Puzzle

Puzzle
Episode 5


__ADS_3

Tak semua yang tertawa akan baik-baik saja, dan tak semua


orang yang pembawa masalah adalah anak sial. Semua tergantung bagaimana cara


kita bersikap menerimanya. Bahkan untuk menyesali semuanya pun tak berguna.


Dianggapnya hidup didunia terlalu sakit untuk dirasakan, meskipun berulang kali


dilakukan. Berpikiran bahwa ia adalah manusia yang paling tersakiti.


Ingin mengakhiri, namun tak sanggup untuk memulai. Cobalah


buka matamu lebar-lebar, tak semua orang yang mengumbar senyuman adalah orang


yang akan baik-baik saja. Mereka mampu menyembunyikan kesedihannya lewat tawa


yang selalu menggema di cakrawala.


Semilir angin malam membuat siapapun yang merasakannya


tenang termasuk Sunny yang memang sengaja ia membuka pintu balkon kamarnya,


membuat angin malam menyeruak seisi kamar. Dengan balutan dress tidur panjang


Sunny melangkah keluar dan bersandar pada pagar pembatas balkon seraya


menggenggam mug yang berisi cokelat panas.


Namun, Sunny mengerutkan dahinya bingung melihat sebuah


mobil mewah yang memasuki pekarangan, tanpa pikir panjang Sunny berlari


mengambil long cardingan dan segera


membuka pintu utama. Angin malam ini cukup kencang hingga Sunny merapatkan cardingan agar tidak tersikap.


Keluarlah seorang laki-laki yang membuat Sunny mendelik tak


percaya dan segera berlari memeluk laki-laki dihadapannya erat. Disamping itu


laki-laki tersebut juga membalas pelukan Sunny tak kalah erat sambil mencium


pucuk kepala Sunny sayang.


Laki-laki dihadapan Sunny adalah Alfianus Regan Fahrizal, ia


adalah abang sekaligus kembaran dari Sunny. Kalian pasti bertanya kenapa mereka


berpisah? Karena kalau nyatu kembar dempet dong. Haha ... enggak kok canda.


Regan memang lebih memilih untuk mengejar beasiswanya ke Eropa, jadi mau tidak


mau Sunny harus merelakan kembarannya itu.


“Abang kok pulangnya nggak bilang,” protes Sunny sambil menggerucutkan


bibirnya lucu.


“Surprise! Abang


sengaja nggak ngabarin kamu. Papah mana?” tanya laki-laki yang Sunny panggil


abang tersebut.


“Papah udah 2 hari nggak pulang,” Sunny meraih koper milik


abangnya.


“Lho? Mamah?” tanya Regan yang memang tidak mengetahui


apapun, sebab semenjak kelas 7 SMP ia sudah dipindahkan ke Eropa untuk


pertukaran pelajar, dan sekarang waktunya ia kembali melanjutkan pendidikannya


di tanah kelahiran yaitu Indonesia.


“Entah,” ujar Sunny acuh tak acuh membuat Regan penasaran


akut.


“Maksud kamu apa?” Regan mencekal pergelangan tangan Sunny

__ADS_1


membuat sang empu menghentikan langkahnya.


“Mamah kabur dan Sunny nggak tahu alasannya. So, don’t ask to me anymore!“ Sunny


menatap wajah Regan datar.


“Why? Kenapa bisa


kamu nggak tahu semuanya, Sun? Kamu selama ini di ....“


“Sunny di HK,” potong Sunny cepat sambil berlari


meninggalkan abangnya yang terdiam tanpa berniat untuk mencegahnya lagi.


∞∞∞


‘Hongkong’ kata itulah yang sejak tadi terngiang dikepala


Regan, sedangkan disisi lain Sunny tengah menuruni tangga dan bersiap untuk


pergi ke sekolah tanpa berniat untuk berpamitan dengan Regan. Biarlah abangnya


itu tahu bahwa selama dia pindah ke Eropa keadaan mansion tak seindah dahulu


saat mamahnya yang bernama Meisyu berdarah Hongkong itu pergi.


Namun, ketika Sunny mencapai tangga akhir ia menyipitkan


matanya melihat sesosok Regan tengah berdiri memperhatikan taman bunga milik


mamahnya dahulu. Semua sudah berbeda taman itu kini berubah menjadi tanaman


pepohonan milik Sunny.


Melihat abangnya syok pun Sunny hanya bisa berharap abangnya


bisa tetap tegar, karena memang diantara Regan dan Sunny yang begitu dekat


hanyalah Regan, dan Sunny hanya bisa menghela nafas mengingat itu semua.


