
“Anjir! Panas oy panas,” keluh Nathan sambil mengibasi
seragamnya yang sudah terbuka dua kancing bagian atas. Menyisakan kaos hitam
polos yang dibasahi oleh keringat.
“Bangsul! Keringet lo bikin gue mabok,” sungut Reyvan kesal
pada Hito yang melempar seragam tepat pada wajahnya.
Alva pun tertawa geli melihat wajah Reyvan yang pias, rasa
ingin muntah pun membuat laki-laki itu sering kali menutup mulutnya dengan
tangan kanan.
Daffa pun menepuk bahu Reyvan pelan sambil berujar, “Lo ke
UKS aja sana. Ngga lucu kalau pingsan di sini.”
Dari sebanyaknya sahabat yang Reyvan punya, hanya Daffa dan
Kenzo yang mengetahui dirinya sedikit sensitif. Bisa dikatakan bahwa dirinya
ini sangat lebay, namun percayalah sebenarnya ia juga muak mempunyai sifat
menyusahkan seperti ini.
“Nggak, Daf. Masa lo semua dihukum, gue malah enak-enakan
duduk di UKS,” tolak Reyvan halus.
“Tapi, Van. Gue lihat muka lo udah nggak enak banget itu,”
sanggah Daffa yang tetap pada pendiriannya.
“Net, anterin Reyvan ke UKS!” perintah Kenzo singkat.
Netta yang mendengar perintah dari Kenzo hanya mendengus
keras-keras, lalu menatap laki-laki cuek itu dengan tatapan membunuh.
“Ngeri ya lihat tatapan Netta yang tsades. Berasa lihat
mafia,” celetuk Nathan membuat Hito mengangguk setuju.
“Gue sering jadi korban percobaan dia,” ujar Hito ambigu.
“Anying! Percobaan apaan lo? Waaah, jangan-jangan ....,”
sahut Alva yang menggantungkan kalimatnya.
“Itu otak apa comberan. Kotor amat!” ketus Hito sebal.
Alva pun menatap Hito sinis.
Di tengah perdebatan Alva dengan Hito, tiba-tiba seorang
siswi datang ke arah mereka. Dengan beberapa buku dan kertas yang berada di
pelukannya.
“Gue di sini atas suruhan Bu Dayut. Jadi, tolong kalian
hargain gue!” papar Elvita dengan penuh penekanan.
Nathan menyahut semangat, “Asyik, El. Mau dong dipeluk
gitu!”
Bagai disambar petir, mulut Nathan tiba-tiba menutup rapat,
melihat tatapan Elvita setajam silet.
Kenzo yang sejak tadi memandangi cara bicara Elvita pun
mulai tersenyum kecil. Lucu, pikirnya.
“Jangan nge-bacod dulu, Nath. Tadi Elvita bilang sama gue
kalau dia lagi nggak mood,” sahut
Daffa pelan.
Nathan mengerutkan dahinya kesal. “Yah. Nggak asih nih.”
__ADS_1
∞∞∞
“Gue penasaran itu ada apaan rame-rame,” celetuk Maurin
sambil menunjuk sekumpulan murid-murid bertag XII.
“Kayaknya mereka di hukum deh,” sahut Keyra sambil
mengusap-usap dahu mungilnya.
Ayrin yang biasanya diam kini bersuara, “Itu yang barusan Bu
Dayut bilang. Kelas yang tadi di sebelah kita itu.”
“Ah! Yang tadi dangdutan nggak tahu tempat ya,” tebak Sunny
yang diangguki Ayrin.
“Bujug busrak! Kakak kelas yang nyampah tadi? Astaga, mau
jadi apa genegrasi bangsa jika seperti itu. Contoh generasi yang perlu
dipertanyakan,” sahut Maurin sambil menggelengkan kepalanya prihatin.
Keyra menoyor kepala Maurin pelan. “Bacodan lo udah kayak
orang bener aja.”
“Eits! Perkataanmu cerminan dirimu,” sahut Maurin pongah.
“Sok iye lo pada!” pungkas Sunny membuat sahabatnya
mendengus keras-keras.
Akhirnya, mereka pun pergi meninggalkan koridor taman
belakang. Sepertinya istirahat kali ini akan sepi pengunjung, sebab kakak kelas
mereka ada yang tengah dihukum. Menjadikan kantin lumayan sepi. Ini adalah hal
keberuntungan bagi Maurin yang tidak perlu bersusah payah mencari tempat untuk
dirinya. Karena para lelaki yang biasanya menggoda kini tak ada.
