Puzzle

Puzzle
Episode 21


__ADS_3

“Anjir! Panas oy panas,” keluh Nathan sambil mengibasi


seragamnya yang sudah terbuka dua kancing bagian atas. Menyisakan kaos hitam


polos yang dibasahi oleh keringat.


“Bangsul! Keringet lo bikin gue mabok,” sungut Reyvan kesal


pada Hito yang melempar seragam tepat pada wajahnya.


Alva pun tertawa geli melihat wajah Reyvan yang pias, rasa


ingin muntah pun membuat laki-laki itu sering kali menutup mulutnya dengan


tangan kanan.


Daffa pun menepuk bahu Reyvan pelan sambil berujar, “Lo ke


UKS aja sana. Ngga lucu kalau pingsan di sini.”


Dari sebanyaknya sahabat yang Reyvan punya, hanya Daffa dan


Kenzo yang mengetahui dirinya sedikit sensitif. Bisa dikatakan bahwa dirinya


ini sangat lebay, namun percayalah sebenarnya ia juga muak mempunyai sifat


menyusahkan seperti ini.


“Nggak, Daf. Masa lo semua dihukum, gue malah enak-enakan


duduk di UKS,” tolak Reyvan halus.


“Tapi, Van. Gue lihat muka lo udah nggak enak banget itu,”


sanggah Daffa yang tetap pada pendiriannya.


“Net, anterin Reyvan ke UKS!” perintah Kenzo singkat.


Netta yang mendengar perintah dari Kenzo hanya mendengus


keras-keras, lalu menatap laki-laki cuek itu dengan tatapan membunuh.


“Ngeri ya lihat tatapan Netta yang tsades. Berasa lihat


mafia,” celetuk Nathan membuat Hito mengangguk setuju.


“Gue sering jadi korban percobaan dia,” ujar Hito ambigu.


“Anying! Percobaan apaan lo? Waaah, jangan-jangan ....,”


sahut Alva yang menggantungkan kalimatnya.


“Itu otak apa comberan. Kotor amat!” ketus Hito sebal.


Alva pun menatap Hito sinis.


Di tengah perdebatan Alva dengan Hito, tiba-tiba seorang


siswi datang ke arah mereka. Dengan beberapa buku dan kertas yang berada di


pelukannya.


“Gue di sini atas suruhan Bu Dayut. Jadi, tolong kalian


hargain gue!” papar Elvita dengan penuh penekanan.


Nathan menyahut semangat, “Asyik, El. Mau dong dipeluk


gitu!”


Bagai disambar petir, mulut Nathan tiba-tiba menutup rapat,


melihat tatapan Elvita setajam silet.


Kenzo yang sejak tadi memandangi cara bicara Elvita pun


mulai tersenyum kecil. Lucu, pikirnya.


“Jangan nge-bacod dulu, Nath. Tadi Elvita bilang sama gue


kalau dia lagi nggak mood,” sahut


Daffa pelan.


Nathan mengerutkan dahinya kesal. “Yah. Nggak asih nih.”

__ADS_1


∞∞∞


“Gue penasaran itu ada apaan rame-rame,” celetuk Maurin


sambil menunjuk sekumpulan murid-murid bertag XII.


“Kayaknya mereka di hukum deh,” sahut Keyra sambil


mengusap-usap dahu mungilnya.


Ayrin yang biasanya diam kini bersuara, “Itu yang barusan Bu


Dayut bilang. Kelas yang tadi di sebelah kita itu.”


“Ah! Yang tadi dangdutan nggak tahu tempat ya,” tebak Sunny


yang diangguki Ayrin.


“Bujug busrak! Kakak kelas yang nyampah tadi? Astaga, mau


jadi apa genegrasi bangsa jika seperti itu. Contoh generasi yang perlu


dipertanyakan,” sahut Maurin sambil menggelengkan kepalanya prihatin.


Keyra menoyor kepala Maurin pelan. “Bacodan lo udah kayak


orang bener aja.”


“Eits! Perkataanmu cerminan dirimu,” sahut Maurin pongah.


“Sok iye lo pada!” pungkas Sunny membuat sahabatnya


mendengus keras-keras.


Akhirnya, mereka pun pergi meninggalkan koridor taman


belakang. Sepertinya istirahat kali ini akan sepi pengunjung, sebab kakak kelas


mereka ada yang tengah dihukum. Menjadikan kantin lumayan sepi. Ini adalah hal


keberuntungan bagi Maurin yang tidak perlu bersusah payah mencari tempat untuk


dirinya. Karena para lelaki yang biasanya menggoda kini tak ada.