Tanpa Sunny sadari Regan melangkah menghampirinya. Namun


tanpa disangka-sangka setetes kristal bening jatuh mengenai pipi mulusnya


Sunny yang mendapat perlakuan tersebut hanya terdiam tanpa


berniat membalas pelukan abangnya. Dengan gerakan naik-turun Regan mengusap


punggung rapuh adik kecilnya, sebab ia tahu Sunny tidak baik-baik setelah


semalam mengingat semuanya. Ia juga tahu selama ini Sunny hidup sendirian,


meskipun disekelilingnya ada orang Sunny akan tetap merasa sendirian.


“Abang tahu semuanya, Sun. Asisten papah yang cerita, “


Regan melepaskan lingkaran tangannya dari bahu Sunny dan menangkup wajah mungil


adiknya yang telah dibanjiri air mata.


”Maafin abang selama ini udah ninggalin kamu,” lanjut Regan


dengan wajah frustasi.


Sunny tak membalas, ia hanya tersenyum tipis dan sangat


tipis. Jika dilihat sekilas Sunny sepertinya tidak tersenyum. Sunny mengabaikan


Regan. Sunny mendiami Regan. Sunny tak menganggap Regan ada. Semua itu membuat


Regan frustasi didiamkan oleh adik kecilnya. Ia tahu Sunny butuh waktu, tapi


Regan tak rela kalau ia diabaikan oleh Sunny. Separuh jiwa dari dirinya.


Regan tak mencegah. Regan membiarkan Sunny pergi


menjauhinya. Ada apa dengan Regan? Tidak ini bukan tentang siapa yang menjauhi


atau dijauhi, tetapi disini adalah titik dimana kita tetap bertahan dan


menyelesaikan atau pergi dengan meninggalkan luka. Bukan tentang Regan bersedih

__ADS_1


karena kehilangan mamahnya, bukan pula tentang Sunny yang kecewa terhadap


mamahnya.


Disisi lain Daffa tengah melajukan motornya dikecepatan


rata-rata. Dengan lihai ia menyalip mobil-mobil yang ada didepannya. Namun, dia


mengerutkan dahinya saat tanpa sengaja melihat sesosok siswi yang sangat


familiar duduk didekat halte sembari menunduk memainkan ponsel. Jiwa pemimpin


Daffa meronta-ronta, dengan sigap ia memutar balikkan motornya untuk


menghampiri siswi tersebut.


Dilihatnya itu adalah Sunny. Untuk apa dia nongkrong di


halte? Apa ia lupa jalan ke sekolah? Daffa yang melihat siswi itu adalah Sunny


segera menghampirinya sambil tersenyum setan. Dengan cepat ia mengambil ponsel


milik Sunny membuat sang empu reflek menendang kaki Daffa.


“Arrrgghhh,” seru Daffa membuat Sunny terkejut.


“Eh, maaf Kak. Aku tadi reflek,” sesal Sunny sambil memapah Daffa


yang tengah memegangi tulang keringnya.


“Lo cewek apa cowok, sih? Diajak becanda malah ngajak


berantem,” protes Daffa sambil memberikan ponsel yang diterima dengan cepat


oleh Sunny.


“Ayo gue ajakin main congklak,” celetuk Sunny membuat Daffa menoyor


kepalanya pelan.


“Lo ngapain disini? Udah lupa caranya ke sekolah?” ejek


Daffa sambil tersenyum setan.


“Hmm ... tadinya gue mau pura-pura lupa, tapi berhubung lo


datang planning gue berantakan.


Menyebalkan,” ujar Sunny dengan memelankan kata akhirnya.


“Lo salah harusnya kalau mau bolos jangan nongkrong disini. Anak


paud juga tahu kalau lo bolos,” ujar Daffa mengejek Sunny yang bolosnya terlalu


pintar.


“Ya terus? Lo ngapain disini? Mau ikut bolos juga?” Sunny


menelisik Daffa.


“Seorang ketua OSIS seharusnya menjadi suri tauladan yang


baik bagi rakyatnya. Jadi, kehadiran pengawal disini untuk menjemput doro putri


agar ikut dengan kanda ke sekolah. Kalau tidak nanti adinda akan dihukum oleh


raksasa jahat,” ujar Daffa asal bunyi membuat Sunny menahan tawa.


“Nggak jelas!” sahut Sunny membuat Daffa mendelik tak


percaya.


“Mari Adinda kita berangkat sebelum ninja hatori berjalan


melewati gunung dan lembah-lembah.”


Dan fiks sudah Sunny tak tahan lagi menahan tawanya sedari


tadi. Daffa yang melihat Sunny tertawa lepas hanya karena recehannya pun ikut


tersenyum. Daffa tahu Sunny ada masalah, kerena siapapun pasti akan

__ADS_1


menyadarinya.


__ADS_2