Puzzle

Puzzle
Episode 24


__ADS_3

Setelah pergulatan tadi, Keyra sama sekali tak beranjak dari


tempat duduknya. Bahkan Sunny yang biasanya menyusul kini tak terlihat batang


hidungnya sama sekali. Tentu saja hal tersebut membuat Keyra sedikit kesal,


namun ia pula tak bisa egois hanya untuk diperhatikan.


Tanpa sadar Nathan memasuki lapangan indoor sambil mendrible bola basketnya, lalu dengan gerakan gesit


ia memasukkannya ke dalam ring. Menimbulkan suara gemerincing yang mengejutkan


Keyra.


“Anying, itu apaan dih?” gumam Nathan pelan sambil menatap


objek itu takut-takut.


Keyra yang merasa terusik pun merangkak keluar, namun karena


kecerobohannya kini rok yang tadinya berwarna putih menjadi bendera Jepang,


dengan noda merah tepat pada bagian belakangnya. Sontak Keyra meringsek ke


dalam. Sungguh ia sangat ceroboh hingga tak menyadari bahwa dirinya tengah


datang bulan.


Tak kunjung keluar, Nathan pun merasa penasaran. Ia juga


mencoba berpikir logis untuk tidak mengira-ngira itu adalah hantu. Untuk apa


disiang bolong ada hantu bangun. Jika iya, mungkin satu sekolah akan kesurupan


massal.


“Pergi jauh-jauh lo!” Keyra berteriak dengan begitu keras.


Nathan hampir saja menjatuhkan jantung mungilnya akibat


suara membahana Keyra yang sangat mengejutkan Nathan.


“Anjir, tuh cewek gue kira setan,” celetuk Nathan pelan.


Keyra mendengar celetukan Nathan segera merangkak keluar


sambil berseru riang, “Kak Nathan, bisa pinjam jaketnya?”


Nathan mengerutkan dahinya bingung. “Buat apa?”


“Anu ... hem ... buat ... anu lho,” kata Keyra terbata-bata


berusaha menahan rona merah di wajahnya.


“Apaan sih?” sela Nathan tanpa menunggu terusan dari Keyra.


“Ish, jangan dipotong dulu. Gue pinjam jaket lo, besok gue


balikin seriusan,” bujuk Keyra tanpa memberi tahu alasannya.


“Nih.” Nathan menyerahkan jaketnya, namun Keyra tak kunjung


meraihnya.


“Anu ... bisa dibawa ke sini, Kak? Gue lagi nggak bisa


bangun,” alibi Keyra dengan wajah memerah.


“Lo kepanasan ya?” tebak Nathan sok tahu.


Gelengan keras dari Keyra membuat Nathan menggaruk kepalanya


bingung.


“Itu muka lo merah banget. Apa alergi debu?” tanya Nathan


dengan wajah tanpa dosanya.


Keyra memekik tertahan sambil menyambar cepat jaket yang


tengah Nathan ulurkan padanya. Lalu, ia letakkan manis di pinggang mungilnya.


“Makasih, Kak Nath. Besok gue balikin,” kata Keyra yang


diakhiri senyum manisnya.


“Balikinnya pakai hati boleh nggak?” celetuk Nathan


memamerkan gigi putih rapihnya.

__ADS_1


“Hah?” Keyra menyahut bodoh.


“Nggak,” sanggah Nathan cepat.


∞∞∞


Tak pernah terpikirkan oleh Sunny bisa terjebak di ruang biadab


selain mansion. Nyatanya ruang kepsek sangatlah membosankan, jika bukan karena


keributan Keyra. Ia malas jika harus berurusan dengan Bu Saydah. Bukannya


malas, Sunny hanya menghindari omelan kepsek killer di sekolah tersebut.


“Iya, Bu.” Itulah kata yang sejak tadi Sunny ucapkan, baik yang


ia dengar ataupun tidak. Yang penting ia sudah menyahut, meskipun ia tak


mengerti dari ocehan panjang lebar itu.


“Ya sudah, kamu boleh ke kelas. Ingat! Besok jangan


diulangi,” tandas Bu Saydah tegas.


Sunny pun mengangguk singkat dan pergi meninggalkan ruangan


tersebut dengan hati yang berbunga-bunga.


“Akhirnya gue bebas dari algojo,” gemam Sunny sambil


tersenyum riang.


Langkah kaki Sunny mengarah tanpa tujuan. Ia terus melangkah


menyusuri koridor yang tak ada habisnya. Dalam pikirannya berkecamuk


membayangkan sekolah ini terjadi kebakaran atau bencana alam lainny. Sudah


pasti banyak warga sekolah yang tersesat di dalam.


Dari banyaknya lokasi di sekolah ini tak ada satu pun orang


yang mengerti letak-letak dengan seksama, walaupun itu tukang kebun sekolah.


