
Pagi ini Sunny telah siap untuk berangkat sekolah. Namun, sebelum
itu ia mengerutkan dahinya bingung saat melihat Regan menghampiri sambil
membawa nampan ditangan.
“Sarapan dulu,” Regan mencekal pergelangan tangan Sunny.
“Bang, Sunny udah telat!” sergah Sunny menghentikan
langkahnya.
“Bawa bekel ya,” pinta Regan membuat Sunny tak enak hati.
Setelah dijawab anggukan oleh Sunny. Regan melesat cepat ke arah
dapur untuk membawakan sarapan untuk Sunny. Melihat abangnya begitu perhatian
remaja cantik itu hanya bisa menghela napas sesak.
“Makasih, Bang. Maafin Sunny juga yang terlalu childish,” Sunny bergumam sambil memeluk
Regan erat.
“Abang tahu kamu lagi marah, Dek. Abang diam bukan berati
nggak peduli, tapi Abang tahu kamu butuh waktu. Dan sekarang Abang minta maaf,
Abang benar-benar menyesal udah ninggalin kamu waktu itu,” lirih Regan sambil
menenggelamkan kepalanya di bahu mungil Sunny.
“Uluh cup cup cup. Anak ganteng nggak boleh mewek,” canda
Sunny sambil menepuk bahu Regan cukup keras.
“Penyiksaan dalam persaudaraan kembar lo!” Sunny terkikik
geli mendengar protesan dari Regan.
Akhirnya setelah beberapa hari dilanda huru-hara, kini Sunny
dapat melangkahkan kakinya riang. Dengan senyum yang selalu tepatri di wajah
cantiknya. Senandung kecil pun turut Sunny suarakan sambil menjalankan mobil
putih kesayangannya.
Tak lama Sunny sampai dirumah bergaya klasik milik Ayrin dan
segera turun menghampiri rumah yang sangat minimalis tersebut. Dengan memencet
bel beberapa kali akhirnya Ayrin membukakan pintu dan Sunny segera menerobos
masuk.
“Lama banget lo! Lain kali kalau gue datang jangan dikunci
biar langsung masuk. Sini-sini anggap aja rumah sendiri,” Sunny mengomel sambil
tiduran di sofa dengan menumpukan kakinya diatas sandaran sofa kaki kanan yang
bertumpu pada kaki kiri.
“Sialan! Untung
sahabat,” Ayrin bergumam sangat keras.
“Gue denger cinta,” Sunny mendelik tak terima.
“Oh,” sahut Ayrin cuek membuat Sunny melayangkan bantal sofa
tepat kearah wajah imut Ayrin membuat sang empu mendengus.
∞∞∞
Kriiingg ... kriiingg
... kriiingg ....
Suara bel masuk pun berbunyi. Sunny yang baru saja datang pun terkejut, sebab hari ini ia
lupa mengerjakan PR. Ditambah ulah Ayrin yang memaksa dirinya untuk menjemput.
__ADS_1
”Sialan!” umpat
Sunny seraya berjalan cepat.
Namun remaja cantik khas bandana yang melingkar indah di
kepalanya itu tak memperhatikan langkah,. Sontak saja dengan tak sengaja ia menabrak
bahu seseorang cukup keras membuat dirinya kehilangan keseimbangan dan sedikit
limbung ke belakang.
Grep
Spontan Sunny menutup mata dan bersiap menghantam kerasnya
lantai marmer koridor sekolah, tetapi bukan lantai yang ia rasakan. Namun, sebuah
lengan kekar melingkar indah. Dengan rasa penasaran remaja cantik itu pun membuka
mata dan terkejut melihat seseorang yang wajahnya sangat dekat bahkan hampir
saja hidung mereka bersentuhan.
Sunny menyadari alarm bahayanya berbunyi buru-buru melepas
rengkuhan laki-laki tersebut dan pergi tanpa memperdulikan tatapan anak-anak
terhadapnya.
Sedangkan lelaki yang menolong Sunny itu hanya memperhatikan
dengan wajah datar dan melanjutkan langkahnya kembali seraya memasukan kedua
tangannya ke dalam saku celana kotak-kotak khas SMA Aryasatya.
Diabaikannya tatapan memuja dari para siswi yang terang-terangan
mentapnya dengan pekikan tertahan. Tentu saja hal tersebut membuat laki-laki
yang terkesan urakan itu mendengus. Ia memang sedikit tak menyukai perempuan
yang gampangan seperti siswi di sini.
