tetap saja ia


tak bisa melupakan wajah kesal Maurin yang menatapnya datar. Bukan marah,


perempuan itu hanya memperingkatkan Sunny untuk tidak terlewat dari batas.

__ADS_1


__ADS_2