
Tak semua yang tertawa akan baik-baik saja, dan tak semua
orang yang pembawa masalah adalah anak sial. Semua tergantung bagaimana cara
kita bersikap menerimanya. Bahkan untuk menyesali semuanya pun tak berguna.
Dianggapnya hidup didunia terlalu sakit untuk dirasakan, meskipun berulang kali
dilakukan. Berpikiran bahwa ia adalah manusia yang paling tersakiti.
Ingin mengakhiri, namun tak sanggup untuk memulai. Cobalah
buka matamu lebar-lebar, tak semua orang yang mengumbar senyuman adalah orang
yang akan baik-baik saja. Mereka mampu menyembunyikan kesedihannya lewat tawa
yang selalu menggema di cakrawala.
Semilir angin malam membuat siapapun yang merasakannya
tenang termasuk Sunny yang memang sengaja ia membuka pintu balkon kamarnya,
membuat angin malam menyeruak seisi kamar. Dengan balutan dress tidur panjang
Sunny melangkah keluar dan bersandar pada pagar pembatas balkon seraya
menggenggam mug yang berisi cokelat panas.
Namun, Sunny mengerutkan dahinya bingung melihat sebuah
mobil mewah yang memasuki pekarangan, tanpa pikir panjang Sunny berlari
mengambil long cardingan dan segera
membuka pintu utama. Angin malam ini cukup kencang hingga Sunny merapatkan cardingan agar tidak tersikap.
Keluarlah seorang laki-laki yang membuat Sunny mendelik tak
percaya dan segera berlari memeluk laki-laki dihadapannya erat. Disamping itu
laki-laki tersebut juga membalas pelukan Sunny tak kalah erat sambil mencium
pucuk kepala Sunny sayang.
Laki-laki dihadapan Sunny adalah Alfianus Regan Fahrizal, ia
adalah abang sekaligus kembaran dari Sunny. Kalian pasti bertanya kenapa mereka
berpisah? Karena kalau nyatu kembar dempet dong. Haha ... enggak kok canda.
Regan memang lebih memilih untuk mengejar beasiswanya ke Eropa, jadi mau tidak
mau Sunny harus merelakan kembarannya itu.
“Abang kok pulangnya nggak bilang,” protes Sunny sambil menggerucutkan
bibirnya lucu.
“Surprise! Abang
sengaja nggak ngabarin kamu. Papah mana?” tanya laki-laki yang Sunny panggil
abang tersebut.
“Papah udah 2 hari nggak pulang,” Sunny meraih koper milik
abangnya.
“Lho? Mamah?” tanya Regan yang memang tidak mengetahui
apapun, sebab semenjak kelas 7 SMP ia sudah dipindahkan ke Eropa untuk
pertukaran pelajar, dan sekarang waktunya ia kembali melanjutkan pendidikannya
di tanah kelahiran yaitu Indonesia.
“Entah,” ujar Sunny acuh tak acuh membuat Regan penasaran
akut.
“Maksud kamu apa?” Regan mencekal pergelangan tangan Sunny
__ADS_1
membuat sang empu menghentikan langkahnya.
“Mamah kabur dan Sunny nggak tahu alasannya. So, don’t ask to me anymore!“ Sunny
menatap wajah Regan datar.
“Why? Kenapa bisa
kamu nggak tahu semuanya, Sun? Kamu selama ini di ....“
“Sunny di HK,” potong Sunny cepat sambil berlari
meninggalkan abangnya yang terdiam tanpa berniat untuk mencegahnya lagi.
∞∞∞
‘Hongkong’ kata itulah yang sejak tadi terngiang dikepala
Regan, sedangkan disisi lain Sunny tengah menuruni tangga dan bersiap untuk
pergi ke sekolah tanpa berniat untuk berpamitan dengan Regan. Biarlah abangnya
itu tahu bahwa selama dia pindah ke Eropa keadaan mansion tak seindah dahulu
saat mamahnya yang bernama Meisyu berdarah Hongkong itu pergi.
Namun, ketika Sunny mencapai tangga akhir ia menyipitkan
matanya melihat sesosok Regan tengah berdiri memperhatikan taman bunga milik
mamahnya dahulu. Semua sudah berbeda taman itu kini berubah menjadi tanaman
pepohonan milik Sunny.
Melihat abangnya syok pun Sunny hanya bisa berharap abangnya
bisa tetap tegar, karena memang diantara Regan dan Sunny yang begitu dekat
hanyalah Regan, dan Sunny hanya bisa menghela nafas mengingat itu semua.