“Muka lo kusem amat. Masih pagi Ken jangan galak dulu sama
“Keset welcome sekolah aja bakalan kalah sama muka lo,” ejek Reyvan membuat Kenzo mendengus.
Memang diantara mereka Daffa dan Kenzo terkesan lebih cuek bahkan
untuk tugas, sekalipun ia adalah anggota penting di sekolah. Ternyata kecuekan
Kenzo memang sudah turun-menurun, lain hal dengan Daffa.
“Daffa?” Kenzo menunjuk Michael dengan dagunya.
“Ponselnya nggak aktif. Bolos lagi mungkin,” Michael melihat
ponsel sekilas dan mengendikan bahunya tak tahu.
Kenzo hanya mengangguk dan pergi meninggalkan sahabatnya,
“Gue di lab.”
Dijawab acungan jempol Alva, sementara yang lain seperti
biasa mengganggu para siswi yang melintas. Receh itulah sebutan untuk kedua
manusia absurd yang kini melancarkan
aksinya.
“Neng tahu gak kenapa namanya Putri?” goda Nathan sambil
cengengesan membuat siswi tersebut merona.
“Nggak tahu,” jawabnya malu-malu.
“Kalau putra ya cowok,
gubluk!” sahut Hito tanpa beban.
“Bacyod! Minta
__ADS_1
ruqyah bung?” Michael mengundang tatapan tanya dari Alva.
“Lo tahu ruqyah, Kel?” tanya Alva yang dijawab gelengan oleh
Michael.
“Nggak tahu jangan nyahut ogeb. Gue aja diam-diam,” sambar
Nathan bangga.
“Lo itu ogeb permanen,” berujar tanpa beban Reyvan.
“Hmm ogeb ya,” sambil mengangguk. “Ok besok ujian jangan
harap gue denger,” ancam Nathan membuat semuanya mendelik.
“Yah Nathnath ngambek,” ejek Hito sambil mendecih.
“Tahu nih kayak cewek baperan,” sahut Micahel.
“Ya, gelud! Saya
tidak suka kalian damai,” Alva terkekeh ria.
“Bacyod!” sahut
mereka serempak membuat Alva diam seketika.
“Sedang apa disini anak-anak?” tanya Bu Dayut lembut membuat
para lelaki absurd itu menoleh dan
terkejut melihat Bu Menor. Eh?
“Hari ini cantik banget bu,” puji Nathan sambil tersenyum
cerah.
“Tambah dempul aja itu muka,” celetukan asal Hito yang disambut
delikan horror dari Bu Dayut.
“Kalian kenapa belum masuk? Nongkrong nggak jelas. Ngga
denger bel, hah?!” bentak Bu Dayut galak.
“Aduh bu, masih pagi jangan galak-galak sama murid tertamvan
seperti saya. Nanti Bu Dayut cepet tua lho,” goda Reyvan tak tahu situasi.
“Kamu juga Reyvan, pusingnya ibu tengok kenalan kau itu.
Sampai mamak kau tahu, tamat riwayatlah, Nak. Yang sabar,” ujar Bu Dayut sambil
menggeleng prihatin.
“Mamak!” pekik Reyvan dramatis. “Bu Dayut, izinkan Reyvan masuk
kelas. Hamba takut dimarah Ibu Negara.”
“Enak saja kau! Sekarang lari 10 putaran lapangan basket.
Awas kalau sampai kabur,” dengan kerkacak pinggang Bu Dayut meninggalkan
Eryshthon tanpa Daffa dan Kenzo.
“Bu Dayut tega sama gue,” Nathan dramatis sambil memegang
dadanya berpura-pura sakit.
“Halah muncung kau!” sentak Reyvan kacak pinggang khas Bu
Dayut.
“Whoa Reyvan titisan Bu Dayut sekarang,” Michael bertepuk
tangan riang yang alih-alih membuat Reyvan mendengus.
“Jangan dipuji dia, Kel. Nanti badannya ngembang,” kelakar
Alva membuat semuanya tertawa.
“Bacyod! Gue
__ADS_1
duluan bro,” pamit Reyvan membuat sahabatnya kebingungan.
“Si Reyvan baper?” tanya Hito penasaran.