Puzzle

Puzzle
Episode 4


__ADS_3

Sinar mentari mengintip malu-malu pada remaja cantik yang tengah bergelut dengan tidur panjangnya, terlintas cahaya yang masuk membuat ia mengerjapkan mata.


"Jam berapa ini?" gumamnya sambil meraba disisi kasurnya.


Setelah mendapatkan apa yang ia cari remaja cantik itu segera menyalakan ponselnya yang menunjukkan tepat di angka 7. Spontan ia pun terjengit dan cepat-cepat mengambil seragam sekolahnya yang tergeletak tak berdaya dibawah lemari.


"Ya ampun! Kok bisa sih alarm gue gak nyala," Sunny mengikat rambutnya asal dan terburu-buru menuruni


tangga.


"Syaland! Ingin rasanya gue punya mesin waktu doraemon," lanjutnya yang buru-buru mengeluarkan mobil


kesayangannya.


Detik-detik inilah yang paling Sunny benci, macetnya ibukota membuat gadis bersurai panjang itu menggerutu, "Ini


macet kapan selesainya, sih? Apa gue bolos aja kali, ya." Seraya mengetuk-ngetuk stir mobil, "Tapi kalau papah tahu gue bolos bisa ditendang juga."


Kini Sunny tengah berdiri depan gerbang sekolahnya dengan langkah pelan ia menghampiri satpam yang tengah menikmati kopi hitamnya sambil berdendang ria. Gerakan absurdnya pun ia tunjukan membuat Sunny menarik nafasnya dalam-dalam agar tidak merusak suasana ceria satpam itu.


"Permisi, pak!" ujar Sunny pelan membuat satpam itu menoleh kesal.


"Terlambat lagi?" tebaknya membuat Sunny mendelik sebal


"Maaf, Pak! Tapi saya murid baru disini, bagaimana bisa bapak menilai saya hanya karena terlambat setengah


jam."


"Oh, jadi kamu anak baru. Sudah tahu jadwal sekolah masuk jam berapa? Kenapa masih terlambat?"


"Dirumah saya gak ada orang, Pak. Alarm saya juga mati."


"Tidak ada alasan. Enak saja kamu sudah telat minta masuk pula."


Sunny yang melihat satpamnya berlalu hanya bisa mendengus dan menendang batu kerikil yang lumayan besar. Tetapi, naas batu tersebut mengenai seorang laki-laki yang memang kebetulan melintas tak jauh darinya.


Tak!


Suara benturan batu dengan dahi membuat sang empu mengusap-usap sambil menoleh kanan-kiri mencari pelaku yang sudah membuat dahinya sedikit memar. Namun, ia segera menyipitkan mata melihat seorang siswi yang tengah membelakanginya.


"Woy! Sini lo!" seru laki-aki tersebut membuat Sunny menolehkan kepalanya bingung. "Sunny? Lo telat hari ini?"

__ADS_1


"Kak Daffa? Lo lihat sendirikan gue berdiri didepan gerbang sambil nenteng tas. Kalau gue udah masuk nggak mungkin disini," ujar Sunny kesal.


"Lo boleh masuk, tapi ada hukumannya. Pak, bisa tolong bukain gerbangnya," perintah Daffa yang diangguki satpam.


Sunny yang melihat satpam menyebalkan itu hanya bisa mencibir pelan membuat Daffa menggeleng tak percaya melihat remaja cantik didepannya.


“Ayo, gue punya hukuman yang cocok buat lo. Terima kasih, Pak!” Daffa menarik pelan pergelangan tangan Sunny.


"Bahlul!" umpat Sunny pelan.


Daffa yang mendengar umpatan Sunny hanya tersenyum kecil dan mengabaikannya. Mereka pun melintasi koridor demi koridor hingga membuat Sunny sedikit pusing melihat jalan yang tak kunjung habis.


"Lo bersihin ruang musik sampai bersih dan kalau udah selesai lo lanjut lagi ke ruang gym," ujar Daffa yang mendapat pelolotan galak dari Sunny. "Satu lagi, jangan coba-coba buat kabur!"


“Nggak ada hukuman seperti makan batagor dipagi hari apa?” celetuk Sunny asal yang dihadiahi toyoran kecil dikepalanya.