Dengan langkah ringan, Maurin meloncat-loncat kecil memasuki
Sejenak Maurin melupakan emosinya, perut laparnya kini lebih mendominan untuk
segera memesan batagor Mang Uun.
Sunny yang biasanya hanya sekedar memesan jus alpukat kini
dapat leluasa memesan sempol ayam kesukaannya. Selain murah, sempolnya pun
enak.
Ayrin pun sudah bertengger manis di meja tepat menghadap
pintu kantin, sambil menyuapi bakso satu per satu. Sangat nikmat jika kantin
seperti ini setiap hari.
“Gile! Biasanya gue ngantri mesen es krim bisa ampe masuk
kelas. Lah coba sekarang, baru juga ngantri udah dapet,” celetuk Keyra sambil
tertawa kecil.
Ayrin mengangguk setuju, membuat Keyra menandaskan es
krimnya dengan cepat.
“Hari ini kita merayakan tanpa adanya pengganggu, yo!” seru
Maurin sambil menenteng sebuah nampan dengan ukuran lumayan besar.
Saking semangatnya hingga tanpa sadar sebuah kaki dengan
sengaja menjulur ke depan. Guna menyelengkat kaki Maurin.
Brak
Nampan besar beserta batagor dengan beberapa piring jatuh
tak berdaya di atas lantai kantin. Tubuh Maurin pun bergetar hebat di dalam
__ADS_1
pelukan Alva. Kebetulan sekali laki-laki itu sempat melihat langkah Maurin yang
tepat di depannya adalah kaki jenjang milik Cyra.
Mata Maurin berkaca-kaca menatap pecahan piring yang tengah
dibersihkan oleh tukang kebun sekolah. Dengan tangan bergetar hebat, ia
menyentuh lengan kekar Alva dan memeluknya erat. Menumpahkan segala ketakutannya.
Pikirannya melayang jika ia benar-benar jatuh di sana.
“Udah nggak papa, ada gue. Lo baik-baik aja, ‘kan?” tanya
Alva pelan.
Maurin mengangguk kecil, namun tak urung perempuan itu
semakin deras tangisannya.
Melihat kejadian menjijikkan di depan matanya, Cyra pun
segera menarik Maurin dari pelukan Alva.
“Apa-apaan sih! Lebay banget segala pake nangis,” celetuk
Cyra sebal.
“Singkirin tangan kotor lo dari gue, bangsad!” ujar Maurin
tajam.
Dengan sengaja Cyra mengibaskan tangan Maurin dengan keras. Tentu
saja hal tersebut tak luput dari pemandangan Sunny, yang sudah sejak tadi
ditahan Keyra agar tak menjadikan suasana semakin runyam.
“Lepasin gue, Key!” bentak Sunny tak terima.
“Nggak!” jawab Keyra yang tak kalah keras dengan Sunny.
Cyra maju selangkah mendekati Maurin. “Lo itu cuma cewek
penakut yang selalu manfaatin keberanian Sunny. Apa lo sadar selama ini lo udah
nyusahin dia?” tanya Cyra pelan, namun menusuk.
“Bacodan lo boleh gede, tapi ingat! Nyali lo ciut hanya
sekedar melawan gue,” lanjutnya sambil tertawa kecil.
Melihat keributan dari arah kantin Daffa pun segera
menyusulnya. Sebagai ketos, ia merasa tak dihargai jika ada salah satu warganya
yang membuat keributan. Apalagi di jam istirahat seperti ini.
“Cyra! Bawa berita apa lagi lo setelah menghasut Sunny
dengan mengatasnamakan sepupu gue?” tanya Daffa santai dengan memasukkan ke dua
tangannya di dalam saku celanan abu-abu.
Cyra menoleh ke arah Daffa dengan tatapan terkejut.
Alva menatap Cyra dengan tatapan tak terbaca, lalu segera menggendong
Maurin ala bridal style dan melangkah
keluar dari kantin. Sontak saja Maurin terkejut dan mengalungkan ke dua tangannya
pada leher jenjang milik Alva.
Akhirnya Ayrin bisa bernapas lega. Sesaat sebelumnya ia
was-was pada emosi Sunny yang mudah tersulut. Pandangannya jatuh pada remaja
yang tengah Keyra dinginkan. Wajahnya yang memerah karena emosi tercetak jelas.
“Lo cantik, Ra! Tapi sayang, kelakukan minus lo yang nutupin
itu semua.”
Setelah mengantakan itu, Daffa pun meninggalkan kantin.
__ADS_1
Sesaat pandangannya jatuh pada Sunny yang terlihat sangat emosi. Tanpa aba-aba
laki-laki itu menarik Sunny, membawanya pergi dari panasnya hawa kantin.