Puzzle

Puzzle
Episode 8


__ADS_3

Pagi ini Sunny telah siap untuk berangkat sekolah. Namun, sebelum


itu ia mengerutkan dahinya bingung saat melihat Regan menghampiri sambil


membawa nampan ditangan.


“Sarapan dulu,” Regan mencekal pergelangan tangan Sunny.


“Bang, Sunny udah telat!” sergah Sunny menghentikan


langkahnya.


“Bawa bekel ya,” pinta Regan membuat Sunny tak enak hati.


Setelah dijawab anggukan oleh Sunny. Regan melesat cepat ke arah


dapur untuk membawakan sarapan untuk Sunny. Melihat abangnya begitu perhatian


remaja cantik itu hanya bisa menghela napas sesak.


“Makasih, Bang. Maafin Sunny juga yang terlalu childish,” Sunny bergumam sambil memeluk


Regan erat.


“Abang tahu kamu lagi marah, Dek. Abang diam bukan berati


nggak peduli, tapi Abang tahu kamu butuh waktu. Dan sekarang Abang minta maaf,


Abang benar-benar menyesal udah ninggalin kamu waktu itu,” lirih Regan sambil


menenggelamkan kepalanya di bahu mungil Sunny.


“Uluh cup cup cup. Anak ganteng nggak boleh mewek,” canda


Sunny sambil menepuk bahu Regan cukup keras.


“Penyiksaan dalam persaudaraan kembar lo!” Sunny terkikik


geli mendengar protesan dari Regan.


Akhirnya setelah beberapa hari dilanda huru-hara, kini Sunny


dapat melangkahkan kakinya riang. Dengan senyum yang selalu tepatri di wajah


cantiknya. Senandung kecil pun turut Sunny suarakan sambil menjalankan mobil


putih kesayangannya.


Tak lama Sunny sampai dirumah bergaya klasik milik Ayrin dan


segera turun menghampiri rumah yang sangat minimalis tersebut. Dengan memencet


bel beberapa kali akhirnya Ayrin membukakan pintu dan Sunny segera menerobos


masuk.


“Lama banget lo! Lain kali kalau gue datang jangan dikunci


biar langsung masuk. Sini-sini anggap aja rumah sendiri,” Sunny mengomel sambil


tiduran di sofa dengan menumpukan kakinya diatas sandaran sofa kaki kanan yang


bertumpu pada kaki kiri.


“Sialan! Untung


sahabat,” Ayrin bergumam sangat keras.


“Gue denger cinta,” Sunny mendelik tak terima.


“Oh,” sahut Ayrin cuek membuat Sunny melayangkan bantal sofa


tepat kearah wajah imut Ayrin membuat sang empu mendengus.


∞∞∞


Kriiingg ... kriiingg


... kriiingg ....


Suara bel masuk pun  berbunyi. Sunny yang baru saja datang pun terkejut, sebab hari ini ia


lupa mengerjakan PR. Ditambah ulah Ayrin yang memaksa dirinya untuk menjemput.

__ADS_1


”Sialan!” umpat


Sunny seraya berjalan cepat.


Namun remaja cantik khas bandana yang melingkar indah di


kepalanya itu tak memperhatikan langkah,. Sontak saja dengan tak sengaja ia menabrak


bahu seseorang cukup keras membuat dirinya kehilangan keseimbangan dan sedikit


limbung ke belakang.


Grep


Spontan Sunny menutup mata dan bersiap menghantam kerasnya


lantai marmer koridor sekolah, tetapi bukan lantai yang ia rasakan. Namun, sebuah


lengan kekar melingkar indah. Dengan rasa penasaran remaja cantik itu pun membuka


mata dan terkejut melihat seseorang yang wajahnya sangat dekat bahkan hampir


saja hidung mereka bersentuhan.


Sunny menyadari alarm bahayanya berbunyi buru-buru melepas


rengkuhan laki-laki tersebut dan pergi tanpa memperdulikan tatapan anak-anak


terhadapnya.


Sedangkan lelaki yang menolong Sunny itu hanya memperhatikan


dengan wajah datar dan melanjutkan langkahnya kembali seraya memasukan kedua


tangannya ke dalam saku celana kotak-kotak khas SMA Aryasatya.