Percayalah, sekolah ini luasnya masya


Allah. Siapa pun yang memasuki sekolah ini jangan harap bisa keluar dengan


Saking asyiknya membayangkan sekolah barunya yang terkesan


berlebihan, Sunny pun tak memperhatikan langkah di depannya. Hingga tanpa


sengaja ia menabrak salah satu murid laki-laki yang tengah bergurau dengan


temannya.


“Eh, sorry gue


nggak sengaja.” Sunny menatap punggung tegap itu takut-takut.


Sementara teman laki-laki itu menatap Sunny dengan tatapan


intimidasi. Tentu saja hal tersebut membuat perempuan cepol yang tengah memilin


tangannya tak nyaman.


“Wuih, cewek! Bening, ah. Jadi pengen gue karungin,” celetuk


salah satu laki-laki yang menatap Sunny dengan memuja.


Teman satunya pun ikut menyahut, “Gacor, euy! Tapi bukannya


lo punya bini, Jel?”


Laki-laki yang disapa Jeldi pun memamerkan senyum


menawannya. “Halah satu mah kurang mantep.”


“Eling woy! Jelalatan ae lu pada,” sindir laki-laki dengan


seragam bagian lengannya dilipat pendek.


Sunny mengabaikan semua celetukan itu, tatapannya terfokus


pada laki-laki yang sedari tadi mengabaikan dirinya. Sebenarnya, bukan salah ia


juga jika menabrak seperti ini, tetapi ia harus meminta maaf. Selain mengurangi


dosa, tentu ia pasti akan dapat kenalan lagi.

__ADS_1


“Buset, Nip! Lo anggurin cecan?” seru Jeldi tak percaya.


Bara menggeleng pelan. “Kapan Si Hanip bisa menatap seorang


perempuan itu sebagai puteri? Lo lupa kalau doi emang sering begini.”


Sunny yang merasa diabaikan pun memutuskan untuk pergi saja.


Lagipula percuma, jika ia meminta maaf namun diabaikan. Lebih baik ia


menongkrong di kantin, selain damai hati pun kenyang. Daripada diam berdiri tak


jelas dan hanya dijadikan objek godaan ole laki-laki genit di depannya.


“Sorry, ya. Gue


pamit,” kata Sunny sambil melenggang pergi.


∞∞∞


“Queen, lo mau ngantin, ‘kan?” tebak Sunny saat menghampiri


Maurin yang terlihat berjalan sendirian ke arah kantin.


Dengan berlari kecil Sunny menyusul perempuan yang sering di


sapa Queen oleh para sahabatnya. Melihat sahabat karibnya mendekat, Maurin pun


tersenyum senang. Akhirnya ia tak jadi berjalan sendirian.


“Untung lo datang, Sun. kalau nggak mungkin gue bakal muter


balik menghindari segerombolan kakak kelas resek,” sahut Maurin dengan wajah


cemberut.


Sunny menatap Maurin lucu. Sepertinya perempuan itu sedang


menghindari laki-laki yang memang membuat dirinya kesal sendiri. Berbanding


balik dengan perempuan lainnya yang gemar digoda laki-laki, sepertinya yang


gemar digoda adalah perempuan kurbel yang mengharapkan kasih sayang sana sini.


Sebut saja dia murahan, hahaha.


“Aelah punya pacar banyak masih aja hindarin cowok,” sindir


Sunny tak acuh.


“Beda itu, gengs. Kalau cowoknya yang biasa gue lihat mah


nggak bakal nolak. Tapi, kalau yang buluk kayak di sekolah, gue sih


mikir-mikir. Ogah banget punya pacar satu sekolah,” decih Maurin sambil


mengibaskan tangannya.


“Nggak boleh gitu, nanti lo demen sama Kak Alva baru tahu.


Kan lo sekarang lagi mode pdkt sama doi,” goda Sunny sambil menoel-noel pipi


gembil Maurin yang memerah.


“Apaan, sih! Nggak jelas lo,” tandas Maurin sambil


melenggang pergi meninggalkan Sunny yang tertawa kencang sekali.


“Najis, Maurin salah tingkah!” teriak Sunny keras-keras


membuat seluruh penghuni koridor menatap dirinya dengan bingung dan tak


mengerti.


“Bukan temen gue lo, vangsad!” sahut Maurin dengan tak kalah


kerasnya dengan Sunny.


Tanpa mereka sadari ada Alva yang sejak tadi sudah


memperhatikan mereka sejak tadi. Padahal jika Maurin dan Sunny jeli, pasti


mereka menyadari Alva berada di salah satu gerombolan siswi yang tengah


mengerumuni dirinya.


“Kak Alva lagi dekat sama Maurin, ya?” celetuk salah satu


siswi itu membuat siswi lainnya menatap Alva penasaran.

__ADS_1


Namun, bukannya menjawab. Alva lebih memilih meninggalkan


mereka dengan senyum yang selalu terpatri di wajah tampannya.


__ADS_2