
Setelah pergulatan tadi, Keyra sama sekali tak beranjak dari
tempat duduknya. Bahkan Sunny yang biasanya menyusul kini tak terlihat batang
hidungnya sama sekali. Tentu saja hal tersebut membuat Keyra sedikit kesal,
namun ia pula tak bisa egois hanya untuk diperhatikan.
Tanpa sadar Nathan memasuki lapangan indoor sambil mendrible bola basketnya, lalu dengan gerakan gesit
ia memasukkannya ke dalam ring. Menimbulkan suara gemerincing yang mengejutkan
Keyra.
“Anying, itu apaan dih?” gumam Nathan pelan sambil menatap
objek itu takut-takut.
Keyra yang merasa terusik pun merangkak keluar, namun karena
kecerobohannya kini rok yang tadinya berwarna putih menjadi bendera Jepang,
dengan noda merah tepat pada bagian belakangnya. Sontak Keyra meringsek ke
dalam. Sungguh ia sangat ceroboh hingga tak menyadari bahwa dirinya tengah
datang bulan.
Tak kunjung keluar, Nathan pun merasa penasaran. Ia juga
mencoba berpikir logis untuk tidak mengira-ngira itu adalah hantu. Untuk apa
disiang bolong ada hantu bangun. Jika iya, mungkin satu sekolah akan kesurupan
massal.
“Pergi jauh-jauh lo!” Keyra berteriak dengan begitu keras.
Nathan hampir saja menjatuhkan jantung mungilnya akibat
suara membahana Keyra yang sangat mengejutkan Nathan.
“Anjir, tuh cewek gue kira setan,” celetuk Nathan pelan.
Keyra mendengar celetukan Nathan segera merangkak keluar
sambil berseru riang, “Kak Nathan, bisa pinjam jaketnya?”
Nathan mengerutkan dahinya bingung. “Buat apa?”
“Anu ... hem ... buat ... anu lho,” kata Keyra terbata-bata
berusaha menahan rona merah di wajahnya.
“Apaan sih?” sela Nathan tanpa menunggu terusan dari Keyra.
“Ish, jangan dipotong dulu. Gue pinjam jaket lo, besok gue
balikin seriusan,” bujuk Keyra tanpa memberi tahu alasannya.
“Nih.” Nathan menyerahkan jaketnya, namun Keyra tak kunjung
meraihnya.
“Anu ... bisa dibawa ke sini, Kak? Gue lagi nggak bisa
bangun,” alibi Keyra dengan wajah memerah.
“Lo kepanasan ya?” tebak Nathan sok tahu.
Gelengan keras dari Keyra membuat Nathan menggaruk kepalanya
bingung.
“Itu muka lo merah banget. Apa alergi debu?” tanya Nathan
dengan wajah tanpa dosanya.
Keyra memekik tertahan sambil menyambar cepat jaket yang
tengah Nathan ulurkan padanya. Lalu, ia letakkan manis di pinggang mungilnya.
“Makasih, Kak Nath. Besok gue balikin,” kata Keyra yang
diakhiri senyum manisnya.
“Balikinnya pakai hati boleh nggak?” celetuk Nathan
memamerkan gigi putih rapihnya.
__ADS_1
“Hah?” Keyra menyahut bodoh.
“Nggak,” sanggah Nathan cepat.
∞∞∞
Tak pernah terpikirkan oleh Sunny bisa terjebak di ruang biadab
selain mansion. Nyatanya ruang kepsek sangatlah membosankan, jika bukan karena
keributan Keyra. Ia malas jika harus berurusan dengan Bu Saydah. Bukannya
malas, Sunny hanya menghindari omelan kepsek killer di sekolah tersebut.
“Iya, Bu.” Itulah kata yang sejak tadi Sunny ucapkan, baik yang
ia dengar ataupun tidak. Yang penting ia sudah menyahut, meskipun ia tak
mengerti dari ocehan panjang lebar itu.
“Ya sudah, kamu boleh ke kelas. Ingat! Besok jangan
diulangi,” tandas Bu Saydah tegas.
Sunny pun mengangguk singkat dan pergi meninggalkan ruangan
tersebut dengan hati yang berbunga-bunga.
“Akhirnya gue bebas dari algojo,” gemam Sunny sambil
tersenyum riang.
Langkah kaki Sunny mengarah tanpa tujuan. Ia terus melangkah
menyusuri koridor yang tak ada habisnya. Dalam pikirannya berkecamuk
membayangkan sekolah ini terjadi kebakaran atau bencana alam lainny. Sudah
pasti banyak warga sekolah yang tersesat di dalam.
Dari banyaknya lokasi di sekolah ini tak ada satu pun orang
yang mengerti letak-letak dengan seksama, walaupun itu tukang kebun sekolah.