Tanpa Sunny sadari Regan melangkah menghampirinya. Namun
tanpa disangka-sangka setetes kristal bening jatuh mengenai pipi mulusnya
Sunny yang mendapat perlakuan tersebut hanya terdiam tanpa
berniat membalas pelukan abangnya. Dengan gerakan naik-turun Regan mengusap
punggung rapuh adik kecilnya, sebab ia tahu Sunny tidak baik-baik setelah
semalam mengingat semuanya. Ia juga tahu selama ini Sunny hidup sendirian,
meskipun disekelilingnya ada orang Sunny akan tetap merasa sendirian.
“Abang tahu semuanya, Sun. Asisten papah yang cerita, “
Regan melepaskan lingkaran tangannya dari bahu Sunny dan menangkup wajah mungil
adiknya yang telah dibanjiri air mata.
”Maafin abang selama ini udah ninggalin kamu,” lanjut Regan
dengan wajah frustasi.
Sunny tak membalas, ia hanya tersenyum tipis dan sangat
tipis. Jika dilihat sekilas Sunny sepertinya tidak tersenyum. Sunny mengabaikan
Regan. Sunny mendiami Regan. Sunny tak menganggap Regan ada. Semua itu membuat
Regan frustasi didiamkan oleh adik kecilnya. Ia tahu Sunny butuh waktu, tapi
Regan tak rela kalau ia diabaikan oleh Sunny. Separuh jiwa dari dirinya.
Regan tak mencegah. Regan membiarkan Sunny pergi
menjauhinya. Ada apa dengan Regan? Tidak ini bukan tentang siapa yang menjauhi
atau dijauhi, tetapi disini adalah titik dimana kita tetap bertahan dan
menyelesaikan atau pergi dengan meninggalkan luka. Bukan tentang Regan bersedih
__ADS_1
karena kehilangan mamahnya, bukan pula tentang Sunny yang kecewa terhadap
mamahnya.
Disisi lain Daffa tengah melajukan motornya dikecepatan
rata-rata. Dengan lihai ia menyalip mobil-mobil yang ada didepannya. Namun, dia
mengerutkan dahinya saat tanpa sengaja melihat sesosok siswi yang sangat
familiar duduk didekat halte sembari menunduk memainkan ponsel. Jiwa pemimpin
Daffa meronta-ronta, dengan sigap ia memutar balikkan motornya untuk
menghampiri siswi tersebut.
Dilihatnya itu adalah Sunny. Untuk apa dia nongkrong di
halte? Apa ia lupa jalan ke sekolah? Daffa yang melihat siswi itu adalah Sunny
segera menghampirinya sambil tersenyum setan. Dengan cepat ia mengambil ponsel
milik Sunny membuat sang empu reflek menendang kaki Daffa.
“Arrrgghhh,” seru Daffa membuat Sunny terkejut.
“Eh, maaf Kak. Aku tadi reflek,” sesal Sunny sambil memapah Daffa
yang tengah memegangi tulang keringnya.
“Lo cewek apa cowok, sih? Diajak becanda malah ngajak
berantem,” protes Daffa sambil memberikan ponsel yang diterima dengan cepat
oleh Sunny.
“Ayo gue ajakin main congklak,” celetuk Sunny membuat Daffa menoyor
kepalanya pelan.
“Lo ngapain disini? Udah lupa caranya ke sekolah?” ejek
Daffa sambil tersenyum setan.
“Hmm ... tadinya gue mau pura-pura lupa, tapi berhubung lo
datang planning gue berantakan.
Menyebalkan,” ujar Sunny dengan memelankan kata akhirnya.
“Lo salah harusnya kalau mau bolos jangan nongkrong disini. Anak
paud juga tahu kalau lo bolos,” ujar Daffa mengejek Sunny yang bolosnya terlalu
pintar.
“Ya terus? Lo ngapain disini? Mau ikut bolos juga?” Sunny
menelisik Daffa.
“Seorang ketua OSIS seharusnya menjadi suri tauladan yang
baik bagi rakyatnya. Jadi, kehadiran pengawal disini untuk menjemput doro putri
agar ikut dengan kanda ke sekolah. Kalau tidak nanti adinda akan dihukum oleh
raksasa jahat,” ujar Daffa asal bunyi membuat Sunny menahan tawa.
“Nggak jelas!” sahut Sunny membuat Daffa mendelik tak
percaya.
“Mari Adinda kita berangkat sebelum ninja hatori berjalan
melewati gunung dan lembah-lembah.”
Dan fiks sudah Sunny tak tahan lagi menahan tawanya sedari
tadi. Daffa yang melihat Sunny tertawa lepas hanya karena recehannya pun ikut
tersenyum. Daffa tahu Sunny ada masalah, kerena siapapun pasti akan
__ADS_1
menyadarinya.