Diabaikannya tatapan memuja dari para siswi yang terang-terangan


mentapnya dengan pekikan tertahan. Tentu saja hal tersebut membuat laki-laki


yang terkesan urakan itu mendengus. Ia memang sedikit tak menyukai perempuan


yang gampangan seperti siswi di sini.


“Muka lo kusem amat. Masih pagi Ken jangan galak dulu sama


“Keset welcome sekolah aja bakalan kalah sama muka lo,” ejek Reyvan membuat Kenzo mendengus.


Memang diantara mereka Daffa dan Kenzo terkesan lebih cuek bahkan


untuk tugas, sekalipun ia adalah anggota penting di sekolah. Ternyata kecuekan


Kenzo memang sudah turun-menurun, lain hal dengan Daffa.


“Daffa?” Kenzo menunjuk Michael dengan dagunya.


“Ponselnya nggak aktif. Bolos lagi mungkin,” Michael melihat


ponsel sekilas dan mengendikan bahunya tak tahu.


Kenzo hanya mengangguk dan pergi meninggalkan sahabatnya,


“Gue di lab.”


Dijawab acungan jempol Alva, sementara yang lain seperti


biasa mengganggu para siswi yang melintas. Receh itulah sebutan untuk kedua


manusia absurd yang kini melancarkan


aksinya.


“Neng tahu gak kenapa namanya Putri?” goda Nathan sambil


cengengesan membuat siswi tersebut merona.


“Nggak tahu,” jawabnya malu-malu.


“Kalau putra  ya cowok,


gubluk!” sahut Hito tanpa beban.


“Bacyod! Minta

__ADS_1


ruqyah bung?” Michael mengundang tatapan tanya dari Alva.


“Lo tahu ruqyah, Kel?” tanya Alva yang dijawab gelengan oleh


Michael.


“Nggak tahu jangan nyahut ogeb. Gue aja diam-diam,” sambar


Nathan bangga.


“Lo itu ogeb permanen,” berujar tanpa beban Reyvan.


“Hmm ogeb ya,” sambil mengangguk. “Ok besok ujian jangan


harap gue denger,” ancam Nathan membuat semuanya mendelik.


“Yah Nathnath ngambek,” ejek Hito sambil mendecih.


“Tahu nih kayak cewek baperan,” sahut Micahel.


“Ya, gelud! Saya


tidak suka kalian damai,” Alva terkekeh ria.


“Bacyod!” sahut


mereka serempak membuat Alva diam seketika.


“Sedang apa disini anak-anak?” tanya Bu Dayut lembut membuat


para lelaki absurd itu menoleh dan


terkejut melihat Bu Menor. Eh?


“Hari ini cantik banget bu,” puji Nathan sambil tersenyum


cerah.


“Tambah dempul aja itu muka,” celetukan asal Hito yang disambut


delikan horror dari Bu Dayut.


“Kalian kenapa belum masuk? Nongkrong nggak jelas. Ngga


denger bel, hah?!” bentak Bu Dayut galak.


“Aduh bu, masih pagi jangan galak-galak sama murid tertamvan


seperti saya. Nanti Bu Dayut cepet tua lho,” goda Reyvan tak tahu situasi.


“Kamu juga Reyvan, pusingnya ibu tengok kenalan kau itu.


Sampai mamak kau tahu, tamat riwayatlah, Nak. Yang sabar,” ujar Bu Dayut sambil


menggeleng prihatin.


“Mamak!” pekik Reyvan dramatis. “Bu Dayut, izinkan Reyvan masuk


kelas. Hamba takut dimarah Ibu Negara.”


“Enak saja kau! Sekarang lari 10 putaran lapangan basket.


Awas kalau sampai kabur,” dengan kerkacak pinggang Bu Dayut meninggalkan


Eryshthon tanpa Daffa dan Kenzo.


“Bu Dayut tega sama gue,” Nathan dramatis sambil memegang


dadanya berpura-pura sakit.


“Halah muncung kau!” sentak Reyvan kacak pinggang khas Bu


Dayut.


“Whoa Reyvan titisan Bu Dayut sekarang,” Michael bertepuk


tangan riang yang alih-alih membuat Reyvan mendengus.


“Jangan dipuji dia, Kel. Nanti badannya ngembang,” kelakar


Alva membuat semuanya tertawa.


“Bacyod! Gue

__ADS_1


duluan bro,” pamit Reyvan membuat sahabatnya kebingungan.


“Si Reyvan baper?” tanya Hito penasaran.


__ADS_2