Dengan langkah ringan, Maurin meloncat-loncat kecil memasuki


Sejenak Maurin melupakan emosinya, perut laparnya kini lebih mendominan untuk


segera memesan batagor Mang Uun.


Sunny yang biasanya hanya sekedar memesan jus alpukat kini


dapat leluasa memesan sempol ayam kesukaannya. Selain murah, sempolnya pun


enak.


Ayrin pun sudah bertengger manis di meja tepat menghadap


pintu kantin, sambil menyuapi bakso satu per satu. Sangat nikmat jika kantin


seperti ini setiap hari.


“Gile! Biasanya gue ngantri mesen es krim bisa ampe masuk


kelas. Lah coba sekarang, baru juga ngantri udah dapet,” celetuk Keyra sambil


tertawa kecil.


Ayrin mengangguk setuju, membuat Keyra menandaskan es


krimnya dengan cepat.


“Hari ini kita merayakan tanpa adanya pengganggu, yo!” seru


Maurin sambil menenteng sebuah nampan dengan ukuran lumayan besar.


Saking semangatnya hingga tanpa sadar sebuah kaki dengan


sengaja menjulur ke depan. Guna menyelengkat kaki Maurin.


Brak


Nampan besar beserta batagor dengan beberapa piring jatuh


tak berdaya di atas lantai kantin. Tubuh Maurin pun bergetar hebat di dalam

__ADS_1


pelukan Alva. Kebetulan sekali laki-laki itu sempat melihat langkah Maurin yang


tepat di depannya adalah kaki jenjang milik Cyra.


Mata Maurin berkaca-kaca menatap pecahan piring yang tengah


dibersihkan oleh tukang kebun sekolah. Dengan tangan bergetar hebat, ia


menyentuh lengan kekar Alva dan memeluknya erat. Menumpahkan segala ketakutannya.


Pikirannya melayang jika ia benar-benar jatuh di sana.


“Udah nggak papa, ada gue. Lo baik-baik aja, ‘kan?” tanya


Alva pelan.


Maurin mengangguk kecil, namun tak urung perempuan itu


semakin deras tangisannya.


Melihat kejadian menjijikkan di depan matanya, Cyra pun


segera menarik Maurin dari pelukan Alva.


“Apa-apaan sih! Lebay banget segala pake nangis,” celetuk


Cyra sebal.


“Singkirin tangan kotor lo dari gue, bangsad!” ujar Maurin


tajam.


Dengan sengaja Cyra mengibaskan tangan Maurin dengan keras. Tentu


saja hal tersebut tak luput dari pemandangan Sunny, yang sudah sejak tadi


ditahan Keyra agar tak menjadikan suasana semakin runyam.


“Lepasin gue, Key!” bentak Sunny tak terima.


“Nggak!” jawab Keyra yang tak kalah keras dengan Sunny.


Cyra maju selangkah mendekati Maurin. “Lo itu cuma cewek


penakut yang selalu manfaatin keberanian Sunny. Apa lo sadar selama ini lo udah


nyusahin dia?” tanya Cyra pelan, namun menusuk.


“Bacodan lo boleh gede, tapi ingat! Nyali lo ciut hanya


sekedar melawan gue,” lanjutnya sambil tertawa kecil.


Melihat keributan dari arah kantin Daffa pun segera


menyusulnya. Sebagai ketos, ia merasa tak dihargai jika ada salah satu warganya


yang membuat keributan. Apalagi di jam istirahat seperti ini.


“Cyra! Bawa berita apa lagi lo setelah menghasut Sunny


dengan mengatasnamakan sepupu gue?” tanya Daffa santai dengan memasukkan ke dua


tangannya di dalam saku celanan abu-abu.


Cyra menoleh ke arah Daffa dengan tatapan terkejut.


Alva menatap Cyra dengan tatapan tak terbaca, lalu segera menggendong


Maurin ala bridal style dan melangkah


keluar dari kantin. Sontak saja Maurin terkejut dan mengalungkan ke dua tangannya


pada leher jenjang milik Alva.


Akhirnya Ayrin bisa bernapas lega. Sesaat sebelumnya ia


was-was pada emosi Sunny yang mudah tersulut. Pandangannya jatuh pada remaja


yang tengah Keyra dinginkan. Wajahnya yang memerah karena emosi tercetak jelas.


“Lo cantik, Ra! Tapi sayang, kelakukan minus lo yang nutupin


itu semua.”


Setelah mengantakan itu, Daffa pun meninggalkan kantin.

__ADS_1


Sesaat pandangannya jatuh pada Sunny yang terlihat sangat emosi. Tanpa aba-aba


laki-laki itu menarik Sunny, membawanya pergi dari panasnya hawa kantin.


__ADS_2