Dengan sangat berat hati Sunny membuka pintu ruang musik terlebih dahulu, terlihat banyak debu diruangan ini hingga membuat Sunny mengipasi wajahnya dan terbatuk-batuk akibat debu sialan itu.


"Ini ruangan gak dibuka berapa abad, sih! Debunya bikin gue bersin-bersin, kenapa juga gue harus pake telat segala," Sunny mengusap-usap hidungnya sambil meraih mesin penyedot debu khusus untuk alat musik.


Acara hukuman terkutuknya pun selesai, Sunny yang merasa sangat lelah pun merebahkan diri dilantai ruang gym sambil memejamkan mata. Namun, matanya menyipit melihat sebuah gitar akustik yang tergeletak tak berdaya.


"Eh, ada gitar akustik. Kok tadi gue nggak sempet lihat ya," gumam Sunny sambil meraih gitar tersebut dan


Petikkan demi petikkan mengalun indah membuat sang empu memejamkan mata menikmatinya, "Udah lama gue gak nyanyi, dan skill main gitar gue juga gak buruk-buruk banget."


Baby, take my hand


I want you to be my husband


Cause you're my Iron Man


And I love you three thousand


Baby, take a change


Cause I want this to be


something


Straight out of a Hollywood

__ADS_1


movie....


 


 


Prok prok prok


Suara tepukan tangan itu membuat Sunny menoleh dan terkejut Daffa yang memperhatikannya dari balik pintu. Sunny yangmasih terduduk dilantai sembari memangku gitar hanya bisa memandang Daffa yang menghampirinya.


"I love you three thousand," ujar Daffa membuat Sunny bingung. "Suara lo bagus dan gitar punya gue juga


ternyata masih bisa dipakai," lanjutnya sambil meraih gitar.


"Ini punya lo?" tanya Sunny yang diangguki Daffa.


"Lo boleh ke kelas, dan besok berangkat lebih pagi atau gue bakal ngasih hukuman lebih dari ini!" ancam Daffa mendelik tak percaya.


"Sialan! Gue nggak akan terlambat lagi besok,” ujar Sunny mantap.


“Oke gue pegang kata-kata lo,” sahut Daffa santai.


“Gue ke kelas, Kak. Baik-baik disini takutnya lo ketempelan jin iprit,” canda Sunny yang dihadiahi buntelan kertas


tepat mengenai dahinya.


“Eh, kena ya. Gue kira lo udah keluar,” Daffa dengan wajah tanpa dosanya.


Sunny hanya bisa mendengus keras-keras dan pergi meninggalkan ruang gym tersebut dan berjalan. “Ini gue jalan kearah mana, ya? Sekolahnya nggak punah denah apa sih! Kesel gue lama-lama belum hapal sama sekali,” gerutu Sunny sambil melangkah entah kemana tujuannya.


Setelah berputar-putar mengelilingi koridor, akhirnya Sunny pun menyerah. Lelah sudah kakinya untuk melangkah, dan kebetulan pula ia melihat kantin yang terasa asing untuknya. Dilihatnya kantin tersebut lumayan besar daripada kantin yang biasa ia pergi bersama sahabatnya.


“Ini kantin mana penjaganya,” Sunny menggaruk kepalanya tak gatal.


“Lo siapa?” tanya seseorang yang berada dibelakang Sunny.


“Ah! Gue mau beli minum, tapi penjaganya nggak ada. Lo siapa?” tunjuk Sunny sambil memasang wajah bingung.


“IPS dilarang ke sini,” ujarnya menatap Sunny tajam.


“Maaf aja nih. Masnya, saya cuma beli minum dan itu beli sendiri dibayar pakai uang bukan ngutang. Kenapa nggak boleh kesini? Emangnya ini kantin punya siapa? Presiden? Atau kantin yang nggak dijual hanya untuk pajangan,” ujar Sunny asal mengabaikan tatapan tajam dari laki-laki didepannya.

__ADS_1


“Gak penting.”


“Dih! Sok dingin banget sih lo. Eh masnya saya bilangin ya, cowok dingin idaman cewek itu adanya didunia orange. Lah sedangkan Masnya? Haduh jangan mimpi dikejar cewek deh!” Sunny menepuk pundak pria itu pelan dan dibalas tepisan kasar membuatnya mendelik tak percaya.


__ADS_2