Percayalah, sekolah ini luasnya masya
Allah. Siapa pun yang memasuki sekolah ini jangan harap bisa keluar dengan
Saking asyiknya membayangkan sekolah barunya yang terkesan
berlebihan, Sunny pun tak memperhatikan langkah di depannya. Hingga tanpa
sengaja ia menabrak salah satu murid laki-laki yang tengah bergurau dengan
temannya.
“Eh, sorry gue
nggak sengaja.” Sunny menatap punggung tegap itu takut-takut.
Sementara teman laki-laki itu menatap Sunny dengan tatapan
intimidasi. Tentu saja hal tersebut membuat perempuan cepol yang tengah memilin
tangannya tak nyaman.
“Wuih, cewek! Bening, ah. Jadi pengen gue karungin,” celetuk
salah satu laki-laki yang menatap Sunny dengan memuja.
Teman satunya pun ikut menyahut, “Gacor, euy! Tapi bukannya
lo punya bini, Jel?”
Laki-laki yang disapa Jeldi pun memamerkan senyum
menawannya. “Halah satu mah kurang mantep.”
“Eling woy! Jelalatan ae lu pada,” sindir laki-laki dengan
seragam bagian lengannya dilipat pendek.
Sunny mengabaikan semua celetukan itu, tatapannya terfokus
pada laki-laki yang sedari tadi mengabaikan dirinya. Sebenarnya, bukan salah ia
juga jika menabrak seperti ini, tetapi ia harus meminta maaf. Selain mengurangi
dosa, tentu ia pasti akan dapat kenalan lagi.
__ADS_1
“Buset, Nip! Lo anggurin cecan?” seru Jeldi tak percaya.
Bara menggeleng pelan. “Kapan Si Hanip bisa menatap seorang
perempuan itu sebagai puteri? Lo lupa kalau doi emang sering begini.”
Sunny yang merasa diabaikan pun memutuskan untuk pergi saja.
Lagipula percuma, jika ia meminta maaf namun diabaikan. Lebih baik ia
menongkrong di kantin, selain damai hati pun kenyang. Daripada diam berdiri tak
jelas dan hanya dijadikan objek godaan ole laki-laki genit di depannya.
“Sorry, ya. Gue
pamit,” kata Sunny sambil melenggang pergi.
∞∞∞
“Queen, lo mau ngantin, ‘kan?” tebak Sunny saat menghampiri
Maurin yang terlihat berjalan sendirian ke arah kantin.
Dengan berlari kecil Sunny menyusul perempuan yang sering di
sapa Queen oleh para sahabatnya. Melihat sahabat karibnya mendekat, Maurin pun
tersenyum senang. Akhirnya ia tak jadi berjalan sendirian.
“Untung lo datang, Sun. kalau nggak mungkin gue bakal muter
balik menghindari segerombolan kakak kelas resek,” sahut Maurin dengan wajah
cemberut.
Sunny menatap Maurin lucu. Sepertinya perempuan itu sedang
menghindari laki-laki yang memang membuat dirinya kesal sendiri. Berbanding
balik dengan perempuan lainnya yang gemar digoda laki-laki, sepertinya yang
gemar digoda adalah perempuan kurbel yang mengharapkan kasih sayang sana sini.
Sebut saja dia murahan, hahaha.
“Aelah punya pacar banyak masih aja hindarin cowok,” sindir
Sunny tak acuh.
“Beda itu, gengs. Kalau cowoknya yang biasa gue lihat mah
nggak bakal nolak. Tapi, kalau yang buluk kayak di sekolah, gue sih
mikir-mikir. Ogah banget punya pacar satu sekolah,” decih Maurin sambil
mengibaskan tangannya.
“Nggak boleh gitu, nanti lo demen sama Kak Alva baru tahu.
Kan lo sekarang lagi mode pdkt sama doi,” goda Sunny sambil menoel-noel pipi
gembil Maurin yang memerah.
“Apaan, sih! Nggak jelas lo,” tandas Maurin sambil
melenggang pergi meninggalkan Sunny yang tertawa kencang sekali.
“Najis, Maurin salah tingkah!” teriak Sunny keras-keras
membuat seluruh penghuni koridor menatap dirinya dengan bingung dan tak
mengerti.
“Bukan temen gue lo, vangsad!” sahut Maurin dengan tak kalah
kerasnya dengan Sunny.
Tanpa mereka sadari ada Alva yang sejak tadi sudah
memperhatikan mereka sejak tadi. Padahal jika Maurin dan Sunny jeli, pasti
mereka menyadari Alva berada di salah satu gerombolan siswi yang tengah
mengerumuni dirinya.
“Kak Alva lagi dekat sama Maurin, ya?” celetuk salah satu
siswi itu membuat siswi lainnya menatap Alva penasaran.
__ADS_1
Namun, bukannya menjawab. Alva lebih memilih meninggalkan
mereka dengan senyum yang selalu terpatri di wajah tampannya.